Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Rasa yang tersimpan


__ADS_3

Ketika di rumah Bibi,ku ceritakan semua yang ku ketahui,juga memperlihatkan foto yang ku temukan di brankas Aki.


"Bi,benarkah ini adalah foto kakek Isna?",ku tanyakan segera pada Bibi.


"Iya, Isna,itu adalah wajah kakekmu yang telah mengusir ayah dan ibumu. Dia lebih percaya pada orang kepercayaannya dibandingkan dengan anaknya sendiri",Bibi dengan nada kecewa.


"Memangnya apa yang telah dilakukan oleh ayah dan ibu sehingga kakek mengusir mereka?",aku bertanya penuh rasa penasaran.


"Ayahmu difitnah menggelapkan uang perusahaan,padahal tak pernah sedikitpun ayahmu mengambil uang yang bukan haknya".


"Tapi mengapa kakek tidak percaya pada ayah?".


"Orang yang memfitnah ayahmu menjebaknya sehingga tidak bisa berkutik dan menerima semua konsekuensi yang tak seharusnya diterimanya"


"Sebenarnya siapa orang yang telah menjebak ayah Isna,Bi?"


"Orang itu adalah sahabat ayahmu,tapi Bibi juga kurang tahu soalnya hanya mendengar cerita saja dari ibumu dan katanya sekarang perusahaan kakekmu juga sudah dikuasainya".


Kami mengobrol sampai larut malam,banyak cerita yang ku ceritakan pada Bibi termasuk teman baruku Tio dan pastinya Mas Zein yang ternyata adalah kepala sekolahku.


Sebelum tidur,ku buka resep siomay Aki Somad yang ternyata adalah kakek kandungku. Terbayang kenangan saat kami bertemu di sekolah,banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan,tapi apalah daya Aki sudah berpulang sebelum aku mengetahui hal yang sebenarnya.


Keesokan harinya...


Seperti biasa pagi hari aku berangkat sekolah dan sore ini aku berencana untuk membuat siomay dibantu oleh Tio dan Bibi. Aku sangat bersemangat karena besok adalah jadwal kami untuk mengadakan bazar dan waktuku untuk membuat siomay sangat mepet.


Waktu pulangpun akhirnya tiba,aku segera mengajak Tio untuk pergi berbelanja untuk keperluan besok. Untuk peralatan seperti kompor juga alat memasak ku pinjam peralatan milik Aki Somad yang dulu dipakainya ketika berjualan. Aku tak tahu apakah akan berhasil atau tidak,buatku yang penting sudah berusaha untuk melaksanakan tugas dari Bu Nina dengan baik. Tak lupa juga aku meminta izin pada majikanku yang ganteng untuk tidak melaksanakan pekerjaanku dulu dirumahnya,pasti diapun mengerti karena dia kan kepala sekolahku.


Di taman sekolah.....


Terlihat Tio duduk dibangku taman,tiba tiba Yolan langsung menyapa.


"Tio,kamu mau ke mana?",Yolan mendekati Tio. Dia hanya cuek tak perduli dengan Yolan.


"Buat apa kamu satu kelompok sama Isna,mending sama aku".

__ADS_1


Tak sedikitpun Tio bergeming dan menanggapi Yolan.


"Ih,dasar kamu cowok sok jual mahal,males ngomong sama kamu",Yolan kecewa dengan perlakuan Tio dan memilih untuk pergi.Yolan tidak bisa memperlakukan Tio seperti yang lain,walaupun jengkel tapi dia tidak bisa membalas,karena Yolan sudah terlanjur suka dengan Tio.


Melihat hal itu Tio hanya tersenyum tanda menang.


"Siapa yang suruh bertanya?",dalam hati Tio berkata. Tio memang tak menyukai Yolan dari pertama mereka bertemu. Seketika Tio ingat ketika pertama bertemu Isna,Tiopun senyum senyum sendiri.


"Kamu kenapa ketawa sendiri?",


Ku lihat Tio tertawa sendiri setelah ku tinggalkan ke kamar mandi.


"Aku tertawa?tidak",tawa di bibirnya seketika menghilang,dia berbohong seolah ada yang ingin disembunyikan.


"Mencurigakan!",dengan tatapan tajam ku pandangi Tio.


"Ke...kenapa kamu melihat aku seperti itu?",Tio terlihat canggung.


"Ada yang aneh!"


"A..apa?",Tio makin terlihat canggung dengan pipinya yang putih terlihat mulai memerah. Tio segera menghindar dan langsung pergi.


"Eh,iya,aku lupa sini aku yang bawa!",Tio segera mengambil barang yang ku bawa.


