Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Sahabatku tersayang


__ADS_3

"Dasar kalian memang tidak becus!sudah ku bilang jangan sampai tertangkap kamera". Seorang gadis memarahi sekelompok lelaki berotot dengan tato di tangannya. Para lelaki itu hanya bisa tertunduk.


"Pakkk!",terdengar suara tamparan dari gadis itu pada salah seorang lelaki.


"Maaf,nona,lain kali kami akan bekerja dengan hati hati",Di depan seorang gadis SMA,lelaki itu tunduk tak berdaya.


"Awas,jangan sampai tertangkap,kalau sampai tertangkap,identitasku jangan kalian bocorkan!",gadis itu mengancam.


"Sudah,pergi kalian!!!", gadis itu dengan rasa kesal.


Para lelaki perkasa itupun segera pergi dari ruangan itu.


Gadis itu mulai merancang rencana,agar bisa terbebas dan tidak dikaitkan dengan kejadian penculikan Isna.


"Kalau sampai ayah tahu,aku bisa kesulitan",sang gadis terdiam sambil berpikir.


Di rumah sakit....


"Isna,sudah siap untuk pulang?",Bibi bertanya sambil mempersiapkan barang barang yang akan dibawa pulang.


"Sudah ,Bi,barang Isna semua sudah di masukkan ke tas ini"


"Majikan gantengmu sudah datang belum?",Bibi bertanya tentang Mas Zein.


"Oh,itu dia,Mas Zein sudah datang".


Kamipun pulang ke rumah Bibi Ella diantarkan oleh Mas Zein. Dari awal ketika berada di TKP,dialah yang menemukan dan menyelamatkan aku,saat di rumah sakitpun,dia selalu di sisiku,padahal dia sangat sibuk,sampai sampai sekretarisnya terlihat pusing untuk menjadwalkan ulang kegiatannya.


"Mas Zein,kalau sibuk tidak usah jemput!" aku mengirim WA ke nomor Mas Zein.


"Tidak apa- apa,saya tidak sibuk kok,daripada melamun di kantor",Mas Zein sok nganggur,padahal aku tahu dia begitu sibuk. Saat memikirkan tentang hal itu aku merasa senang karena dia rela berkorban untukku. Kesibukannya dia korbankan untuk menjagaku. Apakah aku memang spesial untuknya?atau begitu sayangkah dia pada adiknya,sehingga orang yang dia anggap adik selalu di lindunginya? Mungkinkah dia belum punya pacar?rasanya kurang sopan kalau aku bertanya tentang hal ini. Atau pesan WA yang aku baca ketika dia sakit itu dari pacarnya?Haduh,pusing banyak pertanyaan tanpa jawaban,jadi keleyengan sendiri.


Aku pulang ke rumah Bibi agar ada yang merawatku. Kalau harus ke rumah Mas Zein aku merasa tidak enak pada Miss yang lain karena aku malah akan menjadi beban bagi mereka. Kalau pulang ke rumah,di sana kosong,adik adikku semuanya masuk pesantren jadi tidak ada yang tinggal di rumah. Mungkin sebaiknya rumah itu aku sewakan saja agar ada tambahan untuk biaya adik adikku di pesantren.


Sampailah kami di rumah Bibi. Mas Zein seperti biasa tak berlama lama dan langsung pergi. Tiba tiba HP pink pemberian Mas Zein berdering,

__ADS_1


"Hallo,ini dengan Isna?"


"Iya,ini dengan siapa?"


"Saya dari kepolisian,kami butuh informasi dari anda untuk melengkapi penyelidikan,tadi kami sudah ke rumah sakit,tapi rupanya anda sudah pulang,jadi besok akan dijadwalkan ulang untuk kesaksian dari anda,bisa?",polisi itu dengan ramah.


"Oh,boleh besok saya ke kantor polisi",


"Siap,pukul 1 siang ya!",


"Iya,saya akan datang pada pukul 1 besok".


Di sekolah....


Tio sudah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit,tapi jalannya terhalang oleh Alex yang langsung meminta Tio segera pergi les. Karena ayah Tio memerintahkan Alex untuk selalu berada di dekat Tio,terpaksa Alex pun bersekolah kembali dan menjadi teman sekelas Tio. Untung wajahnya baby face,jadi masih cocok kalau pakai baju seragam sekolah.


"Tuan muda!",Alex memanggil Tio.


"Hush,jangan panggil aku begitu,Tio aja",Tio dengan nada suara yang pelan.


"Aku hanya sebentar,ada temanku yang masuk rumah sakit,sebentar saja,ok!",Tio sambil memohon.


"Sebentar saja ya!", Alex memberikan syarat.


