Si Mungil Kesayangan

Si Mungil Kesayangan
Penasaran


__ADS_3

Semua orang tampak tertidur di kamar masing - masing. Sementara Reza dan Dina menunggu Via terbangun dari pingsannya.


Terlihat Reza menahan kantuk supaya tetap terjaga di saat istri mungilnya terbangun.


" Bangunlah,Sayang " gumamnya.


" Dia pasti bangun. Kamu istrahatlah,jangan membuat Mami dan Via khawatir. Dia pasti akan sangat marah kalau kamu tidak beristirahat " kata Dina membuat Reza menoleh menatap netra Maminya.


" Biarkan aku seperti ini,sebelum dia bangun " ucap Reza.


" Jangan keras kepala,kasihan istri kamu nanti. Kalau kamu sakit,siapa yang akan menjaganya. Sedangkan dia harus bed rest dan gak boleh banyak gerak " kata Dina membuat Reza tersadar.


Dengan berat hati,akhirnya Reza membaringkan tubuhnya di samping tubuh Via. Sebelum mengatupkan kedua kelopak matanya,dia memandang wajah pucat istrinya . Cepatlah bangun " batinnya. Setelah itu dia tertidur sambil menghadap Via yang masih tertidur.


Dina sendiri tersenyum menatap anak dan menantunya. Sebelum ikut merebahkan tubuhnya di sofa kamar Reza.


^


Pagi pun tiba,semua anggota keluarga memasuki kamar Via dan Reza. Mereka baru mendapat kabar bahwa Via sudah sadarkan diri. Dan kini giliran Dokter Julie yang sedang memeriksa keadaan Via. Mengatakan bahwa Via sudah lebih baik dari sebelumnya.


Berita itu pun menjadi berita paling membahagiakan untuk semua keluarga. Bahkan senyum mereka tak luntur sedikitpun dari wajah mereka,termasuk Reza yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan matanya dari Via.


" Jaga kesehatan kamu mulai dari sekarang,Nak. Jaga juga calon pewaris dari perusahaan ICBA ( Industrial and Commercial Bank of America Lte), yang kini ada dalam kandunganmu " ucap Edward membuat Susan yang sedang berada di antara dua keluarga, ternganga.


Selama ini Via tidak pernah membicarakan tentang siapa ibu kandung Via yang sebenarnya. Juga siapa dia yang sebenarnya. Karna Via tidak ingin Susan menjauhinya karena status mereka yang kini berbanding terbalik untuk saat ini.


Ya Tuhan,apa ini semua bukan mimpi. Perusahaan itu.... itu kan perusahaan yang di miliki pemilik paling misterius selama ini.Dan pewaris aslinya adalah Via?


Batin Susan tidak percaya.


" Aku akan berusaha menjaganya,Kakek " jawab Via pelan.


" Baguslah. Kakek tidak mau hal buruk ini terjadi lagi padamu " kata Edward yang mendapat anggukan dari Via.


Setelah Edward mengucapkan kata katanya,seseorang mengetuk pintu kamar membuat mereka semua menoleh.


" Maaf,Tuan,Nyonya. Saya mau memberitahu bahwa sarapan telah siap. Dan saya juga mengantar sarapan untuk Nona Via " ucap Murti.


Mereka pun mengangguk. Sedangkan Reza mengambil nampan berisi bubur dam segelas air putih serta segelas susu hamil untuk Via.


" Terimakasih Mbok " ucap Reza.


" Za,Mami tinggal dulu ya,gak enak sama keluarga Moto... Nanti biar Mami suruh Minah bawain makanan untuk kamu sarapan di sini " ucap Dina yang di angguki Reza.


" Iya,Mi. Makasih "


Setelah kepergian mereka,Reza mendekati Via.


" Maafin Via,Mas " ucap Via dengan lirih.


" Mas,yang seharusnya minta maaf. Tidak bisa menjaga kamu dan dia " kata Reza sambil mengelus perut Via. " Sekarang,makanlah. Buat kamu kuat supaya anak kita pun kuat " lanjutnya.


Via tersenyum,inilah yang ia rindukan dari sosok Reza. Lelaki yang selalu membuat dirinya nyaman dengan segala perhatiannya. Dengan segala kasih dan sayangnya.


" Terima kasih,Daddy " ucap Via yang di buat layaknya suara anak kecil membuat Reza terkikik geli.


Setelah itu,Reza menyuapi Via dengan telaten hingga bubur itu habis di makan Via.

__ADS_1


Sementara di meja makan,El mencuri curi pandang pada Susan,dia merasa penasaran dengan pribadi Susan. Entah penasaran ingin menjadikan Susan seseorang yang berharga di hatinya,entah hanya rasa penasaran biasa saja.


Sedangkan Susan sendiri sudah sangat tidak nyaman dengan tatapan El. Dia memang memiliki perasaan spesial untuk El,namun ketika dirinya di pandang begitu intens,hal itu justru membuat Susan salah tingkah.


" Maaf mengganggu,Tuan dan Nyonya. Di depan ada seorang perempuan yang meminta bertemu " ucap Dion to the point pada majikannya yang kini telah selesai sarapan bersama.


" Siapa? " tanya William.


" Kebetulan,saya juga tidak mengenalnya,Tuan " kata Dion.


" Biarkan dia masuk " ucap William.


Siapa wanita itu? batin William.


Dion pun berbalik, membiarkan wanita itu masuk dan mempersilahkan duduk di ruang tamu. Dia juga di suruh menunggu kedatangan William dan keluarganya.


