Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Rasa bersalah


__ADS_3

"Memangnya kamu bisa menerimaku apa adanya?",aku bertanya pada Tio untuk meyakinkan diriku sendiri.


"Aku akan menerimamu apa adanya",Tio menjawab tanpa berpikir lama.


"Aku adalah orang miskin,adikku banyak,pekerjaanku adalah tukang siomay,seorang mantan napi,tidak cantik dan tidak pintar. Itu semua adalah kekuranganku,bisakah kamu menerimanya?",ku coba bertanya lebih detail.


"Itu semua bukan masalah bagiku,aku sudah tahu semua itu dari awal,kalau memang aku tidak menerimamu,untuk apa aku melamarmu?",Tio menjawab tanpa ragu.


"Baiklah,aku akan memutuskan untuk berkata .....ya,tapi aku belum siap untuk menikah,bagaimana kalau kita pacaran dulu?",ku beri Tio penawaran.


Tio langsung sujud syukur,sebegitu besarkah kamu berharap, Tio?.


"Alhamdulillah setelah sekian lama",Tio sambil mengusap mukanya.


"Kamu seperti lulus ujian saja sampai sujud syukur",aku sambil tersenyum.


"Karena ini adalah do'aku dari dulu,aku ingin jadi pacarmu",Tio dengan polos.


"Tio,aku tidak sempurna seperti yang kamu bayangkan,banyak sekali kekurangan yang aku miliki,malahan aku merasa aneh,kenapa kamu bisa menyukai orang sepertiku?",aku mengeluarkan semua unek unek.


"Tapi aku sangat suka padamu,hatiku berdegup kencang saat melihat atau bersamamu juga rasa rindu saat kamu tidak disampingku,dan itu tak ada hubungannya dengan semua kekurangan itu,aku tetap saja merasakan itu walau tahu kamu memiliki banyak kekurangan",Tio merasa senang.


"Kamu memang masih polos. Sekarang cincin ini ku pakai sebagai tanda kita sudah jadian,boleh kan?",ku tanya Tio.


"Oh,tentu saja boleh",Tio begitu terlihat bahagia sekali.


Terus terang,akupun merasakan apa yang Tio rasakan,hati berdebar dan rasa rindu jika kami tak bertemu,tapi masih ada ganjalan di hatiku yang belum sepenuhnya selesai. Akankah orang tua Tio merestui kami?itu adalah pertanyaan besar yang sudah pasti jawabannya. Mereka pasti akan menolakku,karena berbagai kejadian dan latar belakangku yang berbeda dengan keluarga Tio. Pasti akan sangat melelahkan untuk dapat pengakuan dari mereka. Butuh usaha yang super untuk meluluhkan hati orang tuanya,juga hatiku yang masih menyimpan rasa sakit. Sekarang harus bagaimana?ya sudah,akan ku ikuti arus kemana membawaku pergi.


Hari ini menjadi hari yang terindah dan takkan terlupakan. Aku dan Tio kini memiliki status,walau kami hanya sebatas pacaran tapi kini jelas aku bukanlah jomblo lagi. Ini adalah kado terbaik yang pernah ada.

__ADS_1


Pada pagi hari,ku awali dengan senyuman yang cerah secerah mentari hari ini. Kejadian semalam masih hangat terasa di pikiranku. Aku senyum senyum sendiri seperti orang gila sambil melihat cincin yang aku pakai. Walau bekerja sendiri,aku harus tetap semangat.


"Kring!!!kring!!!!",suara ponselku berbunyi. Ku lihat itu nomor baru. Lalu segera ku angkat. Rupanya Erna.


"Erna,bagaimana kabarmu dan adik adik ?",aku bertanya.


"Alhamdulillah ,Kak,kami baik baik saja. Kak Isna,maaf ya,Erna tidak bisa membantu",Erna dengan suara sedih.


"Apa kamu di sana mendapatkan pemaksaan?",aku khawatir.


"Tidak,tapi Erna merasa bosan karena tidak bisa bermain dan merasa terkurung di sini",Erna bercerita.


"Memangnya Edo tidak mengizinkan kalian bermain di luar?",aku penasaran.


"Iya,Kak Edo mempersiapkan semua fasilitas bermain untuk kami,dari mulai yang tradisional sampai yang modern,tapi kami merasa bosan,karena kami tidak boleh keluar",Erna berkeluh kesah.


"Tapi dia tidak kasar kan pada kalian?",aku terus menyelidiki.


"Alhamdulillah kalau begitu!",aku merasa tenang.


"Erna ingin mengingatkan Kak Isna untuk mengganti pesanan suami istri itu,yang pas Kak Isna tumpahkan,Kak Isna ingat?",Erna mengingatkan.


