Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Merebut perhatian


__ADS_3

Menikmati indahnya pemandangan saat matahari terbenam sungguh indah. Apalagi di temani orang orang yang kita sayangi. Berada di antara para Miss dan Mas Zein adalah kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi jika semua adik juga bibiku ikut,lengkap sudah,termasuk Edo. Mas Zein kini bisa bernapas lega karena adiknya sudah dapat ditemukan. Sedangkan aku masih berharap adikku dapat ditemukan. Edo kini sedang apa?apakah dia sudah makan?apakah dia berada di tempat yang aman?. Mengingat Edo membuatku ingin berteriak sekencang kencangnya,membuang segala beban dan membuatku sedikit ringan.


Angin malam di pantai membuatku kedinginan,aku lupa tidak membawa baju hangat ketika keluar tadi. Ingin ke kamar tapi malas. Rossana terlihat berada di dekat kakaknya. Mas Zein memberinya selimut tipis untuk menghangatkan. Senangnya,jika aku jadi Rossana,ada kakak yang memperhatikanku. Ku gosok gosokkan tanganku dan ku silangkan di dadaku. Rasa dinginnya sudah tidak tertahan. Mas Zein terlihat memperhatikanku.


"Ini,pakailah!",tiba tiba Mas Zein membuka mantelnya dan memberikannya padaku.


"Tidak usah,Pak,nanti malah Pak Zein yang kedinginan",ku tolak tawarannya.


"Sudah,pakailah!",Mas Zein menyelimutiku dengan mantelnya.


"Cie cie!",Miss Vera berkata sambil berbisik.


Rossana menyadari perlakuan kakaknya padaku. Dia terlihat sinis saat tahu aku diberi perhatian lebih oleh kakaknya.


Saatnya untuk makan malam,kami segera pulang ke hotel dan akan makan bersama di restoran yang ada di sana. Meja tertata dengan rapi,satu meja terdiri dari 4 kursi. Aku,Rossana,Mas Zein dan Miss Vera duduk satu meja,sedangkan Miss yang lain dan Pak Yanto di meja sebelah kami. Segalanya baru untukku,maklum aku adalah orang yang tidak memiliki uang untuk pergi ke tempat tempat seperti ini. Makanya tiap menemukan berbagai kemewahan,aku hanya bisa terus takjub karena baru pertama kali melihatnya. Kamipun memesan makanan sesuai selera masing masing. Sambil menunggu pesanan tiba,ku pandangi kaca yang tembus pandang ke luar. Pemandangan pantai dengan hiruk pikuk orang yang lalu lalang dengan berbagai aktivitas mereka sendiri sendiri,terlihat di mataku. Tak sengaja mataku dan mata Mas Zein beradu pandang,kamipun langsung tersenyum,walau terasa canggung karena malu. Dag dig dug hati ini dibuatnya.Ku lirik orang di sebelahnya,yaitu adiknya,Rossana,ternyata sedang menatapku dengan tatapan sinis. Rupanya dia memperhatikan gerak gerikku dan Mas Zein dan dari raut wajahnya terlihat dia kurang menyukaiku. Ku beri dia senyuman,tapi dia malah membuang muka.


"Kak,Rossa mau makanan ini juga dong!",Rossana berbicara dengan nada manja.


"Boleh,pesan saja",Mas Zein sambil memanggil pelayan. Tak lupa Mas Zein menawariku dan Miss yang lain,takutnya masih ingin memesan makanan yang lain. Dengan wajah cemberut Rossana terus memandangku.


"Kak,Rossa mau mantel yang dipakai pembantu itu dong!yang ini tipis jadi masih dingin",dengan suara keras dia berbicara. Semua mata tertuju pada Rossana,baru kali ini gadis itu banyak bicara dan sekalinya berbicara membuat orang orang di sekelilingnya kesal. Segera ku buka mantel yang dipakaikan Mas Zein di pantai tadi,dan ku berikan pada Rossana.


"Ini,saya sudah tidak kedinginan lagi!",ku berikan mantel itu padanya.

__ADS_1


"Rossana,nanti kakak ambil mantel kakak yang satunya,yang itu buat Isna saja",Mas Zein sambil memberikan kembali mantelnya.


"Tidak mau,Rossa maunya yang ini!",Rossa terlihat seperti anak kecil yang merengek meminta barang yang dipegang temannya.


"Tidak apa apa,Pak,ini dipakai oleh Rossana saja,saya sudah tidak kedinginan",lebih baik aku yang mengalah,tidak enak rasanya mendapat perhatian dari kakak seseorang yang adiknya kurang suka terhadap kita.


