
"Sebenarnya kamu kemana selama ini?",aku penasaran dengan Edo.
"Aku bertahan hidup di jalanan,dan akhirnya diselamatkan oleh seorang preman,dia mengurusku dan menjadikanku seperti ini",Edo bercerita.
"Kak,kenapa Kakak tidak pulang ke rumah?kami sangat rindu pada Kakak",Rina ikut bertanya.
"Kakak,ingin pulang setelah menjadi orang sukses,ini semua untuk ibu,tapi........",Edo menangis.
"Kami mencari Kakak kemana mana",Rina sambil menangis.
"Makanya sekarang kalian ikut Kakak ya!",Edo mengajak semua adiknya.
"Apa maksudmu,Edo?",aku tidak setuju.
"Vincenzo!",dia menyebut nama barunya.
"Vikanto",ku coba,menyebut nama baru itu.
"Vincenzo!",dia mengulang lagi.
"Vikaso!ah,sudah lah siapapun namamu,aku tidak setuju!".
"Aku sudah jadi orang kaya,mereka tidak usah bekerja di tempat seperti ini,membuang buang waktu saja,kalau mereka ikut denganku,mereka hanya sekolah dan bersantai tanpa perlu menderita lagi!",Edo merasa sombong.
"Edo,kamu tega pada Kakakmu ini?,aku tidak percaya.
"Sudah ku bilang Edo sudah tidak ada lagi di dunia ini,namaku sekarang Vincenzo,berhentilah memanggilku Edo!".
"Kamu sudah berubah,Vi...Vi...Vikaso!",aku dengan susah payah menyebut nama baru itu.
"Menyebut namaku saja sudah susah,apalagi membahagiakan mereka,kalau Kakak ingin menderita jangan bawa bawa mereka!",Edo makin sombong.
"Kak,kami mau bersama Kak Isna!!!",Erna menolak ikut.
"Pokoknya kalian ikut Kakak,setuju atau tidak,kalian akan bahagia bersama kakak,Vincenzo,tanpa perlu memikirkan uang!bawa mereka ke mobil",Edo alias Vincenzo menyuruh para premannya untuk membawa adik adikku.
Tiba tiba Tio menghalangi Edo.
"Siapa kamu?aku tidak punya urusan denganmu!",Edo menyingkirkan tubuh Tio sampai terjatuh.
"Kamu ingin menjadi adik dan kakak yang kejam?",Tio bertanya pada Edo.
"Kamu tahu apa tentang aku,pergi dari sini!",Edo dengan suara yang meninggi.
__ADS_1
Para preman yang merupakan anak buah Edo segera memegang Tio sampai tak berkutik.
"Ibu tidak akan senang jika tahu kamu berbuat seperti ini",ku peringatkan Edo.
"Ibu sudah tiada,aku ingin menjadi kakak yang baik bagi adik adikku,jadi Kak Isna jangan menghalangi,lagi pula aku tidak akan meminta bayaran untuk uang keamanan jika Kak Isna membiarkan aku membawa mereka".
Erna,Ridho dan Rina memberontak,tapi tak bisa,para preman itu memang bertenaga kuat sehingga mereka tidak bisa melepaskan diri.
"Tolong,jangan bawa mereka,Kak Isna nanti sendirian,mereka adalah teman sekaligus penyemangat Kakak,Kakak mohon!",aku memohon berharap Edo mengasihani.
"Aku ingin Kak Isna merasakan bagaimana rasanya sendiri!",Edo tanpa senyum.
"Jadi,kamu masih marah sama Kakak?kalau begitu maafkan Kak Isna,jangan bawa mereka!",aku terus memohon.
"Aku memang masih marah pada Kakak,karena tamparan itu,jadi jangan terus memohon,aku tidak akan perduli".
Aku menarik napas,kalau tidak ada yang mengalah tidak akan ada habisnya.
"Baiklah,ku biarkan kalian pergi,jaga adik adikmu dengan baik,kalau sampai mereka diperlakukan dengan buruk,aku takkan melepaskanmu!",aku mengalah,untuk menang.
Edo alias Vincenzo segera pergi dan menghilang. Tersisa kami berdua,aku dan Tio. Sambil memandang bunga bunga itu,aku memikirkan apa yang sedang terjadi.
"Isna,kamu baik baik saja?",Tio khawatir denganku.
"Kamu bisa meminjam bahuku!",Tio kasihan melihatku yang seorang diri.
"Bukan muhrim",aku tanpa ekspresi.
"Makanya,agar halal,maukah kamu menikah denganku?",Tio nekad melamar di saat seperti ini.
Aku menangis sambil tertawa,dan terus mengeluarkan airmata,seperti orang gila,aku tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.
"Agar kamu tidak sendirian dan punya teman,aku akan selalu ada di sisimu dalam susah dan senang",Tio berkata serius.
