
"Rupanya,kamu masih ingin mengejar suamiku,Isna!,sadarlah,kini dia adalah seorang suami dan ayah dari anakku!",Sofia terus menyerang membabi buta. Aku tidak mengerti apa yang harus ku katakan.
"Sofia,Isna ke sini karena ingin mengantarkan pesanan siomay kita,sebagai ganti siomay yang ia jatuhkan waktu itu",Mas Zein membelaku.
"Oh,berarti kamu sengaja menjatuhkannya agar bisa mendekati suamiku?",Sofia penuh curiga. Aku hanya diam tak bisa berkata kata,karena bingung harus berkata apa.
"Dia tidak sengaja!",Mas Zein terus membelaku.
"Mas,mengapa kamu terus membelanya di hadapanku,aku istrimu yang seharusnya kamu bela,bukannya dia!",Sofia dipenuhi kekecewaan.
"Aku bukan membela Isna,aku mengatakan yang sebenarnya,dia tidak bersalah dan tidak tahu apa apa tentang masalah kita,jangan serang dia!",Mas Zein berdiri sambil pasang badan.
"Mas,tega sekali padaku,di hadapan orang lain kamu terus saja menyudutkanku,aku tidak suka!",Sofia mengambil cutter yang ada di laci meja suaminya dan mencoba mengancam untuk bunuh diri.
"Sofia apa yang kamu lakukan!",Mas Zein berteriak.
"Ini semua karena Mas,aku terus saja menderita,mengapa suamiku sendiri tidak bisa mencintaiku,padahal telah ku berikan segalanya untukmu,tapi masih saja kurang",Sofia dengan berurai airmata. Aku semakin bingung,kejadian yang sama seperti ketika Rossana merasa iri atas perlakuan kakaknya padaku. Sebenarnya apa yang harus mereka takutkan dariku,aku tidak memiliki apa apa yang harus ku sombongkan. Sofia yang ku kenal dulu telah berubah drastis,tak seperti Sofia yang ku kenal. Dahulu dia tipe wanita yang kuat dan tak selembek ini. Cintanya pada Mas Zein yang telah mengubah segalanya,sampai sampai aku sebagai sahabatnya rela ia gadaikan pada penjahat demi mendapatkan pujaan hatinya.Drama ini seperti hiburan dalam sinetron. Aku sudah lelah dan tidak ingin berada dalam situasi seperti ini. Aku maju ke depan mendekati Sofia,ku tampar pipinya untuk menyadarkannya. Sofiapun terdiam,lalu ku ambil cutter yang ada di tangannya.
"Sadarlah Sofia,aku bukan siapa siapa di sini,jadi jangan mencurigaiku!",segera ku buka siomay yang ku bawa dan ku masukkan ke mulutnya.
"Makanlah dan nikmatilah!ini adalah siomay buatan sahabatmu yang dulu ingin kamu bakar hidup hidup!",aku merasa kesal dengan perlakuannya dulu dan inilah saatnya untuk mengingatkannya. Aku tidak ingin menjadi orang yang terus dia salahkan,sedangkan kesalahannya sendiri tak pernah dia sadari. Setelah itu,aku segera pergi dari tempat itu. Ku tinggalkan kedua sejoli itu,dalam diam. Ku biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Akhirnya ada rasa puas,aku bisa melakukan hal yang dari dulu ingin ku lakukan. Persahabatan yang indah itu,harus kandas karena cinta yang begitu dalam dan tidak terkontrol.
Ku buka ponselku dan ku telepon Tio.
"Tio,mari makan siomay bersamaku!",aku dengan rasa bahagia.
"Tentu saja,aku segera meluncur!!",Tio tanpa berpikir lama.
Aku ingin berbagi siomay dengan Tio,untuk merayakan kepuasanku seolah telah mengalahkan Sofia. Lagipula sudah lama Tio tidak makan siomay buatanku. Si anak siomay itu pasti akan suka.
Ketika masuk ke tempatku,rupanya sudah banyak orang yang mengantri,segera ku siapkan siomay yang mereka inginkan. Tak lupa aku meminta maaf karena membiarkan mereka menunggu. Tak berapa lama,munculah si anak siomay kesayanganku. Dia segera membantuku tanpa perlu ku minta. Itu yang sangat aku sukai dari Tio. Kami larut dalam kesibukan untuk melayani para pelanggan di Siomayku Sayang,sampai lupa untuk makan siomay bersama. Setelah para pelanggan berkurang,kami beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya memanggilku supaya ku bantu?",Tio seperti setengah hati.
"Oh,jadi kamu tidak ikhlas gitu?",aku sambil mempersiapkan siomay untuk Tio.
"Ti...tidak,aku hanya ingin cepat makan siomay!",Tio dengan cemberut.