"Oh,iya,untung kamu mengingatkan,Kak Isna lupa,berarti harus segera di kirim ya?!".


"Iya,kita kan sudah janji!",Erna terus mengingatkan.


Kami mengobrol panjang lebar,seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu dan menceritakan tiap pengalaman yang kami alami. Kami mengobrol lebih dari satu jam.


Setelah ponsel ku tutup,aku teringat kata kata Erna untuk mengganti pesanan siomay suami istri yang ternyata adalah Sofia dan Mas Zein. Sebenarnya terasa berat untukku melangkah,tapi ketika ku lihat cincin yang melingkar di jari manisku,aku merasa ingin menyombongkannya di hadapan Mas Zein. Dia yang pergi begitu saja,meninggalkanku sendirian dalam sepi dan rasa bersalah. Aku memberanikan diri untuk menemuinya. Erna mengatakan dia sudah mengirim alamatnya. Segera ku buka ponselku dan ku lihat alamat itu. Ternyata alamat yang dikirimkan Isna adalah alamat kantor. Ku buka internet untuk mencari alamatnya dan rupanya itu adalah alamat kantor yang ada di depan tokoku. Aku tak menyangka ternyata kami sedekat ini.

__ADS_1


Ku persiapkan dua porsi siomay dan segera ku bawa menuju kantor itu. Ku tarik napas panjang seolah ingin bertarung dengan sesuatu,aku mempersiapkan diri agar aku siap berhadapan langsung dengan Mas Zein setelah beberapa tahun berlalu. Ku hampiri resepsionis dan menanyakan ruangan Mas Zein. Setelah mengetahui,aku segera pergi ke ruangan itu. Sebelum masuk,ku ketuk pintu terlebih dahulu. Dan ada respon dari dalam yang memintaku untuk masuk. Ku buka pintu lebar lebar dan hatiku begitu gugup,rasa takut yang bercampur dengan rasa penasaran,apa yang Mas Zein rasakan padaku?apa dia masih membenciku?masih adakah rasa suka di hatinya untukku?. Ketika pintu ku buka,Mas Zein belum menyadari kalau itu aku. Ku langkahkan kaki memasuki ruangan itu. Mas Zein masih terlihat sibuk dan berkonsentrasi pada pekerjaannya.


"Pak,ini dua porsi siomay dari Siomayku Sayang sebagai kompensasi yang waktu itu saya tumpahkan,mohon maaf dan selamat menikmati!",aku tidak banyak bicara dan memilih untuk segera pergi. Ketika aku berbalik dan ingin melangkah,Mas Zein melihatku.


"Silahkan duduk dulu!",Mas Zein mempersilahkanku untuk duduk.


Deg.......


Hatiku seperti ingin meledak. Badanku terasa panas. Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya,tapi ini semua harus ku hadapi.


Ku berbalik dan duduk di kursi sofa panjang yang tersedia di sana. Mas Zein bangun dari kursinya dan berpindah untuk duduk bersamaku di sofa. Kami saling berhadapan.


"Bagaimana kabarmu,Isna?",Mas Zein membuka percakapan.


"Saya baik baik saja!",dengan rasa gugup ku jawab pertanyaan itu.


"Saya ingin meminta maaf yang sebesar besarnya,karena telah salah sangka kepadamu. Setelah melihat video bukti itu,ada rasa bersalah yang begitu besar yang saya rasakan,maaf,maaf dan maaf. Saya telah meninggalkanmu sendirian dan tidak percaya padamu",Mas Zein terdengar menyesal.


"Saya sudah memaafkan Pak Zein dari dulu,dan saya senang ada bukti video itu. Itu bukti kalau saya tidak pernah berbohong",ku jawab dengan rasa puas.


"Saya sudah bersalah telah membuatmu menderita di penjara,apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua itu?",Mas Zein benar benar merasa bersalah.


"Tidak ada yang perlu Pak Zein lakukan,dengan kita saling memaafkan,itu sudah cukup bagi saya",aku sudah merasa tenang.


Tiba tiba Mas Zein menghampiriku sambil duduk di sampingku.


"Tapi hati ini masih merasa bersalah Isna,apa yang harus saya lakukan?",Mas Zein sambil mencoba memegang tanganku.Ku tarik tanganku agar tak menyentuhnya. Aku bergeser agar ada jarak antara kami. Tapi Mas Zein terus mendekat. Aku merasa kebingungan.


Dari luar terdengar langkah sepatu. Pintupun dengan kasar terbuka.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?!",Sofia tiba tiba muncul dari balik pintu sambil berteriak.


__ADS_2