
Malam harinya Via terbangun setelah beberapa waktu tertidur karena kelelahan. Dia melihat sekeliling dan menemukan Reza yang telah tersenyum padanya. Di sana juga Via melihat Robert dan Cerrie.
" Sayang... " panggil Reza. " Terimakasih karena telah memberikan kebahagiaan yang teramat sangat " ucapnya.
" Selamat ya,Nak " kata Cerrie yang kini mendekati Via.
Via tersenyum dan mengangguk. Dia masih merasa lelah untuk menjawab pertanyaan Reza dan Cerrie.
Tak berapa lama seorang wanita mendorong stroller bayi masuk ruang rawat Via. Dia tersenyum di saat melihat Via langsung bangun dengan mata yang berbinar.
" Selamat malam,Nona " ucap suster tersebut.
" Iya,suster selamat malam. Itu... "
" Iya,Nona. Ini bayi anda "
Via tersenyum sumringah. Sementara Reza mendekati stroller dan mengangkat tubuh bayi laki lakinya. Setelah itu dia menggendong sambil mencium keningnya.
" Sini sayang.. Berikan padaku " ucap Via.
Reza berjalan dan memberikan bayi tersebut hingga berpindah pada gendongan Via.
" Dia tampan ya, Mas " ujar Via.
Sedangkan suster yang membawa bayi laki laki Via segera pamit setelah meminta Via menyusui anak lelakinya.
" Iya,sayang. Wajahnya sama sepertimu " ucap Reza.
" Kalau boleh tante tahu,siapa nama bayi kalian,Za? " tanya Cerrie.
" Namanya Axton Viktor Z" ujar Reza tersenyum.
" Nama yang bagus,tapi kenapa tidak memasukkan mana kalian? "
" Biar dia mempunyai jati dirinya sendiri. Karena aku tidak mau anakku hidup dengan embel embel nama orang tuanya "
Perkataan Reza membuat Cerrie dan Robert mengerti. Mereka pun setuju dengan keputusan Reza dan Via. Bagaimana pun mereka tetaplah orang yang paling berhak memberi nama untuk bayi kecil mereka.
Setelah berbincang,Cerrie dan Robert pamit pulang ke rumah mereka meninggalkan Reza,Via dan bayi Ax.
Istirahatlah,biar Mas yang jaga bayi Ax " ujar Reza.
" Aku udah istirahat selama tadi,dan aku masih belum ngantuk. Lebih baik Mas yang istirahat. Biar nanti baby Ax sama aku dulu "
" Tapi kamu...
" Tidak ada kata tapi Daddy.. Biar Mommy yang jaga dia sekarang ".
__ADS_1
Reza tersenyum lalu mengangguk. Panggilan yang sangat ku nantikan batin Reza.
Akhirnya dia memilih tidur dan meninggalkan Via serta baby Ax yang masih meminum susu .
Setelah baby Ax tertidur,Via menaruh baby Ax ke dalam box. Untuk sejenak dia memandang wajah putra yang beberapa saat lalu dia lahirkan.
Semoga kehidupanmu tidak seperti Mommy,Nak.
Setelah itu Via menuturkan tubuhnya kembali dan ikut tertidur.
^
Pagi harinya,Dina dan William tiba di Amerika. Mereka sudah tak sabar ingin melihat cucu pertama di keluarga William. Dan tanpa menunggu lama,William serta Dina menaiki mobil Reza yang kini sedang di kemudikan Bagas.
Semenjak tiga puluh menit yang lalu,Bagas sudah menunggu Dina dan William di bandara atas perintah Reza. Dia dengan sabar menunggu kehadiran kedua orang tua majikannya.
" Apa kabar,Bagas? " tanya William.
" Baik,Tuan "
" Ayok berangkat sekarang. Aku udah gak sabar ingin melihat cucu laki lakiku " ucap Dina antusias.
Mereka menaiki mobil yang Bagas kemudikan dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan Dina tak henti hentinya bertanya tentang Via dan bayinya. Rasanya dia sudah tak sabar ingin menggendong cucu pertamanya itu.