"Ini,siomay spesial untuk ,untuk siapa ya?",aku sambil malu malu untuk melanjutkan kata kata.
"Untuk kekasihmu tersayang bukan?",Tio melanjutkan sambil menggoda.
"Oh,i...iya deh untuk itu,untuk ke....,untuk kamu",aku masih sulit untuk menyadari dan mengakui kalau Tio memang sudah jadi kekasihku.
"Isna,besok orang tuaku akan datang dari Amerika,kita temui mereka,kamu mau?",Tio dengan hati hati.
"Orang tuamu?",aku kembali mengingat kejadian dulu,dan merasa trauma sampai sampai keringat dingin keluar dari tubuhku dan aku merasakan sesak.
"Isna,kamu kenapa?",Tio merasa kaget.
Aku tak bisa menjawab,hanya kilasan peristiwa yang menakutkan antara aku dan ayahnya Tio yang terbayang.
"Aku antar ya!",Tio merasa khawatir.
"Tidak usah,aku bisa sendiri",aku segera pergi.
Dadaku terasa sesak. Ku tarik napas panjang agar tubuhku merasa rilex. Apa yang harus aku lakukan?mengingat tentang orang tua Tio saja aku sudah seperti ini apalagi bertemu dengan mereka. Aku merasa dilema. Tio memang sudah ada dan mulai mengisi hatiku,tapi masih belum sepenuhnya,karena kejadian yang terjadi antara aku dan ayahnya masih terus membayangi dan menjadi hal yang sangat ku takuti,jauh di luar alam sadarku. Apa yang harus ku lakukan?apakah aku harus putus dengan Tio,sedangkan kami baru saja menjalin hubungan.
Ku pandangi bunga layu yang dikirim seseorang di hari ulang tahunku. Bunga itu sedikit mengalihkan pikiranku. Aku mulai berpikir siapa orang yang mengirimkan bunga juga ucapan selamat ulang tahun untukku. Ketika aku sedang memikirkan hal itu,Tio datang menghampiriku.
"Masih sesak?",Tio bertanya.
"Oh,tidak,bunga ini membuat aku tidak sesak lagi",aku sambil melihat bunga itu.
__ADS_1
"Maafkan aku,Isna,aku tidak mengerti kalau
aku tak seharusnya membahas orang tuaku",Tio menyadari sendiri.
"Aku belum siap untuk menemui orang tuamu,Tio,maafkan aku!",aku berterus terang agar tidak ada salah paham antara kami.
"Ya sudah,kita ke depan,tskutnya ada pembeli",aku segera menghindar agar kami tidak usah membahas tentang orang tua Tio.
Ku pasang wajah ceria ketika para pembeli memasuki tokoku. Ku lupakan sejenak rasa sesak itu.
"Siomay di sini enak ya!",seorang pembeli berkata sambil memakan siomay.
"Iya,rasanya sangat khas,berbeda dengan siomay siomay yang lain",seorang temannya ikut menanggapi.
"Eh,aku lihat ada lomba untuk kejuaraan siomay terenak seindonesia,kira kira siomay ini bisa ikut tidak ya?".
"Boleh juga tuh,kita beritahu Kakak pemilik toko ini,biar dia ikut lombanya!".
Mereka berdua menghampiriku.
"Kak,saya lihat ada selebaran tentang kejuaraan siomay terenak seIndonesia,Kakak bisa ikut tuh", gadis pertama memberi ide.
"Selebarannya ada?",aku penasaran.
"Saya lihat ada di depan dekat tukang baso,di situ ada tertempel di dinding",gadis itu memberi petunjuk.
"Oh,nanti saya ke sana,ada hadiahnya tidak?",aku sambil bercanda.
"Ada,kalau tidak salah berhadiah sebuah tempat untuk berjualan siomay yang berada di tempat strategis",gadis itu sambil mengingat.
"Wah,menarik juga tuh!",aku mulai tertarik.
__ADS_1
Setelah toko tutup,aku berencana mencari dimana selebaran itu di tempel. Mereka menyebutkan ada di dekat tukang baso,jadi aku harus ke sana.
Tio terlihat lelah setelah membantuku. Ku siapkan siomay untuk moodboosternya. Dia sangat menyukai siomay. Mungkin itu juga jadi alasan mengapa dia menyukaiku. Daripada beli siomaynya saja mending tukang siomaynya yang dinikahi biar bisa buat siomay dan menyediakan siomay setiap hari. Ha....ha.....ini hanya perkiraanku saja,tapi semoga bukan,semoga Tio memang tulus menyayangiku tanpa ada motif seperti itu. Walau terasa terjal untuk menyukai dan menjalani hubungan dengan Tio,tapi mungkin inilah perjuanganku untuk mencintainya.