
Seminggu berlalu...
Kehidupan Reza dan Via semakin hari semakin bahagia. Mereka sama sama menikmati peran mereka masing masing.
Ketika Reza pergi ke kantor,maka Via akan di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Dan ketika Reza pulang,maka mereka akan menghabiskan waktu mereka berdua untuk sekedar bermanja, satu sama lain.
Sedangkan,di kediaman William .
William sendiri merasa waswas. Sejak kehadiran lelaki yang bernama Yonathan Robert Moto ke kantor seminggu yang lalu,dia semakin bimbang. Haruskah dirinya memberi tahukan kebenaran ini?
Flashback...
Delapan belas tahun yang lalu,...
William sedang melakukan kunjungan ke salah satu panti asuhan terbesar di kotanya. Dia menjadi donatur tetap di yayasan tesebut.
Sebulan sekali,William akan mengajak Dina beserta Kia kecil,dan Reza yang masih dalam gendongan Dina untuk mengunjungi panti asuhan itu.
" Kita mau ke mana,Pi? " tanya Dina ketika dia menyusui Reza di depan jok mobil yang sedang di kemudikan William.
Sedangkan Kia sudah tertidur di jok belakang mobil sambil memegang boneka teddy bear kesayangannya.
" Kita akan berangkat ke panti asuhan Muara Bunda,seperti biasa " ucap William sambil menoleh. Untuk sesaat dia tersenyum melihat bayi Reza yang sedang minum susu begitu rakusnya.
" Papi....Berhenti.. " teriak Dina tiba tiba,membuat William menginjak rem secara mendadak bahkan membangunkan Kia dari tidurnya. Beruntung di antara mereka tidak ada yang terluka. Dan jalanan lagi sepi pengendara. Setelah itu William menepikan mobilnya.
" Ada apa,Mi? " tanya William heran.
" Iya,kenapa Mami teriak. Aku kan jadi kaget " ucap Kia kecil.
" Lihat itu,wanita itu, Pi... " ucap Dina menunjuk seseorang yang sedang berlari menuju arahnya, di kejar dua pria dan satu wanita di belakangnya.
William pun mengikuti telunjuk Dina,memang benar. Ada seorang wanita yang sedang berlari sambil memegang perut besarnya di ikuti tiga orang di belakangnya.
" Tolong bantu dia,Mami mohon... " pintanya pada William.
Dina merasa iba pada wanita itu,apalagi saat melihat dia berlari sambil memegang perut besarnya.
" Baiklah... " Ucap William sambil keluar dalam mobil lalu menghampiri perempuan tadi.
" Berhenti kalian " teriak William di saat wanita itu telah melewatinya.
" Tuan,larilah. Mereka sangat berbahaya,Tuan. Mari " ajak wanita itu, ketika William teriak menghentikan aksi ketiga orang yang sedang mengejarnya.
" Nyonya tenang saja,lebih baik nyonya masuk ke dalam mobil itu. Di sana ada istri saya " Perintah William.
" Baiklah...Tapi,....?" ujar wanita itu penuh ketakutan.
" Cepatlah masuk,Nyonya " potong William di saat ke tiga orang itu sudah mendekat.
Mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
" Siapa kamu? Kanapa mencampuri urusanku? " teriak wanita yang William yakini adalah orang yang tlah membayar ke dua lelaki di sampingnya.
" Apa kalian tidak merasa kasihan,ketika kalian berencana ingin berbuat hal buruk pada wanita yang sedang hamil besar? " bentak William tak kalah.
Wanita itu hanya tersenyum sinis,
" Dia pantas mendapatkannya ,karena dia telah merebut suamiku,dan memisahkan anakku dari ayahnya " jelas wanita itu " Jadi,berikan dia padaku " lanjutnya.
" Sayangnya,aku tidak akan menuruti permintaanmu " kata William tegas membuat wanita itu meradang.
William tidak mungkin membiarkan dua orang nyawa dalam bahaya. Dia tak pernah membayangkan hal itu terjadi.
" Sial, kalian hajar dia " Perintah wanita itu pada kedua lelaki di sampingnya.
" Baik Bos " katanya sambil mendekati William dan bersiap berkelahi.
Bag.. bug... bag... bugh...
Mereka menyerang William membabi buta. Membuat Dina,Kia dan wanita di belakang mobilnya menutup mata. Ngeri rasanya,ketika mereka melihat perkelahian yang tidak seimbang itu.Namun dengan cekatan William menangkis serangan mereka. Hingga perkelahian itu di menangkan William walau dalam keadaan wajah babak belur.
" Huh... Beruntung sekali dia bertemu denganmu " sinis wanita itu menatap William di saat ke dua anak buahnya terkulai di pinggir jalan.
" Namun ingat,Aku Lita Siregar Kurnia tidak akan pernah melepas wanita itu barang sedetik pun,Tuan " ucapnya sambil berlalu meninggalkan William yang menatap Lita dengan tatapan membunuh.
Sungguh,ingin sekali William mencekik leher Lita di hari itu,tetapi mereka tidak mampu melakukannya.
Dina dan wanita itu membuka mata di saat William masuk dan duduk kembali di jok mobil.
" Iya,Apa kandungan nyonya juga baik baik saja " timpal Dina.
