Si Mungil Kesayangan

Si Mungil Kesayangan
Resign


__ADS_3

Via diam mematung di dekat kursi yang kini di tempati Reza dan William.Dia tidak habis pikir,ternyata selama ini Baron tidak pernah berubah sedikit pun. Bahkan kelakuannya semakin menjadi.


Ayah.. pantaskah kamu di sebut ayah? Kelakuanmu sungguh memalukan. Tidak mencerminkan seorang Ayah.


" Mas, Papi " ucap Via setelah dia berhasil meredakan kekecewaan dalam hatinya.


William dan Reza menoleh,mereka tersenyum di saat melihat Via yang kini tersenyum menatap keduanya.


" Ada apa,Sayang? " tanya Reza.


" Kata Mami,kita makan dulu "


" Baiklah. Kami akan ke sana sebentar lagi " jawab Reza.


Setelah itu Via kembali menghampiri Dina,meninggalkan William dan Reza yang masih melanjutkan pembahasan masalah perusahaan.


^


Setelah acara makan malam keluarga,Reza mengajak Via ke kamar mereka dan ingin memberikan sesuatu yang sempat tertunda sejak tadi.


" Ada apa,Mas? "


" Mas,mau minta waktunya sebentar,boleh? "


Via tersenyum," Boleh,memang mas mau apa? "


Reza memberikan dua tiket liburan ke pulau B selama seminggu. Dia ingin mengajak Via berlibur setelah masalah yang mereka hadapi satu - persatu terselesaikan.


" Ini ... ? "


" Iya,mau kan? Kita babymoon di sana? " kata Reza penuh harap.


Via tersenyum dan mengangguk antusias.


" Mau Mas " katanya. " Tapi.. " ucapnya ngagantung.


" Kita periksa dulu baby nya sebelum berangkat " potong Reza.


Dia tahu bahwa Via mengkhawatirkan kandungannya. Bagaimana pun dia juga sama khawatirnya dengan kehamilan Via. Terlebih sejak kejadian sebulan yang lalu. Yang membuat dia harus puasa akan keinginannya.


" Apa Mami dan Papi akan mengijinkan,Mas? " tanya Via.


" Mereka yang mengusulkan ini pada,Mas" jawab Reza.


Setelah itu mereka bersiap untuk tidur. Karena besok Via dan Reza akan berkonsultasi pada dokter Julie tentang kondisi bayi mereka.

__ADS_1


^


Pagi ini Via terbangun karena mual yang selalu menyerangnya setiap pagi. Di usia kandungan yang baru memasuki minggu ke 11 membuat Via masih merasakan lelah serta mual yang berlebih.


Reza menyusul Via ke kamar mandi setelah mendengar suara Via yang sedang muntah. Ini sudah menjadi kebiasaan Reza ketika Via muntah maka ia akan menyusul Via.


" Apa sudah baikan? " tanya Reza.


Via hanya tersenyum dengan wajah pucat dengan tubuh yang masih terasa lemas.


" Maafkan Mas yang membuatmu merasakan begitu banyak penderitaan ketika mengandung dia " ucap Reza.


" Gak ada yang perlu di maafkan. Ini sudah menjadi kebiasaan wanita hamil,di saat kehamilannya masih trimester pertama " jelas Via.


Reza membantu Via keluar dari kamar mandi. Dia juga membantu istrinya untuk merebahkan tubuhnya kembali,berharap mual yang kini di rasakan istrinya akan sedikit berkurang.


" Mas bikin teh anget dulu kalau begitu. Jangan turun selagi Mas gak ada "


" Iya Mas "


Reza menuruni anak tangga,namun untuk sesaat dia terdiam mendengar sayup-sayup suara di balik pintu yang sedikit terbuka tepat di depan kamar Papi dan Maminya.


" Apa harus Reza yang melakukannya,Pi " kata pertama yang Reza dengar.


" Iya,karena dia pewaris sah perusahaan yang Kia kelola saat ini. Sedangkan dia meminta ayah untuk tinggal di sini. Maka biar Kia yang mencari pemilik tanah yang pas buat resort itu dan membiarkan Reza dan Via untuk pergi ke Amerika dan mengelola perusahaan mereka di sana " jelas William membuat Reza diam mematung.


Untuk dia sendiri,mau di manapun dia di tempatkan di dalam perusahaan, yang penting dia dan Via tidak berpisah dan tetap bersama.


" Lalu,bagaimana dengan Leonil? " tanya Dina.


" Kebetulan,mantu kita sedang di tugaskan Samuel untuk mengelola perusahaan miliknya yang ada di sini " jawab William


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang Reza dengar selain keheningan di balik pintu tersebut.


