Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Kejutan


__ADS_3

Tio mengikutiku ke depan. Aku segera berpura pura sibuk padahal tadi aku sedang melamun.


"Aduh,bajuku basah,jadi kedinginan",Tio sengaja berbicara dengan keras. Saat itu para pelanggan sudah tidak ada.


"Isna,aku kedinginan aku mau ke kamar madi dulu",Tio sambil membuka pintu kamar mandi.


"Maaf ya Tio,mau ku pinjamkan baju?",dari luar aku bertanya.


"Baju siapa?",Tio balik bertanya.


"Baju adikku".


"Ridho?mana cukup buatku!",Tio tidak setuju.


"Kalau begitu baju kaos tidak apa apa?,sepertinya pas buat kamu",aku sambil mencari kaos itu.


"Coba lempar ke atas!",Tio penasaran.


Ku berikan padanya lewat atas pintu kamar mandi yang terbuka.


"Lampu kamar mandinya mati ya?kok gelap",Tio protes.


"Iya,baru tadi pagi lampunya mati,mungkin sudah rusak!",ku beri tahu Tio.


Akhirnya Tio keluar dengan memakai kaos merah muda bertuliskan 'sarangheo' dengan gambar jari tanda cinta.


"Baju ini bagus,buat aku saja ya!",Tio sambil melihat dirinya di cermin. Aku hanya bisa tertawa terbahak bahak melihat Tio memakai baju pink sambil berlenggak lenggok bak model di atas catwalk.


"Boleh,tapi itu punya Erna",aku dengan menahan tawa.


"Ku kira punya kamu,aku pinjam baju kamu saja!",Tio berubah pikiran.


"Yakin kamu mau pakai baju aku?baju gamis?",aku meyakinkan Tio.


"Oh,kalau gamis,tidak jadi deh!nanti aku dikira ibu ibu pengajian",Tio sambil malu malu.


Melihat ekspresinya yang seperti itu,aku hanya bisa tertawa. Akhirnya aku bisa tertawa bebas meski ada sedikit sedih yang masih tersisa.


"Kalau begitu,aku punya ide!",Tio sambil mengajakku.

__ADS_1


"Kunci pintu toko,dan ayo kita pergi!!!",Tio memintaku masuk mobil dan membawaku ke suatu tempat.


Di perjalanan....


"Kita mau ke mana?",aku penasaran.


"Pokoknya ini spesial untukmu!",Tio sambil tersenyum.


Akhirnya mobil berhenti. Dia membawaku masuk ke salon.


"Mba,tolong buat gadis ini menjadi lebih cantik dari atas sampai bawah",Tio sambil berbisik.


"Ok!",pekerja salon itupun mengacungkan jempol tanda setuju.


"Isna,aku tunggu di depan ya,aku juga mau beli baju sebentar!",Tio meminta izin sebelum pergi.


"Ok",aku setuju.


Aku deg degan. Orang orang itu akan berbuat apa padaku?. Mereka memintaku membuka kerudung untuk membersihkan rambutku. Karena semua pekerjanya perempuan,akupun setuju. Aku di manjakan di salon itu,dengan berbagai perawatannya dari rambut sampai kaki.


2 jam kemudian.....


Tio terlihat mengantuk,diapun tiduran di sofa yang ada di salon itu. Sesekali Tio melihat jam tangannya. Sesekali juga Tio melihat dirinya di cermin,sambil melenggak lenggokan badannya dengan berbagai pose,karena dia sudah membeli baju yang baru. "Pak,sudah beres,boleh kami bawa kemari gadis yang tadi?",pekerja salon itu bertanya.


Aku berjalan dari dalam ruangan menuju ruangan depan. Terlihat wajah Tio yang tadinya datar menjadi terpana saat melihatku.


"Kamu cantik sekali,Isna!",Tio tidak berkedip.


"Ah,kamu bisa saja!",aku sambil memukul tangannya.


"Aw,sakit!!",Tio kesakitan setelah ku pukul tangannya.


"Oh,maaf,aku tak sengaja, terlalu kencang ya?",sambil ku usap usap tangannya.


"Tidak,aku hanya bercanda!",Tio sambil tersenyum.


Tingkahku seperti anak kecil yang terlalu senang ketika di belikan baju lebaran oleh ibunya.


"Ini hadiah ulang tahunmu,selamat ulang tahun,Isna!",Tio dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tapi masih ada kejutan kejutan yang lain menanti,ayo ikut aku!!",Tio mengajakku kembali naik ke mobilnya. Kali ini dia membawaku ke restoran mahal. Bak seorang putri,Tio membukakan pintu mobil untukku dan mengajakku masuk ke dalam restoran. Dia memesan makanan yang banyak dan mahal. Aku sebenarnya ingin mencegahnya,tapi dia keras kepala. Aku merasa tidak enak karena sudah merepotkannya.