"Ok",Tio setuju.


Sebelum ke rumah sakit Tio sengaja membeli buah buahan yang banyak,dan karena ia ingin menghadiahkan sesuatu,iapun membeli bunga untuk Isna,entah Isna suka atau tidak,Tio berpikir kalau perempuan biasanya menyukai bunga.


"Tuan,buat apa beli bunga?yang sakit pacarnya ya?",Alex dengan menggoda.


"Ada aja",Tio mencoba merahasiakan.


Tio segera meluncur ke rumah sakit.


Saat sampai di rumah sakit, Tio melihat Isna berjalan keluar dari rumah sakit. Tio mencoba memanggilnya,tetapi suara Tio tidak terdengar oleh Isna. Isna terlihat memasuki mobil yang ternyata itu adalah mobil Pak Zein. Kembali Tio harus menelan kekecewaan. Pak Zein selalu ada di sisi Isna setiap waktu,itu membuat nyali Tio menciut.

__ADS_1


Dengan rasa kecewanya Tiopun tidak jadi untuk mengunjungi Isna dan lebih memilih pulang.


"Lho,Tuan,tidak jadi ke rumah sakitnya?",Alex keheranan.


"Iya,ini buat pacarmu saja!",dengan kesal Tio memberikan bunga dan buah buahan ke tangan Alex.


"Ada yang patah hati nih ye!",Alex terus menggoda Tio.


"Sudah jangan banyak komentar,kalau bicara lagi aku turunin kamu di sini!",


"Tuan jangan dong,saya cuma bercanda",alex sambil nyengir.


Dengan cepat Tio melajukan sepeda motornya dan pergi dari rumah sakit.


Seminggu kemudian....


"Diberitakan bahwa seorang siswa bernama Sofia,menjadi dalang dibalik penculikan teman sekelasnya yang bernama Isna. Isna diculik pada senin pagi saat ada sebuah acara bazar di sekolahnya...."


Berita di televisi membuat orang orang tersentak. Begitu banyak orang yang tidak percaya kalau Sofia lah pelakunya. Dia memerintahkan preman untuk menculik Isna. Semua dia lakukan karena sebuah motif,rasa cemburu.


"Sofia,sahabatku,apa benar kamu yang telah memerintahkan orang orang itu untuk menculikku?mengapa kamu tega?aku sudah tidak mengenalmu lagi saat ini?sebenarnya siapa kamu sebenarnya?",aku bertanya pada Sofia ketika berada di kantor polisi.


Sofia tidak menjawab,hanya air matanya dan rasa kesal yang terpancar dari dirinya.


"Sofia,tolong katakan,apa salahku padamu,sehingga kamu tega berbuat ini padaku?",aku terus mendesak Sofia untuk bicara.


"Sudah!!!jangan banyak bertanya,ini semua salah kamu,kenapa kamu yang hanya orang miskin bisa mendapatkan perhatian dari banyak orang,bahkan kamu mendapat banyak perhatian dari Zein",Sofia berbicara dengan kesal.


"Zein?maksudmu Pak Zein?memangnya kenapa kalau Pak Zein memberikan perhatian yang lebih padaku?",aku semakin penasaran.


"Itu karena Zein adalah tunanganku,kami sudah dijodohkan oleh orang tua kami sejak kecil,tapi kamu dengan mudah merebut semua perhatian darinya...aku benci,aku tidak suka kamu yang terus bersama Zein dan bukan denganku,tunangannya,aku dengan susah payah mencoba menarik perhatiannya,tapi dia tak kunjung peduli padaku,justru kamu yang lebih diperhatikan oleh dia",Sofia menjelaskan panjang lebar dengan berteriak dan menangis.


Ku peluk Sofia dengan erat sambil menangis,"Sofia aku tak pernah bermaksud menyakitimu,justru aku tidak tahu kalau kalian sudah bertunangan,kenapa kamu tidak bilang padaku?!",aku menangis sejadi jadinya. Sofia malah mendorongku dan segera pergi dari ruangan itu. Diapun menangis,entah karena rasa menyesal atau kesal. Aku sungguh tak habis pikir,mengapa sahabatku jadi seperti ini?dia adalah orang yang sangat berjasa bagiku,tapi juga menjadi orang yang mencelakaiku.


Setelah kejadian itu,aku mulai malas untuk masuk sekolah,di rumah aku mencoba untuk menenangkan diri dan mencari solusi. Apa yang harus aku lakukan?haruskah aku menghindar dari Mas Zein,sedangkan semua uang yang ku dapatkan untuk menyambung hidupku dan adikku berasal darinya. Aku dapat bersekolah lagi juga atas jasanya,apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


__ADS_2