
Hari demi hari mereka lalui,Via maupun Susan sedang menikmati hari harinya bersama pasangan mereka.
Via yang telah kembali dari perjalanan babymoon nya bersama Reza,kini telah kembali dan menjalani peran sebagai istri serta mahasiswa. Tak ada yang berubah dari kedua makhluk itu.
Terkait hubungan Susan dan Bagas,Via dan Reza pun telah mengetahuinya. Berita itu membuat pasangan suami istri itu sangat bahagia. Namun satu hal yang sedang kedua pasangan suami istri itu cemaskan. Seminggu ke depan,Reza di tugaskan mengelola perusahaannya di Amerika. Dia akan mengambil alih perusahaan tersebut atas rekomendasi dari Kia.
Sementara Via sendiri pun di tuntut memegang kendali perusahaan Vera. Membuat Reza maupun Via tidak punya pilihan selain menjalankan semua permintaan William.
Tapi sebelum Via melahirkan,maka Reza akan menggantikan semua pekerjaan Via yang menyangkut dengan perusahaan Vera. Dia juga akan membawa Bagas pergi meninggalkan tanah air bersama Susan.
Semua yang Reza ketahui mengenai rencana Miko membuat Reza meminta Bagas pergi bersama dengannya dan menjauhkan Susan untuk sementara dari ancaman Miko dan Anton.
Hal itu tentu saja sangat di setujui Bagas dan Susan. Mereka sangat bahagia dapat mengenal Reza dan Via. Meskipun mereka itu orang-orang yang tidak dapat di ragukan. Tapi mereka masih mrmikirkan keselamatan serta kebaikan para karyawannya. Terlebih,Via pada Susan sebagai sahabatnya.
^
" Apakah ini keputusan yang terbaik? " tanya Dina pada William.
" Ku harap begitu. Karena mereka tidak akan bisa selamanya mengendalikan perusahaan di sana dari jarak jauh " kata William sambil membaca selembar koran di tangannya.
" Tapi,Mami sangat khawatir dengan Via. Dia kan sedang hamil " ucap Dina.
Dina masih sangat berat melepas Reza dan Via. Meskipun dia akan mendapatkan putrinya,tapi dia juga tidak mau kehilangan putranya. Apalagi dengan calon cucu yang ada dalam kandungan menantunya.
" Papi yakin. Mereka akan baik baik saja. Begitu pun dengan kandungan Via " kata William.
William terpaksa harus melakukan ini. Dia juga tidak mau jika Reza dan Via harus pergi dari rumahnya. Tapi kedua perusahaan besar di sana sedang menunggu kehadiran mereka berdua sebagai pewaris resmi. Jadi dengan berat hati William pun merelakan anak dan menantunya pergi.
Reza tertunduk sedih di saat dia mendengar perkataan Dina. Awalnya ia akan mengambil air minum untuk Via. Namun tanpa sengaja,Reza mendengar percakapan Dina dan William. Hatinya seakan terasa sesak bahwa hanya dua hari lagi dia akan meninggalkan ke dua orang tuanya.
" Mi,Pi " kata Reza mendekati Dina Dan William.
Dina berusaha memberikan senyum manisnya,sedangkan William beralih menatap Reza dan segera meletakkan koran tersebut di atas meja.
" Kenapa,Za ? " tanya Dina.
__ADS_1
" Kapan kak Kia sampai? " tanya Reza.
" Mungkin esok hari " kata William. " Kenapa? " tanya William.
" Tidak ada,hanya saja apa tidak ada pilihan lain selain aku dan Via yang harus pergi ke sana? " tanya Reza.
William menghela napas panjang. Dia sudah sangat berusaha,tetapi tidak ada jalan terbaik selain menukar Kia dan Reza.
" Tidak. Perusahaan di sana membutuhkan mu. Begitupun perusahaan peninggalan mertuamu. Via berhak atas semua itu " kata William.
Benar. Perusahaan yang di tinggalkan Vera memang sangat membutuhkan Via. Apalagi setelah 20 tahun yang lalu,baru kali ini mereka akan tahu siapa pemilik resmi perusahaan tersebut.
Tanpa berkata,Reza memutar tubuhnya dan berjalan mengambil air berlalu meninggalkan Dina dan William.
