
Reza dan Via telah selesai sarapan. Hari ini Reza memakai pakaian santai nya. Dia berniat tidak akan pergi ke kantor dan hanya akan menemani istri mungilnya di rumah.
" Tumben,Mas pakai pakaian santai? Gak ngantor Mas? " tanya Via heran.
" Mas,mau menemani istri Mas. Untuk menebus dua hari ke depan karena Mas tidak bisa menemani istri,Mas " jawab Reza sambil tersenyum.
Tiba tiba raut wajah Via kembali berubah. Dan hal itu membuat Reza kelabakan.
" Kenapa? hm? " tanya Reza sambil mendekat dan mengelus pipi Via.
" Gak ada " jawabnya membuat Reza gemas dengan tingkah istri cantiknya. " Kalau Mas libur,gimana kalau temani Via, mengerjakan tugas kuliah Via? " ujar Via.
Reza tersenyum setelah itu mengangguk. Mereka belajar dan membahas setiap poin yang dosen kirim lewat sebuah aplikasi untuk memudahkan Via dalam memahami setiap pembahasan yang dosen kirimkan.
Tepat pukul dua siang,Via tertidur di depan layar laptop yang masih menyala. Via terlihat lelah,apa lagi keadaan nya sangat lemah membuat Via tertidur dengan cepat.
Reza mengangkat tubuh Via lalu menggendongnya,meletakkan tubuh mungil istrinya di tempat tidur mereka sambil menyelimuti tubuh Via. Tak lupa satu kecupan pun mendarat di kening Via. Setelah itu Reza keluar menghampiri Dina dan Susan yang sedang asyik bercerita.
" Kemana istri kamu,Za? " tanya Dina.
Dia melihat Reza turun sendiri di saat menghampirinya,bahkan Reza tak sungkan untuk duduk di samping mereka.
" Dia ketiduran,Mi. Mungkin lelah dengan tugas kuliah yang mulai di kerjakannya " balas Reza.
Dina diam menatap dalam mata Reza.
" Apa kamu gak larang istri kamu untuk menunda kuliahnya? Bagaimana dengan kandungannya nanti,bukankah dia tidak boleh kelelahan? " tanya Dina.
" Gak apa Mi,lagian kandungan Via kuat. Terus,Reza gak tega Mi,kalau harus mengekang keinginan Via,yang ada nanti dia semakin tertekan karena keinginannya tidak terwujud " ucap Reza. " Dan aku gak mau membahayakan istri dan anakku atas tindakan cerobohku. Biarkan dia memilih keinginannya. " lanjut Reza.
Susan tersenyum kecut. Dalam hatinya,ada sedikit rasa iri melihat kasih sayang yang Reza tunjukkan pada sahabatnya itu. Namun di dalam hati terdalam,Susan sangat bahagia ketika dia melihat kebahagiaan yang kini Via rasakan.
" Baiklah. Tapi Mami titip mantu juga calon cucu Mami. Jaga mereka " ucap Dina.
" Tentu " balas nya.
" Bagaimana dengan kamu,Nak Susan? " taya Dina hati hati." Apakah akan melanjutkan kuliah mu? " lanjutnya.
" Untuk sekarang, aku belum kepikiran,Mi " ucap Susan.
" Bagaimana kalau kamu kuliah seperti Via aja,biar kalian bisa bareng belajar di rumah Mami " ucap Dina.
__ADS_1
" Mami benar. Bagaimana? Apakah kamu berminat kuliah online seperti sahabatmu? timpal Reza.
" Tapi... "
" Masalah biaya,biar kami yang urus " potong Dina.
Dengan ragu,Susan pun menganggukkan kepalanya. Dia tidak mungkin kuliah menggunakan uang Ibu dan Ayahnya. Bagaimana pun,Susan sangat kecewa dengan kedua orang tuanya. Namun dia juga merasa tak enak hati jika semua biaya kuliah dia di tanggung keluarga William tanpa bekerja.
" Tapi,berilah aku pekerjaan untuk menebus uang itu. Aku tidak bisa menerima uang Mami begitu saja " kata Susan tiba tiba.
" Baiklah. Mami setuju " ucap Dina " Biar kamu bekerja di kantor Reza saja kalau begitu " lanjutnya.
" Terimakasih,Mi " ucap Susan tulus.
Setelah berbincang beberapa saat,Dina dan Susan pergi ke dapur,mereka memasak bersama tanpa Via. Mereka juga di bantu Minah dan Murti untuk menghidangkan masakan tersebut.
