
" Aku tidak akan pergi tanpa suamiku " ucap Via gemetar.
Dina yang ikut merasakan rasa sakit di hati menantunya memilih mendekat dan menarik Via ke dalam pelukannya.
" Mami tidak akan biarkan kalian berpisah " kata Dina mencoba menenangkan Via.
" Saya tidak akan memisahkan kalian. Hanya saja suamimu harus ikut dengan kamu kalau memang tidak ingin berpisah " ucap Robert.
" Tolong beri mereka waktu,Nat " kata William.
" Cukup " teriak Dina. " Cukup kamu menghancurkan anakku, William. Jangan ikut berbicara lagi. Waktu itu tidak akan mereka perlukan. Karena kebodohanmu semua ini terjadi. Karena kebodohan kalian semua ini terjadi " ucap Dina menggebu gebu.
Dina tidak rela jika harus kehilangan anak mereka kembali. Cukup Zaskia yang selama ini memilih pergi dan menjauh dari keluarga. Jangan sampai Reza mengikuti langkah anak pertamanya.
" Maafkan Papi... Papi tidak pernah berpikir bahwa ucapan Papi di masa lalu,akan menyakiti hati kalian " kata William tertunduk.
" Huh..gak ada gunanya, kamu baru menyadari ini semua " ucap Dina.
" Maafkan kami,Nak. Kalau sudah ada perjanjian di antara mereka berdua,kami tidak bisa membantu. Apa lagi ini menyangkut masalah pewaris perusahaan yang anak bungsuku tinggalkan " ucap Edward tertunduk sedih.
" Kalian sama sama egois... Tidak memikirkan betapa sakit putriku,betapa kecewa putraku " kata Dina yang ikut menahan sesak di dadanya.
" Kalian pikirkan saja,jalan mana yang akan kalian ambil. Yang jelas,Via tetap harus ikut dengan kami. Karena perusahaan itu membutuhkannya " ucap Robert.
Robert mengerti jika mereka membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan ini terutama Silvia.
Setelah perkataan yang terakhir Robert lontarkan,dia pergi di ikuti keluarganya. Mereka semua memilih keluar dan menyisakan William,Dina dan Via.
" Puas kamu,Pi. Dengan keputusan sepihakmu itu membuat kami menerima konsekuensinya " ucap Dina dingin tanpa melihat arah William " Puas kamu telah menghancurkan kebahagiaan anak kamu sendiri. Puas kamu telah menambah luka menantumu sendiri." lanjutnya.
" Ingat,aku akan pergi mengikuti anak dan menantuku ke manapun mereka pergi. Meskipun harus meninggalkan kamu di sini sendiri " ucap Dina kemudian.
__ADS_1
William terdiam mematung. Memang ini adalah kesalahannya yang terlalu terburu buru mengatakan iya di saat Robert meminta Via di saat dia berusia 18 tahun.
William tidak pernah berpikir bahwa masalah ini akan serumit ini. Awalnya dia mengira bahwa antara Reza dan Via tidak akan benar benar menjadi sepasang suami istri.
Sungguh dia sangat menyesal telah melakukan kesepakatan itu. Kalau saja waktu dapat di putar kembali. Maka dia tidak akan menerima syarat yang di ajukan Robert padanya.
" Maafkan Papi. Jangan tinggalkan Papi sendiri " ucap William parau.
Sedangkan di lain tempat,Reza sedang termenung di sebuah kursi taman dengan air mata yang selalu keluar dari ujung matanya.
Kenapa dunia ini sangat kejam padaku...
" Heh...,dunia ini ternyata sempit ya... Ku kira bukan calon suamiku yang sedang duduk di sini " ucapnya sambil mendekat lalu duduk di samping Reza.
Reza yang sedari tadi menahan amarah,kini di tambah lagi dengan kehadiran wanita yang berniat melenyapkan istrinya.
Dengan tatapan tajam dan menusuk,Reza berdiri dan berlalu pergi. Namun sebelum Reza pergi,tangan Reza di cekal oleh wanita itu hingga berakhir memeluk Reza dari belakang.
" Kenapa kamu tidak pernah mencintaiku,Mas. Kurang cantik apa aku ini di bandingkan dengan istri kampunganmu itu " kata dia.
" Aku mencintaimu,Mas. Aku gak akan biarkan kamu menjadi milik orang lain selain menjadi milikku " kata Grace dengan suara manja.
