SEWINDU..(Om Nikahi Aku Donk)

SEWINDU..(Om Nikahi Aku Donk)
Dadar gosong rasa cinta


__ADS_3

Setelah mendapatkan penanganan dari beberapa rekannya akhirnya darah yang tadi sempat mengalir ke dalam selang infusnya dapat di hentikan. Dengan sabar Zaky terus mendampingi sang istri yang kini tengah mengandung darah dagingnya.


"Hiks--- kak Zaky jahat. Kok aku bisa hamil sih kak, kan janji nya kalau aku udah selesai kuliah kita punya anaknya"


"Sekarang kalau udah kaya gini aku harus gimana kak? masa baru jadi calon dokter aku harus berhenti di tengah jalan! kak Zaky kenapa gak bisa nahan nafsu sih!"


"Pokoknya kalau aku kuliah kak Zaky yang jaga anak, dan aku akan tetap kuliah."


Windu tak hentinya terus menyalahkan Zaky atas kehamilannya. Seperti seorang anak kecil Windu tak berhenti meratapi nasibnya sambil menangis.


"Maafin kakak Ndu, lagian kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Gimana kalau si dedek sudah lahir dan tahu respon mamanya kaya gini, pasti nanti anak kita sedih Ndu"


"Ih kak Zaky doa in aku di benci anak kita ya?"


"Enggak Ndu, tapi coba aja kamu pikir sendiri gimana perasaan seorang anak saat mengetahui ibunya gak mengharapakan kedatangannya"


Windu mulai menyadari kesalahannya ia pun langsung menghentikan tangisnya, Dan menempelkan wajahnya ke pundak Zaky sembari mengelap air mata dan hingus nya yang keluar saat menangis.


"Yee, jorok banget sih"


"BUGH"


Sebuah pukulan lumayan kuat langsung mendarat di pundak Zaky,


"Aww, sakit yang, kan memang---"


"Memang apa? ayo jawab kak, memang apa? mau kita bahas lagi masalah ini sampai kelar?"


"Hmm--, enggak--- memang kak Zaky yang salah, Windu gak salah kok, kak Zaky aja yang terlalu lebay"


"Emang iya. Akhirnya ya kak Zaky bisa sadar juga, kirain masih gak nyadar dengan sifat jeleknya"


"Huft--- sabar Zaky, ingat istri sedang hamil, bisa-bisa dia minta ngeluarin anaknya lagi, kalau kamu salah ngomong"


Sebuah senyum palsu Zaky tampil kan kepada Windu, walau hati nya tak terima dengan segala perkataan Windu, namun ia berusaha sekuat mungkin untuk tetap memperlihatkan sikap terbaiknya.


Dan tak berapa lama Windu pun mulai merapatkan tubuhnya kepada Zaky,


"Kak, aku lapar"


"Kamu mau makan apa? biarkan kakak belikan"


"Gak mau kak, aku gak mau makanan nya di beli, aku maunya makan pakai telur dadar, tempe goreng sama kecap aja. Tapi mau nya kak Zaky yang bikin"


"H--- Kamu mau kakak yang masak?"


"Ehem, Windu juga gak tahu kak, sejak kemarin Windu tu maunya nya makan itu, tapi kakak yang masak"


Cukup lama Zaky berdiam dalam posisi yang sama, memang sebenarnya ia memiliki sedikit bakat memasak sejak ia tinggal di luar negri, namun saat ini ia sudah lama tidak pernah lagi melakukan nya.


"Gimana kalau kakak masakin kamu saat kita sudah kembali ke kota P?"


"Gak mau, aku lapar nya sekarang kak"


"Tapi---"


"Kak Zak? ini anaknya lapar kak"


"Anak kakak lapar? ya udah biar kakak masak, tapi di mana masaknya Ndu, kakak di sini kan pendatang"


Windu pun langsung memanggil salah seorang sahabatnya untuk mengantarkan Zaky ke sebuah dapur umum milik warga di sana. Tampak beberapa ibu-ibu tengah berkumpul di dapur sembari memasak makanan untuk para tim mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan di kampung mereka.