" Aku baik baik saja,Tuan,Nyonya. Terima kasih telah membantuku " ujar wanita itu.
" Sama sama. Ngomong ngomong Nyonya mau ke mana sekarang? Biar saya dan suami antarkan " tanya Dina.
" Saya juga tidak tahu,Nyonya " jawab wanita itu tertunduk sedih.
Dina yang merasa kasihan pun memegang tangan William, dia mencoba meminta pengertiannya dari William. William menoleh lalu tersenyum.
" Ikutlah dengan kami ke panti asuhan Muara Bunda. Anda bisa tinggal di sana sampai kapan pun anda inginkan " ucap William membuat wanita itu mendongakkan kepalanya.
" Tidak Tuan,Nyonya. Saya tidak mau merepotkan kalian " tolaknya secara halus.
Tetapi bukan Dina namanya kalau tidak bisa membuat wanita itu menerima pertolongannya.
" Sayangnya, Kami tidak suka dengan penolakan " ujar Dina. Dan mau tak mau,wanita itu menuruti permintaan Dina.
" Oh iya, Perkenalkan...Saya Dina Simone dan suami saya William Simone " ucap Dina tersenyum
Untuk sesaat Dina menoleh menatap Kia yang sudah tertidur kembali.
" Saya Veranika Dwi Moto " ujar Vera pelan.
__ADS_1
" Nama yang bagus... Sepertinya,anda bukan orang sini " ucap Dina.
" Anda benar nyonya, saya bukan berasal dari negara ini. Saya berasal dari Islandia " ucapnya lirih " Saya ke sini karena mengikuti suami saya,saya kira dia benar benar mencintai saya. Tetapi tiga bulan ini saya tahu,ternyata suami saya sudah mempunyai istri dan satu putri. Dan tadi adalah istri pertama suami saya. Dia menginginkan kematian saya juga janin yang ada dalam kandungan saya. Sungguh saya memang bodoh mau bertemu dan berteman dengan istri tua suami saya.Saya kira dia benar benar menerima saya sebagai istri mudanya " kata Vera membuat William dan Dina terlonjak kaget.
Mereka tidak mengira bahwa wanita itu akan menceritakan kepelikan dalam rumah tangganya.
" Saya sangat bodoh bukan? . Mempertahankan suami yang memang tidak peduli pada saya dan anak ini " ucapnya mengelus perut sambil berderai air mata. Dadanya sesak saat mengingat lelaki yang di anggap suaminya itu.
Dina dan William ikut merasakan sesak dalam hatinya. Mereka tidak tahu kalau wanita yang mereka tolong itu adalah korban dari kebejatan lelaki yang mengatas namakan suami.
" Anda tidak bodoh Nyonya,anda hanya terlalu mencintai lelaki salah, selama ini " ucap William.
" Benar,sungguh merekalah yang sangat bodoh telah menyia nyiakan wanita seperti anda. Anda harus kuat " Dina menguatkan sambil menoleh menatap Vera dan tersenyum.
Keakraban mereka berlanjut hingga mereka tiba di tempat tujuan.
" Mari nyonya,Vera " Ajak Dina.
Vera dengan perlahan turun dan mengikuti Dina yang masih menggendong bayi mungil Reza. Sedangkan William menggendong Kia yang baru bangun dari tidurnya.
Mereka berjalan bersama lalu menemui pengurus panti asuhan tersebut.
" Vera.... " teriak seorang wanita paruh baya menghampiri Vera lalu memeluknya.
" Ibu mertua... " ujarnya pelan,mengagetkan Dina dan William.
Entah itu takdir atau memang kebetulan. Vera bertemu dengan ibu mertuanya yang sangat menyayangi dia di saat Vera dalam keadaan tidak baik.
" Kenapa kamu ke sini,Nak ? " tanya Sukma ( Mertua Vera ) menarik kembali Vera dalam pelukannya.
" Dia hampir di bunuh oleh istri tua anak anda, Nyonya " sakras Dina membuat Sukma diam mematung.
Dia tidak bisa mengendalikan kekesalannya lagi. Kenapa wanita sebaik Vera,mereka sia siakan? pikir Dina.
" Benarkah itu,Nak ? " tanya Sukma pelan. Namun Vera tidak menjawab,hanya terdengar tangisan pilu dan tubuh yang gemetar Sukma rasakan.
" Kalau anda tidak bisa menyayangi menantu,Anda. Buatlah dia pergi dari hidup anda dan anak lelaki anda itu. Dan sayangilah menantu tertua anda " marah Dina menggebu gebu.
" Sungguh nyonya,saya sangat menyayangi menantu saya. Namun menantu ini yang saya sayangi " ucap Sukma " Saya tidak pernah menganggap istri pertama anak saya sebagai menantu,justru dialah menantuku,putriku. " lanjutnya, beber Sukma berderai air mata.
Dia memang sangat menyayangi Vera,dia tidak pernah menganggap Lita sebagai menantunya. Dia juga kecewa kepada anaknya,Baron di saat tahu kelakuannya. Namun Sukma bahagia,akhirnya dia mendapatkan menantu yang baik seperti Vera,bukan menantu serakah seperti Lita.
◇◇◇◇
Besok masih Flashback ya...
Sabar say...
😘😘😘
Bersambung..
__ADS_1