
Seminggu kemudian...
Reza dan Via datang ke kediaman Baron yang kini di tempati Anton,Bagas serta Susan. Hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Sama hal nya seperti ucapan Bagas, seminggu yang lalu. Hanya akan berangkat ke KUA dan mendaftarkan pernikahan di sana.
" Apa sudah siap,San? " tanya Via di saat Via memasuki kamar yang di tempati Susan.
Tak ada riasan seperti pengantin semestinya. Hanya pakaian yang sedikit rapi juga sedikit polesan make up agar terlihat lebih enak di pandang.
Begitu pun dengan Via,dia pun hanya memakai dress, karena perutnya yang kian membuncit membuat dia sedikit menghindari memakai bahan celana panjang.
" Sudah bumil cantik ku " ucap Susan menggoda Via.
Via hanya tersenyum sambil menggandeng tangan Susan. Namun sebelum melangkah, Susan mengusap lembut perut Via dan mengajak berbicara pada janin yang di kandung Via.
" Doain,Aunty ya,Sayang. Biar Aunty gak nervous " ucap Susan membuat Via terkikik geli.
" Kamu itu,kaya orang yang mau konser aja " ucap Via.
" Jujur,aku deg-deg'an Vi, takut banget aku " ucap Susan pada Via.
Meskipun hatinya masih belum yakin sepenuhnya pada Bagas,tapi Susan mencoba untuk bersikap terbaik di hadapan Bagas. Menganggap ia sebagai sandaran paling tepat di antara para lelaki yang menginginkan hatinya.
Aku pasti mampu melewati ini semua. Demi semua pengorbanan juga rasa cintanya. Aku akan belajar untuk lebih mencintainya. Setelah kita bersama nanti. Batin Susan.
" Kamu rileks aja,San. Dulu aku pun begitu,Emh........ lebih tepatnya lebih dari apa yang kamu rasakan " ucap Via.
Setelah itu mereka keluar dari kamar dan turun menemui Reza,Bagas,dan Anton.
" Apa kalian sudah siap? " tanya Reza pada Susan dan Bagas.
" Aku harap lebih dari siap, " kata Bagas sambil melirik ke arah Susan.
" Cantik " Batin Bagas.
Entahlah,melihat Susan yang sekarang membuat jantung Bagas berdetak lebih kencang.
" Kita berangkat sekarang,atau mau nungguin kalian kenyang saling tatap menatap? " tanya Anton yang merasa gemas melihat tingkah kedua pasangan di depannya.
Mereka berempat tertunduk menahan malu. Ucapan Anton benar-benar membuat mereka jadi salah tingkah. Dan ketika Anton melihat hal itu,dia hanya tersenyum geli sambil berjalan terlebih dahulu.
" Ayok,Sayang.. " ajak Reza.
Dengan cepat Reza menautkan jarinya dengan jari Via. Mereka berjalan mengikuti langkah Anton di susul oleh Bagas serta Susan yang sama-sama terdiam dengan jantung yang berdetak kencang serta pikiran yang entah kemana.
__ADS_1
^
Setelah sampai di kantor KUA,dengan cepat Bagas dan Susan mendaftarkan pernikahan mereka. Setelah keduanya menandatangani surat tersebut,mereka kembali dengan wajah berseri dan senyuman yang sumringah.
" Selamat,sahabatku " ucap Via sambil memeluk tubuh Susan.
" Terimakasih,Vi " balas Susan.
" Selamat,Bagas.. Akhirnya kamu jadi seorang suami " ujar Reza
Bagas tersenyum " Terimakasih Tuan " katanya.
" Ayah,terimakasih " ucap Susan memeluk tubuh Anton.
Sementara Anton sendiri telah menangis haru. Akhirnya dia dapat merasakan ketenangan seumur hidupnya.
" Selamat,Nak. Semoga kamu jadi istri yang selalu membanggakan suami serta orang yang selalu menyayangimu "
" Terima kasih,Ayah "
Anton beralih merentangkan sebelah tangannya untuk menyambut Bagas dalam pelukannya. Kini Anton telah menerima Bagas sebagai putra sekaligus menatunya.
" Terima kasih" ujar Bagas.
Mereka berjalan sambil tersenyum saat keluar dari KUA. Setelah itu berjalan menuju mobil yang Reza kemudikan. Sesekali katanya, menjadi supir asisten sekaligus sahabatnya itu.
" Terus kapan kalian akan melangsungkan Resepsinya? " tanya Reza.
" Mungkin setelah Susan hamil,Tuan. Karena aku ingin melihat dia memakai gaun pernikahan dengan perutnya yang buncit " kata Bagas membuat Susan menatap tajam pada Bagas.
