
Pagi hari Via bangun lebih awal. Sebelum turun ke bawah,Via lebih dulu membersihkan tubuhnya. Di lihatnya Reza masih tertidur pulas tanpa ada sedikit pergerakan dalam tidurnya.
" Kenapa,Nona ada di sini? " Heran Minah ketika melihat nona mudanya sedang sibuk dengan berbagai peralatan dapur.
" Aku lagi siapin sarapan,Mbok " jawab Via sambil tersenyum.
" Biar Mbok saja yang kerjakan,Non. Kenapa Nona harus repot-repot? " kata Minah sambil mencoba mengambil spatula yang sedang di pegang Via.
" Mbok...aku ini seorang istri dan anak. Jadi sudah kewajibanku untuk menyiapkan makanan untuk suamiku dan kedua orang tuaku " ucap Via membuat senyum Minah terbit dari bibirnya.
Minah merasa beruntung berada dalam keluarga William. Meskipun mereka sangat kaya,tetapi mereka tidak pernah membedakan Minah. Justru mereka selalu membuat Minah merasa nyaman tinggal di keluarga mereka.
Dan sekarang keluarga William menambah anggota baru mereka. Menambah Via sebagai bagian dari keluarga mereka. Dan lebih beruntungnya lagi,mereka mendapatkan menantu sebaik Via.
Dina yang sedari tadi memperhatikan perdebatan antara Minah dan Via pun ikut bahagia. Dia tidak pernah mengira akan mendapatkan menantu yang luar biasa.
" Nyonya... " kata Minah di saat kedua bola matanya tidak sengaja melihat Dina.
Via menoleh lalu tersenyum. Dina pun tersenyum dan mendekati menantunya.
" Kenapa harus repot-repot begini,Nak ? " tanya Dina lembut sambil berjalan mendekati Via.
" Tidak repot kok,Mi... Lagian ini sangat menyenangkan " kata Via.
" Baiklah,biar Mami bantu kalau begitu " ucap Dina dengan segera membantu menantunya.
Sedangkan di kamar, Reza baru terbangun dari tidurnya. Dia memutar kepalanya,dan menajamkan penglihatannya mencari keberadaan Via.
" Kemana dia pagi pagi begini? " gumam Reza.
Reza bangun,berjalan dan segera membuka pintu kamarnya. Sayup sayup terdengar seseorang tengah tertawa di ikuti dua orang lainnya. Sontak Reza mengerutkan keningnya. " Apa yang terjadi? " pikir Reza.
Karena penasaran,Reza pun menuruni tangga,lalu melangkah mengikuti suara yang memenuhi telinganya.
Untuk sesaat Reza diam terpaku,setelah itu terbitlah senyuman indah di bibir Reza.
" Seneng banget lihat Mami dan Via tersenyum bahagia. Semoga kebahagiaan ini tetap terjaga " Harapan Reza dalam hatinya.
Karena tidak ingin mengganggu para wanita yang sedang asyik memasak,Reza kembali ke kamarnya. Kini dia hendak mandi,dan setelah mandi ia akan mengajak Via pulang ke rumah untuk berganti pakaian.
Dua puluh menit pun berlalu,Dina,Minah dan Via telah selesai menciptakan berbagai hidangan yang sangat pas untuk di makan saat sarapan.
Setelah hidangan tertata rapi di meja makan,Via berlalu menaiki tangga. Dia berniat membangunkan Reza. Setelah sampai dia membuka pintu kamar Reza.Via melihat seluruh ruangan,namun matanya tidak melihat Reza di manapun.
__ADS_1
Sesaat Via diam mematung,di saat yang sama Reza keluar dari kamar mandi memakai pakaian santai sambil mengeringkan rambutnya.
" Gak berangkat ngantor,Mas? " tanya Via.
" Berangkat kok,Sayang... Cuma di sini gak ada kemeja ganti buat,Mas. Jadi pakai pakaian ini dulu.." jawab Reza santai.
" Emh begitu... Ya sudah kalau gitu,kita sarapan dulu. Setelah itu kita izin pulang sama Papi dan Mami " kata Via.
" Iya,Sayang " balas Reza sambil mendekat lalu melingkarkan tangan kirinya di pinggang Via.
Lagi lagi Via hanya tersenyum saat Reza kembali posesif pada tubuhnya. Mereka berjalan bersama saat menuruni tangga. Dan kini mereka telah sampai di samping meja makan. Di sana William dan Dina masih menunggu kedatangan anak dan menantunya.
Reza menggeser kursi untuk Via. Setelah itu untuk dirinya. Seperti biasa,mereka memakan makanannya dengan keadaan sunyi.
" Pi,Mi... Reza mau pamit langsung pulang. Di sini gak ada kemeja buat Reza kerja " ucap Reza di saat mereka selesai makan.
