Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Ucapan maaf yang membuat bingung


__ADS_3

"Tio,aku baru sadar kalau kamarmu berbeda",aku merasakan keanehan.


"Berbeda apanya?".


"Lebih meriah",ku lihat kasur dengan seprai bermotif,karangan bunga yang banyak juga lukisan.


"Oh,mungkin ini kamar yang spesial",Tio dengan canggung.


"Eh,Tio,Alex itu adikmu?",aku penasaran pada orang yang bernama Alex.


"Adik?apa aku terlihat lebih tua?",Tio seperti kesal.


"Oh,memangnya,dia tidak seumuran dengan kita?".


"Oh,i....iya seumuran,mana mungkin dia bisa sekelas dengan kita. Dia adalah sepupuku,kami sangat dekat,makanya dia selalu ada di sampingku",Tio menjelaskan.


"oh",aku hanya mengangguk sambil melihat sekeliling kamar.


"Kalau kamu,bagaimana dengan Pak Zein?dia saudaramu?",Tio terlihat penasaran.


"Bukan,Pak Zein itu majikanku,selama ini aku bekerja di rumahnya menjadi seorang asisten rumah tangga. Pak Zein adalah orang yang menolongku saat aku kesulitan,makanya aku harus membalas budi",aku tidak menjelaskan tentang perasaan kami,cukup kami saja yang tahu .


"Oh",Tio sambil mengangguk."Tapi kamu tidak tinggal di rumahnya kan?",Tio seperti tidak mau aku menjawab iya.


"Aku tinggal di rumahnya",aku dengan terus terang. Jawaban itu membuat Tio cemberut.


"Isna,aku lapar,aku mau kamu yang menyuapiku",Tio tiba tiba bersikap manja.


"Kamu kan bisa sendiri",aku menolak.


"Ini permintaanku yang kedua,jadi sisa satu lagi,mau tidak?",Tio bernegosiasi.


Sebenarnya aku malas,tapi karena aku janji akan mengabulkan apapun permintaannya,maka apa boleh buat. Ku suapi Tio dengan penuh rasa malas.


"Isna,aku punya cerita menarik. Ketika aku baru sampai di rumah sakit ini,aku melihat hantu,dia menakutkan sekali,dia seperti berteriak,aku juga tidak mau kalah,aku berteriak lebih kencang,tapi akhirnya dia malah memukul kepalaku sampai pingsan. Hantu itu begitu nyata,seram sekali",Tio sambil bergidik.

__ADS_1


Rupanya Tio belum menyadari kalau itu adalah aku. Aku jadi kesal. Ku suapi dia dengan suapan yang banyak.


"Isna,jangan terlalu banyak,aku tidak bisa bernapas!",Tio dengan mulut penuh nasi.


"Tolong ambilkan aku air,dong!",aku seperti pembantunya saja. Ku hela napas terlebih dahulu sebelum mengambil air.


"Nih!",ku berikan dengan wajah cemberut.


"Kamu kok jadi cemberut?",Tio berkata setelah meminum air yang ku berikan.


"Kamu tahu, hantu itu nyata,dia ada di sini dan akan mencekikmu!!!",aku dengan suara menakut nakuti.


"Ah,kamu ada ada aja",Tio sambil membuka mulut ingin ku suapi lagi. Dia seperti anak mama yang manja. Ku suapi lagi dengan suapan yang lebih besar lagi.


"kmbnnhgdghyradbhbvfhjjjbbcvbjkknv",Tio berbicara tak karuan dengan mulut penuh makanan. Segera dia minum air dan menghabiskan makanan yang ada dimulutnya.


"Isna,jangan terlalu banyak,aku jadi susah berbicara. Eh,ngomong ngomong baju kamu seperti baju hantu itu,putih putih,kerudungnya juga seperti hantu itu,apakah kamu.....han.....eh, tidak jadi",Tio berbicara seperti mengetahui siapa hantu itu. Kemudian dia tersenyum seperti ingin sesuatu.


"Apa?aku seperti hantu maksud kamu?",aku berbicara dengan kesal dan mata melotot.


"Memang,aku yang menjitak kepalamu!",aku katakan saja yang sebenarnya karena kesal.


"Oh!!!!",Tio dengan mata melotot dan mulut membentuk huruf O. Tak lama dia menutup mulutnya dengan tangannya. Dia seperti merasa bersalah.


"Ja...ja....jadi....aku minta maaf ya!eh,seharusnya kamu yang minta maaf,kan aku kena jitak!",Tio tak ingin kalah.


"Ya sudah,aku mau ke kamar Pak Zein saja,di sini tidak seru!sudah ku suapi makan,ku ambilkan air,ujung ujungnya aku dianggap hantu,terlalu!",aku mencoba mengancam sambil melangkah,padahal dalam hati aku ingin tertawa.


"Iya deh,aku minta maaf,aku tidak tahu kalau itu kamu,kenapa kamu bisa berdandan seperti itu sih,memangnya ini hari haloween!",Tio segera mencegahku.


"Aku ke kamar Pak Zein!",aku masih kesal.