"Eh, siapa tu cakep pisan euy, "


"Mana atuh, saya kok gak jelas"


"Makanya pakai atuh kaca mata na, biar bisa lihat yang kasep-kasep,"


Hampir semua ibu-ibu yang tengah sibuk memasak tengah menggaggumi rupa tampan yang Zaky miliki.


"Selamat siang ibu-ibu"

__ADS_1


"Siang buk dokter, ada yang bisa kamu bantu Bu dokter?"


"Gini ibu-ibu saya mohon izin minjam dapur nya sebentar, ini salah seorang teman ada yang mau numpang masak di sini"


"Biar kami saja yang masak, memang mas ganteng nya mau masak apa?"


"Ehem--- " Zaky yang mulai panik hanya bisa diam dalam posisinya, perasaan cemas dan khawatir mulai ia rasakan, namun perasaan itu sudah mulai berkurang dari sebelumnya.


"Gini Ibu-ibu, mas ini mau numpang masak telur dadar sama tempe goreng untuk istrinya yaitu salah satu sahabat kami yang kemarin pingsan ternyata tengah hamil muda"


"OOO---" Secara serentak beberapa ibu-ibu di sana menjawab penjelasan yang di berikan oleh Yani, salah seorang sahabat Windu yang ia mintai tolong.


Akhirnya salah seorang ibu yang tampak lebih bijaksana di sana mulai menggiring Zaky lebih dekat menuju tungku yang tampak belum dipakai,


"Ya udah pak dokter bisa pakai tungku yang ini, biar kuali sama minyak nya saya siapkan dulu"


"Makasih bu, tapi saya bukan dokter Bu, saya hanya ingin menjemput istri saya ke sini"


"Owh gitu, ya udah kalau gitu mas nya tunggu di sini dulu, biar saya ambil kuali nya"


Akhirnya Zaky pun mulai menunggu, sesekali ia terus menyeka keringat yang yang tak dapat terkontrol. Selain dapur itu panas, namun pndangan dari semua ibu-ibu yang tak lepas memandangnya, membuat ia semakin gugup.


Dan tak berapa lama, kuali kecil yang sudah tampak berwarna hitam di setiap sisinya telah terpasang di atas sebuah tungku,


"Ini mas, kualinya dan ini minyak nya, saya letak sini ya koreknya mas,"


"Makasih bu,"


"Sama-sama mas, kalau gitu saya lanjut masak di sebelah sana"


Zaky pun menganggukan kepalanya, ia mulai memegang korek api di tangan kanannya, tampak otak nya berpikir keras bagaimana cara menghidupkan kompor yang baru pertama kali ia lihat selama hidupnya.


Dengan beberapa kali uji coba akhirnya Zaky berhasil menghidupkan api tungku, dengan penuh kesabaran yang extra akhirnya tempe goreng dan telur dadar siap di hidangkan.



Zaky lumayan kecewa dengan tampilan telur dadar dan tempe goreng yang baru ia masak, karena nyala api tungku yang cukup besar membuat ia sedikit kewalahan saat menggoreng, namun karena hanya memiliki satu telur, dan ibu-ibu yang tak berhenti membicarakan tentang dirinya membuat Zaky memutuskan untuk tetap membawa telur yang sedikit gosong itu kepada sang istri. Paling tidak ia bisa cepat keluar dari dapur yang hampir membuatnya mati lemas.


"Ndu, kakak udah bawa pesanan kamu"


"Hmmpppp--- "Windu yang sudah tidak lagi memakai selang infus sedikit terkejut melihat penampilan sang suami, dengan baju nya yang sudah sangat lepek, tampak di Bagain hidung dan pipi Zaky tampang hitam terkena arang.


Windu pun berusaha untuk menahan tawanya, ia merasa lucu sekali Gus kasihan melihat pengorbanan sang suami di untuk dirinya.


"Maka--sih kak, tapi?"


"Tapi apa Ndu? maaf apa kerena hasilnya gosong ya?"


