Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Pulangnya anak yang hilang


__ADS_3

"Orang ini terus meminta pungutan liar,saya kesal,sudah saya bilang dagangan saya belum laku,tapi dia tetep tidak mengerti,malah merusak barang dagangan saya",orang itu dengan emosi.


"Maaf,Mas,kalau adik saya berbuat tidak baik,tapi tolong untuk tidak memukulnya lagi,adik saya sudah babak belur,dia sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya. Jadi boleh kita berdamai saja?",aku berbicara dengan hati hati.


"Saya mau saja berdamai,asal dia bayar kerugian untuk barang saya yang rusak,bagaimana?",orang itu mengajukan syarat.


"Saya mau membayar kerugian,asal Mas mau mengembalikan wajah adik saya seperti semula,bagaimana?",aku tidak ingin mengalah begitu saja.


"Kamu kok malah membalikkan lagi,saya sudah rugi banyak,barang saya rusak jadi tidak bisa berjualan",orang itu dengan kesal.


"Mas juga lihat wajah adik saya yang rusak,saya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk memperbaikinya",ujarku sambil memperlihatkan wajah Edo.


"Tapi dia yang mulai duluan merusak barang saya",orang itu dengan membentak.


"Baik,kalau begitu kita ke polisi saja,biar masalahnya selesai".


Wajah orang itu yang tadinya emosi terlihat mulai ketakutan. Dia mungkin takut polisi akan menangkapnya karena main hakim sendiri.


"Ya sudah,tapi kalau dia melakukan hal yang sama lagi di daerah ini,saya akan langsung lapor polisi,biar sekalian dipenjara",orang itu mengingatkan.


Orang itu akhirnya pergi dengan rasa kesal karena apa yang dia inginkan tidak tercapai.Ridho dan Rina segera membantu Edo untuk bangun dan memapahnya. Dia terlihat tidak berdaya. Kami membawanya masuk ke kedai.


"Edo,mengapa kamu jadi seperti ini?",Bibi dengan raut wajah yang sedih.


Edo tidak menjawab,tubuhnya lunglai tak berdaya.


"Kita bawa saja Edo ke rumah sakit!",ujarku.


"Iya,tubuh Kak Edo sangat lemah sekali",Erna menambahkan.


"Kak Isna dan Bibi ke rumah sakit,kamu dan Ridho menjaga kedai sambil beres beres ya!",aku berkata pada Erna.


"Iya,Kak!",Erna dan Ridho menjawab sambil mengangguk.


Kamipun melaksanakan tugas seperti yang aku katakan. Aku dan Bibi mengantar Edo ke rumah sakit. Sesampainya di sana kami langsung ke IGD. Edo langsung ditangani dokter. Setelah selesai di IGD, Edo dipindahkan ke ruangan biasa.


"Isna,biar Bibi saja yang menjaga Edo di sini,kamu pergi saja ke kedai membantu Erna dan Ridho",ujar Bibi.


"Bibi tidak apa apa berjaga sendirian?",aku sedikit khawatir.


"Tidak apa apa,nanti malam kalian ke sini untuk giliran berjaga".


"Iya,kalau begitu Isna ke kedai dulu ya,Bi!",aku berpamitan pada Bibi sambil ku lihat Edo yang masih tertidur.


"Iya".


Aku segera keluar dan pergi kembali ke kedai. Di kedai Erna dan Ridho masih terlihat membereskan sisa barang yang masih berantakan. Akupun segera membantu agar pekerjaan kami cepat selesai. Agar lebih semangat,ku hangatkan siomay juga bumbu kacang yang ku bawa dari rumah untuk kami makan setelah selesai merapikan barang.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Kak Edo,Kak?",Erna bertanya disela pekerjaannya.


"Edo masih tidur waktu Kakak meninggalkan rumah sakit. Kata Dokter tidak apa apa,hanya luka lebam saja".


"Alhamdulillah kalau Kak Edo tidak apa apa",Ridho ikut mengobrol.


Tak terasa pekerjaan kamipun telah selesai. Kedai sudah siap digunakan untuk berjualan. Siomay yang tadi ku hangatkan,sudah tersedia di meja untuk kami nikmati,sebagai upah keringat yang kami keluarkan. Ketika kami akan makan siomay,terdengar suara dari luar.


"Assalamu'alaikum!".


"Wa'alaikum salam!",spontan kami semua menjawab. Segera ku lihat keluar. Ternyata Mas Zein dan anaknya.


"Waktunya pas sekali,ayo kita masuk ke dalam,siomay sudah menunggu",aku dengan tersenyum.


"Wah,langsung makan saja nih?",Mas Zein dengan malu malu.


