
Setelah semua orang pergi,aku di kamar itu sendirian. Ku coba untuk tidur tapi tidak bisa. Makanya aku segera pindah kamar dan kembali ke kamar awal bersama Mba Wulan.
"Isna?kamu pindah lagi ke kamar ini?",Mba Wulan kaget ketika melihatku.
"Iya,Mba,di sana saya sendirian,sepi",aku sambil bergidik.
"Kamu sudah tidak apa apa?".
"Alhamdulillah,saya sudah tidak apa apa".
"Tadi pagi kenapa kamu bisa tenggelam?bukannya kita semua memakai pelampung?",Mba Wulan terlihat penasaran.
"Saya juga tidak tahu,Mba,mungkin karena pelampungnya sudah rusak dan bocor jadi saya tidak mengambang,malah tenggelam",aku menjelaskan.
"Ya sudah sekarang kita istirahat dulu,besok kita mau cari oleh oleh kata Miss Valencia". Mba Wulan sambil berbaring.
"Besok kita pulang jam berapa?". Aku ikut berbaring sambil menyelimuti diri.
"Tidak jadi,kata Pak Zein,kita pulang lusa,jadi besok sehari lagi kita di sini",Mba Wulan sambil memejamkan mata.
"Oh,begitu",aku sambil menguap dan akhirnya kami tertidur.
Pagi hari.....
Para Miss bersemangat sekali pagi ini. Kami janjian untuk lari pagi di sekitar pantai.
Aku sebenarnya masih mengantuk,padahal semalam aku tidak bergadang. Makanya aku hanya lari lari kecil dan kebanyakan duduk menikmati matahari terbit. Ku hirup udara yang begitu segar,lalu ku buang. Itu ku lakukan berkali kali. Tak sengaja dari kejauhan,ku lihat Mas Zein yang ikut berolah raga bersama kami. Badannya begitu sempurna,berotot tinggi,pokoknya proporsional dan ku pikir dia pasti memiliki perut sixpack. Dia begitu menawan,tapi mengapa aku yang dia sukai?aku merasa kurang cocok dan rendah diri jika disandingkan dengannya. Walau sebenarnya pasti manusia memiliki kekurangan dan hanya Allah yang sempurna tanpa cela.
"krrruuk krrrruuuuk!",suara perutku yang kelaparan. Beruntung kami para Miss langsung di ajak sarapan oleh Mas Zein. Auto tetap berlemak perutnya bagi yang gemuk seperti Miss Vera kalau tidak menahan diri untuk makan yang banyak. Kalau badanku tetap tidak bertambah gemuk walau sudah makan banyak. Pernah seorang dokter berkata kalau ususku itu pendek,jadi makan sebanyak apapun badanku tidak akan gemuk. Aku tidak tahu apakah itu baik atau tidak?yang pasti badanku selalu terlihat langsing alias kurus.
Kami sarapan di resto dekat kami berolahraga. Aneh sekali,dimanapun aku berada Tio pasti ada di situ,dia seperti bayangan yang selalu mengikuti kemana aku pergi. Ku coba tak memerdulikannya. Tapi dia malah lebih lengket seperti perangko. Bagaimana ini?.
Saat kami selesai sarapan,yang lain ingin berenang di sekitar pantai. Aku hanya duduk di pinggir pantai dan melihat orang orang bermain air. Aku jadi takut kejadian seperti kemarin terjadi. Ketika matahari semakin terik. Aku memutuskan untuk diam di bawah pohon kelapa dan menikmati angin yang menyejukkan tubuhku. Tiba tiba Tio muncul di hadapanku.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini?",aku bertanya dengan wajah jutek.
"Wah,tega sekali kamu bertanya dengan ekspresi begitu padaku,aku ingin menagih janji siomay kita",Tio sambil duduk.
"Janji siomay itu sudah berakhir sejak orang tuamu berbuat jahat padaku!",Aku berbicara terus terang.
"Kok,kamu memutuskan sepihak?".
"Ya terserah akulah,orang tuamu juga tidak bicara dulu ketika memaksa aku membuka kerudungku!",aku masih merasa kesal.
"Ok,aku kembali meminta maafmu untuk aku dan kedua orang tuaku,mereka sudah berlaku jahat padamu,tapi akan ku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi",Tio dengan yakin.
Aku tidak menjawab,karena rasa marah masih ada setelah kejadian itu. Aku tahu manusia yang baik harus mau memaafkan kesalahan orang lain. Tapi perlakuan orang tua Tio sudah keterlaluan.
"Isna!jawab dong!",Tio memaksa aku menjawab permintaan maafnya.
"Ya sudah terserahlah",aku sambil berjalan hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tapi Tio menahan tanganku.
"Isna,satu kali ini saja,aku ingin meminta sesuatu darimu,setelah ini ku anggap impas dan kamu tidak memiliki hutang siomay lagi".
"Ok,permintaanku mudah sekali dan pasti kamu tidak akan keberatan",Tio sambil memintaku mengikutinya.
