
Hari ini setelah berkonsultasi dengan dokter kandungannya maka hari ini Windu sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun sebelum pulang dokter kandungan Windu merekomendasikan seorang psikolog yang cukup bagus untuk menangani permalasahan sikis yang tengah Windu derita.
"Ndu? kamu baik-baik aja kan?"
Di mobil sepanjang perjalanan Windu sama sekali tidak berbicara, pandangannya terlihat kosong, tampak jelas ketakutan yang kini tengah ia rasakan.
"Iya kak, tapi aku sedikit worry, bagaimana kalau ternyata penyakit ini bisa mencelakai kehamilan Windu suatu saat?"
Sambil membelai tangan Windu, Zaky mencoba untuk menguatkan istrinya itu
"Sayang, kamu gak boleh berfikir terlalu keras. Ada kak Zaky disini, percayalah semua akan berjalan baik-baik saja, nanti malam kak Zaky akan menelpon dokter untuk membuat janji, sehingga besok pagi kita sudah bisa bertemu langsung dengan dokter itu untuk berkonsultasi"
Windu hanya bisa menganggukkan kepalanya, sembari menggenggam erat tangan suaminya itu. Yang dibalas beberapa kali kecupan lembut pada jemari windu oleh Zaky.
Setelah sampai di kediaman keluarga Zaky, Windu di sambut hangat oleh Beno, dan papa Tama,
"Zaky, kamu kemana saja hampir 1 Minggu kamu keluar rumah tanpa kabar apa pun?"
Papa Tama langsung memburu Zaky dengan rentetan pertanyaan setelah sudah lost contact dengan putra sulung nya itu.
__ADS_1
Belum sempat Zaky menjawab, Windu yang berjalan di belakang Zaky langsung tersenyum sambil menyembulkan kepalanya.
"Windu ??" papa Tama langsung berlari menuju menantu nya itu, ia pun langsung memeluk tubuh menantu nya itu.
"Papa, maafkan Windu pa! dan maafkan kak Zaky. ini semua karena Windu pa"
"Tidak nak, kamu jangan berkata seperti itu, papa senang akhirnya kamu mau pulang kembali ke rumah ini"
Tak berapa lama Beno yang baru pulang dari luar pun, merasa kaget atas kehadiran Windu di rumah mereka stelah hampir 5 bulan menghilang.
" Windu?" tampak senyum merekah dari bibirnya, namun ia hanya memandang Windu dari jarak 1 meter, Beno tidak ingin membuat kesalah pahaman lagi antara ia dan kakaknya.
"Ben? kamu apa kabar?" Windu yang telah lepas dari pelukan papa Tama, kembali tersenyum melihat ke arah sahabat kecil nya itu.
Maka hari ini pun menjadi hari pertama lagi bagi Beno bisa bertemu Windu, awalnya ia tidak ingin Windu kembali kepada sang kakak namun sejak beberapa bulan belakangan semua tampak berubah, setelah ia melihat penyesalan dan kesungguhan Zaky dalam mencari Windu kembali.
Maka sejak itu Beno pun tidak ingin mencampuri kehidupan rumah tangga Zaky lagi, ia menyerahkan semuanya kepada Zaky, dan membiarkan Zaky untuk menemukan cinta nya kembali dengan kemampuannya sendiri. tanpa memberi tahu siapa dalang di balik hilangnya Windu selama ini.
"Yaa sudah, karena kita semua sudah berkumpul kembali sebaiknya nanti malam kita makan malam dikira untuk merayakan kepulangan Windu di rumah ini, dan kamu Zaky papa ingin berbicara 4 mata dengan kamu di ruangan papa, sebelumnya antar lah dulu Windu untuk beristirahat di kamar kalian"
__ADS_1
"Baik pa, kalau begitu Zaky akan bawa Windu dulu untuk beristirahat"
Setelah menadapat persetujuan dari sang papa, Zaky langsung membawa Windu masuk ke kamar mereka.
Sampai di dalam kamar, tiba-tiba Windu langsung menitikkan air matanya tampak kesedihan yang begitu mendalam di sana.
"Kak, aku rindu banget kamar ini! kata nya udah tahunan aku pergi dari kamar ini"
Zaky pun kembali memeluk tubuh sang istri yang tampak bersedih. Dari pelukan Zaky Windu kembali terisak setelah melihat rumah yang dulu pernah ia tempati bersama Tante Via, rumah yang saat ini telah dihuni oleh orang lain.
"hiks..hiks.."
Zaky yang sadar akan kekalutan sang istri langsung menutup jendela kamar nya, letak kamar mereka yang berhadapan langsung dengan taman depan membuat secara otomatis siapa pun yang berdiri di depan jendela kamar itu maka akan mendapatkan view rumah besar milik Tante Via.
"Sayang, kamu jangan nangis lagi, gak kasihan apa dengan anak kita. Ingat kan dokter bilang, kalau kamu nya nangis, maka anak kita juga ikut menangis kaya mamanya"
"Ehem," Windu menganggukan kepalanya, sembari menyeka air yang keluar dari hidungnya,
"Tapi kak Zaky jangan pernah tinggalin Windu, karena sekarang Windu sudah sebatang kara kak, hiks-----, Windu hanya punya kak Zaky, Windu sudah kehilangan tan-te Vi-a....."
__ADS_1
Seketika tangis Windu pecah berubah menjadi raungan menyedihkan.
Bersambung.....✍️✍️