Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Kembali ke sekolah


__ADS_3

Semalaman aku tak bisa tidur, ingin tidur tapi ketika dipejamkan tetap sadar. Rasa penasaran ini terlalu besar,sehingga mengalahkan rasa kantukku.


Akhirnya suara adzan menggema. Walau belum tidur, tetap harus bangun untuk shalat subuh. Aku segera ke kamar mandi. Di rumah ini ada banyak kamar mandi jadi tidak mengantri.


Seperti biasa,aku masih semangat dengan pekerjaan baruku,sembari mengingat kejadian semalam ku sapu dan ku pel seluruh ruangan. Tiba tiba seseorang memanggil


"Isna, Isna!!!",


"Ada apa Mba Wulan?",ku samakan suara Mba Wulan dengan suara yang semalam, sepertinya bukan.


"Ada seseorang yang menelpon,nanyain kamu"


"Laki laki atau perempuan?"


"perempuan, sini deh! "


Aku segera menghampiri dan telepon itu ku ambil dari tangan Mba Wulan.


"Hallo! "


"Isna,ini Bibi, bagaimana kabarmu? sehat? betah tidak tinggal di sana? sudah makan belum? "


"Bibi, Isna jadi pusing menjawabnya, pertanyaannya terlalu banyak, Isna sehat, betah tinggal di sini, orangnya baik baik, Isna sudah makan dari pagi"


"Alhamdulillah, Bibi kangen sama kamu"


"Isna juga kangen, bagaimana adik adik di rumah? sehat Bi? "


"Alhamdulillah, sehat, oh, iya Bibi sampai lupa mau menyampaikan sesuatu sama kamu"


"Memangnya ada apa,Bi? ",aku penasaran.


"Kemarin Sofia datang ke sini, katanya kamu diminta untuk datang ke sekolah, Bibi senang sekali mendengar ini, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh kepala sekolah,mungkin kamu di suruh sekolah lagi, mudah mudahan, Bibi berharapnya begitu, besok saja kamu ke sekolah izin dulu sama Bosmu"


"Tapi Bi.... "


"Ih, jarang sekali ada sekolah yang perduli dengan muridnya, sampai di minta ke sekolah"


"Tapi kan belum tentu di suruh sekolah"


"pokoknya besok kamu minta izin sama... siapa tuh namanya?"


"Mas Zein, eh,Tuan Zein",rasanya kurang enak panggilan itu.

__ADS_1


"Iya, itu Tuan Zein yang ganteng itu"


"Ya nanti Isna coba izin sama Tuan".


"Bagus,harus begitu, kamu juga harus memikirkan pendidikanmu,jangan sampai menyesal belakangan, Bibi mau pulang dulu ya, soalnya nelponnya dari telepon umum"


"Iya",ku jawab dengan singkat.


"Assalamu'alaikum! "Bibi mengakhiri obrolannya.


"Wa'alaikum salam",ku simpan telepon ke tempatnya.


Aku bertanya tanya, kenapa Pak Yadi ingin berbicara denganku, aku tidak punya tunggakan di sekolah, karena aku dapat bantuan dari sekolah, jadi gratis.Terus mau apa ya?.


Hari ini Mas Zein pulang lebih cepat, segera aku menemuinya untuk meminta izin. Diapun mengizinkan. Akhirnya setelah sekian lama tidak ke sekolah, aku akan menginjakan kaki di sana lagi, tempat yang membuatku takut, karena bullyan yang ku dapatkan dari anggota geng YoVi an the Nu No. Kalau aku kembali ke sana bagaimana dengan hutangku?aku sebenarnya malas untuk ke sekolah karena di sana aku hanya di pandang sebelah mata,orang orang yang dekat denganku hanya Sofia dan Aki Somad. Ada rindu ingin bertemu mereka, tapi rasa takutku lebih besar sehingga aku rela untuk tidak bersekolah.


Tak lupa ku ucapkan terimakasih pada Tuanku, Mas Zein.


Pagi pagi jam 8 ....


Saatnya pergi ke sekolah. Sengaja aku tidak memakai baju seragam, karena aku malu sudah lama tidak bersekolah, lagipula belum tentu aku akan di minta masuk sekolah lagi, bisa saja aku sudah dicoret dari daftar murid. Tak lupa ku pakai masker, agar tidak ada seorangpun yang mengenali. Aku berpamitan pada yang lain, tapi tidak dengan Mas Zein. Dia sudah berangkat pagi pagi sekali.


