
Berita tentang penculikan itu tersebar luas di masyarakat,terutama di lingkungan sekolah. Berita di TV pun meliputnya. Polisi meminta keterangan dari Isna. Sepertinya dia akan sedikit lama di rumah sakit. Aku ingin memberikan hadiah untuknya. Agar aku tak kesulitan jika ingin menghubunginya,sengaja ku belikan HP. Ku pilih yang berwarna putih. Aku berharap Isna senang dengan hadiah yang kuberikan.
Aku sudah tiba di rumah sakit. Aku besuk sendiri,supaya tidak malu saat memberikan kado ini.
Saat berada di pintu masuk ke kamar Isna,aku melihat ada Pak Zein sedang menyerahkan hadiah. Aku tak tahu apa yang dia berikan. Dengan wajah ceria Isna segera membuka hadiah berwarna pink dengan pita ungu. Ternyata isinya adalah HP berwarna pink.
Deg....
Hatiku merasakan sakit. Kenapa ya?padahal Isna bukanlah seseorang yang penting bagiku. Ada apa antara Isna dan Pak Zein?apa benar mereka pacaran?.Hatiku seperti terbelah dua. Tidak...aku tidak boleh menyukai Isna. Aku harus bersikap biasa saja. Lalu bagaimana dengan kado ini?lebih baik aku pulang saja.
"Nak Tio,kenapa kenapa melamun di depan pintu?ayo masuk!",Bibi Isna mengajakku masuk.
"Oh,i...iya",aku masuk dengan terpaksa.
"Tio,aku sudah menunggumu",Isna sumringah melihatku datang membesuknya. Itu membuatku sedikit lega,karena ternyata dia masih menginginkan kehadiranku.
"Kalau begitu,Mas pulang dulu ya,ada rapat di kantor!",Pak Zein meminta izin untuk pulang. Tapi ada kata yang sedikit kurang enak di telingaku,'Mas'?!sejak kapan Pak Zein memanggil dirinya Mas?aku hanya bisa tersenyum kaku saat dia berlalu.
"Bagaimana keadaan kamu Isna?sudah lebih baik?",aku mencoba melelehkan suasana hatiku.
"Alhamdulillah sekarang lumayan lebih baik daripada kemarin",Isna dengan tersenyum.
Aku tidak bisa melihat senyuman itu terlalu lama,segera ku alihkan pandanganku ke arah lain.
"Oh,bagus lah",ku jawab dengan senyuman tipis.
"Kamu kok kelihatan lemes,pasti belum makan siomay ya?",Isna bercanda.
"Kamu tahu aja,kemarin aku tidak kebagian siomay,makanya lemes he...he...",ku ikuti alur ke mana membawaku pergi.
"Kalau begitu nanti kalau aku sudah pulang dari rumah sakit aku akan membuatkanmu siomay yang enak",
__ADS_1
"Asyik akhirnya aku bisa makan siomay!",aku dengan nada lemas.
"Nak Tio kok kelihatan lemas,sudah makan belum?",Bibi Isna tiba tiba datang.
"Saya sudah makan,cuma agak kecapean karena belum istirahat,tadi pulang sekolah langsung ke sini",aku mencari cari alasan.
Makin lama bersama Isna makin membuatku sedih dan tak bersemangat. Pada awalnya banyak yang ingin ku bicarakan dengan Isna termasuk memberikannya hadiah ini,tapi semuanya buyar setelah ku lihat Pak Zein memberikannya hadiah yang sama.
"Oh,kalau begitu aku pulang dulu ya!oh,iya,aku lupa uang jualan kemarin ketinggalan di rumah,mungkin besok aku kesini lagi",aku ingin segera pulang.
"Itu juga yang ingin aku bahas sama kamu,bagaimana kalau nanti aku sembuh kita bekerja sama untuk membuat usaha?uang yang kita dapatkan dari bazar kita jadikan modal,kamu mau?",Isna menjelaskan sambil menatapku.
"Oh,tentu saja aku mau,itu ide yang bagus",aku jadi bersemangat lagi,itu artinya aku akan sering bertemu dengan Isna.
"Bagus kalau kamu mau,nanti kita bicarakan lagi lebih lanjut kalau aku sudah pulang dari rumah sakit".
"Ok,aku pulang dulu ya,ayahku sebenarnya sudah menelepon dari tadi memintaku untuk segera pulang ke rumah",aku kembali mencari alasan untuk pulang.
Sekejap ku terdiam sambil melihat HP itu,tapi segera ku ambil dan ku tulis nomorku di sana.
