
"Isna,apa yang kamu lakukan?",Mas Zein berteriak dengan kencang,dia terlihat begitu marah. Dia segera berlari ke arahku dan melihat ke ujung tebing sambil mencari sosok adiknya.
"Apa kamu marah dengan sikap adikku karena sikapnya semalam?mengapa kamu tega berbuat seperti itu?",Mas Zein berpikir kalau aku yang mendorongnya.
"Sa...sa....saya ti...tidak mendorongnya,bukan saya!",aku membela diri di hadapan Mas Zein.
"Jangan bersikap seolah olah bukan kamu yang mendorongnya,saya melihat dengan mata kepala saya sendiri secara langsung, sungguh aku tidak percaya dengan ini semua,Isna. Inikah jati dirimu yang sebenarnya?kamu berpura pura menjadi gadis polos padahal srigala berbulu domba",Mas Zein berkata dengan mata terus berkaca kaca.
Hatiku perih mendengar semua perkataan Mas Zein. Aku mengerti mengapa dia tidak percaya padaku,karena dia hanya melihat adegan terakhir.
"Sungguh Mas Zein saya tidak mendorongnya,demi Allah,dia meminta saya datang ke sini lalu dia sudah berada di ujung tebing dan akhirnya menjatuhkan diri",aku terus meyakinkan Mas Zein.
"Setelah melihat langsung kejadian tadi,aku tidak percaya padamu",Mas Zein seperti merasakan sakit hati yang dalam.
"Tolong,percayalah apa yang saya katakan,kalau Mas Zein sudah tidak percaya,maka hancurlah segalanya",aku sambil menangis tersedu sedu.
Dia tidak memedulikanku. Dia mencoba mencari keberadaan Rossana dengan berjalan ke kanan dan kiri tebing.
"Kita dengarkan semua pengakuanmu di kantor polisi!",dia berkata dengan berurai air mata sambil terduduk memandangi lautan lepas.
Seketika suara sirene polisi meraung raung di jalanan. Setelah sampai para polisi melihat TKP dan menangkapku. Polisi juga mengerahkan orang untuk mencari tubuh Rossana yang menurut keterangan Mas Zein jatuh ke laut. Para Miss dan Pak Yanto kaget ketika aku di bawa polisi dengan diborgol.
"Isna,apa yang terjadi?",Miss Vera bertanya padaku.
"Saya tidak mendorongnya,saya bersumpah demi Allah,dia sendiri yang menjatuhkan diri!",aku masih dengan pembelaanku. Kata kataku membuat orang orang tidak mengerti.
"Apa maksudmu?",Miss Tuti tidak mengerti. Aku hanya bisa menangis sambil terus mengulangi kata kata itu. Tio terlihat berlari dan menghampiriku.
"Isna,apa yang terjadi?",dia bertanya penuh rasa ingin tahu.
"Rossana menjatuhkan diri dari tebing,tapi Pak Zein berpikir kalau aku mendorongnya,tolong aku Tio,aku tidak berbohong,aku tidak mendorongnya",aku berbicara dengan tangan bergetar.
"Siapa lagi yang melihat selain kalian?",Tio bertanya lagi.
__ADS_1
"Tidak ada,makanya aku bingung,aku tidak bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah",aku sambil menangis.
"Tenang,jangan panik,aku akan menolongmu dan mencoba mencari bukti untuk membebaskanmu",Tio menenangkanku.
Kemudian polisi membawaku ke kantor polisi setempat dan memasukkanku ke dalam sel penjara.
Aku merasa kacau,karena Mas Zein kini tidak mempercayaiku. Dia muncul ketika Rossana berkata kalau dia tidak ingin aku membunuhnya dan akan merestui kami. Bayangan tentang jatuhnya Rossana membuatku merasa gila. Apa yang harus aku lakukan?di sana hanya ada aku dan Mas Zein,tak ada saksi lain.
Polisi dengan cepat melakukan penyelidikan. Di TKP telah dipasang police line,agar tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana.
Para Miss menemuiku di kantor polisi dan membawakan barang barangku. Setelah menginap di hotel mewah kini berlanjut di hotel prodeo. Sungguh nahas nasibku ini.
"Isna,bagaimana ini bisa terjadi?",Miss Valencia bertanya.
" Segalanya berawal dari mendapatkan surat yang dititipkan pada Mba Wulan dari pelayan yang ada di lobi. Surat itu dari Rossana yang meminta saya untuk pergi ke tebing untuk meminta maaf atas sikapnya yang semalam,makanya saya datang dan ternyata dia sudah berada di ujung tebing,saya terus membujuknya agar dia mau pergi dari tempat itu,tapi dia ingin tetap di sana dan tiba tiba berkata bahwa dia tidak ingin saya membunuhnya dan akan merestui saya dan Pak Zein, ketika Rossana berkata seperti itu rupanya Pak Zein sedang memerhatikan kami,lalu diapun menjatuhkan diri",Ku ceritakan semuanya dengan penuh air mata.