" Jaga ucapan mu. Ada ayah.. " bisik Susan dengan suara yang lumayan keras sehingga perkataannya di dengar oleh semua yang ada di dalam mobil.
" Memangnya kenapa? " tanya Bagas polos,membuat mereka tertawa dengan perkataan Bagas.
Namun berbeda dengan Susan yang sudah menunduk dengan wajah memerah seperti cabai merah. Dia sangat malu dengan perkataan Bagas yang menurutnya tak pantas di katakan.
" Gak ada yang salah kok,Pak Bagas. Itu bagus juga. Aku dukung. Semoga gak waktunya pas aku lahiran ya,Pak " kata Via sambil mengelus perutnya yang buncit.
" Semoga,Nona "
^
Mobil yang Reza kemudikan tiba di depan rumah Anton. Satu persatu dari mereka keluar dari mobil.dan berjalan memasuki rumah kediaman Baron.
__ADS_1
" Aku pulang ya,San. Rasanya capek berdiri terus " ucap Via.
" Apa gak sebaiknya makan dulu di sini,bareng kita? "
" Kayaknya gak deh,San. Soalnya si bibi yang di tugaskan menjadi pembantu rumah tangga oleh Mas Reza sudah tiba tadi malam,dan mungkin dia juga udah masak " ujar Via.
Susan mengangguk mengerti. Dia membiarkan Via dan Reza pamit dari rumah yang di tempatinya.
Setelah kepulangan Reza dan Via. Susan,Bagas dan Anton duduk bertiga di ruang keluarga.
" Lebih baik kalian mengadakan resepsi di tanah air saja. Sekalian kita pulang dan menetap kembali di sana. Bagaimana menurut kalian? " ucap Anton.
Susan melirik Bagas yang masih diam tanpa ekspresi. " Bagaimana " bisiknya.
" Aku tidak bisa memutuskan semua ini secara sendiri,Ayah. Karena selama ini aku bekerja dengan Tuan Reza. Dan itu sudah sangat lama. Aku harus berbicara dulu dengan dia. Baru aku dapat mempertimbangkan kembali usul dari ayah " ucap Bagas membuat Anton menghela napas panjang.
" Baiklah. Ayah tunggu keputusannya " ujar Anton,dia berdiri sambil berlalu meninggalkan Bagas dan Susan.
" Mandi lah dulu,aku akan siapkan baju dan makan malam buat kita " ucap Susan sambil berdiri dan berjalan menuju kamar Bagas dan dengan cepat menyiapkan pakaian Bagas.
Bagas tersenyum sambil mendekati Susan. Dia lingkarkan tangannya pada perut Susan. Membuat Susan terkejut dan seketika menjerit.
" Apa sih yank? " tanya Susan.
" Biarkan aku seperti ini untuk sesaat. Aku rindu padamu,istriku " bisik Bagas membuat wajah Susan merona menahan malu
" Mandi lah. Aku udah siapain semuanya " kata Susan.
Tapi bukan melepaskan pelukan di tubuhnya ,Bagas malah semakin mengeratkan pelukannya pada perut Susan sambil mengendus ceruk leher Susan sangat dalam. Membuat Susan dengan susah payah menahan desahannya. Namun hal itu seakan sia-sia di saat Bagas kembali menggoda tubuh Susan hingga meloloskan satu desahan dari bibir Susan. Membuat Bagas semakin tertantang.
Bagas membalikkan tubuh Susan,setelah itu dia mencium bibir Susan rakus. Setelah di rasa Susan akan kehabisan napas,barulah Bagas melepas ciuman mereka. Menempelkan keningnya di kening Susan sambil mengatur napasnya.
" Aku ingin hak ku sekarang. Boleh? " tanya Bagas.
Susan diam mematung tanpa menjawab pertanyaan Bagas,bayangan di mana Miko akan memperkosanya membuat wajah Susan seketika berubah pucat. Bagas yang menyadari perubahan tersebut menyerngit heran.
" Kenapa? " tanya Bagas.
Dengan cepat Susan menggeleng. Dia masih sangat takut jika perlakuan Bagas akan sama seperti Miko.
" Aku tidak akan memaksa,jika kamu tidak mengijinkan " ujar Bagas.
" Tidak. Tapi buatlah aku senyaman mungkin " kata Susan.
__ADS_1
Bagas mengangguk,dan kembali mencium bibir Susan sekilas. Setelah itu dia mengangkat tubuh Susan dan menaruhnya di atas ranjang. Dia mulai semua yang baru di kamar tersebut. Dengan erangan kesakitan yang Susan teriakkan, hingga erangan kenikmatan yang akhirnya mereka rasakan.