
Hampir dua jam Windu masih setia menunggu kehadiran Zaky sang suami kembali ke kamar mereka, tak lupa ia terus memanjatkan doa agar permohonan maaf Zaky dapat diterima oleh sang Tante.
Selain itu Windu juga sangat menyesal akan kebohongan yang telah ia lakukan bersama Zaky, jika saja dari awal ia memberi tahu hal yang sebenarnya kepada Tante Via mungkin sang Tante tidak merasa terkhianati atas tindakan yang ia lakukan.
Jarum jam dinding yang terpasang di dalam kamarnya tak berhenti berputar setiap detik, menit dan jam terus bergulir namun tanda-tanda Zaky kembali ke kamarnya belum juga terlihat, hingga dengan sisa tenaga yang ia miliki Windu memilih untuk beranjak dari kasurnya dan mulai mencari keberadaan sang Tante dan Zaky di luar kamar.
Dengan perlahan Windu mencoba untuk menuruni setiap anak tangga yang mengarah langsung ke ruang tamu vila tersebut.
Saat kakinya telah menapak di ruang tengah sama sekali Windu tidak melihat kehidupan di sana, ruangan itu terasa sunyi dan senyap, sehingga Windu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang terletak tidak jauh dari ruang tengah.
Namun Windu kembali tidak melihat apapun di sana, Sedetik kemudian Windu mulai merasakan berat pada bagian kepalanya, sehingga hal itu memaksa ia untuk menghentikan langkahnya sejenak,
"Aww-- kamu di mana kak? " Sambil memegang kepalanya yang terasa berat Windu pun mulai duduk di salah satu kursi panjang yang ada di ruangan tersebut. Hingga tak berapa lama Windu mendengar langkah sang Tante sedang berjalan menuruni anak tangga dari arah kamarnya menuju lantai bawah,
"Dion tolong hari ini juga saya mau kamu untuk mengurus tiket serta paspor kepergian saya dan Windu ke negara X besok pagi"
Dengan jelas Windu dapat mendengar ucapan sang Tante kepada salah satu asisten kepercayaannya di kantor melalui telepon.
"Dan tolong hari ini juga kamu minta kepada pihak vila untuk mempersiapkan seorang penjaga yang bisa berjaga di vila saya dari gangguan suami ponakan saya, saya tidak mau lagi kecolongan seperti hari ini, jadi saya min----"
Belum usai sang Tante memberikan perintah kepada sang asisten melalui telepon, tiba-tiba ia mendengar dengan jelas suara Iskan serta teriakan dan langkah dari arah ruang tamu,
__ADS_1
"Windu???" Dengan tergesa-gesa Tante Via pun langsung berlari untuk melihat kondisi Windu saat itu, namun saat ia berhasil sampai di ruang tamu, Windu terelbih dulu telah keluar dari vila milik sang Tante, wanita yang tengah hamil muda itu tampak berlari dengan sisa tenaga yang ia miliki sembari meraung memanggil nama sang suami.
"Windu----- berhenti Ndu! Tante mohon jangan lari Ndu" Tante Via berusaha mengejar sang ponakan yang terlihat begitu frustasi
"Hiks-----hiks--- kak Zaky! kak Zaky! jangan tinggalkan Windu kak--- Windu gak bisa hidup tanpa ada kak Zaky!" Windu terus berlari tanpa arah, rasa sakit kepala yang tadi sempat ia rasakan sudah tak dapat ia rasakan lagi, dan berganti dengan rasa sakit didalam hatinya terluka tapi tak berdarah.
Seperti orang yang kehilangan akal Windu terus berlari sambil tak henti memanggil-manggil nama Zaky yang tak dapat ia lihat di mana keberadaannya.
"Windu----- Tante mohon berhenti, ingat kamu sedang hamil Ndu!! " Dengan membuka kedua high heel yang tadi ia pakai Tante Via tak berhenti untuk terus mengejar Windu yang berlari cukup kencang, seperti seseorang yang tidak sedang mengandung.
Namun akhirnya setelah cukup jauh beralari Windu tak dapat lagi melangkahkan kakinya, larinya pun mulai melemah dan ia pun mulai terjatuh di tengah jalan,
Tapi dari arah yang berlawanan ternyata sosok pria yang ia cari sedari tadi saat ini terlihat tengah berlari ke arah dirinya.
Dan wanita itu yang tak lain adalah Windu sang istri tercinta, dengan gerakan cepat Zaky langsung menghentikan laju mobilnya dan menyusul sang istri yang tengah berlari ke arahnya, namun seketika ia melihat Windu tampak hilang keseimbangan dan perlahan jatuh ke tanah.
Nafas Zaky mulai berhembus tak beraturan saat melihat sang istri mulai terjatuh di tanah, dengan kedua lengannya Zaky yang telah berada di samping sang istri langsung berusaha untuk mengangkat tubuh Windu,
"Ndu---Ndu ---bangun sayang, bangun! jangan tinggalin kakak Ndu!" berulang-ulang kali Zaky terus memanggil nama sang istri sembari menggoyang pelan tubuh sang istri, tapi tidak ada jawaban, mata Windu masih tertutup rapat.
Saat menggendong tubuh Windu di tangannya, Zaky dapat merasakan bobot sang istri yang mulai terasa ringan, sehingga perasaan menyesal kembali hinggap di dalam dadanya,
__ADS_1
"Maaf kan kak Zaky sayang, maafkan kak Zaky yang tidak berhasil memberi kebahagiaan untuk kamu dan calon anak kita. Bangun lah yang Kak Zaky gak bisa hidup tanpa kamu Ndu, tolong buka mata kamu untuk aku yang" tangis Zaky pun pecah.
Sesampainya di dalam mobil Zaky langsung memasukan tubuh Windu masuk kedalam mobil milik Zaky
"Berhenti Zaky! berikan Windu kepada saya, biar saya yang membawanya ke rumah sakit!"
Tante Via yang telah berada di belakang Zaky mencoba untuk menghentikan langkah Zaky yang terlihat ingin membawa keponakannya.
Zaky yang mendengar ucapan sang tante sama sekali tidak memberikan respon, setelah berhasil memasukan Windu kedalam mobil miliknya Zaky pun memutuskan untuk berjalan menuju ke kursi kemudinya.
"Maafkan saya Tante, untuk kali ini saya tidak bisa mengabulkan permintaan Tante silakan Tante benci saya,silakan Tante laporkan saya, tapi saya tidak akan berhenti mendekati istri saya"
"Karena hanya kematian yang dapat menghentikan langkah saya saat ini, tapi jika pun saya harus mati, percayalah hanya raga saya akan terpisah dari Windu, namun satu hal yang harus Tante tahu, walau raga kami terpisah namun jiwa ini tidak akan berhenti untuk terus mendekatinya sampai kapan pun"
Zaky langsung masuk kedalam mobilnya dan menghidupkan mesin mobil nya, tak lama mobil itu pun berjalan dan mulai meninggalkan Tante Via sendiri.
"Hiks----hiks Winduuuuuu... "Teriakan serta tangisan Tante Via memenuhi jalanan yang
sepi itu, "maafkan Tante Ndu!" hingga kata maaf pun terlontar pelan dari mulutnya.
Saat ini Tante Via hanya dapat menangis meratapi kepergian Windu yang terlihat tidak baik-baik saja. Memang penyesalan selalu datang di akhir, kerasnya batu dapat hancur dengan tetesan air, namun kerasnya hati akan hancur selalu setelah penyesalan.
__ADS_1
Bersambung.....✍️✍️