"Apakah ada orang lain di sana?",Miss Vera bertanya.
"Di sana sepi sekali karena termasuk daerah berbahaya dan hanya ada kami bertiga",ku usap air mataku yang terus mengalir.
"Miss Miss semua,saya sungguh tidak pernah memiliki niat jahat,apalagi sampai berniat mendorong Rossana,sungguh saya tidak berbohong!",kembali tangisan ini terus berlanjut. Mba Wulan menepuk nepuk punggungku.
"Mba Wulan,surat itu apakah masih ada di hotel?saya menyimpannya di kamar hotel tempat kita menginap",aku ingat surat itu,mungkin saja itu bisa membantu.
"Nanti sebelum pulang saya akan memeriksanya kembali dan akan saya titipkan pada temanmu Tio,yang punya hotel itu".
"Terimakasih untuk kalian semua,mau menemui dan mendengarkan cerita saya".
"Kami juga berdo'a semoga kasus ini bisa diketahui kebenarannya dan cepat selesai",Miss Tuti menambahkan.
"Aamiin!".
Para Miss akan pulang dan aku ditinggalkan sendiri di sini. Sungguh hari ini hari tersedih setelah kematian orang tua dan kakekku,Aki Somad.
__ADS_1
Petugas polisi kembali memanggilku karena ada tamu lagi. Saat ku temui ternyata Tio.
"Isna,bagaimana keadaanmu?",Tio membuka percakapan.
"Aku tidak baik baik saja,ini adalah hari terberat dalam hidupku,aku bingung harus berbuat apa",ku ceritakan semua yang ku rasakan.
"Aku akan membantumu dan mempersiapkan seorang pengacara,kamu tidak usah khawatir,selama kita ada dalam kebenaran, kita tidak usah takut",Tio terus memberikanku semangat.
"Terimakasih Tio,kamu sudah percaya padaku".
Tio adalah satu satunya orang yang percaya padaku saat ini,sedangkan para Miss masih terlihat abu abu. Kalau Bibi ada di sini,pasti dia akan percaya padaku. Mengapa hal ini bisa terjadi dalam hidupku.
Ya Allah,rasanya berat sekali untuk menghadapi ini semua.
* * *
(Versi Zein)
"Rossa,dimana kamu berada?",aku bertanya sendiri. Aku bersama Tim SAR menyisir pesisir pantai juga area laut di sekitar TKP. Sudah berselang satu hari,tapi tubuh Rossana belum ditemukan. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Gadis yang ku cintai mencelakakan adikku satu satunya. Baru saja aku menemukannya,tapi sudah hilang kembali. Aku menyesal tidak mendengarkan pembicaraannya dan firasatnya yang menolak Isna. Isna terlalu polos untuk melakukan ini semua,tapi aku telah melihatnya sendiri,makanya sulit untuk ku hindari prasangkaku.
"Ayo,kita cari di sebelah sini!",para tim penyelamat mencari dengan cara menyelam.
Setelah berapa lama,ada laporan tim SAR yang lain menemukan titik terang. Ada tubuh yang tersangkut di karang,dan akan segera diangkat. Aku berharap itu adalah Rossana,dalam keadaan hidup ataupun meninggal,aku akan siap menerima. Walau sangat berat untuk menerima kenyataan yang terburuk,tapi jika terjadi,itu adalah takdir.
"Zein,bagaimana perkembangannya?",sekretarisku,Zaidan bertanya,hari ini adalah hari liburnya,kalau di luar jam kerja aku menyuruhnya memanggil namaku supaya lebih santai dan tidak terkesan formal.
"Sudah ada titik terang,ditemukan tubuh yang tersangkut di karang,makanya aku akan ke sana untuk memastikan,kamu mau ikut?",ku ajak Zaidan untuk pergi bersamaku.
"Ok!",Zaidan sambil mengacungkan jempol.
kami segera pergi ke tempat yang dituju. Rupanya di sana sudah ada paman dan bibi,ayah dan ibu angkatku. Akupun segera menghadap mereka. Ketika aku ingin bicara,tiba tiba....
"Paaaaak!!!",ayah angkatku menamparku dan itu disaksikan oleh semua orang.
__ADS_1
"Sudah ayah bilang untuk tidak berhubungan dengan gadis itu,tapi kamu keras kepala dan beginilah akhirnya,adikmu menjadi korban gadis itu!",ayah memarahiku.
Kini aku tidak bisa berkata apapun,karena aku mengakui kesalahanku.