
Tangan itu menyentuh kepalaku Mungkinkah Tio.
"Akhirnya kita bertemu",kata hatiku.
Saat ku lihat wajah orang yang menyentuhku,ternyata dia.....orang gila
"Tolong!",aku berlari sekuat tenaga.
Tiba tiba aku menabrak seseorang dan kami terjatuh.
"Maaf,saya tidak sengaja!",segera ku bereskan kopernya yang terjatuh.
"Aduh,badanku sakit. Makanya jangan berlarian di Bandara Mba!",pemuda itu jengkel.
"Iya,maaf!",aku pun segera pergi dari tempat itu.
Ku lihat ke belakang,orang gila itu sudah tidak ada. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan. Ku lihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari Tio,mungkin saja dia ada di sekitar sini.Seiring jalanku yang semakin melambat,seperti itulah harapanku untuk menemukan Tio. Pasti dia sudah pulang. Makanya akupun memutuskan untuk pulang. Dengan hati yang kecewa aku berjalan menunduk ke pintu keluar Bandara. Saat pintu otomatis terbuka,seseorang sedang berdiri di tengah jalan. Ku angkat kepalaku,dan dialah Tio yang sebenarnya. "Tio,akhirnya aku menemukanmu",aku sangat bahagia.
"Kamu ternyata datang ke sini,ku kira tak akan datang. Aku hanya berbohong ketika berkata akan mengajakmu ke luar negri. Itu adalah ujian untuk melihat,seberapa sayangkah kamu padaku,dan terbukti kamu masih sayang padaku kan?",ucap Tio.
Aku tidak bisa menjawab,hanya anggukan dan senyuman. Kalau menghadapi keadaan seperti ini,mulutku speechless.
"Kita minum dulu di kafe yang ada di dalam,Yu!",ajak Tio.
"Ayo",sambil ku anggukan kepalaku.
Kami kembali masuk ke area Bandara dan memesan minuman. Sambil menikmati kopi yang hangat kami mengobrol dengan santai.
"Kalau begitu,malam ini mari ikut aku ke rumah. Aku akan meminta mereka untuk membatalkan pernikahan dengan Renata dan aku akan meminta restu mereka".
"Apa?",aku begitu kaget ketika mendengar ajakan itu,"Kalau kamu membatalkan pernikahan,Renata dan orang tuamu akan membencimu karena sudah mempermalukan kedua keluarga. Bisa bisa kamu dipecat jadi anak".
"Tapi jika aku tidak membatalkan pernikahan ini justru Renata dan aku akan lebih menderita lagi,kami akan saling menyakiti. Kemarin aku sudah berbicara dengan Renata,dia memang terlihat tidak terima yang penting aku sudah berterus terang,daripada aku terus berbohong".
"Tapi aku takut".
"Tenang,ada aku disampingmu,kita akan menghadapi ini bersama sama".
"Jika orang tuamu mengusirmu bagaimana?".
"Tidak apa apa,aku bisa menginap di kedai Siomayku sayang dan menjadi penjaganya",Tio berkata dengan tersenyum.
"Tapi hidup tanpa uang itu menyakitkan,apa kamu mampu?".
"Justru kamu yang harusnya menjawab,jika aku sudah tidak kaya lagi,akankah kamu bersamaku terus?".
"Kalau aku tidak mau,aku mau Tio yang kaya he...he...",aku sambil bercanda.
Dengan mata melotot Tio berkata,"apa?".
"He..he...aku bercanda,yang pasti aku mau yang bisa memberiku uang 5 juta perbulan".
__ADS_1
"Apa?",suaranya semakin kencang,"ternyata kamu matre ya".
"Iya,wanita itu harus matre".
"Sudah,kita harus segera ke rumahku",Tio sambil berjalan meninggalkanku.
Dengan setengah berlari,ku kejar Tio,"tunggu aku!".
Kami keluar dari Bandara dan pergi dengan menaiki mobil Tio. Aku sebenarnya tidak ingin menghadapi ini,tapi Tio meyakinkanku kalau kami akan menghadapinya bersama.
Kami telah sampai di rumah orang tua Tio. Setelah mobil diparkir kami masuk ke dalam. Aku mengekor pada Tio sambil memegang bajunya. Aku sungguh takut,terasa tubuhku sudah bergetar. Pobiaku datang lagi.
"Tio,kenapa kamu datang dengan wanita ini?mana Renata?"ujar Ibu Tio.
"Apa Renata belum memberitahu ibu,kalau pernikahan kami akan dibatalkan?".
"Apa?kamu akan membatalkan pernikahan ini?langkahi dulu mayat ibumu ini!".
"Bu,Tio tidak ingin menikah karena terpaksa,apa ibu ingin anak ibu menderita?".
"Kamu tahu apa tentang kebahagiaan,kami yang lebih tahu. Jika kamu menikahi Renata,harta kekayaan keluarga kita akan menjadi 10 kali lipat lebih banyak,apa kamu akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini hanya demi wanita miskin ini?".