^
Sementara di dalam kamar Reza,Via sedang membereskan semua pakaian dirinya dan Reza untuk keberangkatan mereka ke Amerika.
Sesekali Via termenung dan mengabaikan pakaian di depannya. Dia menatap semua tumpukan pakaian serta beberapa koper yang berjejer rapi itu dengan tatapan kosong. Hingga suara pintu terbuka,mengagetkan Via dan mengembalikan ingatan Via.
" Gak papa,Mas. " ucapnya.
" Biarkan saja,beresin bajunya besok. Jangan di bawa semua " kata Reza.
Via hanya mengangguk dan terus melanjutkan kegiatannya.
" Sayang... " panggil Reza.
Reza merasa ada yang aneh dengan istrinya itu. Sejak William memberi tahu keputusannya,Via sedikit menutup diri dan hanya terdiam di beberapa waktu. Membuat Reza enggan menggoda bahkan hanya sekedar bertanya.
" Iya,Mas... "
" Sini.. " pintanya sambil menepuk ranjang di sebelahnya.
Dengan malas,Via berdiri dan berjalan menuruti perintah Reza,meninggalkan pakaian yang masih berserakan di lantai. Setelah Via duduk,Reza menarik Via ke dalam pelukannya.
__ADS_1
" Cerita,sama Mas. Apa kamu merasa keberatan dengan keberangkatan kita? " tanya Reza.
Via menggeleng,air matanya pun telah keluar membasahi kaos pendek yang Reza kenakan. Membuat Reza gelagapan dan merasa bersalah.
" Sayang... Udah dong jangan nangis lagi. Mas gak sanggup lihat air mata yang mengalir terus di pipimu " ucap Reza melonggarkan pelukannya. Lalu mengusap ujung mata Via dengan ibu jarinya.
" Via sedih harus ninggalin Papi dan Mami " ujar Via sesegukan.
" Ini sudah keputusan kita bersama,Sayang. Papi dan Mami juga tidak menginginkan kepergian kita. Hanya saja,ini demi kebaikan dua perusahaan besar di sana " kata Reza.
" Apa tidak ada cara lain? Biasa juga kan kita hanya memantaunya saja,Mas " kata Via.
" Tidak ada cara lain,Sayang. Karena kedua perusahaan di sana sedang mengalami penurunan harga saham juga ada seseorang yang melakukan penggelapan dana perusahaan . Jadi,mau tidak mau,memang kita harus pergi dan melihat apa yang sebenarnya terjadi " kata Reza.
Via mengangguk. Dia akhirnya mengerti,bahwa William tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada setiap perusahaan yang ada dalam kendalinya.
" Apa sekarang istri,Mas masih mau sedih dan nangis lagi? " tanya Reza dengan senyum menggoda.
Via menggeleng sambil menyelusupkan wajahnya kembali di dada bidang Reza. Sementara Reza membalas Via dengan pelukan erat sambil sesekali mencium kening serta pucuk kepala Via.
^
Di lain tempat,Susan pun melakukan hal yang sama. Dia merapikan pakaian Bagas dan pakaiannya,lalu ia masukkan ke dalam koper.
Bagas tersenyum sambil mendekat,dia peluk erat tubuh kekasihnya itu. Sesekali ia mendaratkan ciuman hangat di pipi Susan. Sementara Susan sendiri sedang mengomel sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Bagas.
" Lepasin.. " ucap Susan.
" Boleh. Tapi cium dulu " kata Bagas membuat Susan melotot.
" Jangan macam macam denganku. Cepat lepasin " ujar Susan tambah berontak.
Dengan sekali sikutan maut dari ujung siku Susan. Mampu membuat Bagas mengaduh dan melepaskan pelukannya.
galak bener deh... batin Bagas.
__ADS_1
Susan meninggalkan Bagas,sambil menggerutu. Ada aja tingkah Bagas yang membuat Susan kesal. Memang sesuatu banget deh,kekasihnya itu. Tidak akan ada lelaki yang menyebalkan namun sangat di rindukan dalam waktu bersamaan oleh Susan. Hanya Bagas lah yang selama ini membuat ingatan Susan berangsur membaik dan tidak lagi merasa bersalah seperti halnya dulu di saat dia belum menemukan tempat untuk sekedar bersandar.