Sementara di dalam kamar,Via baru selesai makan dan bersender sambil memainkan laptop nya. Dia memaksa Reza untuk tetap membiarkannya mengerjakan tugas kuliah. Dia ingin cepat menyelesaikan kuliahnya sebelum anak yang nanti lahir semakin besar.


Sedangkan Reza sendiri sedang menikmati sarapan paginya yang tadi sempat Minah antar ke kamar mereka.


" Jangan terlalu memaksa. Kamu harus istirahat " kata Reza membuat Via mengalihkan tatapan matanya dari layar laptop.


" Iya,Mas. Ini sebentar lagi,kok " kata Via.


" Sini,Mas bantu biar cepat selesai " ucap Reza sambil mendekati Via dan membantu Via menyelesaikan tugas kuliahnya.


^


William dan yang lain berjalan ke ruang tamu untuk menemui wanita yang sedang menunggu mereka.


" Bi,nanti siapkan minuman dan cemilan untuk kami,dan bawa ka ruang tamu " pinta Dina pada Minah dan Murti sebelum mengikuti langkah William.


" Kenapa,Nona masih di sini? " tanya Minah merasa heran. " kenapa tidak ikut bersama Tuan dan Nyonya? " lanjutnya.


" Saya gak papa,Mbok. Saya cuma ingin pamit pulang. Tapi saya gak mungkin jalan ke depan kalau mau pulang " jelas Susan berkilah.


" Oh... Kalau begitu,Non Susan ke belakang saja jalannya. Biar Mbok bantu kalau mau " kata Minah.


Beberapa saat Susan terdiam.


" Baiklah.. " ucapnya.


" Mur,tolong kamu siapin dulu semuanya. Aku mau anter nona Susan dulu ke belakang " kata Minah pada Murti.


Dengan cepat Murti mengangguk dan memulai membuat minuman untuk majikan serta tamu majikannya.


" Mbok,nanti kalau Via atau keluarga yang lain tanya. Bilang pada mereka,saya pulang duluan,karena ada tugas kantor yang sedang menanti saya. " kata Susan


" Baik,Nona " balas Minah.


Setelah itu Susan pulang meninggalkan kediaman William menaiki taxy yang di pesannya. Namun sebelum ia mendekati taxy tersebut. Seseorang membungkam mulutnya hingga Susan jatuh pingsan lalu di bawa oleh orang itu meninggalkan taxy yang sempat Susan pesan.


^


Sedangkan di rumah sakit,Miko baru sadarkan diri,dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk melalui netra matanya.


Di mana aku?

__ADS_1


batin Miko.


" Syukurlah,kamu akhirnya bangun juga " kata seorang lelaki yang sedang duduk di sofa rumah sakit sambil membanting pelan majalah yang sempat ia baca pada meja di depannya.


" Sial. Kenapa kamu melakukan ini padaku,heh? " teriak Miko.


" Karna aku hanya melindungi wanitaku " jawab pria tersebut membuat Miko menahan amarahnya.


" Dia hanya milikku,Tuan Bagas. Dia ha-nya mi-lik-ku mengerti? " kata Miko menekan setiap perkataannya.


" Benarkah?. Kalau dia milikmu,mana mungkin dia meminta bantuan nona ku untuk menolongnya " ucap Bagas tersenyum sinis.


"Aku gak akan membiarkan kamu memilikinya,Bagas " batin Miko.


" Terserah. Yang jelas,dia hanya milikku " ujar Miko mantap.


" Kita lihat saja,nanti " balas Bagas.


Sementara di kediaman William....


" Kamu ada perlu apa,Nona. Sampai harus menemui kami dengan cara seperti ini? " tanya William pada perempuan yang usianya berkisar 35 tahunan itu.


" Maaf,saya ke mari ingin bertemu dengan Nona Via. Ada yang harus saya sampaikan kepada dirinya mengenai kematian ibu Sukma " ujar wanita itu.


William melirik Robert yang saat itu sedang meliriknya. Robert mengangguk,dan William pun paham arti anggukan Robert itu.


" Baiklah. Ikut kami " kata William.


" Tunggu. Tapi siapa anda? Ada perlu apa sama menantuku? " cegah Dina di saat wanita itu berdiri.


" Saya , Niken. Pengacara ibu Sukma " jawab Niken mantap.


Dina terdiam,dia juga penasaran dengan apa yang akan Niken sampaikan pada Silvia.


" Baiklah. Kamu boleh ikuti kami " putus Dina kemudian.


Dina dan William berjalan di ikuti Niken di belakang,tanpa keluarga Moto menuju kamar Via dan Reza.


" Apa yang ingin wanita itu sampaikan? " ucap Edward penasaran.


" Entahlah,namun yang pasti ini pasti sangat penting " jelas Robert hingga membuat mereka mengangguk.


" Tapi,bukan menyangkut Paman Baron kan? Aku takut jika itu menyangkut Paman Baron. " tanya El,


" Benar kata El,Mas. Bagaimana kalau itu menyangkut lelaki gila itu? Bagaimana dengan Nata? Aku mengkhawatirkannya. " cemas Cerrie.


" Tenang lah dulu. Ku rasa ini bukan menyangkut masalah Baron. Mungkin sesuatu yang lain " kata Robert.


" Ku rasa benar, ucapan Nathan " timpal Astrid.


Mereka akhirnya terdiam dengan pemikiran dan rasa penasaran di antara mereka.


◇◇◇◇


Jangan lupa like,komen dan Vote nya...


😊😊😊🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2