Si Mungil Kesayangan

Si Mungil Kesayangan
Lanjutkanlah


__ADS_3

" Papi... " teriak Dina.


William yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang kerja pun terlonjak kaget.


" Ada apa Mi,kenapa teriak-teriak begitu? " kata William sambil berdiri dan hendak menemui Dina.


" Kita harus ke rumah sakit sekarang " katanya antusias.


" Siapa yang sakit,Mi? " tanya William heran.


" Via..Dia di rawat di rumah sakit Z. Barusan Reza menelpon Mami " ucap Dina membuat William cemas seketika.


" Kenapa gak bilang dari tadi.. ya udah ayok berangkat " kata William khawatir.


Dengan cepat William mengambil jaket dan menelpon Dion untuk mengantar mereka ke rumah sakit tempat Via di rawat.


" Sebenarnya Via kenapa? " tanya William ketika mereka sedang di perjalanan.


" Kita akan punya cucu,Pi. Via hamil. Dan tadi sempat tidak sadarkan diri,jadi dia di bawa Reza ke rumah sakit " ucap Dina membuat William mematung dan mencerna perkataan Dina.


Dion yang mendengar kabar bahagia itu langsung tersenyum." Selamat Tuan,Nyonya. Semoga kandungan Nona sehat sampai melahirkan nanti " katanya,mengembalikan pikiran William yang masih diam mematung.


" Jadi,Via hamil Mi? " tanya William menatap Dina tidak percaya.


" Iya,Pi. Via hamil,dan kita akan punya cucu " jawab Dina sedikit kesal,karena William yang baru menyadari perkataan Dina.


" Syukurlah.. Akhirnya Reza memberiku cucu " ucapnya sumringah.


Dina tidak percaya,bahwa seorang Direktur Utama dan pemilik perusahaan terbesar se-Asia itu,bisa lama hanya sekedar mencerna kata-katanya. Bahkan kini tingkahnya tidak layak di sebut seorang pemimpin.


Dion,yang melihat kekesalan Dina pada William hanya tersenyum sendiri. Memang menyenangkan punya majikan yang unik seperti majikannya itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua pulih lima menit,akhirnya Dina dan William tiba di rumah sakit. Mereka berjalan bersama membuat sebagian orang menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.


Apakah mereka itu orang ternama yang mereka kagumi selama ini?


Pikir mereka.


Namun tak ada seorang pun yang berani menyapa bahkan mendekati keduanya.


Sementara di ruang rawat Via,Reza menatap dalam wajah Via. Dia tidak menyangka, akhirnya dia menikahi gadis kecil yang Reza anggap malaikat penolong untuknya. Bahkan,wanita itu kini sedang mengandung buah hatinya.


Aku mencintaimu,Sayang...


Daddy,mencintaimu,Nak....


batin Reza.


krieet...


( pintu ruang rawat Via terbuka)


" Mami, Papi? " kaget Reza.


" Gimana keadaan mantu Mami,Za? " tanya Dina di saat mereka masuk.


" Dia masih belum sadarkan diri,Mi. Mungkin masih ada pengaruh obat tidur yang dokter suntikan di dalam cairan infus " ucap Reza.


Dina dan William mendekat,mereka melihat Via yang masih terbaring lemah dengan wajah yang terlihat pucat .

__ADS_1


" Cepat sadar,dan cepat sehat,Nak. Jagalah cucu Mami yang ada dalam kandunganmu " kata Dina menatap wajah menantu kesayangannya.


" Selamat,Boy... akhirnya kamu akan jadi seorang ayah. Semoga ini menjadi awal kebahagiaan dalam rumah tangga kalian " kata William sambil menepuk pundak Reza.


" Makasih,Pi " katanya.


Setelah Dina dan William mengetahui keadaan Via,mereka pamit pulang dan meninggalkan Reza yang masih setia menunggu kesadaran sang istri.


Saat jam menunjukkan pukul 02.30. Via terbangun. Dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling.


' aku dimana ' gumam Via.


Tatapan Via kini tertuju pada seseorang yang sedang tertidur sambil menegang tangan kanannya.


" Mas... " panggilnya.


Merasa ada yang memanggil,Reza pun terbangun dan mendapatkan sang istri yang kini telah tersenyum menatapnya.


" Sayang... " ucap Reza,dia berdiri dan dengan cepat mengecup kening Via.


" Mana yang sakit? Apa masih mual ? " tanya Reza khawatir.


" Tidak,Mas... " kata Via.


Ketika Reza akan menekan tombol darurat untuk memanggil dokter ke ruang rawat Via,dengan cepat Via menahan tangan Reza.


" Jangan menekan tombol itu,aku gak papa kok,Mas " ucap Via membuat Reza mengurungkan niatnya.


" Baiklah " pasrahnya.


" Mas,sebenarnya Via sakit apa? "tanya Via mengembangkan senyum Reza." Kenapa Mas malah tersenyum? " heran Via.


