
Malam pun tiba...
Reza,Dina dan William sedang duduk di sofa rumah sakit yang ada di ruang rawat Via. Mereka sedang berbincang setelah makan malam selesai. Sedangkan Via sendiri telah tertidur di brankar rumah sakit.
" Sebenarnya bagaimana mereka bisa tahu kalian di sini? " tanya William.
" Mereka mengikuti kami. Paman Anton dan Miko. Awalnya mereka mengikuti kami,tapi paman Anton berubah fikiran dan bertemu dengan Ayah Baron tanpa sengaja. Setelah itu berbalik melawan Miko demi istriku dan Susan " ucap Reza.
Dina dan William mengangguk paham. Mereka juga tidak mengira,kalau akhirnya yang menjadi penyelamat Via dan Susan adalah ayah mereka sendiri.
" Terus,bagaimana keadaan mereka? " tanya William penasaran.
Sejak tadi Reza tidak memberi tahukan bagaimana keadaan Anton dan Baron yang sebenarnya.
" Untuk paman Anton,dia mengalami beberapa luka menganga di beberapa bagian tubuhnya. Yang lebih parah,dia mengalami patah tulang tangan. Dan untuk ayah mertua.. " Reza diam sesaat.
" Bagaimana keadaan dia? " tanya Dina. Dia juga ikut penasaran bagaimana keadaan lelaki yang sudah berbuat seperti iblis jelmaan manusia itu.
" Ayah mertua mengalami kelumpuhan. Akibat tendangan yang kuat dan tepat mengenai sarap dan otot serta beberapa tulang yang remuk di bagian kakinya membuat dia tidak dapat menggerakkan kakinya. Entah sampai kapan." ucapnya.
Dina dan William diam mematung. Mereka tidak pernah berpikir bahwa semuanya akan berakhir seperti ini.
" Apa semua itu benar,Mas? " tanya Via dengan suara berat dan gemetar.Terlihat cairan bening pun ikut membasahi pipinya.
Reza,Dina dan William sontak menoleh,manatap Via. Jantung mereka berdebar seketika. Entah,apa yang harus mereka katakan setelah Via mengetahui semuanya.
" Jawab,Mas. Apa yang aku dengar itu kebenaran tentang ayah?" tanya Via lirih.
" Sayang,sudah bangun? " tanya Reza mengalihkan pembicaraan.
Reza mendekat dan memeluk tubuh istrinya. Dia merasa bersalah telah membuat istrinya bersedih.
" Jawab,Mas!!! " ucap Via di sela-sela tangisannya.
" Iya,ayah mengalami kelumpuhan " jawab Reza.
" Kenapa semua terjadi pada ayah? "
" Sudah,ini mungkin ujian buat ayah,agar dia lebih baik lagi " kata Reza.
Via mengangguk,bagaimana pun semua tidak akan dapat di ulang kembali. Dan Via juga berharap,setelah semua kejadian ini,Baron dapat berubah serta menerima semua yang terjadi pada dirinya .
^
Setelah kepulangan Dina dan William,serta Via yang sudah kembali tidur. El datang dengan tergesa dan langsung masuk ke ruang rawat Via tanpa melihat raut wajah Reza yang kini telah berubah.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan dia? Bagaimana keadaan kandungannya? "
" Mereka baik kak "
hulft...
" Sukurlah. Aku tidak tenang sebelum melihat keadaan adik tercintaku" ucap El sambil mendekati brankar tempat Via terbaring.
Cup..
Di kecupnya kening Via perlahan oleh El,meskipun tak luput dari pandangan Reza yang sudah siap memangsa.
" Kamu sehat terus,dek. Jaga calon ponakan kakak " ucap El.
Setelah itu dia berbalik menatap Reza sambil mendekat.
" Bagaimana dia? " tanya Reza.
" Dia terancam hukuman mati. Tapi untuk sekarang,kejiwaannya sedang terganggu " kata El.
" Aku gak habis pikir,kenapa ada lelaki yang seperti itu "
" Ya,mungkin salah satunya dia. Karena tidak ada lelaki yang akan seperti itu selain dia " ucap El.