Tak ku pedulikan kata kata Tio,pikiranku masih bercabang. Terlalu banyak hal yang ku pikirkan. Aku belum berani menjawab,Tio memang sudah membuktikan kata katanya dengan selalu ada kapanpun ku butuhkan. Disaat semua orang tidak percaya termasuk Mas Zein,Tio hadir sebagai pelindungku. Aku hanya bisa menunduk sambil duduk di lantai dingin,saksi bisu perpisahan antara aku dan adik adikku. Aku tidak tahu apa Edo akan mengizinkanku kalau aku ingin bertemu mereka?kalau tidak,aku menyesal telah menyerah dengan mudah.
"Isna,maaf kalau aku malah membuat kamu jadi tambah pusing,aku simpan kata kata tadi nanti di saat waktu yang tepat,aku akan menunggu jawabanmu,kita duduk di kursi!",Tio menyadari dinginnya lantai yang ku duduki.
Dia memapahku menuju kursi.
"Isna,aku akan membantumu,kalau bisa akan ku kerahkan semua orang orangku untuk membantumu,tidak usah khawatir,aku akan selalu di sampingmu!",Tio meyakinkan kalau aku masih memiliki teman yang akan membantu.
Tiba tiba datang seorang ibu yang menggendong anaknya.
__ADS_1
"Ada siomay?",ibu itu bertanya .
"Maaf,Bu,kita sepertinya......."Tio ingin menolak pesanan.
"Ada,Bu,sebentar saya siapkan dulu,mungkin sedikit lama,tidak apa apa?",ku usap air mata dan melebarkan senyum di wajahku.
"Tidak apa apa,saya tunggu,dari kemarin saya mau beli siomay di sini,tapi keburu habis!",ibu itu bercerita.
Iya,inilah yang harus ku perjuangkan juga,para pelanggan di"Siomayku sayang",mereka juga berhak mendapatkan siomay yang enak dan itu adalah tanggung jawabku sebagai tukang siomay yang juga membutuhkan mereka. Aku tidak boleh menyerah begitu saja,justru hal ini harus menjadi alat untuk memacu semangatku agar terus berkobar dan menjadi pribadi yang kuat. 'Semangat untuk diriku sendiri!!!!',ku bersorak dalam hati untuk diriku sendiri.
Melihat semangatku tumbuh,Tiopun segera membantu,dengan merapikan kursi yang tadi berantakan,juga merapikan bunga bunga yang tersebar di seluruh toko. Dia pasti bertanya dalam hatinya tentang pengirim semua bunga dan ucapan selamat ulang tahun itu.
"Isna,boleh ku copot ucapan selamat ulang tahun ini juga bunga bunganya ku simpan di belakang?",Tio meminta izinku. Aku mengangguk.
"Terimakasih Tio,terimakasih untuk semuanya!",aku berkata dengan sungguh sungguh.
Para pelanggan di 'Siomayku Sayang', mulai berdatangan satu persatu,mereka terus menunggu walau pesanan agak tersendat karena kami hanya berdua. Tio masih menyempatkan diri untuk terus menemani dan membantuku di sela sela kesibukannya. Ada banyak hal yang dia korbankan untukku,aku baru menyadari betapa berharganya dia. Haruskah aku menjawab 'iya' untuk pertanyaannya?.
Setelah pelanggan tidak terlalu banyak,aku membuatkan teh manis untuknya.
"Tio,minumlah selagi hangat!",aku sambil memberikan minuman yang baru saja ku buat.
"Oh,tumben,apa ini tanda lampu hijau untukku?",Tio dengan terus terang.
"Kamu jangan kegeeran,aku hanya kasihan melihatmu belum minum dari tadi",aku menyembunyikan perasaanku.
"Oh,jadi begitu",Tio seperti sudah mengerti.
Dia segera meminum teh manis yang ku buat.
"Teh ini rasanya manis,apalagi setelah melihat kamu Isna,jadi lebih manis",Tio berusaha gombal di depanku.
"Ah,kamu lebay!",sambil ku lempar kain. Tapi malah kain itu membuat gelas yang dipegang Tio jatuh dan airnya tumpah ke bajunya.
"Aduh,panas!!",Tio kesakitan.
"Oh,maaf!!",aku segera mengambil kain yang lain untuk mengelap bajunya yang basah. Aku tidak menyadari kalau Tio memperhatikanku. Saat sadar,aku segera berhenti. Hatiku berdegup kencang tak karuan.
"Ini,kamu saja yang mengelapnya!",ku berikan segera kain itu ke tangannya sambil bertingkah canggung.
"Seharusnya kamu yang mengelapnya,kamu kan yang menyebabkan bajuku basah,tanggung jawab dong!",Tio terlihat kesal.
Aku segera pergi ke ruangan depan,dan pura pura sibuk sendiri. Ku pegang dadaku yang terasa mau meledak. Aku tidak tahu apakah ini cinta?hatiku masih belum memberikan kebebasan pada Tio untuk memiliki hatiku,karena ada banyak hal yang menghalangiku untuk menyukainya,termasuk orang tuanya juga kejadian itu.
__ADS_1