Reza melepas pelukan Grace, berbalik lalu mencekik leher Grace. Sudah cukup dia menahan amarah yang sedang bergemuruh dalam hatinya.
" Kalau kamu sudah bosan hidup,baiklah. Aku akan mencekik kamu hingga nyawamu tidak dapat kembali pada tubuhmu. Sehingga tidak ada wanita gila yang akan mengganggu serta mencelakai istriku " kata Reza dingin sambil menekan kata katanya.
" uhuk..uhuk..Mas...uhuk..aku mohon..uhuk...le..pas....kan... " Ucap Grace tergagap.
Kali ini Grace benar benar berjanji tidak akan mengusik Reza lagi. Dia tidak mau mati begitu saja di tangan Reza,meski dirinya sangat mencintai Reza.
Setelah Reza melepas cekikan di leher Grace,tak lupa dia mengucapkan kata kata yang mampu membuat Grace semakin merinding.
__ADS_1
" Kalau kamu bersikap seperti ini kembali,jangan harap esok kamu dapat melihat sinar mentari lagi "ucap Reza sambil berlalu pergi.
◇◇◇
Sedangkan di rumah William,Via meminta keluarga kembali berkumpul.
" Aku tidak akan pergi ke Amerika,inilah keputusanku " kata Via membuat Robert kecewa. " Biarlah aku tinggal di sisi keluargaku bersama suamiku. Anggaplah perjanjian di antara Papi mertua dan paman tidak pernah terjadi. Aku gak akan meninggalkan keluarga ini " lanjutnya.
" Tapi,Kamu... " kata Robert.
" Aku juga tidak akan mengambil perusahaan bunda secara pribadi. Kalau pun paman memaksa,aku akan memantaunya dari sini dan biarkan suamiku yang menjalankannya. Juga hanya sesekali untuk berkunjung ke sana " ujar Via mengembangkan senyum Dina.
Setelah perdebatan antara William dan Dina di kamar tadi,Via merenungkan keputusannya. Walaupun dia harus kehilangan perusahaan Vera yang menantinya,tapi dia tidak mau kehilangan keluarga yang menyayanginya.
Sudah cukup untuk Via dan Reza yang sama sama mengalami hal buruk di masa lalu. Dan Via tidak mau hal itu terjadi kembali pada Via dan Reza.
" Apakah kamu tidak bisa mempertimbangkan kembali keputusanmu,Nak? tanya Robert
" Tidak akan. Aku akan tetap tinggal di sini bersama keluarga yang menyayangiku " ujar Via mantap. " Dan biarkan semua berjalan seperti semula. Aku hanya akan memantaunya saja " lanjutnya.
" Baiklah. Paman harap ini yang terbaik,walaupun pada akhirnya kamu memilih tinggal di sini. Namun aku juga sangat berharap padamu,Will. Sayangi anakku,dan biarkan perjanjian kita menjadi masa lalu di antara kita " kata Robert kemudian.
Sejujurnya Robert sangat berharap Via ikut bersama ke Amerika,menjalankan perusahaan sendiri,bukan hanya memantaunya saja. Namun apapun keputusan Via,dia akan menerima demi kebahagiaan keponakannya.
Sepuluh menit yang lalu,di saat Robert keluar dari kamar Reza di ikuti Edward,Astrid,Cerrie dan El,Edward meminta Robert untuk berbicara empat mata dengannya.
" Kalau kamu tetap memaksakan perjanjian antara kamu dan mertua cucuku,maka jangan harap kamu dapat melihat kebahagiaan kembali di wajah keponakanmu itu. Karena kebahagiaan Nata hanya ada pada diri suaminya " ucap Edward menohok hati Robert.
" Maafkan keegoisanku, Ayah. Aku akan terima semua keputusan Nata,apapun itu " pasrahnya.
" Belajarlah bersikap bijaksana. Karena tidak semua keinginanmu dapat tercapai " kata Edward selanjutnya.
__ADS_1
Sedari tadi Edward menatap cucu dan cucu mantu yang baru di temui nya. Dia ikut merasakan kepedihan yang cucunya rasakan di saat Robert mengatakan kebenaran dan perjanjian di masa lalu mereka.
Sudah cukup untuknya kehilangan anak perempuan sampai ia meninggalkan dunia ini. Dan Edward tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Apalagi mengambil kebahagiaan seorang lelaki yang begitu mencintai istrinya. Begitu pun dengan Via,dia tidak ingin merusak kebahagiaan cucunya.