"Hmm--enggak kak, bawa sini kak"


Zaky pun mulai mendekat lebih dekat ke ranjang Windu, ia pun meletakan piring yang ia bawa tepat di samping Windu,


"Hmmpppp--- Hahahah, hahaha, maaf kak, Windu gak tahan lagi, itu kenapa muka kakak cemong gitu?"


"H---" Zaky yang belum sadar hanya dapat melongo melihat Windu yang tidak bisa berhenti tertawa,


"Aduh--- "


"Kenapa Ndu? apa yang sakit"


"Gak papa kak, perut aku cuma sedikit keram"


"Sebaiknya kita pulang segera ke kota P Ndu, di sana kita bisa cek kesehatan kandungan kamu di RS, kakak gak mau kenapa-kenapa sama kamu dan calon anak kita"


"Windu gak papa kak, ini karena Windu kualat ngetawaain kak Zaky tadi"


Windu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan mulai mengatur kembali pernafasananya, setelah di rasa lebih ringan, ia kembali duduk secara perlahan.


Windu langsung mengambil tisu basah dari dalam tasnya,


"Kak Zaky lebih dekat deh!"

__ADS_1


"Hmm-- yang kamu sedang hamil apa gak papa kalau kita buat sekarang?"


"Ih apaan sih kak, siapa juga yang mau buat mesum sama kakak"


Windu akhirnya nya menarik ujung baju Zaky agar lebih dekat dengan dirinya, ia pun menarik kedua tangan Zaky hingga terduduk di kasurnya.


"Heheh, kamu agresif juga ya yang" Zaky pun langsung memonyongkan bibirnya ke arah Windu,


"Hoopp-- kak Zaky mau ngapain?" tangan kanan Windu yang tengah memegang tisu basah langsung menghalangi bibit Zaky yang hampir menyentuh bibirnya.


"Uwek-- itu apaan sih Ndu! rasanya pahit, "


"Habisnya kak Zaky sih mesum"


"Kan kamu duluan yang tarik kakak"


Windu langsung mengambil hp nya dan ia langsung menyalakan kamera depan,


"Ini kak, coba lihat wajah kak Zaky"


Zaky akhirnya paham akan tindakan sang istri sedari tadi.


"H--- pantas kamu ketawa dari tadi jadi karena ini"


"Ehem"


Windu akhirnya mulai membersihkan arang yang menempel di wajah Zaky,


"Gruuk"


"Itu suara perut kamu?"


"Iya kak Windu lapar,"


"Tapi ini gosong gimana dong"


"Gak papa tapi kak Zaky suapi"


"Gimana kalau beli di luar aja, karena nanti kamu sakit lagi kalau makan makanan gosong kaya gini"


"Aku mau nya yang ini"


Akhirnya setelah beberapa kali mengiba kepada Zaky. Zaky pun dengan terpaksa mulai menyuapi Windu hasil masakannya dari tangannya sendiri,


"Enak banget kak, asin nya pas, dan garing"


"Gar--ing? ini terlampau garing Ndu"


"Enggak kak ini enak banget, pasti di buat nya dengan cinta jadi enak"


"Cinta? tapi cinta aku gak gosong Ndu"


"Heheh"


Zaky yang melihat Windu sangat lahap saat makan mulai mencicipi sedikit hasil gorengan yang ia buat.


"Uwekk-- ini pahit Ndu, cepat kamu muntahin makanan nya Ndu, ini gak enak"


Zaky langsung membawa piring yang masih tersisa separuh telur dadar itu keluar, namun dengan cepat Windu langsung menahan lengan sang suami,


"Mau di bawa ke mana kak"


"Ini mau di buang"


"Jangan aku masih laper,"


"Tapi ini racun Ndu! ini bisa buat kamu sakit perut"


"Enggak kak, ini enak, aku mau makan lagi."


Dengan berkali-kali drama, akhirnya semua makanan yang Zaky buat ludes oleh Windu, dan malam itu Zaky mutuskan untuk tidur di dalam mobil, dan ia berencana besok pagi baru lah ia akan membawa Windu kembali ke kota mereka.

__ADS_1


Bersambung....✍️✍️✍️


__ADS_2