"Ayo kita makan sepuasnya!",Tio terlihat bahagia.


"Apa kita harus makan semuanya?kalau ada sisa,boleh tidak dibungkus saja?",aku menyayangkan kalau makanan yang banyak ini harus dibuang. Mungkin dia akan berpikir kalau aku kampungan,tapi daripada di buang lebih baik dibungkus,di rumah masih bisa dihangatkan he...he....lalu di makan lagi sampai habis.(😆)


"Kamu tidak usah memikirkan itu,kalau kurang nanti aku pesankan untuk dibawa ke rumah".


"Tidak usah,ini juga sudah cukup!",ketika melihat makanan yang banyak,aku jadi teringat adik adikku. Jadi melow lagi.Apa mereka sudah makan?apa makanannya enak?rindukah mereka padaku?apa Edo juga merindukan kakaknya?di benakku mulai terkumpul kembali ingatan ingatan yang membuat aku kembali bersedih. Air mata tak terasa jatuh.


"Kamu kenapa Isna,kamu marah karena aku melarangmu membungkus sisanya?",Tio kaget.


"Bukan,bukan itu",aku sambil terisak isak.


"Lalu kenapa?nanti make up kamu luntur!kamu kan sudah sangat cantik,jadi jangan menangis ya!",Tio menghibur seperti kakak yang tidak ingin adiknya menangis.


"Aku teringat Erna,Ridho,Rina dan siapa ya...Vikanto itu",aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan barang berharga.


"Aku kira kamu sedih karena aku.Tidak apa apa Isna,mereka bersama Kakaknya,si Vincenzo itu. Tidak mungkin kakak yang sudah lama tidak bertemu dengan adiknya akan berbuat jahat,semoga saja dia akan lebih menyayangi adiknya dari sebelumnya",


kata kataTio begitu bijak,dia sudah dewasa kini. Tidak seperti dulu waktu kami masih SMA,dia memang sudah menjadi lelaki dewasa yang tumbuh dengan baik,walau dengan keadaan keluarganya yang seperti itu,tapi dia meyakinkanku untuk terus berada di sisinya. Akupun menghapus airmataku dan berhenti menangis.


"Tio, terimakasih untuk semuanya,hari ini aku sangat bahagia,dan kamu sudah memberikan hadiah yang begitu indah,terimakasih!",ku ucapkan setulus hati dari hati yang paling dalam.


"Sama sama,aku berharap kamu bisa bahagia,itu adalah do'aku yang selalu ku panjatkan untukmu",Tiopun terlihat sangat tulus. Aku jadi berpikir untuk menerima lamarannya.


"Sudah jangan menangis terus,ini adalah saatnya kamu berbahagia,jangan sampai kepalaku di jitak lagi karena make upmu yang luntur seperti waktu itu",Tio kembali mengingatkanku.


Aku tersenyum mendengar kata 'dijitak',karena itu menjadi kenangan yang indah sebelum Tio memintaku untuk menjadi pacarnya ketika kami di rumah sakit. Masa muda yang penuh kenangan.


Kamipun makan bersama dengan perasaan bebas. Tio memberiku semangat juga memberikanku kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.


Setelah selesai makan Tio masih memberikanku kejutan. Seorang pelayan toko membawa kue ulang tahun untukku. Dengan diiringi band,mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Akupun merasa senang sekali. Sayang adik adikku tidak hadir di sini,mungkin kami bisa saling menyuapi kue ulang tahun yang kini ada di hadapanku. Tio mengambil potongan kue yang sudah ada dan memberikannya padaku.


"Isna,coba cari sesuatu di dalam kue ini,ada apakah di dalamnya?",Tio memberikan tantangan padaku.


"Memangnya ada apa?",aku penasaran. Sesuatu itu ku cari dengan menggunakan sendok. Terasa ada sesuatu yang keras berbentuk cincin tersembunyi di dalam kue.


"Apakah sesuatu itu ini?",aku dengan polos bertanya sambil mengambil cincin itu.

__ADS_1


"Iya,itu adalah sesuatu yang ingin aku berikanpadamu dari dulu,sesuatu yang akan menyatukan kita.Isna,maukah kamu menikah denganku?",Tio langsung berlutut di depanku. Musik mulai mengalun,menambah riuh. Aku telah mengalami ini dua kali dengan sekarang. Pertama,ketika Mas Zein melamarku di hotel itu dan kini Tio yang melamarku untuk kedua kalinya. Haruskah ku jawab iya agar aku bahagia?aku sebenarnya takut,jika memberikan sepenuhnya hatiku,aku akan mengalami kehilangan yang begitu banyak. Sama seperti ketika Mas Zein meninggalkanku waktu itu. Aku masih takut.


"Isna,maukah kamu menikah denganku?",Tio kembali bertanya.


__ADS_2