^
Keesokan paginya,Via terbangun lebih awal. Dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Sampai dia tersenyum di saat netranya menemukan suami serta kakaknya sedang terlelap sambil bersender di sofa.
Disaat Via tersenyum,El bangun lebih awal dan tersenyum melihat Via.
" Apa tidurnya nyenyak? " tanya El sambil mendekat.
Via mengangguk," Makasih,Kak " ucapnya.
" Tidak ada kata terimakasih untuk kita berdua,Sayang. Karena kamu adalah adik kecil kakak " ucap El.
" Baiklah "
" Sayang... " panggil Reza sambil mendekat,dia terbangun di saat El berbicara dengan Via.
" Gimana sekarang? " tanya Reza
" Aku baik. Bolehkah aku bertemu dan melihat ayah? " ucap Via penuh harap.
Untuk sesaat Reza terdiam,namun setelah itu dia mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Tepat pukul 10,setelah sarapan dan membersihkan diri. Reza serta Via menuju ruang rawat di mana Baron di tangani selama di rawat di rumah sakit. Berbeda dengan El,dia pergi dan kembali ke kantornya.
Setelah handle pintu terbuka,terlihatlah Baron yang masih terbaring lemah sambil di suapi suster yang sedang berjaga.
Ketika matanya menatap putri yang selama di sakitinya,air mata Baron meluncur begitu saja. Rasa bersalah serta rasa malunya bercampur aduk di hatinya.
" Bagaimana keadaannya sekarang,Sus? " tanya Reza.
" Beliau sudah lebih baik dari kemarin. Mari Pak,Bu. Saya permisi dulu " ucapnya berpamitan.
Via dan Reza mendekat.
" Kemarilah,Nak " pinta Baron yang seketika membuat tubuh Via bergetar hebat.
" Maafin ayah,selama ini ayah egois dan tak memikirkan perasaanmu,Nak. Tapi semua ayah lakukan untuk menjagamu bersama ibumu " ucapnya.
Via terdiam hanya mendengar apa yang Baron akan katakan selanjutnya.
" Ayah melakukan itu semua atas permintaan Bunda Lita. Ayah minta maaf. Waktu itu,bunda Lita mengancam akan membunuh nenek juga kamu. Dan ayah tidak bisa berbuat sesuatu selain membiarkan mereka menyiksamu,asal jangan pernah membunuhmu. Ayah minta maaf,Nak. Memang semua tidak pantas untuk kamu memberi maaf pada ayah. Demi kehidupan juga keinginan ayah yang dapat terus melihatmu,maka pilihan ayah hanya bisa menyakitimu " kata Baron membuat Via nangis tersedu-sedu.
" Tidak. Tidak ada yang harus Via maafkan. Karena Via sudah tahu semuanya " ucap Via.
Deg...
Jantung Reza dan Baron berdetak lebih kencang secara bersamaan. Bagaimana dia bisa tahu semua itu? pikir ke duanya
" Apa kamu benar sudah tahu,Sayang? " tanya Reza.
" Iya,dari kaset video yang kamu simpan di laci lemari kerjamu " ucap Via.
Jadi,dia tahu semua dari kaset yang sempat ku taruh waktu papa mertua mabuk. Aish,kenapa aku selalu ceroboh.
" Aku juga minta maaf karena selalu membenci ayah " ucap Via.
Namun bukan jawaban yang Via dapat,hanya tangan yang terlentang Baron yang menginginkan Via mendekapnya. Dan dengan cepat Via memeluk tubuh Baron yang di sambut dengan pelukan erat serta tangisan pilu dari Baron.
" Jangan pernah ada air mata lagi di hidupmu,karena ayah akan marah untuk itu "
Reza hanya dapat tersenyum melihat betapa istrinya sangat bijaksana. Dia menjadi semakin cinta dengan istri mungilnya itu. Dan sekarang pikiran Reza pun terasa kosong tanpa beban.
*Terima kasih Tuhan. Kau memberi hal yang sangat terbaik di hidupku. Dan hal yang sangat membahagiakan di hidup kami. Semoga kebahagiaan ini akan terus ada di dalam hidup kami. Batin Reza.
^
Bersambung*..
__ADS_1