^
Tepat pukul empat sore,Via terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku.
Di lihatnya sekeliling kamar yang tampak sama. Namun dia tidak menemukan orang yang dia cari.
Sesaat Via terdiam sambil menatap langit langit kamarnya. Sampai pikirannya teringat seseorang yang selalu melindunginya meski dia dan dirinya terhalang jarak dan pulau.
Sudah dua hari Elfredo tidak menelpon Via. Membuat Via merasa kehilangan sosok kakak laki-laki yang sangat ia sayangi. Sedangkan di seberang sana,El lagi melakukan tugasnya untuk menyelidiki kasus pembunuhan pada pemilik perusahaan terbesar nomor satu dunia.
Sehingga membuat waktu Elfredo tersita lebih banyak lagi. Membuat El sulit untuk sekedar menelpon Via.
Krieet...
(pintu kamar Via terbuka )
Terlihat Reza tersenyum sambil membawa nampan berisi makanan juga segelas susu hamil untuk Via.
" Istri Mas ternyata udah bangun " katanya Sambil mendekat.
Via tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Entahlah,akhir-akhir ini sifat manja juga kekanakannya menjadi semakin dominan.
Reza terkikik geli melihat tingkah Via. " Sebentar " ucapnya sambil meletakkan nampan itu di atas meja di kamar mereka.
Dengan cepat Reza mendekat,membalas pelukan Via yang semakin erat.
__ADS_1
" Jangan peluk Mas terlalu erat. Kasihan dia,nanti dia sakit,Sayang " bisik Reza.
Dengan cepat Via pun melonggarkan pelukannya. Dia baru ingat kembali,bahwa dalam tubuhnya ada nyawa lain. Namun kemesraan mereka harus berakhir di saat telpon Via berdering.
Dreet...Dreet...
Via melepas pelukan mereka,dan berganti menatap layar ponsel yang bertuliskan " Bibi Cerrie " di sana.
" Siapa? " tanya Reza.
" Bibi Cerrie " ucapnya sambil menggeser tombol hijau di ponselnya tersebut.
" Hallo,Sayang. Apa kabar. " ucapnya.
" Iya,Bi.. Via sangat Baik. Bagaimana kabar kalian di sana? Kak El...." ucapan Via terhenti
" Kami baik juga. Sangat Baik" ucap Cerrie,untuk sesaat dia menghela nafas panjang " El,lagi ada tugas. Dan dia tidak bisa ikut mengunjungimu " balas Cerrie.
" Maksud,Bibi... Kalian akan ke sini? " teriak Via antusias.
" Iya,Sayang.Bibi dan keluarga akan ke rumah mertuamu empat hari lagi " ucap Cerrie
Mendengar kabar tersebut,Via pun berubah menjadi senang. Berarti empat hari ke depan rumah mertuanya akan semakin ramai dengan kehadiran keluarga darinya serta keluarga Reza dan kakak ipar yang selalu menghangatkan suasana.
Pernikahan Kia dengan Leonil menjadi pertemuan antar tiga keluarga sekaligus. Dan itu akan menjadi sejarah untuk keluarga William. Walau tanpa kehadiran Baron yang entah bagaimana kabarnya. Dan tanpa kehadiran Lita serta Agnes yang kini hidup kesusahan di kampung halaman tempat tinggal Lita. Mereka akan membuat media bertambah gempar lagi.
" Benarkah? Apa nenek dan kakek ikut? " tanya Via antusias.
" Tentu,karena dia ingin melihat cucunya yang kini sedang mengandung " balas Cerrie membuat Via melirik Reza yang ada di sampingnya.
' Sejak kapan dia memberitahu mereka tentang kehamilanku? Terus sudah sejauh itukah mereka menerima kehadiran Reza? '
Batin Via.
" Baiklah. Nanti kalau bibi sudah sampai bandara,hubungi Via okey..." ucap Via membuat Cerrie mengembangkan senyumnya.
" Baiklah. Kalau gitu bibi tutup telponnya,ya.. " balas Cerrie sambil mematikan sambungan telpon mereka.
Kini Via tersenyum menatap Reza. Dia sangat bahagia mendengar keluarganya akan berkunjung kembali ke rumah mereka. Begitu pun dengan Reza yang nampak ikut bahagia. Bagaimana pun dia tidak akan membuat istrinya kembali menderita sesuai janjinya.
◇◇◇
__ADS_1
Bersambung...