
Sesaat sampai di sebuah RS terdekat di daerah itu Windu segera mendapatkan penanganan khusus oleh pihak RS, beberapa menit sudah Zaky senantiasa menunggu pemeriksaan sang istri di luar ruangan.
Tampak Zaky tak hentinya untuk merapalkan doa demi kesembuhan sang istri tercinta,
"Jangan tinggalkan kakak Ndu, kamu harus bertahan demi anak kita Ndu" Zaky duduk di sebuah kursi panjang RS sambil merapatkan kedua tangannya. Tak berapa lama seorang dokter paruh baya yang di dampingi oleh seorang perawat di belakangnya mulai keluar dari ruangan pemeriksaan tersebut.
"Dok bagaimana keadaan istri saya dan calon anak kami dok? mereka tidak kenapa-napa kan dok? " Zaky langsung memburu banyak pertanyaan kepada sang dokter yang tampak sedang berfikir serius itu.
"Begini pak istri anda saat ini baik-baik saja, namun kondisi calon bayi nya---"
"Bagaimana kondisi anak saya dok? katakan dok?"
"Maaf tapi kondisi calon bayi anda sedang tidak baik-baik saja karena kelelahan dan stress berkepanjangan yang istri anda alami membuat bayi di dalam kandungannya mulai lemah, kondisi debaran jantung yang istri anda alami saat ini kuat membuat janin dapat keluar lebih awal"
"Apa dok? tolong---tolong selamatkan istri saya dok, tolong dok"
"Bapak tenang saja, kami dari pihak RS akan menolong istri anda untuk menyelamatkan calon bayi nya semampu kami, namun kami tidak bisa berjanji untuk hal itu. Karena saat ini selain dukungan dari keluarganya hanya sebuah mukjizat yang dapat membuat sang jabang bayi bisa bertahan"
"Jadi saat ini apa yang harus saya lakukan Dok? tolong beri tahu saya dok?" Terlihat Zaky sangat sedih saat ini tak hentinya kedua mata merahnya memancarkan kilatan air mata yang tampak tak dapat lagi keluar.
"Jangan berhenti berdoa pak, dan kuat kan istri anda di sana, buat lah ia tenang dan nyaman. Saya harap Allah akan memberikan sebuah hidayah kepada anda dan istri anda"
Setelah menepuk pelan pundak Zaky dokter itu pun mulai menjauh dari sana di ikuti seorang perawat di belakang nya, dan Zaky pun memilih untuk segera masuk ke dalam ruang rawat tersebut.
Ia dapat melihat Windu saat ini terlihat begitu lemah di atas ranjang rumah sakit tersebut. Dengan kondisi yang lusuh Zaky duduk di samping ranjang Windu,
"Sayang ini kak Zaky, kamu pasti kuat yang. Kak Zaky akan terus menjaga kamu dan anak kita disini"
Zaky menggenggam sebelah tangan Windu dengan penuh cinta, beberapa kali ia mencium lembut jari jemari sang istri yang masih setia menutup kedua matanya. Tak berapa lama setelah itu tiba-tiba tangan Windu pun mulai bergerak pelan,
__ADS_1
"Hmm--, sayang kamu sudah sadar yang?"
Kedua mata Windu pun mulai mengerjab pelan,
"Kak Zaky?"
"Iya Ndu, ini kakak. Mana yang sakit bilang sama kakak?" kedua tangan Zaky dengan lembut membelai kedua pipi Windu,
"Kak, jangan tinggal kan Windu kak, Windu gak bisa kalau harus hidup tanpa kak Zaky"
"Jangan sedih lagi yang, kakak janji tidak akan meninggalkan kamu lagi, apa pun yang terjadi kak Zaky akan selalu ada untuk kamu dan anak kita".
Seketika Windu langsung membelai perutnya perlahan,
"Anak mama, kita akhirnya sudah bertemu papa"
"Iya kak, Windu janji" dengan berlinang air mata Windu menganggukan kepalanya.
*
*
Siang ini Zaky tengah menyuapi makan siang untuk sang istri tercinta, dengan lahap Windu menerima suapan demi suapan bubur dari setiap sendok yang Zaky gunakan.
"Kak, kenapa tadi kak Zaky pergi gak bilang sama aku ?"
"Hmm--, itu kak Zaky hanya ingin mendapatkan maaf dari Tante Via, dan----" Cukup lama Zaky memilah kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Windu, namun ia tidak dapat menemukan kata yang bisa menenangkan hati sang istri, ia tidak mau memperparah kondisi sang istri kembali, dengan memikirkan hal berat atas kejadian yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Tante Via.
"Sayang sebaiknya kita tidak usah membahas lagi masalah ini. Saat ini sebaiknya kita fokus saja akan kesembuhan kamu dan anak kita"
__ADS_1
"Baik lah kak" Sejujur nya Windu masih sangat penasaran tentang kejadian yang terjadi antara Zaky dan sang Tante, namun saat ini ia tidak mau membuat Zaky marah kembali kepada dirinya.
"Makasih ya sayang. Semakin hari istri kakak semakin dewasa, gak kaya bocil lagi"
"Hahah---- enak aja bocil, aku itu udah dewasa ya kak, ini aja aku lagi ngandung bocil. masa masih di bilang bocil"
"Gak kok, kak Zaky cuma bercanda, mana mungkin istri kak Zaky bocil. Cantik gini, cuma sekarang kurang bohay aja"
"Dugh" Sebuah pukulan pun akhirnya mendarat di bahu Zaky,
"Masih bisa ngatain aku? awas ya kak Zaky gak bakal aku kasih jatah lho!"
"AWww"
"Hahah---- memang kamu nya udah bisa ngasih jatah?"
"Ya gak sekarang juga tunggu lahiran dong kak"
"Yah lama amat yang, kalau tunggu nya sampai kamu lahiran. Ini aja udah 4 bulan kak Zaky puasa yang"
"Hmm--, sabar ya kak, sebenarnya aku juga udah kangen banget sama kak Zaky, tapi aku takut kalau entar dedek nya gak terima"
"Wkwk-- entar kalau kamu udah baikan biar kak Zaky yang bujuk si dedek biar mau di ganggu sama papanya"
"Hahaha"
Sore itu pun menjadi riuh dengan canda dan tawa dari kedua pasang suami istri itu, walau sakit namun Windu merasa sangat bahagia saat berada di dekat sang suami tercinta.
Bersambung...✍️✍️
__ADS_1