Sepotong Sayap Patah

Sepotong Sayap Patah
perihal gajah dan semut


__ADS_3

"jangan ajarkan kepada ku tentang kesetiaan.


sebab,aku sudah pernah tertatih merindu di ujung ke hampa an."


semenjak kejadian beberapa waktu lalu,bima dan Fara tak menghubunginya.


Nisa dengan segera me blok nomor bima, di ponselnya.


meski hanya kata maaf, itu tak ada sama sekali, bukan berharap, namun Nisa benar benar kecewa terhadap Fara sahabatnya.


mungkin ini yang dimaksud oleh beberapa orang, bahwa jika seseorang sedang jatuh cinta, ia tak akan perduli dengan apapun. tak dapat membedakan mana saja yang seharusnya kita perbuat. cinta itu buta ? anggap saja begitu. namun walau demikian, seharusnya walaupun cinta itu buta, namun harus berlogika kan?.


dan lagi lagi tentang hati, siapa yang tahu, ketika bibir bisa saja berkata a,sedangkan hati berkata b. dan bukan kah cinta itu tidak bisa dipaksa? .


ada juga yang berkata bahwa, cinta ada karena terbiasa.


lalu, apakah selama ini bima dan Fara selalu berkomunikasi tanpa sepengetahuan nya?. seharusnya itu bukan masalah, namun entah mengapa,Nisa masih saja enggan mengingat keduanya.


tentang bima, Nisa tak lagi merasa. sebab, ia sudah terlalu sering, oleh sebab itu ia sudah terbiasa.


namun, setelah mengingat bagaimana perangai bima, Nisa merasa mungkin dalam hal ini Fara tak sepenuhnya bersalah.


faktanya saja, dirinya sendiri yang terus menerus di teror oleh bima bisa luluh hatinya. dan mungkin saja, hal itu terjadi juga kepada Fara. namun kenapa Fara tak menghubunginya? Nisa seperti merasa bingung kali ini, bukan perihal bima, ia takut salah paham terhadap Fara, karena mereka sudah berteman sejak lama. dan Nisa menyadari, Fara bukan tipe wanita yang mudah untuk sekedar dirayu oleh pria. dan mici juga menyaksikan sendiri,bagaimana para pria tak ada yang mampu mendekatinya selama Fara di kampus.


"ah sudahlah" batin Nisa. ia tak ingin berlama lama memikir kan ini. sebelum Nisa memutuskan untuk sekedar mencoba menerima bima kembali, ia sudah paham konsekuensinya. oleh sebab itu, ia tak banyak berharap. karena ia sudah memiliki seseorang yang sungguh sungguh akan meminangnya.


liburan semester tinggal beberapa hari lagi, mici dengan sengaja mengunjungi rumah Nisa. sebab, ia akan pergi lama lagi, dan saat ini ia sedang marah kepada Fara, tak mungkin untuknya untuk sekedar mengajaknya mengobrol bersama.

__ADS_1


"gue perhatiin, dari kemarin lu have fun aja nis?" tanya mici terheran.


"loh memangnya kenapa? apa yang salah?" tanya Nisa kembali merasa bingung dengan pertanyaan mici.


"ya biasanya kan, lu bakal galon galon gitu kalau si Bima berulah"jawab mici sambil memakan kripik pisang di pangkuannya.


"dih udah gak jaman kali, kan gue udah bilang kemarin, gue udah yakin si Bima gak bakalan berubah. capek aja gue di teror Mulu. nah , kalau udah ketahuan gini kan enak gue. damai, gak ada lagi drama drama open blok nomor lagi."jelas Nisa panjang lebar.


"wih bener bener mantul bener persiapan Lu kali ini, gini nih yang gue suka, ini baru temen gue" jawab mici sambil menepuk nepuk pundak Nisa.


"Halah, lebay lu, muji muji gue pasti ada udang di balik batu nih.bentar lagi, pasti ada yang ngemis ngemis minta di tolongin nih pasti" ucap Nisa sambil memonyongkan bibirnya kedepan.