" Ya Sudah. Hati hati di jalan.. Jaga mantu Mami. Kalau ada waktu luang main lah ke sini lagi... " pinta Dina.
" Iya,Mi... Kalau gitu Via juga pamit pulang,Mi..Pi.." kata Via.
Mereka bangkit lalu mencium tangan Dina dan William bergilir. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan kediaman William dan kesedihan di hati Dina dan William.
Dua puluh menit berlalu,Reza dan Via telah sampai di rumah mereka. Tanpa menunggu lagi,Reza berlari lalu mengganti pakaian nya dengan kemeja berwarna biru.
Sesampainya di kantor,Reza langsung berlalu menuju ruangan nya yang ada di lantai 32.
Bagas yang sudah menunggu kedatangan Tuannya itu merasa lega,karena akhirnya Reza datang ke kantor dan tidak akan melimpahkan pekerjaannya pada Bagas.
" Ada apa kamu berdiri di sini? " tanya Reza pada Bagas yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Reza.
" Ini laporan mengenai perusahaan Adijaya Grup. Dan informasi mengenai Nona Grace juga Ibu Salma " kata Bagas sambil menyerahkan tumpukan kertas pada Reza.
" Baiklah... terima kasih.. " Ucap Reza berlalu membawa kertas itu ke dalam ruang kerjanya.
Selamat bersenang senang tuan Muda.
batin Bagas.
Reza membaca setiap detail laporan yang Bagas berikan padanya. Saat dia menemukan mainan baru untuknya,senyuman misterius itu terbit kembali.
" Rupanya kamu benar benar ingin mencelakai istriku. Baiklah.. aku ingin lihat seberapa jauh kau akan bertindak " kata Reza " Aku akan tunggu kamu,Gracia Putri Adijaya " lanjutnya.
Kali ini Reza ingin menikmati permainannya. Permainan yang akan membuat seseorang tenggelam semakin dalam. Permainan yang akan membuat seseorang untuk enggan berurusan kembali dengan Reza.
__ADS_1
" Siapkan obat itu,Sesuai permintaanku kemarin " kata Reza pada seseorang di sebrang sana." Dan kirim melalui kurir saat ini juga. Bilang pada kurir itu untuk menyerahkan itu pada Bimo " lanjutnya tegas.
" Baik,Bos.. " jawab orang itu.
Setelah menutup telponnya,Reza termenung sesaat sebelum sebuah ketukan terdengar nyaring di telinga Reza.
" Masuk.. " teriak Reza.
" Gawat,Bos. Nona Grace datang lagi dan membuat keributan lagi " kata Bagas.
' Seperti dugaanku ' batin Reza.
" Biar Bimo yang menangani. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu " jawab Reza santai.
( Bimo \= Bodyguard Reza )
" Baik Bos " kata Bagas.
Kenapa bos terlihat santai? Biasanya seperti orang kerasukan..
Batin Bagas.
Bagas tidak tahu bahwa Reza telah menyuruh Bimo membiarkan Grace untuk menemuinya di ruangan Reza
" Lepaskan...dasar brengsek " teriak Grace pada Bimo di saat Bimo menarik paksa tangan Grace hingga menimbulkan warna ke ungu unguan.
" Ada apa lagi kamu ? " tanya Reza datar.
" Kamu gak akan bisa melarikan diri dariku,Mas. Aku akan terus datang kembali untuk menemui mu. Sampai kau setuju menikahiku " teriak Grace yang sudah mirip seperti orang Gila.
" Baiklah... aku akan menikahimu,tapi...Sebelum itu biarkan Bimo menyuntikkan Vitamin untukmu. Agar semakin bergairah ketika melayaniku " kata Reza sambil tersenyum sinis.
" Jangan.. aku akan melayani kamu tanpa vitamin itu " ucap Grace senang tanpa curiga.
" Maka aku akan memaksanya " kata Reza. Dengan cepat Bimo menyuntikkan cairan bening di tangan Grace setelah mendapat tatapan menyuruh melalui mata Reza.
" Nikmatilah pernikahanmu itu di dalam mimpimu. Cih... beraninya datang kembali dan menawarkan diri " ucap Reza di saat melihat tubuh Grace melemah.
" Bawa pergi tubuh itu. Aku sudah merasa mual walau hanya melihat tubuh menjijikannya " kata Reza.
Cairan itu merupakan rancangan khusus untuk musuh. Di saat cairan sebening kristal itu masuk ke dalam tubuh. Maka si penerima akan merasa lemas terus menerus. Fikiran nya seakan tidak jalan dengan hatinya. Maka ia akan merasa mati enggan hidup tak mampu.
◇◇◇◇
__ADS_1
Bersambung...