
Kejadian hari ini sungguh penuh dengan kejutan. Mulai dari rumah yang begitu berlawanan dengan penampilan depannya,bersembunyi dari orang tak dikenal,mencium bau kencing sampai terdampar di tempat rahasia rumah Aki Somad. Masih adakah kejutan yang lain?aku bercanda pada diriku sendiri.
Terlihat Tio masih syok dan terlihat malu dengan celananya yang terlihat basah.
"Tio aku mau muntah",aku berkata dengan ekspresi mual.
"Ma..maaf aku tidak sengaja he...he....,tapi ngomong ngomong,siapa orang tadi yang mencari kita?apa mereka masih keluarga Aki Somad?",Tio bertanya dengan penuh penasaran.
"Aku tidak tahu,yang pasti aku takut mereka meneriaki kita maling kalau ketahuan", Dengan tangan ku tutupi hidungku. Aku juga tidak tahu siapa mereka,tapi untung saja ada ruangan ini jadi kami bisa bersembunyi untuk sementara waktu.
"Sebenarnya Aki Somad meminta kamu mengambil apa sih?,kepo deh".
"Ada aja",aku dengan ekspresi datar.
Ku langkahkan kakiku menuju ruangan. Hal yang membuatku sangat penasaran adalah brankas. Apa isi di dalamnya?bukan ingin mengambil harta Aki,tapi penasaran saja dengan keberadaan resep yang begitu sulit untuk ditemukan.
"Isna,apa yang kamu lakukan?",Tio mempertanyakan tindakanku yang seolah ingin membuka brankas.
"Kamu ingin mencuri?kalau itu yang akan kamu lakukan,maaf,aku harus segera pergi dari sini,aku tidak suka pada maling",Tio sambil mencoba untuk keluar dari ruangan.
"Tio,jangan pergi,aku bisa menjelaskan semua",aku meminta waktu pada Tio.
"Memangnya apa yang ingin kamu jelaskan?"
"Maaf,kalau aku tidak terbuka dari awal,sebenarnya Aki memintaku mengambil resep siomay,Aki berkata resep itu ada di lemari,makanya aku mencari di setiap lemari di rumah ini,tapi tidak ku temukan. Saat aku melihat brankas ini,aku berpikir mungkin resep itu ada di brankas ini. Aku butuh resep itu untuk tugas bazar lusa nanti,jadi aku mau jualan siomay,kita bisa jadi satu kelompok. Aku pikir akan mudah untuk menemukan resep itu,tapi rupanya susah sekali",dengan tatapan memelas bak memohon aku menjelaskan.
"Oh,begitu?kenapa tidak bilang dari awal?kalau tahu siomaymu tidak enak,aku bisa menulis banyak permintaan untuk satu bulan",Tio dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Kamu masih saja bercanda"
"Kata siapa aku bercanda,itu kan ada dalam perjanjian kita",Tio mengingatkan.
Dengan cepat Tio bisa merubah mimik wajahnya,dasar anak siomay,kalau bukan karena alasan siomay mungkin aku tak akan pernah ada dalam daftar temannya,tapi apakah aku sudah dia anggap sebagai teman? bisa saja dia hanya ingin memanfaatkanku.
"Bagaimana cara membuka brankas ini?",aku bertanya pada diri sendiri dengan suara pelan.
"Mudah saja,apa kamu tidak melihat ada titik dibeberapa angka pada nomor brankas ini",Tio dengan santai memberikan jalan keluar.
"Ha...ha....masa ada orang yang memberitahukan nomor PIN brankasnya dengan mudah,Tio...Tio...jangan berpikir sesimpel itu,hidup itu penuh dengan perjuangan,orang yang........bla....bla...",aku terus saja menceramahi Tio,sedangkan dia tak sedikitpun memedulikanku. Dengan santai dia menekan tombol nomor yang ada tandanya,dan ajaib brankas itu langsung terbuka.
"Nih,langsung terbuka kan?!ha...ha...",Tio tertawa puas.
Mulutku menganga dan tak bisa berkata apapun, Tio makin tertawa keras ketika melihat ekspresiku. Aku sangat aneh dan merasa senang melihat ekspresi wajahnya yang bahagia....gantengnya,hatiku bergumam,tapi segera ku tepis pikiran itu.
"Apa hubungannya orang ganteng dengan bisa membuka brankas?"
"Ya ada lah,ha.....ha......". Saat Tio tertawa,segera ku hentikan dengan berkata
"Sudah jangan berisik,nanti ada orang yang dengar!",dengan suara pelan dan jari telunjuk ku simpan di depan mulut.
