Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Penggemar Siomay Sejati


__ADS_3

Hari ini hidungku mampet. Aku bersin bersin dari subuh tadi. Mungkin efek dari kehujanan waktu itu. Kepalaku juga sangat pusing. Seperti biasa saat waktu istirahat di siang hari,orang orang memenuhi kedai. Aku sungguh kecapean karena bekerja sendiri. Mungkinkah ini saatnya aku mencari karyawan?uangku juga sudah lumayan,mungkin akan ku pikirkan lagi.


Supir mobil hitam milik Tio,hampir tiap hari wara wiri 3 kali sehari membeli siomay. Seperti minum obat saja. Supir itu juga beda orang setiap harinya,mungkin Tio tidak ingin terlihat mencolok,tapi aku tahu itu adalah supirnya Tio. Dia sudah terjerat siomayku yang enak. Dari dulu juga dia sangat suka dengan siomayku karena katanya ada aroma ikan yang membuat dia sangat suka makanan ini.


"Mba,mau siomaynya satu porsi",seorang ibu memesan siomay.


"Mau pakai sayuran?di bungkus atau makan di tempat?",ku tanya lebih detil.


"Komplit,pedas ya!makan di sini",ibu itu sambil melihat jam,dia terlihat sedang menunggu seseorang.


Segera ku siapkan pesanan ibu itu. Saat mengambil siomay untuk di simpan di piring,dunia ini terasa berputar.


"Astagfirullohal'adzim!",aku hampir terjatuh.


"Kenapa,Mba?",ibu itu segera meraihku.


"Kepala saya pusing,saya sedang flu",aku di papah untuk duduk di kursi.


"Owalah,mending diam di rumah saja,jangan kerja,istirahat!",ibu itu menasehati dengan logat jawanya yang kental.


"Iya,setelah ini saya akan menutup kedai,kepala saya terasa seperti berputar putar",aku sambil memegang kepala.


"Sebentar,saya ambilkan air putih",ibu itu mengambil gelas,mengisinya dan memberikannya padaku.


"Terimakasih,Bu!",aku sambil meminum air.


Setelah kejadian itu,aku segera membereskan kedai semampuku. Menyimpan siomay juga bumbu kacang di kulkas supaya tidak basi juga membereskan kursi dan mencuci piring yang kotor. Kepalaku serasa ingin pecah. Aku memesan taksi online biar lebih nyaman,kalau naik angkot aku tidak enak dengan penumpang yang lain. Ketika sampai di rumah aku langsung beristirahat dan meminum obat.


\* \* \*


Tiga hari berlalu sejak saat itu,para pelangganku banyak yang mengirim pesan ketika aku sakit. Makanya hari ini akan banyak pelanggan yang memesan dari 3 hari itu. Aku sengaja menelepon Erna untuk membantuku.


Ketika pelanggan memenuhi kedai,terdengar suara mobil berhenti di depan. Seseorang memakai switer hitam dengan bagian kepala ditutup,masuk ke dalam dan memotong antrian.


"Mas,antri dong,kami sudah duluan datang kesini,jadi Masnya tunggu di belakang!",seorang pelanggan menegur lelaki itu.


"Terserah saya dong!",lelaki itu keras kepala.


"Tidak bisa begitu,hargai kami yang dari tadi menunggu",seorang pemuda ikut bicara.

__ADS_1


"Kalian mau dihargai berapa?",lelaki itu malah seolah menantang orang orang.


"Mau dipukuli sepertinya orang ini!",seorang pemuda merasa jengkel. Orang orang merasa terprovokasi dengan kata kata itu,akhirnya mereka akan mengeroyok lelaki berswiter hitam itu. Melihat hal itu,akupun tidak tinggal diam.


"Stop semuanya!diam di tempat!",untung aku segera mengambil pengeras suara,jadi tidak usah mengeluarkan banyak tenaga.Segera ku hentikan mereka agar tak berbuat kerusuhan di kedaiku. Kalau sampai terlambat sedikit saja,kedaiku bisa hancur lebur.


"Mas,anda antri di belakang!tidak boleh menyela",ku tatap lelaki berswiter itu,terlihat dia menyembunyikan wajahnya,seperti tidak ingin terlihat. Aku seperti mengenal lelaki ini.


"Tio??",ku sebut namanya sambil menatapnya tanpa berkedip.


"He...he...",lelaki itu membuka penutup kepalanya sambil nyengir. Ternyata benar itu memang Tio. Segera ku tarik dia dan ku bawa ke dapur.


"Tio,apa yang kamu lakukan?kamu mau menghancurkan kedaiku?",aku dengan kesal.


"Maaf,aku sungguh tidak bisa menunggu lagi,aku mau makan siomay. Sebenarnya apa yang kamu simpan di siomay yang kamu berikan padaku?kamu menambahkan narkoba ya?aku seperti orang sakau kalau tidak makan siomay",Tio dengan gelisah.


