Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Menjadi detektif


__ADS_3

"Orang itu rupanya sengaja masuk ke kedai dan menyebarkan kecoa,tapi siapa dia?",aku bertanya pada Erna.


"Erna juga tidak kenal dengan orang ini".


"Mungkin Kak Isna akan minta tolong pada seseorang untuk menyelidiki siapa orang ini".


Aku akhirnya menelepon Tio untuk meminta tolong.


"Assalamu'alaikum!",aku mengucap salam.


"Wa'alaikum salam!",jawab Tio.


"Kamu belum tidur?".


"Belum,hari ini benar benar melelahkan,komputer di kantor kena virus,hampir semua data hilang,untung saja kami segera memanggil ahlinya,jadi data yang tersisa masih bisa diselamatkan".


"Di kedai juga ada kejadian aneh,tiba tiba banyak kecoa dan itu terjadi ketika ada pembeli,makanya mereka pada kabur. Saat ku lihat rekaman CCTV ternyata ada orang yang sengaja menyebarkan hewan itu di kedai,sudah ku kirimkan foto orang itu,bisakah kamu mencari informasi tentang orang ini?".


"Bisa,nanti akan ku minta orangku untuk mencari informasinya".


"Ok,kabari aku jika informasi tentang orang itu sudah ada,huuah",aku sambil menguap.


"Isna,aku kangen".


"Hmm",aku menjawab tanpa bisa berkata,mataku terasa begitu rapat dan tak bisa terbuka. Rasa kantukku sudah benar benar luar biasa. Tanpa ku sadari akupun tertidur.


\* \* \*


Matahari bersinar terang tak terhalang oleh awan. Pagi yang cerah,namun tak secerah hatiku. Kejadian kemarin membuatku kurang semangat. Tadinya aku ingin libur saja,tapi ku jadwalkan hari ini untuk membersihkan kedai. Ani dan Erna tidak menemaniku. Ani menelepon bahwa ia ingin mengantar ibunya berobat,sedangkan Erna seperti biasa,hari ini kuliah. Makanya tersisa aku sendiri. Ku paksakan diriku berangkat dan membersihkan kedai agar kejadian kemarin tidak terjadi lagi.


"Kamu sendiri?",seseorang tiba tiba bertanya.


"Astagfirullahal'adzim!",aku kaget bukan kepalang.


"Kamu kaget?oh,maaf ku kira kamu menyadari kalau aku masuk kesini he..he...",Tio dengan sedikit tertawa.


"Ku kira kamu hantu"aku sambil memegang dadaku yang berdegup kencang.


"Kamu sedang melamunkan pangeranmu?sampai sebegitu kagetnya?",Tio dengan percaya diri.


"Aku bukan melamunkan pangeran tapi kecoa!".


Wajah Tio terlihat kesal sambil berkata pelan,"teganya aku disamakan dengan kecoa".


"Kamu sensitif sekali sih,kamu yang bertanya,kamu sendiri yang menyimpulkan. Jangan bersedih,kamu tetap pangeranku yang ku pikirkan di saat tertentu saat aku tidak memikirkan kecoa",aku dengan tersenyum.


Tio langsung duduk di kursi memperhatikanku.

__ADS_1


"Kenapa semalan kamu tidak menjawabku,sudah ku panggil berkali kali,tapi hanya suara napadmu yang terdengar",Tio dengan sedikit kesal.


"Oh,maaf semalam aku ketiduran,mataku sampai rapat dan tidak bisa terbuka",aku dengan wajah malu malu seraya tersenyum.


"Kamu sedang mencari kecoa?".


"Iya,aku mau membersihkan kedai agar terhindar dari binatang binatang yang kurang enak dilihat",sembari ku semprotkan obat pembunuh serangga.


"Oh,iya aku sudah mendapatkan data tentang orang yang kamu tanyakan. Coba kamu lihat",Tio seraya memberikan kertas padaku.


"Orang ini bukanlah orang yang ku kenal,tapi mengapa dia melakukan ini?dia tinggal di sekitar sini rupanya, tapi dia bukan pedagang yang berjualan disini,pekerjaannya tukang parkir di dekat kantor sekitar sini. Bisa kita selidiki lebih jauh tentang orang ini agar tahu motif sebenarnya untuk apa dia melakukan hal itu padaku,kita berdua saja,hari ini,mau?",aku dengan kertas ditanganku.


"Tapi aku mau diberi upah untuk kerjaku kali ini",Tio sok jual mahal.


"Aku tahu sudah pasti itu kan?".


"Apa?",Tio penasaran.


"Pasti siomay kan?",aku bertanya balik.


"Oh,tentu saja",Tio terlihat senang mendengar kata siomay.


Aku hanya tersenyum. Ternyata Tio masih saja seperti dulu dan tak pernah berubah soal siomay. Kecintaannya terhadap siomay tak pernah luntur sedikitpun,semoga untukku juga tidak.


"Kenapa kamu tersenyum?",Tio merasa aneh.