"Benar kamu sudah tidak dingin lagi?",Mas Zein bertanya untuk memastikan.


"Iya,Pak!",aku sambil mengangguk.


Terlihat Rossana tersenyum puas ketika mantel itu dipakai olehnya.


Makanan pesanan kami,sudah tersedia di meja masing masing. Kamipun siap menyantap makanan. Perutku sebenarnya sudah keroncongan dari tadi,cuma ku tahan. Mas Zein memberikan daging untuk adiknya. Rossana terlihat sumringah mengetahui itu. Mas Zein pun memberikan daging padaku dan Miss Vera. Seketika wajah Rossana berubah,seperti tidak ingin perhatian kakaknya diambil oleh orang lain.


"Rossa,mereka adalah keluarga kita,tidak boleh kita membeda bedakan mereka. Kakak ingin kita tetap berada di meja ini",Mas Zein berbicara dengan tegas.


"Ya sudah,Rossa tidak mau makan,mending Rossa ke kamar saja!",Rossana marah,karena kakaknya seperti membela kami. Diapun pergi dengan wajah yang kesal.


Mas Zein hanya menghela napas dan akhirnya mengejar adiknya,tapi sebelumnya dia mempersilahkan kami makan. Kami makan dengan perasaan tidak enak,ternyata sifat Rossana tidak sama seperti kakaknya yang begitu sopan dan ramah serta selalu menghargai orang lain.


"Rossana,kok bisa bisanya berbeda dengan kakaknya,selama ini Pak Zein selalu menganggap kita keluarga dan tidak pernah menyebut kita pembantu",Miss Vera mengungkapkan kekesalannya.


"Aku juga merasa kesal ketika dia menyebut kita pembantu,walau sebenarnya kita memang pembantu",Miss Valencia menambahkan.

__ADS_1


"Tapi,sudahlah lebih baik kita makan dulu,agar energi kita terisi!",Miss Tuti memberi saran.


Kamipun melanjutkan makan.


Saat akan di kamar,aku teringat kejadian tadi dan hal itu membuatku sedih. Sepertinya Rossana tidak akan memberikan izin jika tahu bahwa kakaknya menyukaiku. Aku memang tidak pantas untuk Mas Zein,tapi hati ini tetap saja ingin Mas Zein. Sempat hatiku berpaling pada Tio. Tapi karena kejadian itu,hatiku kembali memilih Mas Zein. Tio sebenarnya juga baik,hanya saja orang tuanya yang membuatku tidak suka.


Malam itu,aku dan Mba Wulan tertidur lelap. Mungkin karena kelelahan. Besok semoga lebih menyenangkan.


Keesokan harinya.....


Kami berencana akan bermain banana boat hari ini. Aku sangat senang sekali karena ini pengalaman pertamaku menaiki banana boat. Seperti anak kecil yang akan diajak naik odong odong,seperti itulah perasaanku,bahagia sekali. Mungkin orang akan berkata kalau aku itu 'norak',tapi begitulah ini memang yang pertama bagiku.


Kami semua sudah siap dengan pelampung kami. Para pemandupun memberitahukan kami tata cara permainan ini. Kami memilih untuk bermain dengan 2 banana boat. Kebetulan Rossana duduk dibelakangku. Tumben hari ini dia tersenyum padaku,sambil memberikan pelampung yang akan kupakai.


Kamipun masing masing sudah naik di banana boat. Aku sudah tidak sabar untuk merasakan sensasi banana boat yang akan ditarik speed boat. Rossana pun terlihat excited sepertiku,dia lebih ceria dari semalam.


"Kak,beritahu pada guidenya kalau kita ingin dia membalikkan banana boatnya,biar seru!!",Rossana berpesan pada Mas Zein.


"Ok!!",Mas Zein setuju.


Akupun tidak keberatan. Toh aku memakai pelampung,walaupun aku tidak bisa berenang,pastinya aku akan mengambang karena pelampung yang ku pakai.


Dengan pandangan yang tidak biasa dia melihat ke arahku. Seperti artis dalam sinetron yang seolah olah berkata 'tunggu saja pembalasanku!!' sambil tersenyum. Tapi ku tepis semua itu,baguslah kalau akhirnya dia tersenyum padaku,walau terkesan aneh.

__ADS_1


Banana boat mulai ditarik. Kami semua teriak. Ditengah tengah permainan,guide membalikkan perahu. Kami langsung jatuh ke laut. Aku berteriak karena merasa senang. Tapi setelah terjatuh ke air laut,rupanya aku tidak mengambang. Aku merasa tubuhku terus masuk ke air. Apa yang terjadi?apakah pelampungku rusak?ottoke?


__ADS_2