"hehe ah lu nis, jangan gitu dong, kan sekarang ini cuma lu semata wayang sahabat gue" jawab mici masih dengan menelan kripik di pangkuannya.


"eh iya baru inget, si Fara gak chat lu juga?" tanya Nisa kemudian.


"dih jangan gitu dong, ini nih gajah di pelupuk mata tak terlihat,namun semut di ujung lautan terlihat dengan jelas." jawab Nisa sambil memasukan sepotong kue bolu kesukaan nya kedalam mulutnya.


"apaan nis pake pribahasa segala, udah lupa gue begituan sumpah". jawab mici.


"jauh jauh ke kota ngapain Wak? pindah tidur Lo? kebaikan yang banyak tidak terlihat, sedangkan kesalahan yang sedikit saja terlihat dengan jelas, lu inget dong kita berteman udah berasa saudara, dua belas tahun Wak, inget dua belas tahun, masa iya langsung ilang hanya perkara satu laki laki, masih mending kalau laki lakinya oppa minos gak papa deh gue rela. lah ini laki lakinya ganteng aja kagak, nyebelin,kang buat sakit ati tiap hari, rugi banget dong.ayolah coba deh lu pikir pikir lagi" terang Nisa kepada mici, berharap semua akan segera baik baik saja.


"gila lu , udah jadi mantan aja lu jelek jelek in, dari dulu kemana aja lu baru nyadar itu laki gak ada bagus bagusnya".jawab mici sewot.


"lah nyari yang jelek aja masih di selingkuh in Wak, gak berani gue nge lirik yang ganteng, bisa bisa putus saraf gue bukan putus cinta lagi". jawab Nisa sambil tertawa terbahak bahak menertawakan ke bodoh an nya sendiri.


"hahahaha lu emang paling bisa sih, nge tawa in nasib sendiri," balas mici sedikit memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"huh apapun itu gue cuma berharap semoga selalu happy ending, meski entah kapan" jawab Nisa sambil tersenyum, dan mengambil ponselnya.


"Cisse" ucap Nisa bergaya pada kameranya."detik detik terakhir nih, harus di abadikan tau" ucap Nisa kemudian.


"oh ya ampun, rasanya seperti baru kemarin saja kita bertemu, eh sudah mau berpisah lagi"ucap mici kemudian.


"isdah kau ini, seperti akan berpisah dengan kekasihmu saja lebay" Jawa Nisa kemudian meneguk es jeruknya.


"Yee setidaknya,walaupun lu gak ada kekasih,gue kan masih bisa memberimu kata kata manis sebagai pengganti kekasihmu kan hahahaha" jawab mici kembali tertawa.


"enak saja siapa bilang gue gak punya kekasih,"kata Nisa kemudian.


"hah apa kata mu? apakah aku melewatkan sesuatu?" ucap mici tertegun. sambil mengingat ingat, apakah sebelumnya Nisa pernah berkata sesuatu kepadanya.


"Hem menurut lu?" jawab Nisa cuek.


"tunggu tunggu, sepertinya aku tidak pernah melupakan sesuatu tentang mu."jawab mici masih dengan kebingungannya.


"penasaran ya...hahahaha"tawa Nisa kemudian.


"Ais lu kebiasaan deh, apaan sih kepo nih"jawab mici.


"nanti deh, lu juga bakal tau dengan sendirinya, gue cuma gak pengen, ada mendung,ada angin, eh gak jadi hujan."jawab Nisa sambil nyengir kuda.


"oh ya ampun, kalau tak ingin memberi tahu, kenapa mesti di omongin sih,kan gue jadi penasaran."jawab mici sebal.


"lah salah sendiri, ngatain gue jomblo segala. kan gue cuma jujur aja, tapi emang sih, kadang kadang kejujuran itu bikin kesel"jawab Nisa cengengesan.

__ADS_1


"Ais jadi badmood nih, gimana dong.tanggung jawab ah" jawab mici merasa kesal dan sebal pada Nisa, namun Nisa malah masih asik tertawa.


__ADS_2