
Hari ini jadwalku penuh. Zaidan terus mengekor sambil memberitahukan jadwal kegiatanku. Melelahkan,tapi aku suka,daripada harus berdiam diri di rumah,pikiranku sering memikirkan tentang Rossana,satu satunya adikku yang masih belum terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Pak,hari ini kita ada acara bazar di sekolah",Sekretarisku memberitahukan jadwal selanjutnya untuk hari ini.
"Mulai jam berapa?",Zein sambil melihat jamnya.
"Mulai dari jam 8 pagi,Pak!"
"Kita terlambat dong!?",Zein sambil berjalan menuju ke mobilnya.
"Kegiatannya selesai sore hari,Pak!",Zaidan seperti robot yang terus memberikan informasi.
"Ok,kita berangkat ke sekolah!",Zein membuka pintu mobil belakangnynya. Zaidan duduk di kursi depan dengan Pak Yanto.
Sesampainya di sekolah,suasana ramai mulai terasa. Masyarakat dari luar bisa masuk ke lingkungan sekolah sambil memanjakan perut mereka. Kelas 12 mengadakan acara bazar dengan ditemani lantunan lagu lagu anak band yang berjingkrak jingkrak di panggung.
"Menurutmu kita bisa makan apa?",aku bertanya pada Zaidan.
"Banyak Bos,ada baso,mie ayam,ketoprak,ttoekbokki dan itu dia siomay,masih banyak yang lainnya juga ternyata di sana",Zaidan sambil menunjuk satu persatu stand yang di lihatnya.
"Oh,iya,Isna jualan apa ya?",aku teringat pada Isna.
"Kalau tidak salah,siomay deh",sambil menunjuk stand siomay.
Kami segera bergegas ke tempat Isna berjualan. Sudah hampir seminggu aku dan Isna tidak berjumpa. Rasanya ada yang kurang. Dia sering bercerita banyak jika dia ada di rumah. Gadis itu selalu mengingatkanku pada Rossana. Tapi rasanya jadi lebih dari sekedar adik. Aku merasa senang saat berjumpa dengannya atau hanya sekedar mendengarkan ceritanya. Dia gadis yang sangat tangguh,berjuang sendiri jadi tulang punggung keluarga.
Aku dan Zaidan mencari sosok Isna. Tapi rupanya hanya ada seorang Tio dan Sofia yang tengah sibuk melayani pembeli. Aku segera menanyakan keberadaan Isna pada Sofia. Dia mengatakan kalau Isna pergi ke toilet. Segera ku cari di toilet. Ternyata tidak ada. Ku cari dengan mengerahkan satpam dan hasilnya masih nihil. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres setelah memeriksa CCTV. Akupun bergegas menelepon temanku yang seorang polisi untuk meminta bantuannya. Setelah mengirimkan rekaman CCTV,teman polisiku segera mencari informasi tentang keberadaan Isna. Akhirnya informasi tentang keberadaannya dapat ditemukan. Kami segera meluncur ke tempat kejadian.
Beruntung Isna masih bisa di selamatkan. Isna kini ada di rumah sakit. Untuk kejadian ini polisi mengadakan penyelidikan lebih lanjut.
"Ayah....ibu.....",Isna mengigau berkali kali,memanggil ayah dan ibu yang sangat dirindukannya. Kasihan sekali anak ini harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup. Aku akan selalu setia menemaninya.
"Zein,kamu harus pulang untuk beristirahat,biar Bibi Isna yang akan menjaga Isna di sini",Zaidan terlihat khawatir padaku.
"Iya,kalau sudah ada Bibinya aku akan pulang dan beristirahat". Sambil ku pandangi Isna yang seperti terlelap,tidur nyenyak karena belum sadar. Sebenarnya siapa yang berani menculik Isna?seorang anak yang tidak menonjol dari segi materi jika mereka ingin mengambil keuntungan. Apa motif para penjahat?aku semakin penasaran. Apakah Isna punya musuh?atau masihkah para rentenir itu mengejarnya?setahuku orang orang itu sudah ku selesaikan dan berjanji tidak akan mengganggu Isna lagi. Polisi harus segera menangkap orang yang berani menculik Isna.
'Aku harus lebih perhatian lagi agar bisa menjaga Isna',tekadku dalam hati.
"Zai,come here!",ku panggil Zaidan yang berada di luar.
__ADS_1
"Yes,Sir!"Zaidan jadi ikut ikutan berbahasa Inggris.
"Kita ke mall dulu nanti setelah ada Bibinya Isna".
"Ke mall?mau apa?",Zaidan mengernyitkan dahi.
"Pokoknya kamu ikut,jangan banyak nanya!",
"Oke Bos",walau penasaran Zaidan hanya bisa pasrah dan tidak banyak bertanya lagi.