Untuk sesaat Via terdiam, namun setelah itu dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berbinar menatap netra Reza.


" Apa? Benarkah? " tanyanya tak percaya.


Reza mengangguk dengan cepat,dirinya tahu,pasti berita ini telah membuat istrinya terkejut. Dan kini dugaan Reza terbukti benar.


Via bangun dari tidurnya lalu menubruk badan Reza. Mencoba menyalurkan kebahagiaan juga rasa nyaman yang di berikan oleh tubuh Reza. Begitu pun dengan Reza yang kini membalas pelukan Via dengan penuh kasih sayang.


" Akhirnya penantian kita selama ini terwujud,Mas " ucap Via.


" Iya,Sayang " balas Reza.


^


" Mas,bagaimana dengan rencana kuliahku? " tanya Via hati hati di saat mereka berbaring berdua di atas brankar rumah sakit.


Reza tersenyum,dia tahu. Via pasti takut kalau dia akan melarang keinginannya.


" Lanjutkanlah. Mas gak akan melarang keinginan kamu. Asalkan itu demi kebaikan kamu juga masa depan kamu. Yang terpenting,jagalah buah hati kita selalu " ucap Reza membuat Via tersenyum senang.


Reza tidak ingin menjadi suami yang egois,yang slalu memikirkan diri sendiri. Dan membuat sang istri tertekan menjalani rumah tangga dengannya.


Karena kesuksesan pasangan kita,tidak akan terwujud tanpa dukungan dari diri kita sendiri.


" Terima kasih,Mas " ucap Via mengecup pipi Reza.


Reza diam mematung di saat Via memberikan kecupan singkat di pipinya. Inilah pertama kali wanitanya mencium pipinya. Dan itu sukses membuat jantung Reza berdetak tak karuan.

__ADS_1


apakah ini mimpi? batin Reza.


Kini Reza menatap netra Via,membuat Via salah tingkah dengan pipi yang semakin merah merona. Bahkan wajah Via menyelusup di dada bidang Reza.


kenapa aku jadi agresif gini? batin Via.


" Aku suka kamu yang seperti ini " ucap Reza pelan membuat pipi Via menjadi lebih merah lagi dari sebelumnya.


" Biarkan kebahagiaan ini selalu bersama keluarga kita " lanjutnya tulus.


Via tersenyum senang. Sekali lagi dia merasa sangat beruntung mempunyai suami yang penuh pengertian seperti Reza. Bahkan dia merelakan Via melanjutkan pendidikannya,walaupun keadaan Via kini tengah berbadan dua .


^


Ke esokan paginya,Dina terlihat terburu buru membawa sekotak sarapan untuk Reza. Dina belum tahu bagaimana kabar menantu kesayangannya.


Begitu pun dengan William yang kini tengah bersiap menemani istri yang sudah siap meninggalkan kediaman William.


" Sudah siap,Mi? " tanya William.


" Udah,Pi... Ayok " ucapnya.


Sementara Reza terbangun dari tidurnya,dia tersenyum mendapatkan wanita yang amat di cintainya, masih tertidur pulas dalam dekapannya. Bagi Via hanya dada bidang Reza lah tempat ternyaman di saat Via tertidur.


Di saat Dokter dan suster datang hendak memeriksa keadaan Via,Reza menatap mereka dengan tatapan memohon,agar mereka tidak mengganggu tidur istri mungilnya.Dengan cepat mereka mengangguk dan kembali memeriksa pasien lain.


Dina dan William tiba di rumah sakit sambil menenteng paper bag. Seperti biasa,mereka berjalan penuh wibawa. Membuat semua orang yang menatap mereka berdecak kagum.


Pasangan yang serasi...


Iya.,pasangan yang sangat romantis...


Sudah romantis,kaya lagi. Benar benar perfact ...


Ucap perawat dan orang orang yang melihat mereka. Sedangkan Dina dan William sendiri hanya diam tak merespon ucapan mereka. Namun sesekali Dina tersenyum menyapa sebagian orang di sana.


" eeughht.... " lenguh Via.


Reza semakin tersenyum melihat tingkah Via. Baginya,pemandangan yang sangat indah itu,di saat dia menatap wajah Via di pagi hari.


" Mas,sudah bangun? " tanya Via.


" hm.. istirahatlah,jangan bangun dulu sebelum dokter memeriksa keadaan kamu " kata Reza membuat Via mengangguk paham.


Dan " Cup ", satu kecupan mendarat di bibir Via. " Morning kiss,Sayang " lanjutnya.


Sedangkan Via hanya tersenyum,


" Mas,gak pergi ke kantor? " tanya Via tiba tiba.


" Mas akan temani kamu sampai kita pulang ke rumah. " jawab Reza.


" Baiklah " sambungnya.


◇◇◇◇


Buat yang mau tambahan Up,besok siang ya...


Di usahakan up lagi..

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2