^


Reza melanjutkan langkahnya dengan berbagai pertanyaan di otaknya. Ada yang harus dia katakan pada Via kalau misalkan acara babymoon yang akan mereka lakukan hanya sebuah rencana saja.


" Tuan,apa ada yang tuan butuhkan? " tanya Murti di saat dia melihat Reza memasuki dapur.


Reza mengangguk," Saya butuh teh hangat untuk istri saya,Mbok " kata Reza membuat Murti hendak membuatkan teh hangatnya. " Biarkan aku saja Mbok, yang bikin " lanjutnya.


" Tapi,Tuan...? "


" Mbok kerjakan saja tugas yang lainnya. Dan biarkan masalah kecil ini,aku saja yang mengerjakan " ucapnya.

__ADS_1


Murti menunduk,setelah itu dia membiarkan Reza membuat teh hangat itu sendiri.


Lima belas menit pun berlalu,Reza telah selesai membuat teh hangat untuk Via dan segera membawanya menuju kamar mereka.


" Minum dulu teh nya,Sayang " kataya.


Via sedikit mengangkat tubuhnya untuk memudahkannya meminum teh hangat itu. Dia sedikit meringis ketika cairan itu memasuki kerongkongannnya. Ada sedikit rasa pahit yang tertinggal di sana. Dan Reza di buat heran dengan perubahan yang Via perlihatkan.


" Kenapa? " tanya Reza.


" Pahit,Mas " jawab Via polos,membuat Reza terbahak.


" Maafkan,Mas Sayang. Mungkin Mas terlalu banyak memasukkan teh nya " ucap Reza merasa bersalah.


" Gak papa,Mas. Terimakasih " kata Via membuat Reza tersenyum. " Ngomong - ngomong,Mas gak ngantor? " lanjutnya.


" Untuk hari ini,Mas mau temani kamu cek kandungan. Mas juga ingin mengajak kamu ke suatu tempat "


" Baiklah. Pak Bos, " ucap Via membuat mereka tersenyum bersama.


*


Sementara,di kantor RWB Grup, pagi - pagi sekali Susan datang dan menyerahkan surat resign atas permintaan Anton. Awalnya dia menolak,karena Susan sangat membutuhkan pekerjaan. Namun Anton memaksa Susan agar Susan menuruti perintahnya.


" Kenapa sudah mengajukan surat resign? Ini kan baru beberapa hari kamu masuk kantor? " tanya Bagas.


" Maaf,tapi aku merasa tidak cocok bekerja di sini " bohong Susan.


Maafkan aku mengecewakan kalian. Tapi ini demi kebaikan kita bersama. Ayahku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang jika aku tetap berada di antara kalian.batin Susan.


" Baiklah. Kalau memang kamu menginginkan keluar dari sini " kata Bagas pasrah.


Bagaimana pun ,dia juga tidak bisa melarang Susan untuk tetap bekerja di kantor milik William. Meskipun hatinya terasa di remas kuat di saat orang yang dia inginkan memilih keluar dan menjauhinya.


Bagas tahu,jika semua yang terjadi kini atas perintah Anton. Namun dia tidak habis pikir kenapa sampai Susan menuruti perintah Anton.


Pasti ada yang tidak beres.pikir Bagas.


Karena selama ini Bagas tahu,jika hubungan antara Susan dan Anton bukan hubungan layaknya orang tua dan anak. Lebih pantas di sebut hubungan yang tidak memiliki arti di antara keduanya. Tapi sekarang seakan itu menjadi perubahan pada diri Susan. Dan Bagas yakin,bahwa sesuatu telah terjadi di antara anak dan ayah tersebut.


◇◇◇


Sebelumnya,aku mau minta maaf,jika alurnya semakin tidak enak di baca. Saya membuat novel ini tanpa tertulis. Jadi jika ada ide buat nulis ya saya tulis,kalau tidak ya saya akan memikirkan dulu alur ceritanya.😊😊😊


Saya juga paham,jika novel ini tidak di terima untuk sebagian orang. Tapi itu tidak apa,justru membuat saya terpicu agar lebih baik lagi dalam membuat karya yang akan di berikan untuk para readers semua. Maklum lah ya.. Penulis amatir 😉😉😉

__ADS_1


Masih banyak yang harus di perbaiki,dari kata serta penulisannya. Dan aku sangat sadar dengan hal itu. Btw,terimakasih untuk semua orang yang slalu mendukungku,dan mohon maaf, aku tidak bisa balas komen kalian satu persatu. Sekali lagi terimakasih dan selamat membaca.🥰🥰🥰.


__ADS_2