"Isna,maafkan aku ya,sudah jangan marah lagi,aku akan memberimu satu permintaan untuk ku kabulkan sebagai tanda maafku,bagaimana?",Tio dengan tangan seperti memohon.


"Dari tadi dong,supaya aku tidak cemberut!.apa ya permintaanku?",aku sambil berpikir.

__ADS_1


"Aku mau kamu meminta maaf sambil bernyanyi dan dilakukan di depan semua orang di rumah sakit ini,ok?",aku ingin mengerjai Tio,biar tahu rasa wk wk.


"Bernyanyi?jangan yang itu dong,yang lain saja,bagaimana kalau kamu aku beri cek kosong?",Tio dengan wajah berharap.


Aku menggelengkan kepala.


"Rumah mewah?".


Ku gelengkan lagi.


"Emas berlian?".


"Ih,kamu seperti orang kaya saja,jajan di sekolah juga aku yang traktir",aku tak percaya bahwa Tio orang kaya.


"Aku beri waktu setengah jam untuk kamu mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk tampil bernyanyi di hadapan semua orang. Semoga beruntung! ha...ha...",aku tertawa sambil melangkah keluar.


"Kamu mau kemana?",Tio bertanya.


"Aku menunggu di kamar Pak Zein",akhirnya aku bisa bebas dari Tio. Lumayan ada waktu setengah jam untuk aku beristirahat. Aku merasa mengantuk,padahal ini baru jam 8 malam. Sepertinya karena aku sering tidur larut malam.Aku ingin tidur dulu sebentar. Ku masuki kamar Mas Zein,rupanya diapun sedang tertidur. Berada di rumah sakit ini memang bagus untuknya. Dia sudah terlalu lelah dengan berbagai pekerjaan,jadi ini saatnya dia untuk beristirahat total. Tak ku bangunkan dia,aku juga akan menggunakan waktu yang ada untuk tidur. Aku merebahkan badanku di sofa yang ada di ruangan itu. Ku pejamkan mata dan zzzzzzzzzzz.


Setelah setengah jam.......


"Isna!Isna!bangun!!",seseorang mengguncangkan badanku,ku lihat Alex yang ada di hadapanku. Mataku dan otakku masih loading,butuh waktu agar aku sadar sepenuhnya. Ku usap mulutku yang basah,lalu pergi ke kamar mandi.


"Isna,kata Tio kamu ditunggu diluar,aku duluan ya!",Alex berpamitan dan pergi ke luar ruangan.


Ku lihat Mas Zein masih tertidur,mungkin karena efek obat jadi tidurnya pulas dan tak terganggu sedikitpun oleh suara Alex yang membangunkanku.


Setelah aku siap dan terbangun dengan sempurna,aku segera pergi ke luar seperti yang dikatakan Alex. Aku ingat kalau sudah memberi Tio tantangan untuk bernyanyi,aku sudah tidak sabar ingin melihat dia tampil dihadapan orang orang. Seperti apakah ekspresinya?.


Banyak orang duduk di kursi yang biasanya dipakai untuk menunggu panggilan antrian,namun di tata lebih rapi dan dikumpulkan dalam satu titik. Rumah sakit ini termasuk rumah sakit yang elit dengan ruangannya yang besar,lantai bawah inipun sangat luas sehingga kalaupun ada suara sound system tidak akan terlalu mengganggu pasien yang sedang beristirahat. Di tengah Tio duduk di kursi roda sambil memegang gitar,aku tak menyangka dia mempersiapkan segalanya. Dia memegang mik sambil memandangku. Dia tersenyum,seolah berkata kalau dia siap dengan tantangan yang ku berikan.


"Para hadirin,maaf jika saya menganggu istirahat anda semua. Saya melakukan ini karena ingin meminta maaf pada seseorang dan dia meminta saya untuk bernyanyi agar permintaan maaf saya bisa di kabulkan,untuk itu saya akan bernyanyi untuk Isna Khoirunnisa,maafkan saya ya....jreng.....!",suara gitar mulai dipetik. Nada nada yang indah keluar dari gitar yang dipetik Tio. Aku segera duduk di kursi bagian belakang,karena bagian depan sudah penuh terisi. Tio mengeluarkan suaranya. Ku kira aku akan tertawa terbahak bahak ketika melihat Tio bernyanyi,rupanya aku salah.Aku malah terpesona olehnya,suaranya yang merdu juga wajahnya yang tampan membuat aku tidak mengenali Tio. Pipiku memerah dan terasa panas ketika Tio bernyanyi sambil melihat ke arahku. Nyanyiannya begitu merdu dan mengalun indah di telingaku,sehingga aku begitu menikmati 'ucapan maaf itu'. Ketika Tio selesai bernyanyi,diapun kembali berkata kata.


"Isna Khoirunnisa,maukah kamu jadi pacarku?",seikat bunga dipegang oleh Tio untuk dia berikan padaku. Aku begitu kaget dan tak tahu harus berkata apa. Di lantai dua di atas kami,terlihat Mas Zein sedang memperhatikan. aku jadi bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


"Mau,mau,mau!",orang orang kompak meminta jawaban dariku. Aku...tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2