
"Ki,boleh saya minta tolong?"
"Memangnya mau minta tolong apa Neng?"
"Minggu depan kelas tiga mau mengadakan bazar,Bu Nina memberikan tugas pada kami untuk menjual makanan yang kami buat sendiri,saya bingung mau membuat apa,lalu setelah makan siomay Aki saya jadi punya ide untuk membuat siomay saja lalu nanti menjualnya di bazar,bagaimana Ki?"
"Bagus,boleh Neng,Aki suka bingung kalau suatu hari nanti Aki meninggal,siapa yang akan meneruskan usaha Aki ini,sedangkan Aki hanya sebatangkara di dunia ini,si Nini udah meninggal,Aki juga tidak punya keturunan,punya anak angkat malah lupa sama Aki,tidak pernah menengok sekalipun setelah dia sukses. Kalau Neng meneruskan resep siomay ini,Aki merasa senang",
"Aki kan masih punya saya,walau kita tidak ada hubungan darah,tapi saya sudah menganggap Aki adalah kakek saya"
"Alhamdulillah Neng,Aki masih dianggap sebagai orang tua oleh Neng,jangan lupa do'akan Aki ketika saat nanti sudah tiada lagi di dunia,hanya itu yang Aki harapkan,do'a anak sholeh yang akan terus mengalir meski sudah tiada",
"Mudah mudahan Aki panjang umur,saya selalu mendo'akan supaya Aki sehat dan bahagia,dimudahkan rezekinya"
"Terimakasih Neng,Aki sangat senang sekali mendengarnya",Ki somad sembari meneteskan air mata.
"Sama sama Ki,Aki juga terimakasih karena selama ini selalu berbuat baik pada saya".
Kami berdua seperti cucu dan kakek yang saling menguatkan di tengah kesulitan hidup yang kami rasakan.
"Ya sudah Neng,kita tidak boleh bersedih,Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Eh,iya tentang cara membuat siomay,besok Aki akan mengajarkan Neng bagaimana membuat siomay juga bahan bahan nanti Aki siapkan,sesudah pulang sekolah bisa?"
"Iya Ki,tapi saya tidak bisa lama lama,ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan"
"Tidak apa apa,masih seminggu lagi kan?!"
"Iya,Ki"
"Kalau begitu saya pulang dulu ya Ki"
"Oh,iya,hati hati di jalan"
"Iya,Ki,assalamu'alaikum!",aku sembari mencium tangan Aki.
"Wa'alaikum salam",jawab Aki Somad.
Aku segera pulang dengan naik angkot. Pekerjaan rumahku masih banyak,dari sekolah juga di rumah Tuan alias Mas Zein.Aku tidak enak kalau harus mengandalkan yang lain untuk menyelesaikan pekerjaanku.
Setelah sampai aku segera mengerjakan tanggung jawabku sebagai asisten rumah tangga di rumah Mas Zein.Walaupun pekerjaan ini banyak dipandang sebelah mata,tapi aku bersyukur karena bisa melunasi hutang dengan rentang waktu tak terbatas,tidak seperti ketika aku berhutang pada rentenir itu.
"Isna,tolong antarkan obat ini ke kamar Tuan ya,saya tidak kuat mau ke kamar mandi",Mba Tina sambil berlari setelah memberikan obat.
"Memangnya Tuan sakit?"
__ADS_1
"Iya",dari kejauhan Mba Tina menjawab.
Oh,ternyata Mas Zein sakit,pantesan tadi tidak terlihat di sekolah,padahal aku ingin dia melihat ketika aku memakai baju pemberiannya.
Aku mengetuk pintu dulu sebelum masuk.Tapi tidak ada jawaban.Tanpa di minta masuk aku segera ke dalam takut Mas Zein pingsan.
"Tuan?!",ku panggil masih tak ada jawaban. Ku cari di kasurnya,ternyata Mas Zein sedang menggigil kedinginan bersembunyi di dalam selimut.
"Tuan kedinginan?",ku buka selimut dan ku pegang jidatnya,sangat panas. Aku berinisiatif untuk mengambil air hangat dan kain untuk mengompres. Segera ku simpan kain kompresan di jidatnya.
"Tuan sudah makan?"
"Panggil saja Mas Zein"
"I..iya Mas Zein",dengan suara pelan ku ucapkan,takut ketahuan yang lain.
"Sudah makan apa belum?"
"Belum,tadinya mau makan siang,tapi malah pusing dan menggigil"
"Saya ambil makanan dulu dari dapur,nanti setelah makan Mas Zein minum obat ya",Mas Zein terlihat mengangguk. Aku segera mengambil makanan dan kembali ke kamar.
