
"Miss Vera,siapa gadis itu?",aku berbisik pada Miss Vera.
"Memangnya kamu tidak tahu?",aku menggelengkan kepala.
"Dia adik Pak Zein,dia ditemukan diruang bawah tanah saat sedang sakau karena mengonsumsi narkoba,itulah sebabnya banyak barang barang kita yang hilang,rupanya dia yang mencurinya. Keadaannya sangat mengenaskan ketika dia ditemukan,seperti zombi hidup. Sampah juga berserakan di mana mana. Kami kira dia hantu,rupanya manusia",Miss Vera menjelaskan panjang lebar.
"Oh,memangnya kapan dia ditemukan?kok saya tidak tahu?".
"Waktu itu kamu sedang sakit dan dirawat di rumah sakit".
"Oh",aku mengangguk tanda mengerti.
Kami semua berkumpul di ruang tamu dan sudah siap untuk berangkat. Sebelum berangkat Mas Zein memperkenalkan adiknya pada semua orang.
"Semuanya,perkenalkan,ini adik saya Rossana,dia saya minta untuk ikut dengan kita ke pantai,agar ada suasana baru untuknya. Sebenarnya dia masih harus berada di tempat rehabilitasi,tapi saya minta izin untuknya supaya bisa ikut dengan kita",Mas Zein terlihat senang ketika memperkenalkan adiknya.
"Rossa,sapa mereka semua!",Mas Zein berbisik pada adiknya.
"Hallo!",Rossana berkata tanpa ekspresi.
"Hallo juga!", kami hanya bisa tersenyum memaklumi.
"Karena semua sudah siap,saatnya kita berangkat!!!!",Mas Zein dengan semangat.
Kami semua segera masuk mobil. Aku duduk di belakang bersama 2 Miss lainnya dan Rossana duduk di tengah dengan Miss Valencia dan Mba Wulan. Di kursi depan ada Mas Zein dan Pak Yanto. Aku sengaja duduk di dekat kaca karena ingin melihat pemandangan di luar mobil. Ku renungkan perjalananku dalam hidup sambil menikmati indahnya alam di luar jendela mobil. Bisa sampai saat ini adalah sebuah nikmat yang tak terhingga yang telah diberikan Allah padaku. Nikmat-Nya yang manakah yang kan ku dustakan?.
Di perjalanan,untuk menambah semangat,para Miss bernyanyi dan aku hanya mendengarkan saja serta ikut tertawa jika ada sesuatu yang lucu.
"Isna,kenapa kamu tidak bernyanyi?",Mas Zein bertanya.
"Saya tidak mau,nanti malah membuat Mas Zein tambah suka",aku seperti percaya diri padahal sebaliknya.
"Bernyanyi......bernyanyi.....bernyanyi...!!!!",Miss yang lain mencoba memberikan semangat.
"Rasanya kami belum pernah mendengar suaramu,bagaimana kalau kamu bernyanyi!",Miss Valencia mendorongku untuk bernyanyi.
"Iya,untuk Pak Zein dong masa tidak mau?",Si iseng Miss Vera terus menggoda. Mereka tidak percaya padaku,kalau nyanyianku bisa membuat orang suka.
"Baiklah kalau kalian memaksa,saya tidak mau bertanggung jawab ya!",ku turuti apa yang mereka mau.
__ADS_1
satu .....dua......tiga......
Kunyanyikan sebuah lagu cinta dari Raisa,artis kesayanganku,bak Raisa ku liuk liukan suaraku,dengan nada yang indah ku coba mencapai nada tertinggi. Tiba tiba .....
"Hoeeek!!!",suara Miss Vera ingin muntah.
Akupun segera berhenti,mereka sudah ku wanti wanti agar jangan memintaku bernyanyi,tapi mereka tidak percaya. Sudah ku katakan kalau suaraku itu akan membuat orang suka,suka untuk melempariku dengan batu.
Seketika mobilpun mencoba berhenti,beruntung di dekat situ memang ada rest area. Kami beristirahat dahulu,agar lebih segar untuk melakukan perjalanan.
"Miss Vera,mau saya bernyanyi lagi?",ku tanya dia kembali.
"Oh,sudah cukup,saya sudah kenyang,sampai mau muntah ha....ha.....",kami semua tertawa melihat tingkah diri kami sendiri.
Tak berapa lama kamipun melanjutkan perjalanan. Saat ini kami tidak bernyanyi lagi,karena takut kejadian serupa akan terulang. Agar tidak bosan kamipun bermain tebak tebakan.as
"Sapi sapi apa yang warna warni?",Mba Wulan menjadi orang pertama yang bertanya.
"Sapi apa ya?",Miss Tuti berpikir keras.
"Sapi di cat kali",Miss Vera menjawab.
"Sapi yang dekat pelangi",Miss Valencia ikut menebak.
"Masih salah juga!".
"Terus apa dong jawabannya?",yang lain sudah menyerah.
