
"Kamu Thomas Tio Wibowo kan?",seorang pembeli mengenali Tio.
"Wah,bagaimana kalau kita berfoto,boleh?",gadis yang lain siap siap dengan ponselnya.
Tio dengan antusias menyetujui ajakan mereka.
"Boleh,satu satu ya".
Tio pun asyik berfoto dengan para gadis. Sedangkan aku membereskan piring dan siomay yang tadi ku jatuhkan. Bukannya bantu aku,Tio malah berpose dengan riangnya. Aku jadi kesal.
"Maaf,Mba,siomaynya akan saya ganti dengan yang baru,sebentar saya ambil dulu",aku segera pergi ke dapur dan langsung memberikannya.
Para gadis semakin histeris. Merekapun semakin banyak,tapi tidak satupun dari mereka membeli siomay. Ini tidak boleh dibiarkan,aku harus mengambil tindakan. Seperti biasa aku menggunakan pengeras suara.
"Para gadis,untuk yang ingin berfoto dengan Thomas Tio Wibowo,silahkan membeli siomay terlebih dahulu,minimal satu porsi ya!",ku arahkan para gadis keluar dari kedai. Ada yang nampak kecewa dan tidak terima. Tapi ini harus ku lakukan. Aku tidak mau mereka masuk ke kedai dan hanya mampir saja. Kesempatan ini bisa jadi alat untuk promosi.
"Silahkan untuk berbaris dengan rapi!",ku beri arahan pada mereka.
"Siomaynya enak tidak?",seorang gadis bertanya.
"Tentu saja,saya yakin kalian pasti akan ketagihan dan kembali lagi ke sini. Kalian bisa lihat foto kami dengan Pak Gubernur. Itu ketika kami memenangkan lomba memasak siomay terlezat. Jadi jangan ragu,pasti tidak akan mengecewakan",aku dengan semangat.
Setelah mendengar penjelasanku,mereka mengikuti apa yang ku perintahkan dan mengantri dengan tertib.
"Jangan lupa persenan untukku ya!",Tio sambil berpose.
"Ok,nanti ku beri siomay ya",aku sambil melayani para gadis muda itu.
Akhirnya berkat Tio,siomay hari ini habis bin ludes. Ternyata dia bisa berguna juga untuk pemasaran.
"Masih ada siomay?".
"Sudah habis,besok datang lagi kesini ya!",jawabku.
Sebagian mereka yang telah membeli kembali lagi untuk memesan. Tapi sayang siomaynya sudah habis.
Kamipun bisa beristirahat,duduk di kursi sambil menikmati teh manis yang hangat. Tak lupa ku berikan upah untuk Tio,seporsi siomay hangat.
"Kak,Erna mau ke suatu tempat dulu ya!",Erna seperti buru buru.
"Oh,iya,memangnya mau kemana?".
"Nanti Erna kasih tahu",Erna pergi meninggalkan kedai.
__ADS_1
Tersisa kami berdua. Aku mengajak Tio mengobrol terlebih dahulu untuk menghilangkan kecanggungan.
"Tio,selamat ya,besok kamu akan menikah. Maaf aku tidak bisa datang,besok aku sibuk",sebelum Tio mengundang langsung saja ku tolak.
"Siapa yang ingin mengundangmu?",ujar Tio.
"Terus kamu mau apa kesini?tidak mungkin hanya untuk berpose saja kan?",aku bertanya dengan sinis.
"Bisa kamu ikut aku ke suatu tempat?",Tio mengajakku pergi.
"Tidak mau,nanti orang orang bilang aku membawa kabur pengantin orang",ku tolak mentah mentah. Dengan serius Tio menjawab,"Bukan aku yang akan dibawa kabur,tapi kamu".
"Apa sih maksudmu?",aku jadi ketakutan sendiri.
"Aku serius. Kita kabur ke luar negri nanti malam".
"Buat apa aku harus keluar negri?",aku masih menganggap Tio bercanda.
"Kita akan menikah di sana",Tio menatapku.
Aku kaget ketika dia berkata seperti itu.
"Apa?menikah?kamu.....sudah ingat semuanya?tentang kita?".
"Sesimpel itukah dalam pikiranmu? apa kamu tidak memikirkan masa depan kita?kita akan jadi buronan orang tuamu. Aku tahu mereka tidak suka denganku dan lebih memilih Renata yang menurut mereka lebih baik untukmu".
"Terus,kamu tidak mau menikah denganku hanya karena ada Renata?aku sudah ingat semua,aku tahu hatiku ini untukmu",Tio meyakinkanku.
