
Dina dan William tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya. Mereka semakin bahagia ketika melihat Via dan Reza semakin menerima satu sama lain.
Awalnya Dina dan William akan masuk ke dalam ruang rawat Via,namun betapa malunya Dina di saat melihat Reza yang sedang mencium bibir Via kilat dari balik kaca kecil dekat pintu.
Dina berbalik dan tersenyum membuat William heran dengan kelakuan istrinya.
" Sttt...jangan ganggu mereka " bisiknya,seakan memberi kode pada William.
William tersenyum mengerti. Mereka pun membiarkan Reza dan Via untuk beberapa saat,sebelum membuka pintu ruang rawat Via kembali.
Ekhmmm...
William pura pura batuk di saat mereka masuk dan masih melihat Via dan Reza yang masih saling berpelukan.
" Mami,Papi? " kaget Via.
Bahkan Via terbangun dari tidurnya dengan terburu buru,membuat Reza menatap Via tajam karena kelakuannya. Sedangkan Dina dan William tersenyum melihat menantunya dengan wajah merona menahan malu.
" Kenapa gak pelan pelan bangunnya? Gimana kalau terjadi sesuatu dengan kamu dan kandungannya? " ucap Reza khawatir, menyadarkan Via.
" Maaf,.." ucapnya
" Sudah,Za. Jangan marah lagi,wajahmu itu terlihat seram kalau sedang marah " ucap Dina membuat Reza tertunduk pasrah.
Dina memberikan paper bag berisi makanan untuk sarapan Reza. Sedangkan untuk sarapan Via,Dina sendiri yang akan menyuapi menantunya itu.
Reza makan sambil sesekali membahas masalah kantor dengan William. Berbeda dengan Via juga Dina,mereka membahas tentang kehamilan,membuat Via banyak belajar dari penjelasan yang mertuanya berikan.
Setelah sarapan selesai,Dr.Irwan masuk sambil tersenyum. Di belakangnya terlihat dua wanita berseragam putih namun berbeda profesi.
" Selamat Pagi,Tuan dan Nyonya " katanya.
" Pagi Dok, " jawab mereka serempak.
" Apakah ada keluhan yang Nona rasakan? " tanya Dr,Irwan.
" Kepala saya masih terasa pusing dan ada sedikit mual " ucap Via yang di angguki Dr.Irwan.
" Baiklah. Kini biar Dr.Julie yang memeriksa keadaan Nona " ucapnya,Sambil memperkenalkan Julie pada mereka.
" Saya,Julie. Tuan,Nyonya " ujar Julie memperkenalkan diri.
__ADS_1
" Apakah anda dokter kandungan itu? " tanya Reza memastikan.
" Benar,Tuan " katanya.
Setelah mendapat izin dari Reza,barulah Julie memeriksa keadaan kandungan Via.
" Selamat Tuan. Kandungan Nona sudah memasuki minggu ke empat. Dan janinnya juga sehat, anda bisa melihat layar monitor sebelah sini " ucap Julie sambil menunjuk layar monitor yang memperlihatkan butiran kecil menyerupai kacang.
" Apakah itu bayinya? " tanya Reza antusias. Dan dengan cepat Julie mengangguk.
Bahkan sedari tadi,mata Reza tak pernah terlepas dari layar tersebut. Begitu pun dengan Via,dia menangis haru di saat melihat calon buah hatinya di layar tersebut.
William dan Dina ikut tersenyum bahagia,setelah banyaknya rintangan dalam rumah tangga Via,kini mereka mendapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak dapat tergantikan dengan harta sekalipun.
^
Setelah pemeriksaan selesai,dan di ijinkan pulang oleh dokter Julie,Via tersenyum senang. Apalagi ketika dokter Julie mengatakan bahwa kandungan Via sangat kuat,meskipun kondisi Via sendiri sangat lemah.
Reza yang mendengar pernyataan Dokter Julie menjadi semakin overprotektif. Dia tidak mau terjadi sesuatu dengan orang yang paling di cintainya.
" Nak, apa tidak sebaiknya kalian tinggal bersama Mami kembali?. Biar istrimu ada yang menjaga juga " usul Dina tiba tiba ketika mereka sedang ada di dalam perjalanan.
