
Keegoisan yang di miliki kedua pasang suami istri itu membuat mereka akhirnya memutuskan untuk saling menjauh saat ini, dalam kesendirian Windu berjalan menuju taman yang terletak di depan hotel tempat mereka menginap.
Mereka menikmati hari ini hanya sendiri-sendiri, dari pagi, siang, petang hingga malam menjelang,
karena masih hari Minggu tampak beberapa pasangan muda sedang duduk bersama pasangan mereka, dan ada beberapa keluarga kecil yang tengah asik mengajak balita mereka bermain di sekitar taman kota di daerah tersebut.
Beberapa pedagang tengah sibuk menjajakan makanannya, Windu yang merasa kesepian di tengah keramaian memilih duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di taman itu.
Dinginnnya udara malam ini di tambah jejak hujan yang masih tersisa akibat hujan yang terjadi sejak malam kemarin membuat tubuh wanita muda itu terasa membeku, sambil menggosok-gosok kedua jari tangannya Windu berusaha untuk menghangatkan tubuhnya.
"Kenapa kak Zaky gak mau sama sekali mengalah, padahal aku itu wanita yang butuh di mengerti, tapi kenapa kak Zaky sama sekali gak bisa mengerti aku. Katanya cinta, tapi kenapa cinta harus egois kak." Tanpa terasa air mata Windu mulai membasahi pipinya kembali.
Musik jalanan membuat malam itu tambah menyedihkan untuk Windu, dengan di iringi lagu "selalu mengalah" dari seventeen oleh beberapa pengamen jalanan membuat Windu tak mampu menahan emosi saatnya.
"Apa mungkin kita bukan jodoh kak? kenapa kita tidak saling mengerti akan keinginan kita masing-masing?"
"Ehem--- boleh aku duduk di sini?"
__ADS_1
Windu masih asik meratapi kesedihannya, saat seorang pria datang menghampirinya. Dengan santai pria manis dengan dua lesung pipi itu mulai duduk di samping Windu yang masih terisak.
"Terkadang lari dari sebuah masalah itu bukan jalan yang terbaik, apa lagi terlalu larut dalam kesedihan. Gak ada solusinya yang ada malah pikiran dangkal yang akan menguasai nalar. Ujung-ujungnya minta putus,minta cerai atau yang lebih parahnya bunuh diri!"
Windu mulai merespon saat pria asing tersebut seolah mengerti akan situasi yang terjadi pada dirinya saat ini.
Sedikit demi sedikit Windu mulai menghapus jejak air matanya, namun pandangannya masih di arah yang sama.
"Ada banyak filosof-filosof handal yang pernah mengartikan kehidupan melalui beberapa baris tulisan. Salah satu filosof yang paling berkesan buat aku adalah Aristoteles, salah satu filosofi tentang kehidupan: Setiap orang bisa menjadi marah, itu adalah hal yang mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, di saat yang tepat, dengan tujuan yang tepat serta dengan cara yang tepat, bukanlah kemampuan setiap orang dan bukanlah hal yang mudah."
Pria berlangsung pipi itu langsung menjeda ucapannya, dengan sabar ia masih berharap Windu segera merespon ucapannya saat ini, namun sama sekali Windu tak bereaksi apapun.
Pria berambut agak gondrong itu mulai bangkit dari duduknya, dengan langkah lebar Zoe mulai berjalan meninggalkan Windu di kursi taman itu sendirian.
"Zoe?" Terbit seutas senyuman di bibir gadis cantik itu, ia merasa sedikit aneh saat mendengar nama seorang teman yang baru saja memberikan solusi atas permasalahan yang tengah ia hadapi saat ini.
Dari jauh Windu akhirnya mulai melihat kepergian Zoe yang mulai menghilang di ujung jalan.
Setelah mendapatkan sedikit ketenangan di dalam hatinya Windu memilih untuk kembali masuk ke dalam hotel, malam ini ia berencana untuk segera beristirahat. Rencana nya besok pagi sebelum Zaky berangkat kerja ia akan mencoba untuk berkomunikasi kembali kepada Zaky dan mencari jalan terbaik untuk permasalahan yang tengah mereka hadapi saat ini.
__ADS_1
Dengan tubuh yang mulai menggigil Windu mulai berjalan kembali masuk ke dalam hotel. Namun belum sampai ia ke tempat yang di tuju, dari depan pintu hotel tampak Zaky keluar hotel sambil membawa sebuah jaket di tangannya.
Windu berdiri tegak di tengah jalanan taman hotel, sedangkan Zaky dengan langkah lebar mulai berjalan mendekat menuju di mana sang istri berada.
Saat sampai di depan Windu, tanpa banyak bicara Zaky langsung memasangkan jaket pada tubuh Windu yang tampak bergetar, dengan cekatan kedua tangan Zaky langsung mengangkat tubuh Windu masuk kedalam pelukannya.
Seketika Windu langsung mendapatkan kehangatan di dalam sana, sedangkan Zaky dapat merasakan temperatur yang sangat dingin saat tubuh sang istri berada dalam dekapannya.
Windu kembali teringat akan kata-kata Zoe pria yang baru saja ia temui tadi.
"Setiap orang bisa menjadi marah, itu adalah hal yang mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, di saat yang tepat, dengan tujuan yang tepat serta dengan cara yang tepat, bukanlah kemampuan setiap orang dan bukanlah hal yang mudah."
"Akhirnya aku tahu kak, gak seharusnya aku terlalu marah sama kamu. Kak Zaky itu suami Windu, dan Windu yakin tujuan kak Zaky ngelarang Windu pergi itu karena saat ini Marwah Windu itu tanggung jawab kak Zaky, suami Windu. Dan Windu sadar kejadian beberapa malam lalu itu pure bukan keinginan kak Zaky tapi itu semua ada campur tangan Windu di sana. Mungkin Windu harus lebih banyak belajar untuk menjadi seorang istri kak.
Dari perlakuan kakak ke Windu malam ini membuat Windu yakin, kalau kak Zaky sangat mencintai Windu."
Sembari tersenyum Windu kembali mengeratkan pelukannya di leher sang suami, sehingga membuat jarak hidung mereka semakin dekat, deru nafas kedua insan itu saling menyatu. Malam ini kembali Windu mendapatkan pelajaran berharga akan kehidupan.
Hidup adalah mimpi bagi mereka yang bijaksana, permainan bagi mereka yang bodoh, komedi bagi mereka yang kaya, dan tragedi bagi mereka yang miskin.” - Sholom Aleichem.
__ADS_1
Bersambung...✍️✍️