"Cie cie punya HP baru nih ye!",aku pura pura tidak tahu.
"Terimakasih ya sudah datang ke sini,lain kali bawakan aku buah buahan ya",Isna menyindirku yang tak membawa apapun.
"Oh,iya jadi malu aku kan tidak bawa apa apa",aku tersenyum karena memang aku benar benar lupa membawa sesuatu.
"Isna hanya bercanda Nak Tio,jangan dianggap serius,sudah bisa menengok Isna disini pun sudah cukup,terimakasih!",Bibinya Isna memang bijaksana.
"Ih,Isna serius,Bi,eh,tidak deh bercanda",Isna sambil memandangku.
"Ya sudah,lain kali aku akan membawakanmu buah buahan yang banyak!",aku dengan tersenyum.
__ADS_1
Akupun berpamitan kembali untuk pulang.
Walau ada saat sedih akibat kejadian tadi,tapi aku senang bisa bertemu Isna. Ketika akan turun ke parkiran,tiba tiba Hp ku berbunyi. Lagu Afgan dengan judul 'kalau jodoh pasti bertemu' menjadi lagu setingan ketika ada panggilan dari luar. Ku lihat itu dari bodyguardku,Alex. Segera ku angkat.
"Ada apa, Alex?",
"Tuan muda,segera datang ke rumah,Tuan Besar marah saat tahu saya tidak ada di samping Tuan!kalau begini terus bisa bisa saya dipecat",Alex dengan nada kesal.
Alex adalah bodyguardku,sebenarnya umurnya hanya berbeda 4 tahun denganku,tapi wajahnya begitu baby face sehingga kami seperti seumuran.
"Ok",aku menjawab dengan singkat.
Segera aku meluncur dengan cepat untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,aku segera menemui ayahku. Terlihat wajahnya yang kesal.
"Tio,kamu tidak boleh pergi kemanapun tanpa Alex,kamu itu bukan orang sembarangan yang bisa pergi kemana saja tanpa penjagaan seseorang,ayah itu orang kaya,musuh ayah juga banyak,mereka menjadi musuh ayah karena mereka iri dan ingin menjatuhkan ayah. Ayah tidak mau kejadian 2 tahun terjadi lagi.Makanya jangan kabur dan mencoba pergi sendiri,kalau tidak ayah ambil semua fasilitas yang ayah beri padamu!",ayah dengan panjang lebar dan diakhiri dengan ancaman.
"Tapi yah..."aku mencoba menolak pendapat ayah.
"Sudah jangan membantah!",ayah sambil berlalu.
Akhirnya Alex kembali menempel padaku. Sebenarnya aku tidak suka harus terus dijaga oleh seseorang. Seperti anak kecil,lagi pula akan terlalu mencolok ketika aku hadir di depan orang orang dengan di dampingi seorang bodyguard. Isna juga akan aneh kalau Alex selalu ada di sampingku.
"Alex,aku mau tidur dulu ya",
"Jangan kabur ya,Tuan muda!!!",Alex dengan tatapan tajam.
"Memangnya aku mau kabur kemana?",aku sambil tersenyum melelehkan suasana. Alex tidak menjawab hanya memandangku dengan tatapannya. Akupun segera masuk ke kamarku yang nyaman. sambil memikirkan Isna. Aku tak habis pikir,bisa bisanya Pak Zein memanggil dirinya dengan panggilan mas. Aku harus menyelidikinya,kalau tidak aku tidak akan tenang. Saat ini aku hanya akan menunggu telepon dari Isna.
Aku adalah seorang anak dari ayah yang memiliki perusahaan besar,orang bilang seorang konglomerat. Tapi aku tidak suka orang orang mengetahui siapa ayahku. Perlakuan mereka akan penuh dengan kebohongan,karena hanya akan memandang materi. Sering sekali ketika aku berteman dengan seseorang tingkah laku mereka berbeda di depan dan di belakangku. Makanya aku pindah sekolah dan ingin mencari suasana baru,juga ingin mencari teman yang benar benar tulus berteman denganku tanpa memandang kekayaan. Dan akhirnya aku bertemu dengan Isna,seorang gadis tangguh yang jarang sekali ada gadis seperti dirinya. Tapi lama kelamaan aku jadi suka dan merasa senang saat bersama Isna,mungkinkah kalau aku suka dengan Isna?apakah rasa kecewa yang ada dalam hatiku itu di sebabkan rasa cemburu?
__ADS_1