"Iya,Tio akan mengorbankan segalanya demi Isna".
"Tio,kamu tidak tahu bagaimana rasanya miskin,dan kemiskinan itu akan membuatmu menderita".
"Tapi Tio akan buktikan kalau Tio bisa menghadapi semuanya".
Tiba tiba Ayah Tio masuk ke rumah.
"Tio ingin membatalkan pernikahannya",jawab Ibu Tio.
"Oh,kamu masih ingin bersama wanita ini?boleh saja,tapi ayah tidak akan memberikan warisan sepeserpun dan semua fasilitas yang kamu nikmati hari ini akan ayah ambil".
"Asalkan ayah mengizinkan kami bersama,Tio siap jika ayah ingin mengambil semuanya".
"Baiklah,akan ayah kabulkan keinginanmu,kalau kamu akhirnya menyerah datanglah pada kami dan buanglah jauh jauh wanita ini".
"Tapi ayah....",Ibu Tio masih tidak setuju.
"Biarkan,Tio pasti akan kembali pada kita",Ayah Tio dengan penuh keyakinan.
"Kami pamit dulu,terimakasih untuk restu yang telah kalian berikan",Tio sambil mengajakku pergi.
Aku tidak dapat berkata apapun karena rasa takut. Tubuhku bergetar merasakan ketakutan dan aku yakin Tio juga pasti menyadari.
Setelah kami keluar dari rumah. Tio terlihat khawatir,"Apa kamu baik baik saja?".
Dia melihat kalau tubuhku bergetar. Dia memegang tanganku yang terasa dingin.
"Apa yang terjadi padamu?".
__ADS_1
"A...aku...ketakutan",dengan tergagap aku menjawab.
"Sebegitu takutkah kamu sampai menggigil seperti ini?,maafkan aku Isna karena membuat kamu menjadi seperti ini".
Aku hanya mengangguk.
"Kalau aku sudah sah menjadi suamimu,disaat seperti ini akan ku peluk dan ku pegang tanganmu,tapi sekarang kita masih belum boleh melakukan itu,aku ingin menjaga kesucianmu sampai kita menikah nanti".
Aku sudah tidak fokus dengan apa yang Tio ucapkan yang ku tahu,badanku terasa bergetar seperti menggigil kedinginan.
Tio segera membawaku ke mobil.
"Bukankah mobil ini punya orang tuamu?apa boleh kamu memakai mobil ini lagi?",aku dengan tubuh yang bergetar.
"Oh,tenang ini adalah mobil hasil dari usahaku sendiri dan bukan milik ayahku".
Kami segera meluncur ke rumah Bibi.
Saat tiba di rumah Bibi,Tio mengobrol sebentar untuk mengatakan sesuatu.
"Bi,kedatangan saya kesini,selain karena ingin mengantarkan Isna,saya juga ingin meminta izin dari Bibi".
"Izin apa ya?",Bibi penasaran.
"Saya meminta izin untuk menikahi Isna",Tio dengan penuh percaya diri melamarku.
Mendengar hal itu membuat Bibi terlihat begitu bahagia,"Bibi sangat senang kamu dengan berani meminta izin untuk menikahi Isna. Sebagai orang tua Isna Bibi mengizinkan dan merestui kalian untuk melangsungkan pernikahan,kalau bisa secepatnya. Kalian sudah dewasa dan sudah saatnya menuju hubungan yang lebih serius dan pasti".
"Alhamdulillah,berarti kami hanya perlu menentukan waktu pernikahan saja".
"Iya,betul. Kalau bisa secepatnya",Bibi terlihat bersemangat.
"Kalau begitu,saya pamit dulu sudah malam".
"Oh,iya,hati hati di jalan,jangan mengebut",Bibi menasehati.
Kami mengantar Tio ke depan pintu.
"Isna,calon suamimu pulang dulu,besok kita bertemu lagi",Tio dengan senyumannya yang merekah.
Aku ikut tersenyum,"Iya,hati hati,calon imamku".
Tio kelihatan makin bahagia setelah ku panggil calon imam dan seperti tidak ingin pulang.
"Bukannya mau pulang?",aku mengingatkan.
"Oh,iya,aku pulang dulu".
Tiopun pulang ke rumahnya dengan rasa bahagia dan berbunga bunga. Sama seperti diriku. Tak ku sangka hatiku akan ku labuhkan pada Tio. Ku kira kami tidak akan berjodoh.
Aku dan Bibi menutup pintu dan menguncinya. Aku langsung ke kamar menemui Erna. Dia sudah senyum senyum dari kejauhan.
__ADS_1
"Cie cie,akhirnya di lamar juga,setelah bingung karena takut dibawa ke luar negri".
Aku hanya tersenyum malu. Kini aku punya teman curhat lagi setelah Erna kembali ke rumah Bibi dan aku senang bisa berbagi kebahagiaan ini dengan keluargaku.