" Benar,biar kamu juga tenang ketika sedang bekerja di kantor. Apalagi tiga hari kedepan,kamu harus mengunjungi perusahaan istrimu di Amerika " ucap William membuat Reza diam termenung.
" Baiklah " jawab Reza.
Merasa tak ada respon dari Reza. Via memberenggut kesal hingga wajahnya seketika berubah.
' kenapa gak bilang padaku?,apa dia memang tidak berniat ngasih tahu aku tentang keberangkatannya ke Amerika? Lalu dia akan meninggalkan aku lagi di saat aku mengandung anaknya? '
pikir Via.
Rasa takut yang Via rasakan,kini semakin menjadi. Apalagi mereka semua tidak menyadari kekesalan Via. Apakah Reza akan meninggalkan dirinya selama awal pernikahan mereka kembali?
Setelah dua puluh lima menit berlalu,mereka tiba di rumah kediaman William. Sesuai perkataan mereka di dalam mobil,mulai sekarang Via dan Reza kembali tinggal di rumah William.
Via turun terburu buru lalu pergi meninggalkan suami serta mertuanya. Dia masih merasa kesal dengan mereka yang tidak jujur terhadap Via.
" Nak... jangan berlari " teriak Dina.
Namun Via tidak menghiraukan perkataan Dina hingga membuat mereka bertiga bingung seketika.
__ADS_1
" Kenapa istrimu itu,Za ? " tanya William.
" Apa kalian bertengkar? " timpal Dina.
Reza menggeleng kepala,dia merasa bahwa sedari tadi mereka baik baik saja. Dan tidak ada pertengkaran antara mereka.
Untuk sesaat Reza diam mematung,kenapa lagi istrinya itu? Semenjak hamil,Via terlihat semakin berbeda. Terkadang membuat Reza bingung sendiri. Sampai akhirnya Reza menyadari kesalahannya.
Dia berlari mengikuti langkah Via yang sudah sampai di dalam kamar Reza dan mengunci kamar tersebut.
" Sayang..." teriak Reza sambil mengetuk pintu kamar berkali kali. " Sayang buka pintunya. Aku minta maaf,yang... " katanya.
' Aduh... kenapa aku bisa lupa. Bahwa aku belum memberi tahu dia tentang kepergianku ke Amerika? '
Sedangkan Via sendiri sedang menangis di balik selimut yang menutupi tubuhnya. Dia sangat kecewa dengan ketidak jujuran Reza. Hatinya kembali sakit di saat mengingat bahwa hatinya tidak menerima kepergian Reza.
" Sayang.. Aku minta maaf..." teriak Reza kembali. " Tolong buka pintunya. Aku mohon... " lanjutnya. " Aku akan jelasin semuanya,tolong buka pintunya "
Via bangun dari tidurnya. Dia mengambil bantal dan selimut lalu menggulungnya. Membawa gulungan itu menuju pintu lalu membuka pintu.
" Aku mau sendiri. Mas tidurlah di mana mas mau " ucapnya sambil menyerahkan gulungan selimut dan bantal itu pada Reza yang kini diam mematung menatap Via di balik pintu.
Sedangkan Dina dan William terkikik geli melihat tingkah Reza. Akhirnya ada juga yang berani terhadap anak lelakinya itu. Bahkan Reza masih diam mematung di saat pintu kamarnya Via kunci kembali.
" Sabar ya,Nak..." ucap Dina sambil menepuk punggung putranya.
" Selamat tidur di kamar tamu " ejek William pada putranya membuat Reza tertunduk lemas.
Inilah yang di takutkan dirinya sebagai pria. Tidur terpisah dengan istri mungilnya serta tidak mendapat jatah.
Sungguh Reza sangat menyesal,karena tidak jujur sedari awal. Kini dia melangkah pergi menuju kamar tamu dengan langkah lemas dan sesekali melirik pintu kamarnya. Berharap keajaiban datang dan istrinya membuka pintu kembali untuknya.
" Inilah yang ku takutkan selama ini. Semoga kemarahan dia tidak berlarut larut,hingga mendiamkanku terus"
batin Reza.
◇◇◇◇
Sesuai janji ya... aku up siang ini.
Nanti malam aku up lagi.
__ADS_1
Selamat Membaca..
Bersambung....