"Tapi bukan begini caranya,aku tidak mau kalau harus kabur ke luar negri.Ada cara lain yang lebih baik selain ini".
"Lalu aku harus bagaimana?aku tidak mau kehilanganmu",Tio kesal.
"Katakan dengan terus terang pada mereka,apa yang kamu rasakan dan inginkan,agar mereka tahu dan mengerti". Ku beri Tio saran.
"Tapi mereka tidak akan mengerti,aku tahu itu".
"Bagaimana kalau kamu mencobanya dulu,tidak mungkin orang tua akan membiarkan sesuatu hal terjadi,jika anaknya tidak menginginkannya".
Tio menarik napas dan berkata,"ku tunggu nanti malam di bandara,jika kamu tidak datang,aku akan menikahi Renata",dengan lemas diapun pergi dari kedai.
"Tapi Tio.....".
Ingin aku menggapainya,tapi banyak hal yang ku pikirkan. Jika aku pergi bersama Tio,bagaimana nasib kedaiku?apa aku akan bahagia jika terus bersembunyi dari orang tuanya?dapatkah kami meluluhkan hati orang tuanya saat kami sudah menikah?aku sebenarnya takut menghadapi itu semua.
__ADS_1
Tapi hatiku juga sakit jika melihat Tio bersanding dengan orang lain. Lalu apa yang harus ku lakukan?aku bingung.
Aku tidak bisa fokus sama sekali. Kata kata Tio membuatku pusing,apa yang harus ku pilih?
Terlihat Erna masuk ke kedai dan bertanya,"Kak,kenapa?kok seperti kebingungan?".
"Kakak memang sedang bingung".
"Bingung kenapa?".
"Tio mengajak Kakak untuk kabur ke luar negri dan menikah di sana",ujarku dengan wajah bingung.
"Apa?kawin lari maksudnya?",Erna kaget.
"Bisa dikatakan begitu,kalau Kakak tidak datang ke Bandara nanti malam ,dia akan menikahi tunangannya besok",aku masih dengan wajah bingung.
"Terus Kak Isna mau ke Bandara?".
"Kak Isna juga tidak tahu,masih bingung,kalau Kakak kesana bagaimana dengan kedai ini?".
"Kedai ini biar Erna saja yang jaga".
"Terus kamu bisa membuat adonan siomay?".
"Sepertinya bisa,soalnya Erna sering melihat cara masak Kak Isna".
"Apa Kakak ke luar negri saja ya,biar jago bahasa Inggris",aku masih tidak fokus.
Aku jadi bingung,bisa bisanya Tio membuat aku jadi tidak bisa berpikir.
"Kalau memang kata hati Kakak ingin bersama Kak Tio,lebih baik dikejar,walau sampai ke luar negri",Erna sambil tersenyum.
Ku coba tanyakan pada diriku sendiri. Tapi masih belum menemukan jawabannya. Akhirnya kami pulang setelah selesai beres beres di kedai.
Di rumah ku pikirkan hal ini sampai bolak balik. Ku tanyakan pada Bibi tentang pendapatnya,dan masih belum memuaskan. Waktu terus berlalu,malam sudah menghampiri,tapi teka teki di hati ini masih belum terjawab. Aku membayangkan Tio bersanding dengan Renata,itu malah membuat aku sedih. Mungkinkah ini jawabannya. Tanpa banyak berpikir lagi,segera ku ganti baju dan pamit pada Bibi dan Erna. Ku hentikan taksi yang lewat dan ku sebutkan tujuan ku ke Bandara. Dengan hati dag dig dug tak menentu,ku ambil keputusan yang akupun tak tahu jadinya akan seperti apa. Akan ku jalani saja,selama hatiku ingin untuk meraihnya.
Sampai di Bandara,ku cari Tio sambil berlari kesana kemari. Ku buka ponselku untuk menghubunginya tapi tidak aktif. Aku sudah seperti orang gila yang wara wiri di Bandara. Tapi Tio tidak ku temukan. Mungkinkah dia sudah pulang?.
Dengan kekuatan terakhir,ku cari lagi Tio. Namun tak kunjung ku temukan. Akhirnya aku hanya bisa menangis.
"Tio,kamu sudah membuatku bingung,sekarang aku jadi tambah bingung,apa yang harus ku lakukan?",Aku berbicara pada diriku sendiri dan meratapi semuanya.
"Mungkin kita harus berpisah di sini,selamat tinggal Tio",kata terakhirku untuk Tio.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia bersama Renata", ku berjongkok sambil menangis dengan kepala ku tutupi tangan. Tapi tiba tiba ada tangan yang menyentuh kepalaku.