"Ha...ha....",aku hanya bisa tertawa.


"Benar kan kamu memberiku obat obatan terlarang?aku harus segera lapor polisi",Tio sambil mencari ponsel di switernya.


"Ha...ha...uhuk uhuk!",aku tertawa sampai terbatuk batuk,sambil ku tahan tangan Tio untuk menelepon polisi.


"Jangan menelepon polisi,yang ada nanti kamu malu jadi bahan berita di tv,masa Thomas Tio Wibowo makan siomay sampai 3 kali sehari,seperti minum obat saja ha...ha....",aku sambil memegang perutku yang sakit karena tertawa.


"Kamu nanya?aku tahu kamu Tio,kamu adalah penggemar siomay sejati,makan baso 5 piring juga kalau belum makan siomay,kamu pasti akan berkata belum makan",aku dengan percaya diri.


"Kok,kamu tahu?",Tio seperti tidak percaya kalau aku mengenalnya.


"Sekarang,kamu diam di sini,jangan ke depan,nanti kamu di keroyok orang orang,nanti aku bawa siomaynya ke sini. Ok!"aku sambil mengangkat jari jempol.


"Oh,Ok deh!",Tio seperti pasrah.


Akupun pergi ke depan membantu Erna.


semua pesanan ku selesaikan,segera ku siapkan siomay untuk Tio.


"Kamu lama sekali!",Tio tak berhenti memandang siomay,seolah ingin memakannya sekaligus dengan piringnya.


"Maaf,tadi aku menyelesaikan pesanan orang orang dulu",sambil ku berikan piring yang berisi siomay itu. Tio langsung menyabet piring itu dan memakan siomay itu dengan lahap,seperti kucing yang diberi ikan dan belum makan seminggu.

__ADS_1


Aku hanya bisa menahan tawa ketika melihat itu. Siomay itu habis dalam sekejap.


"Mau lagi dong,tiga porsi ya!",Tio dengan mulut penuh siomay.


Mulutku menganga saat dia bilang tiga porsi,sebenarnya ini suka atau kelaparan?aku terdiam sejenak.


"Ih,cepat,aku masih lapar!",Tio sambil menepuk tanganku.


"Oh,iya",aku segera mengambil siomay di panci,masih hangat dengan wangi ikan yang menggoda. Tak heran jika Tio memakannya sampai 4 porsi.


Ku berikan siomay itu kepada Tio. Dia masih saja lahap memakannya. Aku berharap dia bisa mengingat kembali masa masa saat kami bersama.


"Bruk!!",suara sesuatu terlempar begitu keras terdengar di telinga. Aku dan Tio segera pergi ke depan kedai.


"Mana wanita itu?!",terlihat orang tua Tio dan Renata masuk ke kedai.


"Apa yang kalian lakukan?",terlihat Erna terduduk di lantai seperti terjatuh,aku segera menghampirinya.


"Kamu masih saja mengganggu anakku,apa kejadian dulu tidak cukup?",Ayah Tio dengan setengah teriak.


Pobiaku kumat lagi. Ayah Tio lah yang membuat Pobiaku kumat. Aku merasa susah untuk bernapas dibarengi sekujur tubuh yang mulai bergetar. Dari kejadian saat ulang tahun Tio segalanya berawal. Aku juga berkonsultasi dengan Psikiater,tapi belum juga sembuh.


"Kak Isna,duduklah!",Erna memapahku ke kursi.


"Apa yang ayah dan ibu lakukan di sini?",Tio bertanya pada orang tuanya.


"Kami menyusulmu,Renata menangis karena tahu kamu pergi ke tempat ini",Ibu Tio menjelaskan.


"Aku hanya membeli siomay,kenapa Renata sampai menangis?memangnya ada apa?",Tio dengan polos.


"Sekarang kalian pergi dari tempat ini,karena tempat ini sudah menjadi milikku",Renata dengan wajah sembab.


"Kenapa kamu mengusir mereka?",Tio tidak terima.


"Sayangku,wanita ini tidak baik untukmu,jangan lagi kamu dekati dia!",Ibu Tio terus memengaruhi anaknya.


"Tapi,Bu....",Tio ditarik oleh Renata dan pergi keluar.


"Saya berikan kalian waktu sampai besok,kosongkan tempat ini!kecuali kamu mau memberikan resep siomay pemberian kakek itu!",ayah Tio memberi peringatan.

__ADS_1


"Resep itu sudah saya hancurkan,jika ingin mengambilnya,silahkan ambil sekalian dengan nyawa saya!",dengan tubuh yang bergetar aku berusaha berbicara.


"Kamu memang wanita yang berani,lagipula untuk apa menghilangkan nyawa tukang siomay?tak ada untungnya",Ayah Tio sambil melangkah pergi.


__ADS_2