
Tepat pukul dua siang,Reza dan Via tiba di depan gedung menjulang tinggi. Untuk sesaat Via terpaku dengan apa yang di lihatnya. Benarkah ini adalah perusahaan milik bunda nya? pikir Via.
Mereka berjalan berdampingan,dengan Bagas yang selalu berada di belakang mereka. Untuk semua karyawan di kantor Vera,mereka menyapa Via,Reza dan Bagas sambil menunduk.
Terbilang sudah ke empat kalinya bagi Reza memasuki kantor Vera,dan mereka sangat tahu posisi apa Reza di sana sehingga semua menunduk hormat pada Reza.Namun yang mereka pertanyakan siapa wanita yang sedang bergandengan tangan dengan Direktur pelaksana di kantor tersebut?
Setelah mereka masuk ke dalam lift,tak lupa Reza menekan angka 25 tepat di mana ruangan Direktur berada.
" Apa mereka sudah hadir semua? " tanya Reza.
" Sudah Tuan "
Setelah sampai di lantai 25 dan lift sudah terbuka,mereka kembali berjalan menuju ruang rapat. Di sanalah mereka dapat melihat siapa saja orang yang sudah menanam saham di perusahaan Vera. Termasuk Robert yang kini tersenyum menatap kedatangan Via dan Reza.
" Selamat siang,Tuan-Tuan " ujar Bagas sebagai asisten, yang dapat balasan serempak dari mereka.
" Perkenalkan ,ini adalah Direktur perusahaan di sini,Tuan Reza. Serta pemilik resmi perusahaan ini,Nona Natavia Gloria Moto,anak tunggal dari Nyonya Veranika Dwi Moto " ujar Bagas memperkenalkan Reza dan Via.
Mereka menunduk hormat seraya tersenyum bangga. Akhirnya setelah sekian lama,mereka dapat mengetahui pemilik asli dari perusahaan terbesar ke 6 itu.
" Selamat Datang,kami sangat bahagia dapat bertemu dengan pemilik resmi perusahaan ini. Dan kami sangat terkejut dengan apa yang kami lihat. Ternyata kalian sangat muda,berbeda dengan apa yang kami pikirkan " ucap Salah satu dari mereka ber 6.
" Terimakasih,Tuan. Ekhm...Mohon maaf. Untuk mempersingkat waktu,bisakah kita memulai rapat ini " ucap Via dengan anggun.
Terlihat dari pembawaannya,sama seperti Vera saat melakukan rapat 20 tahun lalu. Bahkan Robert tersenyum menatap Via yang kini sedang menjelaskan akar masalah dari perusahaan nya. Dia sangat bangga terhadap Via. Tidak di ragukan lagi,bahwa kepintarannya setara dengan Vera.
Anakmu telah menjelma jadi wanita pintar sepertimu. Wanita anggun dan bijaksana sepertimu. Kakak bangga padamu,Vera. Gumam Robert.
" Bagaimana menurut kalian? " tanya Via.
" Pemikiran anda sangat jenius Nona. Tak heran kalau keluarga Moto dapat mengendalikan berbagai perusahaan secara bersamaan. Kami sangat setuju dengan usul anda, Nona "
" Benar,Nona. Pemikiran yang sangat bagus,kita bahkan akan melampaui target penjualan kita untuk tahun ini "
" Baiklah ,kalau begitu kita gunakan saja cara yang Nona ucapkan " ucap mereka silih berganti.
Sementara Reza tersenyum bangga,dia tidak pernah tahu kalau istrinya mempunyai jiwa pengusaha melebihi dirinya.
" Aku bangga padamu,Yank " bisik Reza membuat Via tertunduk malu.
^
Setelah rapat selesai dengan hasil akhir mengikuti arahan Via,mereka pamit dan berlalu pergi dari perusahaan tersebut.
__ADS_1
" Paman bangga padamu,Nak. Semua yang ada dalam dirimu sama seperti ibumu. Semoga ke depannya kamu dapat lebih bijaksana sama hal nya seperti mendiang ibumu " ujar Robert sambil menangis dan mengusap pelan kepala Via.
Tugasku sudah selesai,Vera. Batin Robert.
Setelah itu dia keluar sambil menghapus air matanya dengan sedikit kasar. Meninggalkan Reza,Via dan Bagas.
" Rasanya seakan mau di sidang. Deg-degkan. " ujar Via tersenyum.
" Ini hanya permulaan " ucap Reza. " Tapi jujur kamu hebat banget,Sayang " lanjutnya.
Via tersenyum,setelah itu mereka memutuskan untuk tinggal sebentar di kantor Vera dan mengumumkan posisi Via dan Reza pada semua karyawan.