"Jawabannya adalah....sapidol ha....ha....",Miss Tuti terlihat bahagia karena pertanyaannya tidak ada yang bisa menebak.
"Spidol kali!",yang lain tak ingin kalah.
"Sekarang giliran saya ya",Miss Vera bersemangat.
"Saya jadi satpam,Wulan jadi satpam,Pak Yanto jadi satpam,pak Zein jadi satpam,semuanya jadi satpam,terus satpam jadi apa?",Miss Vera sambil nyengir melihat kami mulai berpikir keras.
"Naik pangkat jadi polisi!",Mas Zein coba menebak.
"Bukan itu jawabannya,ayo tebak lagi!",Miss Vera senyum senyum.
__ADS_1
"Jadi supir kaya aku to",Pak Yanto menambahkan
"Salah!!!".
"jadi presiden kayaknya,satpamnya udah bosan!",Miss Tuti nyeletuk.
"Mau tahu jawabannya,satpamnya jadi.....banyak ha.....ha.....",Miss Vera benar benar terlihat puas.
Sepanjang perjalanan dipenuhi keceriaan. Namun Rossana tak terdengar sedikitpun berkomentar,dia terlihat cuek,acuh tak acuh.
Orang orangpun mulai merasakan kelelahan. Suasana mobil hening. Kami semua diam,ada yang tertidur,melihat ponsel,juga ada yang terdiam melihat pemandangan di luar(itu aku).
Akhirnya sampailah kami di hotel tempat kami menginap. Semua barang kami bawa ke kamar masing masing. Dan kamarku berhadap hadapan dengan kamar Rossana,adik Mas Zein. Aku sekamar dengan Mba Wulan,si Mba yang polos. Suasana pantai sudah terasa,angin laut sepoi sepoi melambai lambaikan daun kelapa di pantai. Kamarku berada pada view yang tepat. pemandangan laut begitu jelas terhampar,biru,begitu indah.
Setelah beristirahat sebentar dan makan,kami sepakat untuk berkumpul di depan hotel. Setelah itu,kami semua menyebar ,ada yang ingin berenang dan bermain pasir,ada juga yang hanya ingin menikmati sore menunggu sunset seperti aku. Mas Zein mengajakku duduk di bawah pohon,beralaskan pasir putih.
"Alhamduillah,akhirnya Rossana bisa ditemukan ya Mas",aku memulai percakapan
"Iya,alhamdulillah,padahal saya sudah merasa putus asa setelah Rudi berkata bahwa Rossana meninggal",Mas Zein mulai bercerita.
"Saya pernah menyaksikan dia memberi uang segepok pada seseorang di malam hari,tapi saat itu saya bersembunyi di balik kursi,jadi wajah Rossana dan orang yang mengambil uang itu tidak dapat saya lihat",ku ceritakan kejadian waktu itu.
"Apa Mas merasa kehilangan uang?",aku bertanya lagi.
"Iya,saya kehilangan uang dua kali,dan saya kira itu perbuatan Alicia,asisten saya yang dulu,ternyata bukan. Sepertinya orang yang mengambil uang itu adalah Rudi,dia memanfaatkan Rossa untuk mendapatkan uang darinya. Rudi juga mencekoki Rossa dengan narkoba,agar Rossa tidak bisa melarikan diri darinya karena ketergantungan obat",Mas Zein menjelaskan.
"Kenapa Mas tidak lapor polisi?".
"Saya malas berhubungan dengan polisi,jadi saya lebih baik mengikhlaskan saja uang itu".
Dasar horang kayah,uang yang banyak hilang juga diikhlaskan,kalau aku uang seribu saja ku cari karena butuh dan karena memang tidak ada lagi(sampai segitunya😅).
"Kalau saya yang kehilangan uang pasti akan saya kejar orang yang mengambilnya",ku perjelas orang seperti apa aku,matre bukan ya?segepok dong,dapat dibayangkan kalau hilang,bisa gila(versi Isna ya yang nota bene berasal dari seorang pemulung).
"Kalau saya,yang penting jangan kamu dan perasaanmu yang hilang,kalau itu terjadi saya bisa gila",Mas Zein coba menggombal dan berhasil wajahku dibuat kemerahan olehnya
"Panas ya Mas,saya pesan minuman dingin dulu ya!",aku coba menghindar karena malu.
Aku segera berlari dan ternyata salah arah,akhirnya aku balik lagi melewati Mas Zein dan kembali ke jalan yang benar menuju tempat orang menjual minuman. Saat itu aku benar benar terlihat canggung. Baru kali ini lelaki ganteng menggombali aku,biasanya tukang sayur atau tukang bakso yang wajahnya pas pasan,makanya pipiku terasa terbakar,karena orang itu adalah Mas Zein. Mas Zein hanya tersenyum melihatku yang salah tingkah. Sebucin itukah Mas Zein padaku,padahal akupun masih tidak percaya pada diriku sendiri.
__ADS_1