" Sungguh,aku ingin segera menggendongnya " ujar Dina antusias.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit,Dina, Wiliam dan Bagas tiba di depan Rumah sakit. Dengan cepat mereka turun dari mobil setelah mobil berhenti.
Sedangkan di dalam kamar rawat Via.Reza sedang menggendong baby Ax. Sementara Via sendiri sedang sarapan sambil tersenyum melihat tingkah Reza yang seakan tidak ingin berjauhan dengan baby Ax.
ceklek..
Pintu terbuka mengagetkan Via dan Reza. Mereka menoleh dan tersenyum di saat mereka melihat Dina dan William yang telah berjalan menuju arah mereka.
" Apa kabar,Nak " ujar Dina.
Dina mendekati Via lalu memeluk tubuh menantu kesayangannya. Dan dengan senang hati Via membalas memeluk tubuh Dina.
" Aku baik Mi,Mami apa kabar? "
" Seperti yang kamu lihat. Za.. sini cucu Mami. Biar Mami yang gendong " ucap Dina yang kini telah mendekati Reza dan baby Ax.
Reza pun memberikan baby Ax dengan hati hati pada Dina.
" Kamu sangat tampan,Sayang " ucap Dina.
Sementara William juga ikut mendekati Via sambil mengucapkan selamat.
__ADS_1
" Selamat,Nak. Papi ikut bahagia atas kelahiran putra pertama kalian " ujar William.
" Terima kasih,Pi "
Belum sempat reda dengan kehebohan Dina dan William yang sedang melihat cucu mereka di dalam box bayi. Kini Bagas serta Susan datang membawa makanan serta buah buahan untuk Via.
" Selamat Vi... sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu " ujar Susan.
" Makasih. Semoga kamu cepat nyusul ya.. "
" Dan itu akan segera terwujud " ujar Susan membuat Bagas menyerngitkan dahinya.
" Benarkah? " ujar Via antusias.
" Maksud kamu apa yank ? tanya Bagas.
" Aku hamil Mas,sekarang sudah tiga minggu usia kandunganku " ucap Susan membuat Bagas diam mematung.
" Selamat. Akhirnya kamu akan ikut menyusul jadi seorang ayah " kata Reza memeluk badan Bagas.
" Terimakasih,tuan "
Bagas yang tersadar ikut memeluk Reza dengan perasaan yang bahagia. Dia tidak mengira akan mendapat kabar bahagia bersamaan dengan kebahagiaan keluarga William.
" Selamat Bagas. Kami turut bahagia " ujar William ikut memberi pelukan.
Sementara Dina pun semakin antusias mendengar kedua kabar bahagia berturut turut sekaligus. Tinggal Kia dan Leonil yang kini sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka. Yang akan membuat kebahagiaan Dina semakin lengkap.
Dreet..dreet...dreet...
Ponsel Reza berdering. Di sana tertera nama Ayah Mertua yang kini sedang memanggil ponselnya.
" Iya,Ayah.. "
" Bagaimana kabar cucuku dan Via? "
" Besok sudah boleh pulang kok,Yah. Dan keduanya baik baik saja "
Baron tersenyum bahagia di ujung sana. Dia tidak mengira bahwa kini dia telah menjadi seorang kakek dari seorang bayi tampan.
" Kirimkan fotonya padaku. Aku sangat penasaran ingin melihat wajah cucuku "
" Baik ayah..Sebentar,Reza kirim fotonya pada ayah "
Setelah itu panggilan berakhir dan Reza dengan segera memotret baby Ax lalu ia kirim pada Baron.
Sedangkan di tempat yang berbeda,Baron tersenyum ceria melihat cucu laki-laki pertamanya. Dia juga sangat ingin menggendong cucu pertamanya. Tetapi Dia sadar, keadaannya yang sekarang hanya mampu menunggu dan melihat cucunya dari kejauhan.
__ADS_1
Semoga kehidupanmu tidak seperti kehidupan ibu dan ayah mu. Sungguh aku sangat menyesal telah menjadi ayah yang begitu egois selama ini. Dan ku harap cukup sampai ibu dan ayah mu yang merasakan kesengsaraan. pikir Baron sambil meneteskan air mata.