Setelah seluruh karyawan berkumpul Bagas kembali memperkenalkan sosok Via yang telah lama menjadi pemilik paling misterius di kantor tempat mereka bekerja. Membuat sebagian orang tercengang bahkan tidak percaya,setelah mereka tahu bahwa pemilik resmi perusahaan itu masih sangat muda. Apa lagi seorang perempuan yang telah menikah dan sedang mengandung. Sungguh membuat mereka iri sekaligus kagum pada Via.
^
Tepat pukul 19.00 waktu setempat. Reza dan Via kembali ke rumah mereka. Ketika mereka sedang di perjalanan,Via dengan tiba-tiba menanyakan hal pribadi pada Bagas.
" Pak,kapan mau menikahi Susan? " tanya Via tiba-tiba membuat Bagas terkejut dengan wajah merona menahan malu.
" Kami berencana menikah minggu depan tapi secara biasa saja ,Nona. Hanya mendaftar di KUA setelah Pak Anton sembuh total,kami baru akan menyelenggarakan Resepsinya " ucap Bagas pelan mengagetkan Reza dan Via.
" Benarkah? " tanya Reza.
" Baguslah. Biar jomblo berkurang satu " ujar Reza sambil tertawa.
" Bisa aja,Tuan " balas Bagas yang sama-sama tertawa.
^
Tiga puluh menit berlalu,Reza dan Via tiba di rumah. Reza langsung menuju kamar mereka sedangkan Via menuju kamar Baron.
" Ayah " sapa Via di saat Baron sedang termenung di kursi Roda menatap jutaan bintang di depan kaca kamarnya.
" Nak.. Sini " panggilnya dengan tersenyum sumringah.
Via mendekat lalu berlutut tepat di depan Baron.
" Apa ayah sudah makan? " tanya Via.
" Udah,Sayang..Tadi Susan masak di sini, sekarang berdirilah " ujar Baron. " Kamu hamil berapa bulan,Nak? " tanya Baron.
" Sekarang sudah jalan 5 bulan yah " ucap Via.
__ADS_1
" Jaga dia,jaga cucu Ayah " ucap Baron.
" Tentu,ayah. Sekarang ayah harus istirahat,Okey.. " kata Via sambil membawa Baron mendekati kasur nya. Setelah itu Via memanggil Bagas untuk meminta bantuan mengangkat tubuh Baron.
" Pak,tolong bantu Via sebentar " teriak Via pada Bagas.
Dengan cepat Bagas berlari menuju lantai atas dan membantu mengangkat tubuh Baron.
" Terimakasih " ujar Via.
" Sama-sama, Non " Setelah itu Bagas pergi ke luar meninggalkan Via dan Baron.
" Ayah istirahatlah. Via mau nemuin suami Via,sekalian makan malam dulu "
" Iya,Nak. Terimakasih,Sayang " ucap Baron merasa haru.
Bagaimana pun dia merasa tidak pantas di perlakukan seperti ini oleh Via meski Via sendiri tidak keberatan. Tapi semua yang telah dia lakukan selalu membuat dia sendiri merasa sakit dalam hatinya.
Kalau waktu dapat di putar ulang. Aku tidak akan berbuat hal bodoh yang akan menyakiti hati anak dan istriku. Batin Baron.
^
Reza telah selesai mandi dan sedang menunggu Via sambil melihat harga saham di aplikasi ponselnya. Dia tidak pernah melewatkan hal yang menurutnya penting untuk kesuksesan bersama.
" Sayang " panggil Via di saat dirinya masuk kamar.
" Haii,Sayang.. Sini. Duduk sini temenin aku " ucap Reza hanya menoleh sekilas sambil tersenyum,setelah itu kembali fokus menatap layar ponselnya.
" Aku mandi dulu ya. Nanti ku temenin. . Gak enak badan aku terasa lengket "
" Oke. Ayah udah tidur? " tanya Reza.
" Udah.. "
Setelah itu Via masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Reza yang masih setia dengan ponselnya.
Lima belas menit pun berlalu,Via keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Reza melirik sambil susah payah menelan salivanya sendiri. Entahlah,setelah perut Via bertambah buncit,Reza rasa istrinya itu semakin menggoda. Tanpa menunggu lagi,Reza berdiri sambil menyimpan handphonenya di atas nakas dan memeluk Via dari belakang. Menghiraukan jeritan terkejut yang Via rasakan.
" Boleh Mas minta sekarang? " bisik Reza tepat di telinga Via.
Via yang mengerti ke mana arah pembicaraan Reza hanya tersenyum sambil mengangguk. Setelah itu,terjadilah malam hangat untuk ke dua pasutri tersebut.
__ADS_1