"Cintaku pada siomay tak akan mengalahkan cintaku padamu,Isna!",Tio kembali menggodaku.


"Sudah,bukan saatnya untuk menyatakan cinta,ini adalah saatnya kita menjadi detektif dengan kasus 'mencari penyebar kecoa sebenarnya',ok!",aku dengan pose seperti seorang detektif.


Tio melihatku dengan aneh.


"Ayo,kita ke tempat tinggal orang ini,kita cari tahu bagaimana kehidupannya",aku sembari berjalan.


"Tunggu aku dong!",Tio segera menyusul.


Kamipun mendatangi rumahnya. Kami cukup berjalan kesana karena alamat yang tertulis masih daerah tempat ini. Setelah sampai,ku lihat rumah yang kumuh itu,persis seperti rumahku yang dulu. Tembok yang terlihat sudah rusak,dengan lantai yang beralaskan tanah karena bata keramik yang sudah pecah di sana sini. Dari dalam terdengar suara perempuan berteriak.


"Kaka...k!bereskan tempat makanmu!aku cape harus terus membereskan piring bekas makanmu!".


Suara itu terdengar tidak asing ditelingaku. Perempuan itu keluar sambil membawa piring kotor dan mencucinya di depan kamar mandi yang terletak di luar rumah.


"Ternyata ini adalah rumah Ani",aku berkata dengan suara pelan.


"Siapa Ani?",tanya Tio.


Aku tidak menjawab pertanyaan Tio karena dalam pikiranku muncul begitu banyak pertanyaan untuk Ani. Apa hubungan dia dengan orang itu?kenapa bisa kebetulan sekali,dia dan orang itu berada di alamat yang sama?

__ADS_1


"Sonia,aku minta uang!",lelaki yang tadi dipanggil kakak oleh Ani keluar.


"Bukankah dia Ani,mengapa orang itu memanggil namanya dengan nama Sonia?",aku dengan terkejut.


"Kamu berbicara apa sih,aku tidak bisa mendengar?",Tio sembari berbisik.


"Bukannya Kakak dapat uang banyak dari wanita itu?",Ani bertanya.


"Itu hanya sedikit,sudah ku habiskan semua untuk bersenang senang",lelaki itu dengan santai.


"Aku tidak punya uang",Ani sembari membawa piring yang sudah dibersihkannya ke dalam.


"Kamu mendapatkan upah yang lebih banyak daripada aku,mana mungkin kamu tidak punya uang. Ayo,cepat berikan!",lelaki itu memaksa.


Ani keluar seraya memberikan uang dua puluh ribu.


"Bukan uang yang ini yang aku mau,aku mau uang yang banyak".


"Tapi Kak,uang itu sudah ku habiskan untuk membayar hutang hutang Kakak".


"Jangan banyak alasan,berikan saja aku uang satu juta",lelaki itu sembari meminta dengan tangan kanannya.


"Kak,Sonia sudah cape harus kerja keras hanya untuk memenuhi keinginan Kakak",Ani yang memanggil dirinya Sonia berbicara dengan kesal.


Begitu banyak hal yang mengejutkanku. Aku hanya bisa terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawab. Tanpa aku sadari,aku menyenggol kaleng yang ada didekat kami sampai menggelinding. Aku dan Tio panik,kami segera bersembunyi agar tidak diketahui.


"Ada siapa di sana?",kakak Ani waspada sambil mendekat ke arah kami.


"Meong...meong",Tio spontan menirukan suara kucing.


"Ternyata kucing",lelaki itu berhenti dan kembali ke tempatnya tadi.


"Aku mau bekerja",Ani sembari mengunci pintu.


"Bukankah kedai siomay itu tutup setelah aku menyebarkan kecoa sesuai perintahmu?buat apa kamu bekerja disana lagi?kedai itu pasti akan bangkrut",lelaki itu dengan suara keras.


Ani segera menyimpan jari telunjuk dibibirnya seraya berkata,"Ssst,kakak jangan terlalu keras nanti orang orang akan mendengar. Kakak mau nanti ditangkap polisi?",Ani terlihat kesal.


"Tidak mungkin aku akan ditangkap polisi,wanita itu pasti akan melindungiku,dia kan orang kaya yang memiliki pengaruh yang besar,seandainya aku punya pacar seperti dia,akan ku lakukan apapun yang dia minta".


"Sudah,jangan banyak melamun,sebaiknya kakak juga mencari pekerjaan,jangan terus meminta padaku. Aku mau pergi dulu!",Ani seraya melangkah,tapi Kakaknya menghalangi langkahnya.


"Kamu tidak mendengar,aku dari tadi meminta uang padamu,cepat berikan!kalau tidak akan ku katakan pada semua orang kalau kamu yang menyuruhku menyebar kecoa di kedai itu",Kakaknya dengan nada mengancam.


"Silahkan saja,tidak akan ada orang yang percaya pada Kakak!",Ani dengan nada sinis.


"Oh,jadi kamu menantangku?",lelaki itu terlihat marah.

__ADS_1


__ADS_2