Seketika Tio menutup mulutnya. Aku segera membuka brankas dan memeriksa isinya. Di dalamnya ada beberapa foto dan sebuah surat,tidak ada uang atau batangan emas. Ku ambil salah satu foto,ku lihat dengan seksama,sepertinya aku mengenal orang orang yang ada di foto itu, seperti......ayah dan ibu,kenapa wajah mereka ada di sini?terlihat mereka berfoto dengan Aki Somad,ada bayi dipangkuan ibu dan itu seperti aku ketika kecil. Apakah ayah dan ibu mengenal Aki?aku tak habis pikir,ku lihat semua foto yang ada di brankas dan ternyata foto ayah dan ibu ada di setiap foto itu. Ku balikkan salah satu foto itu dan ternyata ada tulisan di sana. Seketika air mataku meleleh, Tio kaget karena aku mulai menangis sesegukan.
"Kamu kenapa Isna?",Tio terlihat canggung,dia tak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa Aki tak jujur padaku?",aku bertanya sendiri.
__ADS_1
"Jujur tentang apa?memangnya ini foto siapa?",Tio makin terlihat tak mengerti.
Aku hanya bisa menangis dan tak terasa badanku lemas dan hanya bisa duduk di lantai.
"Anakku dan cucuku tersayang,maaf telah menyia nyiakan kalian", Tio membacakan kalimat yang ada di balik foto yang ku pegang,Tio masih belum mengerti dan hanya bisa menerka nerka.
"Apakah ini foto ayah,ibu juga kamu?",Tio bertanya tanpa basa basi.
Deg...hatiku bergetar,bibirku juga tak bisa berkata apa apa. Aku hanya bisa mengangguk tanda mengiyakan.
"Berarti Aki Somad adalah kakek kandungmu?"
"Mungkin saja,aku pernah mendengar kalau kakek mengusir ayahku akibat hasutan sahabat ayah yang ikut bekerja dengan kakek,selain itu aku tak tahu cerita yang lainnya. Kalau memang Aki Somad adalah kakekku,mengapa dia tak datang ketika ayah dan ibu meninggal?sampai akhir mereka tak diakui oleh Aki,lalu tiba tiba aku tahu cerita sebenarnya tidak secara langsung dari Aki,aku merasa sedih. Walaupun aku tahu Aki sangat baik padaku dan tak pernah sedikitpun dia berbuat jahat,tapi ketidakjujuran Aki membuatku kecewa".
"Bisa saja ada sesuatu yang membuatnya tidak leluasa untuk menemui kalian secara langsung dan mengakui bahwa kalian adalah keluarga Aki",Tio berpendapat.
"Aku tidak tahu,aku sudah tidak bisa berpikir".
"Atau mungkin akibat dari orang orang yang tadi yang mencari kita?apa mereka masih di sini?". Tio dipenuhi dengan rasa penasaran.
"Bagaimana dengan resepnya?atau kita tidak usah berjualan?toh nilai dan semuanya itu tidak penting",aku tiba tiba merasa putus asa.
"Jangan menyerah Isna!!!kita masih di sini,berarti masih punya kesempatan untuk menemukan resep itu".
Ku bereskan kembali brankas yang berantakan dan ku ambil satu foto untuk ku tanyakan pada Bibi tentang kejelasannya.Tio mulai membantu mencari resep itu dengan teliti. Dalam hati ku ucapkan terima kasih padanya,kalau tidak ada kata kata semangat darinya,mungkin aku sudah menyerah. Kamipun keluar dari ruangan itu dengan hati hati,takutnya orang orang yang tadi mencari kami masih berkeliaran. Kami mencari resep itu bersama sama dan akhirnya resep itu dapat kami temukan. Pantas saja kami cari di ruangan yang lain tidak ada,ternyata resep itu tersimpan di lemari atas di dapur.
Ketika kami mencoba membuka pintu depan,ternyata sudah dikunci,kamipun memutuskan untuk keluar dari jendela. Beruntung saat itu sudah agak gelap dan jalanan sepi,jadi kami dapat segera pergi dari tempat itu dengan lancar.
__ADS_1
Tio mengantarkan aku ke rumah Bibi,kalau ke rumah Mas Zein nanti malah Tio menyebarkan gosip yang bukan bukan. Aku akan menelepon Mas Zein dan minta izin untuk menginap di rumah Bibi,dan mengganti jadwal kerjaku di hari lain.