"Tara,ini alat alat yang kita butuhkan!",Tio sambil membawa mainan untuk bermain pasir.
"Maksudnya apa?",aku bertanya karena belum mengerti.
"Kita bermain pasir hari ini!",Tio bersemangat seperti anak TK yabg diizinkan bermain pasir saat bermain.
"Kamu seperti anak kecil saja!aku tidak mau!",aku menolak.
"Isna,sekali ini saja!",Tio sambil melemparkan pasir ke arahku dan segera berlari. Aku tidak mau kalah ku kejar dia dan ku lemparkan ke badannya. Akhirnya kami membuat istana kerajaan besar dari pasir. Kegiatan ini cukup membuatku melupakan beban hidup. Kami seperti dua orang teman yang bermain pasir di pantai.
Dari kejauhan,Mas Zein seperti memperhatikanku. Dia melihat kami tertawa seperti anak kecil yang bermain pasir. Aku tak tahu bagaimana perasaannya. Cemburukah dia padaku?.
__ADS_1
Setelah lama bermain pasir,para Miss mengajakku berkeliling untuk membeli oleh oleh. Tio kembali mengikutiku. Kami pergi ke toko baju yang bertuliskan nama pantai yang kami kunjungi. Beberapa Miss ada yang membeli tapi aku lebih ingin membeli oleh oleh makanan daripada baju. Setelah berputar putar,akhirnya kami membawa oleh oleh untuk keluarga kami di rumah.
"Ini untukmu!",Tak ku sangka Tio memberikan sekantong penuh oleh oleh untukku.
"Tidak usah,oleh oleh yang ku beli juga sudah banyak",ku tolak sambil ku angkat plastik yang penuh dengan makanan. Tiba tiba wajah Tio berubah sedih,aku jadi tidak tega melihat itu.
"ya sudah ,rezeki jangan ditolak, sini!",aku meminta oleh oleh itu.
"Tidak usah,aku yang bawa saja!",Tio kembali ceria.
Malam hari....
Kami makan malam di tempat yang kami kunjungi kemarin. Di sana memang suasananya nyaman. Ada panggung kecil juga yang disediakan untuk band yang siap sedia menghibur para pelanggan. Saat itu aneh sekali,hanya ada rombongan kami saja,suasana pun terasa berbeda karena ada hiasan hiasan bunga di ruangan itu. Kami memesan makanan. Setelah makanan siap disajikan,aku menyantap makan malamku dengan lahap. Rossana melihatku dengan wajah ketusnya. Ketika sedang makan,terdengar alunan musik mendayu dayu. Tiba tiba Mas Zein sudah ada di depan.
"Bagaimana makannya sudah kenyang?",Mas Zein bertanya pada kami.
"Kenyang!!!",kami semua kompak. Akupun asyik dengan makananku.
"Malam ini adalah malam terakhir kita berlibur di tempat ini,sengaja saya menambah liburan satu malam lagi karena ingin meninggalkan kesan yang indah saat saya meninggalkan tempat ini. Untuk itu saya akan menyanyikan lagu untuk kalian semua dan khususnya untuk seseorang yang sangat saya sayangi". Mendengar kalimat itu,para Miss bersorak sorai sambil menatapku. Aku tidak menyadari hal itu karena terlalu fokus dengan makanan. Terdengar suara merdu Mas Zein yang baru pertama kali ku dengar,membuatku teralihkan untuk melihatnya sejenak.Dia terus memandangku,aku tidak tahan untuk beradu pandang dengannya,seperti ada aliran listrik yang merambat melalui mataku. Untuk itu ku alihkan pandanganku ke arah lain. Aku pura pura sibuk dengan makananku untuk menghilangkan kecanggungan. Ketika di tengah nyanyian,Mas Zein memanggil namaku.
"Isna,boleh ke depan sebentar!".
"Isna,ayo jangan diam saja!",Miss Vera heboh sendiri.
Karena paksaan dari yang lain,akupun menuruti perkataan Mas Zein untuk datang ke depan. Mas Zein masih bernyanyi. Aku takut diminta duet,soalnya suaraku jelek.
"Isna, maukah kamu menikah denganku!",Mas Zein jongkok sambil memegang cincin di tangannya. Aku tidak bisa berkata apa apa,tiba tiba jantungku berdetak sangat kencang. Aku tidak menyangka akan diminta menikah di hadapan para Miss dan Rossana. Badanku gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Sa....saya......",aku tak melanjutkan jawaban,karena tiba tiba terdengar suara gelas yang pecah.
"Prang!!!!",ternyata Rossana yang sengaja memecahkan gelas itu.
Kami semua panik,termasuk Mas Zein.
__ADS_1
"Rossa,apa yang kamu lakukan?",Mas Zein bertanya pada Rossana.
"Sebaiknya kakak hentikan ini semua,kalau tidak,pecahan gelas ini akan menyayat urat nadiku".Rossana mengancam sambil menaruh pecahan gelas di tangannya.