Sampailah aku ke sekolah. Semua masih sama, tidak banyak berubah, hanya taman yang dulunya kurang terawat kini menjadi lebih bersih dan asri. Ku layangkan pandanganku ke seluruh penjuru. Aku ingat,dulu aku senang sekali bisa melanjutkan sekolah,apalagi saat aku tahu bisa bersekolah di sini. Ini adalah SMA favorit di kotaku. Semua orangpun tahu, tapi karena itulah, aku jadi kurang diterima. Mereka bilang aku orang miskin yang tidak boleh berada di tempat seperti ini. Awalnya bisa ku hadapi, tapi setelah ayah dan ibu meninggal, nyaliku mulai ciut. Aku mulai menjadi pengecut yang tak berani melawan orang orang yang merundung. Aku sangat ketakutan. Saat ini pun, ketakutan itu masih begitu kuat. Tapi coba ku kendalikan, untung aku pakai masker jadi tidak banyak orang yang mengetahui siapa diriku.


Aku bergegas pergi ke kantor menuju ruang guru dan kantor kepala sekolah. Di perjalanan ku temui seorang guru yang sangat ku rindukan, guru ekonomi dan akuntansi. Selain karena aku suka gurunya, tapi juga karena pelajaran itu pelajaran yang aku sukai.


"Ini siapa?"


Segera ku buka maskerku.


"Saya, Bu"


"Ibu lupa,siapa ya? ",pasti lupa, karena aku bukan siswa berprestasi dan kurang menonjol di sekolah.


"Saya Isna",walaupun dia kurang ingat juga tidak apa apa.


"Oh, Isna khoirunnisa ya,yang suka menolong ibu bawa buku paket ke kelas kan?! "


"Iya, Bu",aku senang karena akhirnya Bu Nina mengingatku.


"Kamu kemana saja, ibu bertanya pada teman teman sekelasmu, tapi mereka juga tidak tahu"


"Isna tadinya ingin istirahat setelah ayah dan ibu meninggal, eh, keterusan he... he.. ",aku dengan sedikit tawa.

__ADS_1


"Oh, Iya, orang tuamu...",Bu nina dengan wajah sedih memelukku,


Setelah kami bernostalgia, aku undur diri untuk pergi ke kantor kepala sekolah.


"Tok tok tok! Assalamu'alaikum!! ",ku ketuk pintu dan tak lupa salam. Aku ulangi lagi untuk kedua kali, tapi tak ada jawaban. Ku tanyakn pada guru yang lewat.


"Pak,Pak Yadinya ada? ",aku memulai pertanyaan.


"Oh, sekarang bukan Pak Yadi ,ada kepala sekolah yang baru"


"Siapa penggantinya,Pak? "


Baru saja guru itu mau menjawab,dia sudah di panggil oleh seseorang


"Pak, ke sini! "


"Maaf saya harus ke ruang guru dulu, kalau mau menemui kepala sekolah, boleh tunggu di dalam",guru itu dengan segera berlalu.


"Baik, Pak! ",aku sambil mengangguk.


Karena sudah dipersilahkan menunggu di dalam maka akupun masuk ke ruangan kepala sekolah. Aku duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Setelah lama menunggu, terdengar langkah kaki menuju ke ruangan ini. Ada seseorang masuk. Saat ku lihat ternyata Mas Zein.


"Tuan kok ada di sini? "


"Jangan panggil saya Tuan kalau kita sedang berdua, panggil saja saya Mas Zein",dia langsung duduk di sofa.


"Mas Zein mau sekolah lagi? "otakku yang blank tak sengaja bertanya hal yang aneh.


"ha... ha... apa wajah saya semuda itu, masih cocok ya kalau jadi anak SMA"


Aku tak menjawab, hanya wajah kesal yang ku sembunyikan dalam diam, tapi Mas Zein tahu itu.


"Ya udah, begitu saja kok marah"


Tiba tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk setelah di persilahkan.


"Pak Zein, ada orang tua murid yang ingin bertemu dengan kepala sekolah"


"Oh, iya, tolong diminta untuk tunggu sebentar, saya ada tamu dulu"


"Baik, Pak! "

__ADS_1


Pikiranku tak bisa berhenti bertanya. Terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban, yang hanya bisa ditanyakan langsung pada orangnya.


"Apa Mas Zein adalah kepala sekolah yang baru? "


__ADS_2