"Mas,makan dulu,saya suapin",Mas Zein hanya diam pasrah tak berdaya,dia membuka mulutnya ketika ku minta. Sedikit saja makanan yang masuk ke perutnya.Serasa sedih,tapi juga senang. Aku seperti istri yang merawat suaminya ketika dia sakit,walau pada kenyataannya kami adalah pembantu dan majikan.
Setelah makan,segera ku beri obat agar lekas membaik. Mas Zein tertidur setelah ku beri obat. Ku pandangi wajahnya yang kemerahan karena demam. Sungguh senang dapat merawat Mas Zein. Sekali lagi
Drrrrrrt
Suara Hp bergetar. Tak sengaja ku lihat WA yang baru saja sampai.
'Mas,masih pusing?maaf tadi tidak bisa mengantar ke rumah. Kalau sudah enakan telpon saya ya!saya tunggu'.
Siapa kira kira ya?apa Mas Zein sudah punya pacar?deg...hatiku seperti panas.
Aku segera keluar menuju dapur. Ku coba dinginkan rasa panas ini dengan es krim rasa coklat yang ku beli kemarin. Sengaja ku sembunyikan di kulkas bagian dalam agar tidak diambil yang lain. Soalnya setiap ku beli es krim ini selalu hilang entah ke mana. Sudah aku coba mencari pelakunya,tetapi belum ketemu.
"Ya...h,kemana es krimnya?kok bisa hilang lagi?ini tidak boleh dibiarkan,aku harus segera mencari pelakunya!",dengan cepat aku bertanya pada yang lain,tapi tidak satupun dari mereka yang mengaku. Apa yang harus ku lakukan untuk menemukan pelaku pencuri es krim?ini semua malah membuat aku tambah panas.
Panas panas panas hati ini
Pusing pusing pusing kepala ini
Keesokan harinya,sepulang sekolah.....
__ADS_1
"Pak,ini bagaimana membuatnya?"
"Oh,begini caranya Neng",Aki Somad dengan sabar mengajariku mencetak siomay.
"Kalau kolnya bagaimana dibentuknya,Ki?",aku terlihat masih bingung.
"Begini Neng caranya",Aki mulai menggulung kol yang ada didepannya. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
"Terus tahunya di potong dua,lalu di belah tengahnya sedikit,jangan lupa masukan adonan sedikit ke dalamnya",Ki Somad mengajariku cara mengisi tahu putih.
Begitu melelahkan,padahal kami berdua. Aku kasihan pada Ki Somad,dia melakukan segalanya sendiri tanpa ada yang membantu. Memang hebat Ki Somad ini.
"Neng,coba lihat hasilnya,bagaimana?",Aki Somad sambil membuka panci.
"Hmmmm,harum ikan,ini ikan apa Ki?"
"Ini ikan tenggiri,wangi kan?"
"Iya,wangi sekali,jadi lapar Ki,boleh dimakan tidak Ki?",aku sambil nyengir.
"Iya,dicicipi rasanya bagaimana?"
"Wah,mantul siomaynya,mantap betul",ku acungkan jempolku.
"Bagaimana,bisa tidak membuat siomaynya?"
"Bisa kalau ada Aki,saya masih bingung"
"Bingung apanya?"
"Bingung berapa takaran adonan juga campuran bumbu kacangnya masih suka lupa"
"Tidak apa apa,lama lama juga terbiasa,bingung karena baru pertama,kalau sering membuat nanti hapal sendiri"
"Saya ke toilet dulu ya Ki?!"
"Iya,Aki mau beres beres dulu"
"Nanti saya bantu Ki",aku sambil berlari ke toliet.
Setelah dari kamar mandi,aku
segera kembali menuju gerobak Aki yang ada di depan sekolah di pinggir jalan. Ketika hampir sampai kulihat mobil hitam melaju tanpa arah. Seolah dikendarai oleh orang yang mabuk,mobil itu tak beraturan. Tiba tiba ku lihat mobil itu menuju gerobak siomay dengan Aki yang sedang berada di sana tanpa menyadari ada mobil melaju ke arahnya. Dengan cepat mobil itu menabrak gerobak juga Aki.
__ADS_1
"Tidaaak!!!!!",tanpa terasa aku berteriak,orang orang yang menyaksikanpun menjerit,melihat pemandangan yang menyedihkan terpampang nyata di depan mata. Aki Somad terpental 2 meter dari tempatnya berada. Gerobaknya terlihat rusak sebagian,dagangannya juga berserakan. Mobil hitam terlihat bopeng di bagian samping depan,dengan mesin mengeluarkan asap. Selang beberapa menit,terdengar suara mobil dihidupkan kembali dan segera melaju walau berada di kerumunan.
Masa mulai marah dan mengejar mobil hitam yang kabur itu. Aku berlari mencari tubuh Aki. Terlihat Aki terlentang dengan darah segar mengalir dari kepalanya. Aku menangis,sekujur tubuhku bergetar tak percaya dengan apa yang terjadi.