"Tidak apa apa,justru bagus,Mas Zein datang pada waktu yang tepat",sembari ku buka kursi untuk anak kecil imut yang begitu menggemaskan. Ku sapa anak ganteng yang mirip ayahnya itu.


"Namanya siapa?",ku sapa anak itu dengan senyuman.


"Fathan",anak lelaki itu langsung menjawab.


"Fathan mau siomay?",sembari ku perlihatkan siomay yang ditusuk garpu.


"Mau",Fathan sambil mengangguk.


"Kenapa kalian pindah dari tempat yang dulu?",Mas Zein bertanya.


"Oh,pemilik dari tempat itu tidak ingin memperpanjang kontrak dengan kami,jadi terpaksa kami harus pindah",aku tidak menceritakan semuanya karena tidak ingin banyak membahas tentang orang tua Tio.


"Terus,tahu ada tempat bagus di sini dari siapa?",Mas Zein kembali bertanya.


"Kami memenangkan lomba yang berhadiahkan tempat ini".


"Wah,beruntung sekali,tempat ini memang cocok untuk hadiah,bagus sekali".


"Saya juga tidak menyangka akan mendapatkan juara pertama".


"Sambil dimakan Siomaynya,Pak,nanti keburu dingin!"Erna mengingatkan.


"Oh,iya",Mas Zein mengambil satu suapan siomay.


Fathan menyodorkan garpu padaku sembari berkata,"mau agi".


Segera ku ambilkan siomay yang berada tepat di depanku. Tanpa ku minta, Fathan ingin duduk dipangkuanku. Mas Zein pun merasa aneh.


"Biasanya Fathan tidak mudah akrab dengan seseorang".

__ADS_1


"Oh,berarti Kakak beruntung ya bisa dekat dengan Dede Fathan yang ganteng",ku tanggapi dengan rasa bahagia.


Sejak saat itu Fathan hanya ingin berada di gendonganku.


Kamipun larut dalam obrolan penuh kehangatan,ditemani siomay hangat yang lezat.


Malampun tiba. Semua orang akan meninggalkan kedai. Saat ku ceritakan tentang Edo dan rencana mengunjunginya,Mas Zein menawarkan untuk mengantarkan kami. Dengan senang hati kamipun setuju. Saat berada di mobil,Fathan begitu lengket padaku,sampai tidak mau lepas dari gendonganku.


Saat tiba di rumah sakit, Edo terlihat sudah sadar. Dia sedang makan.


"Kak Edo,makan yang banyak,biar cepat sembuh!",ujar Erna.


"Iya,biar kita bisa bermain game bersama",kata Ridho.


"Maaf,aku hanya merepotkan kalian",Edo menjawab sembari menyimpan piring yang sudah kosong.


"Bagaimana kalau kamu bantu Kakak dan tinggalkan pekerjaanmu itu?",aku memberi ide.


"Iya,itu ide yang cemerlang",Erna terlihat sangat setuju.


"Tapi....",Edo terlihat ragu.


"Tapi kenapa?kamu mau kejadian seperti ini terjadi lagi?kakak dan adik adikmu juga Bibi sangat khawatir jika kamu masih berteman dengan para preman itu, apalagi uang yang kamu ambil adalah uang orang orang miskin sama seperti kita dan itu bukan uang halal. Kamu mau memberi makan adik adikmu dengan uang haram?".


"Aku ingin berhenti,tapi mereka tidak akan membiarkanku lolos begitu saja,apalagi Bos besar ".


"Kalau begitu nanti antarkan Kakak ke Bos besarmu itu,biar kakak yang mengatakannya".


"Jangan,Bos besar sangat kejam ,Biar aku yang bicara nanti".


"Jadi kamu setuju untuk membantu?".


"Iya,akan ku coba".


"Nah,begitu baru bagus",Bibi ikut menanggapi.


"Kalau mau,di tempat saya juga boleh",Mas Zein menawarkan.


"Terimakasih semuanya,aku sangat senang ternyata kalian sangat menyayangiku",Tio terharu.


"Inilah gunanya keluarga,akan mendukung dan menyayangimu seperti apapun keadaanmu",ujarku pada Edo.


Kamipun berpelukan, empat saudara dari darah daging yang sama.


Alhamdulillah,akhirnya Edo mau kembali bersama kami. Anak yang hilang kini akan pulang. Semoga Edo menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Ridho menawarkan diri untuk menjaga Edo malam ini,mungkin besok Edo bisa pulang,karena keadaannya tidak terlalu parah.

__ADS_1


Saat akan pulang Fathan ternyata sudah tertidur di pangkuanku. Beberapa kali Mas Zein meminta Fathan untuk digendong olehnya,tapi anak kecil itu tidak bergeming dan lebih memilih untuk tetap bersamaku. Mengapa dia memilihku?padahal baru dua kali kami bertemu.


__ADS_2