Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Akhir yang Bahagia


__ADS_3

"Alhamdulillah,akhirnya selesai!",aku menyelesaikan pesananku yang ke dua. Seribu porsi siomay. Aku,Rendi dan Tio sampai harus menginap di kedai. Kami bersama-sama bahu membahu dari mulai membuat adonan sampai pada proses pengemasan. Sampai jam tidur kami berkurang karena harus lembur untuk menyelesaikan pesanan tersebut.


"Hari ini kita istirahat dulu,besok baru kita jualan lagi,"ujarku pada Tio dan Rendi.


"Hari ini kita akan makan makan!untuk rasa terimakasihku karena kalian sudah banyak membantu," dengan kedua tangan ku angkat ke atas sebagai tanda bahwa hari ini kami akan bersenang-senang untuk merayakan mulai dikenalnya Siomayku sayang oleh orang orang juga dengan mulai naiknya pesanan yang masuk.


"Asyik,perutku memang sudah lapar dari tadi,"Tio dengan penuh semangat. Dia memegang perutnya yang sudah berbunyi dari tadi.


Rendi segera duduk di kursi sambil bertanya,"Kita mau makan makan dimana?".


"Menurut kalian kita makan dimana ya?" ku tanyakan pada mereka,barangkali ada yang tahu tempat yang bagus.


Rendi dan Tio berdiskusi tentang tempat yang akan kami datangi. Ketika berdiskusi ada bau yang begitu tidak enak tercium di sekeliling kami.


"Ih,bau kentut!" Rendi menutup hidungnya seraya mengipas-ngipaskan tangannya ke udara.


"Siapa yang kentut?" ku pandangi Tio yang sedari tadi seperti menahan sesuatu.


"Aduh,aku sudah tidak kuat," Tio berlari ke kamar mandi.


Aku dan Rendi tertawa geli. Tio sungguh lucu ketika berlari ke kamar mandi. Mungkin Tio masuk angin,karena semalam dia langsung tidur dan tidak makan terlebih dahulu. Aku jadi merasa bersalah,karena harus menyelesaikan pekerjaan Tio sampai lupa makan.


Setelah beberapa saat, Tio keluar kamar mandi,kemudian masuk lagi,terus seperti itu sampai beberapa kali. Rupanya dia diare karena masuk angin.


"Perutmu harus diberi minyak kayu putih agar hangat. Sepertinya kamu masuk angin," aku mulai mengkhawatirkan Tio.


"Iya,tidak apa apa,nanti juga sembuh,"Tio terlihat menyeringai ketika memegang perutnya.


Segera ku berikan kayu putih ke tangan Tio,agar dia mengoleskannya ke perut dan punggungnya. Dia pun dibantu oleh Rendi.


"Bagaimana kalau kita makan di sekitar sini saja?" Tio memberikan ide,dia masih mengelus perutnya yang terasa mules.


"Ya sudah,kita makan apa?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Kita makan baso aja ya,yang di sebrang sana",sembari ku tunjukkan jariku ke arah sebrang.


"Ok,kalau begitu kita ke sana sekarang",Tio bersemangat.


Kami pergi ke tempat tukang baso dan tentu saja beli dan makan baso disana. Tio dan Rendi juga aku merasa senang walau hanya makan baso. Ketika kami pulang,tiba tiba terdengar suara ledakan. Semua orang kaget dan saat kami keluar terlihat kedaiku terbakar.


"Tolong,kebakaran!" teriakku. Aku,Tio dan Rendi segera berlari mendekati kedai dan mencoba memadamkan api.


Orang orang panik. Kami segera melakukan apa yang kami bisa untuk memadamkan api. Namun rupanya api semakin membesar. Pemadam kebakaran sudah dihubungi,tapi masih di jalan menuju ke sini. Kami harus bisa bertahan untuk memadamkan api sebelum pemadam kebakaran datang.


Apa yang sebenarnya terjadi?mungkinkah aku lupa memadamkan kompor?tapi seingatku kami sudah mematikannya. Ku coba lihat rekaman CCTV,namun tidak ada hal yang mencurigakan. Api melahap semua bangunan kedai dan merembet ke kedai sebelah. Beruntung pemadam kebakaran datang,sehingga kebakaran tidak merembet kemana mana. Namun kedaiku habis,semua kerja kerasku ludes dalam hitungan menit.


"Tio,bagaimana ini?" aku hanya bisa menangis menyaksikan kedai yang ku miliki dilalap si jago merah.