Tak berapa lama,Bibi Ella datang dan menggantikan aku untuk menjaga Isna. Aku dan sahabatku segera meluncur ke mall untuk mencari sebuah barang yang sangat bermanfaat untuk membuat komunikasi diantara kami bisa jadi lebih mudah. Barang itu tidak dimiliki Isna,makanya dia sulit dihubungi ketika ada hal darurat seperti kejadian ini. Yap,aku harus membelikannya Hp. Isna memang mendapatkan gaji dariku untuk membayar hutang,tapi aku tak pernah menerimanya. Semua uang yang dia kirimkan ke rekening,ku tabungkan untuk kehidupan masa depannya yang lebih baik. Dia membagi gajinya menjadi dua,sebagian untuk bayar hutang padaku dan sebagian dia kirimkan untuk adik adiknya yang memilih untuk menimba ilmu di pesantren. Sebenarnya hutang itu tak pernah ada,karena aku sudah mengikhlaskannya. Dia tak bisa membeli Hp karena uangnya habis tak bersisa.
"Zai,bagaimana dengan yang ini?",Hp berwarna pink sengaja ku pilihkan karena biasanya anak gadis identik dengan warna pink.
"Bagus,cewe banget",Sahabatku sekaligus sekretarisku,Zaidan, berkata sambil mengangkat jempol.
"Ok,kita beli yang ini aja!",Kami segera menuju kasir untuk membayar.
Setelah kami dari toko Hp,aku pergi ke toko kue kesukaannya,dia sangat suka brownis coklat. Tak lupa juga buah buahan ku bawakan untuknya agar dia tak kekurangan nutrisi.
Setelah selesai,kami kembali ke rumah sakit
Di rumah sakit....
"Perkembangannya semakin baik,dia hanya luka di kepala dan paru parunya sedikit kotor akibat banyak menghirup asap,tapi nanti akan segera membaik",dokter menjelaskan.
"Tapi dia masih belum siuman?",
"Mudah mudahan sebentar lagi siuman karena dilihat dari peningkatan perkembangan kesehatannya cukup baik,tidak ada hal yang serius".
"Baik,Dok,terimakasih!!",kamipun berpisah,dokter itu pergi untuk memeriksa pasien yang lain.
Aku segera menemui Bibi Ella.
"Bagaimana kata dokter?"Bibi Ella bertanya penuh kekhawatiran.
"Insyaalloh baik baik saja,Bi,mudah mudahan Isna juga segera sadar".
Tiba-tiba Isna membuka mata. Aku sangat senang dan segera memberitahukan Bi Ella.
__ADS_1
"Isna,kamu sudah sadar?",Bi Ella sambil memegang tangan Isna.
"Aku di mana?",Isna masih terlihat linglung.
"Kamu ada di rumah saki Isna!",Bibi Ella menjelaskan.
"Kenapa aku ada di rumah sakit?",Isna masih belum ingat kejadian yang menimpanya.
"Sudah,nanti saja ceritanya,sekarang kamu beristirahat ya",Bibi Ella dengan bijaksana memberikan saran dengan memikirkan kesehatan keponakannya agar tidak terlalu banyak berpikir.
Akupun segera memanggil dokter agar segera memeriksa kesehatan Isna.
Ketika dokter memeriksa,datang lah Sofia dan Tio.
"Bagaimana keadaan Isna,Pak?",Sofia segera bertanya.
"Dia sudah siuman dan sedang diperiksa dokter,ada luka di kepalanya dan paru parunya kotor karena menghirup banyak asap",aku menjelaskan dengan rinci.
"Sebenarnya siapa sih yang berani menculik Isna?",Tio berbicara sambil menepuk tangannya dengan kepalan.
"Polisi sedang menyelidiki kejadian ini,jadi kita tidak usah khawatir,mudah mudahan segera ada informasi",aku menjelaskan.
Kami segera memasuki ruangan setelah dokter keluar.
"Isna,apa yang kamu rasakan?"Sofia langsung berdiri di samping Isna.
"Kepalaku pusing dan napasku agak sesak",
"Semoga kamu cepat sehat ya,nanti kita jualan siomay bareng!",Sofia melelehkan suasana dan tak berani bertanya tentang kejadian itu.
"Apa yang terjadi padamu,Isna?",Tio dengan penasaran.
"Eh,Iya jualan siomayku laku?",Isna tidak memerdulikan pertanyaan Tio,dia masih belum berani bercerita.
"Semua habis,kalau saja kamu ada di sana saat itu,pasti menyenangkan,tapi kamu bukannya izin ke toilet?",Tio masih penasaran.
Sebelum bercerita Isna menarik napas panjang.
"Saat itu aku mau ke toilet,tapi ada orang yang tiba tiba memukulku dari belakang,aku masih ingat orang itu,dia memakai seragam sekolah kita",akhirnya Isna memberanikan diri untuk bercerita.
__ADS_1
"Kira kira siapa dia?",Tio terus mengorek informasi lebih detil .
"Dia seperti.....orang yang aku kenal,dia....seorang laki laki".