Ketika kami sudah sampai di luar gerbang,tiba tiba suara klakson mobil memanggilku, ku tengok ke arah suara berasal. Ternyata Mas Zein.


"Isna ayo bareng!,kamu bawa barang banyak kan?!",Mas Zein menawarkan diri.


"Tapi Isna mau ke rumah Bibi,jadi buat siomaynya di sana!",aku sembari memandang Tio.


"Oh,tidak apa apa,sekalian saya ada janji bertemu dengan seseorang di dekat daerah itu",Mas Zein dengan senyuman.


Senyuman itu membuat aku meleleh sehingga aku tidak bisa menolak,tanpa melihat Tio aku langsung pergi ke arah mobil. Tio mencoba menghalangiku dengan menarik bajuku sedikit,tapi tak ku pedulikan. "Kamu juga sekalian,eh,siapa nama kamu?",Mas Zein tak lupa mengajak Tio.


"Maaf pak,saya naik motor saja",Tio dengan senyuman terpaksa.

__ADS_1


"Ya udah barang barang aku yang bawa ya!",dengan senyum sumringah,aku mengambil barang bawaan yang ada di tangan Tio. Dia terlihat cemberut sambil memberikan barang itu dengan setengah terpaksa.


Kamipun segera meluncur ke rumah Bibiku walau dengan kendaraan yang terpisah. Tio terlihat heran padaku yang begitu akrab dengan kepala sekolah. Dia mungkin mengira ada hubungan kerabat diantara kami.


Ketika di mobil aku meminta izin dan berterimakasih pada Mas Zein. Seperti biasa, dia selalu baik dan menawarkan bantuan jika dibutuhkan. Aku sangat senang karena lumayan lama aku tak bertemu Mas Zein,jadi saat kami bertemu cukup mengobati rasa rinduku.


Sesampainya di rumah Bibi,aku dan Mas Zein berpisah karena dia ada rapat dengan seseorang.


Tio dengan penuh rasa penasaran mencoba mendekatiku.


"Kamu dengan kepala sekolah akrab sekali,dia saudara kamu ya?",Tio langsung bertanya.


"Bukan,kami tidak punya hubungan kekerabatan".


"Terus apa hubungan kamu sama dia?",Tio makin penasaran.


"Pak Zein kepala sekolahku pastinya,dan aku adalah salah satu siswanya",ku jawab langsung.


"Bukan ,bukan hubungan yang seperti itu,kok kamu bisa begitu akrab dengan kepala sekolah kita?"


"Dia adalah pacarku,Tio!",ku coba bercanda.


Tiba tiba barang yang dibawa Tio terjatuh dan dia berhenti sejenak dengan ekspresi wajah yang kaget.


"Kamu cemburu ya sama aku?",aku mencoba menggoda Tio tanpa menyadari perasaan Tio yang mulai menyimpan rasa padaku.


"Ti...ti...tidak!aku mau ke toilet,di mana ya?",Tio mengalihkan pembicaraan.


"Kalau mau ke toilet bilang dong dari tadi!jangan sambil dijatuhkan barangnya",aku dengan sedikit kesal.


Tiopun segera mencari toilet. Terlihat dia menyembunyikan wajahnya yang malu malu.


Sejak kejadian itu,Tio terlihat kurang konsentrasi,bahkan dia menjatuhkan tepung tapioka sehingga kami harus membeli bahan itu lagi.


Akhirnya persiapan kami sudah selesai. Dengan tenaga tiga orang, resep yang diberikan Aki di wujudkan menjadi nyata. Tio mendadak menjadi juri utama untuk memberikan nilai pada masakan yang kami buat bersama.

__ADS_1


Pada hari H.....


Semua barang dan bahan yang kami butuhkan untuk berjualan sudah siap. Kami siap untuk menjadi 'tukang siomay' dadakan. Terlihat Sofia berjualan makanan khas korea,ttoekbokki. Dia pecinta drakor,sepertinya ide jualannya berasal darinya. Sedikit ke arah depan,ada kelompok Yolan and the geng. Mereka berjualan baso. Tatapan Yolan terlihat menyayat walau dari jauh,dia terus memperhatikan kami. Aku ingin ke toilet,makanya ku katakan pada Tio untuk berjaga di stand kami. Ketika aku ke toilet, seperti ada orang yang mengikuti dari belakang. Saat akan membuka pintu,aku dipukul dari belakang dan tak ingat lagi apa yang terjadi. Samar samar ku lihat ada bayangan seseorang seperti......orang yang ku kenal.


__ADS_2