5 tahun kemudian..........


"Rendi,jangan lupa jemput calon istrimu!" Bibi berkata sambil tersenyum.


Di acara 4 bulanan ini semua orang hadir. Setelah menikah 4 tahun yang lalu,aku dan Tio tak kunjung memiliki momongan. Namun setelah kami terus berusaha untuk berkonsultasi ke dokter,akhirnya aku hamil dan umur janinku sudah menginjak 4 bulan.


Lima tahun berlalu semenjak kejadian ludesnya kedai Siomayku sayang Saat itu aku kebingungan,karena satu satunya harta dan tempat mencari nafkah harus hancur terbakar. Tapi dengan dukungan semua orang aku bisa bangkit dan dengan berat hati menjual tanah bekas kebakaran itu. Aku memberanikan diri membeli tanah di tempat lain yang lebih luas dan kembali memulai usaha. Alhamdulillah akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa menghidupi diri kami juga 100 karyawan yang kini bekerja di restoran Siomayku sayang. Walau masih belum buka cabang tapi ini semua kami syukuri. Mudah mudahan ke depannya nanti kami bisa membuka cabang di tempat lain.


"Hati hati sayang!" Tio memegang tanganku saat menuruni tangga rumah. Dia terlihat khawatir.


Acara 4 bulanan dimulai. Ibu ibu pengajian yang hadir terlihat khidmat mendengarkan ceramah Pak Ustadz.


"Kak,bagaimana dengan makanannya?" Erna terlihat sudah datang.


"Tadi sudah diantar sama catering ke sini", jawabku.


"Kalau snacknya bagaimana?" Erna sembari melayangkan pandangannya ke sekeliling.


"Sudah,itu semua sudah diatur oleh Bibi,kamu duduk saja",jawabku pada Erna.

__ADS_1


Kami mendengarkan ceramah Pak Ustadz dan mengikuti rangkaian acara dengan khusyu.


Aku sangat bahagia. Akhirnya semua yang aku inginkan tercapai. Suami yang baik,usaha yang lancar dan kini ditambah akan ada anak yang nanti meramaikan rumah ini


"Kira kira anaknya laki laki atau perempuan?" Rendi bertanya tanya sambil menggoda Tio.


"Laki laki atau perempuan sama saja",Tio menjawab sambil melihat ke arahku.


"Iya,yang penting selamat dan sehat,"aku menambahkan.


5 bulan kemudian.....


"Pemotongan pita cabang kedua akan dilaksanakan oleh pemilik dari restoran Siomayku sayang,Ibu Isna Khoerunnisa,kepada beliau saya persilahkan!" pembawa acara mempersilahkanku untuk memotong pita. Aku maju ke depan untuk membuka restoran cabang keduaku ini. Dalam waktu lima bulan Allah memberikanku kemudahan untuk bisa sampai di titik ini. Aku sangat bahagia.


Seorang pegawai membawakanku gunting dan ku potong pita merah yang ada di depanku. Orang orang pun bersorak sorai. Tapi aku mulai merasakan mulas di perutku,mungkinkah bayi ini akan lahir hari ini?.


"Tio,perutku sakit!" dengan tangan ku simpan di pundak Tio,aku menahan rasa sakit itu.


"Aku harus membawamu ke rumah sakit!" Tio dengan segera membawaku ke mobil. Orang orang membicarakanku dengan berbisik bisik,"Dia sangat beruntung,usaha restorannya berhasil dan kini fia akan memiliki anak."


Aku dan Tio juga Rendi dan Erna masuk ke mobil. Kami segera menuju ke rumah sakit. Aku mulai merasakan rasa sakit yang lebih ketika di perjalanan. Sepertinya aku memang akan melahirkan hari ini.


Setelah sampai di rumah sakit,aku segera dibawa ke ruang persalinan.


Setelah beberapa saat....


"Oa....oa....",suara tangisan bayi terdengar ketika aku mengerahkan tenagaku untuk yang ketiga kali. Tangisan itu terasa hangat ditelingaku. Akhirnya aku menjadi seorang ibu.


"Laki laki atau perempuan,Dok?" aku penasaran dengan jenis kelaminnya.


"Ini adalah anak perempuan pertama anda," Dokter sembari tersenyum.


"Alhamdulillah," ku ucapkan syukur kepada Allah untuk semua nikmat yang telah Allah berikan.

__ADS_1


__ADS_2