
Harapan baru terus muncul,seiring dengan pindahnya kami ke tempat yang baru. Segala hal yang berhubungan dengan berjualan siomay telah kami siapkan. Tak lupa foto kami dengan Pak Gubernur dipajang di kedai yang baru,untuk menambah nilai plus jualan kami. Siomayku sayang kembali berlayar untuk mengambil hati orang orang agar mau membeli siomay dengan rasa yang lezat,terbukti dengan dijadikannya kami sebagai pemenang pertama. Itu cukup untuk memberi kami modal kepercayaan diri,bahwa kami layak untuk mendapatkan pembeli yang banyak. Bayangan di pikiranku adalah suasana kedai yang penuh dengan pembeli,suasana seperti itu selalu ku rindukan. Di hari pertama kami memberikan diskon harga untuk yang membeli 3 porsi,namun di batasi hanya 20 pembeli pertama. Sama seperti di kedai yang dulu,kami memberikan selebaran agar orang orang tahu keberadaan kami.
"Sebelum kita bekerja hari ini mari kita berdo'a dulu,semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran untuk hari ini.Aamiin",aku memimpin do'a dan bersama sama kami bacakan surat Al-Fatihah. Setelah selesai,kami mulai menyebar sesuai dengan tugas yang telah kami bagi bersama. Aku bertugas di dapur, mempersiapkan siomay,Erna di bagian kasir sedangkan Edo dan Ridho menjadi pramusaji. Kami siap bekerja.
Hari semakin siang,belum satupun pembeli yang datang. Mulai maju ke sore,pembeli belum datang juga. Terlihat seorang ibu datang menghampiri kami. Erna terlihat begitu senang,mungkin dalam pikirannya ibu itu adalah pembeli pertama kami.
"Silahkan masuk,Bu!mau siomay atau batagor?",senyuman Ridho begitu merekah di wajahnya.
"Maaf,saya mau bertanya tempat tukang baso sebelah mana ya?",ujar ibu itu.
"Oh,sepertinya di sebrang sana,Bu",Ridho dengan menunjuk satu tempat. Senyuman merekah Ridho,kembali menguncup. Pembeli tak kunjung datang ke kedai ini.
"Kak Erna,kenapa tidak ada orang yang datang ke kedai kita ya?",Ridho bertanya pada Erna.
"Mungkin karena disini banyak tempat makan,jadi orang orang punya banyak pilihan.Lagi pula kedai kita kan baru,jadi belum banyak orang yang tahu",Erna berpendapat.
"Sepertinya memang sangat ketat persaingan di tempat ini,karena banyak orang yang berjualan makanan dan kita harus pintar pintar memikat hati mereka",ujarku.
"Aku mengantuk,Kak,aku mau tidur!",Edo dengan cueknya langsung tidur di kursi.
Sampai malam tiba tak satupun orang yang membeli siomay atau batagor. Semangat yang tadinya menggebu gebu,akhirnya kembali melempem,melihat kondisi yang seperti ini.
Seseorang tiba tiba masuk ke kedai.
"Siomay,dua porsi!",Mas Zein dan Fathan masuk ke kedai.
__ADS_1
"Oh,Mas Zein,jauh jauh datang ke sini sama Dede ganteng?",aku meraih Fathan dipelukanku. Dia seperti sudah lama mengenalku dan tidak mau turun jika sudah ku gendong.
"Fathan,tantenya berat,dari kemarin maunya sama Tante Isna terus",ujar Mas Zein.
"Tidak apa apa,Mas,saya justru suka anak kecil",sambil ku lihat senyuman di wajah Fathan.
"Dia terus saja bertanya tentang siomay,jadinya saya antar saja ke sini,biar langsung dari sumbernya",Mas Zein dengan senyum.
"Apa mamanya tidak apa apa Fathan di bawa ke sini?",aku bertanya tentang Sofia.
"Mamanya sudah tidak mau peduli dengan Fathan,kami sudah bercerai".
"Oh,maaf saya jadi tidak enak dengan Mas Zein".
"Tidak apa apa,justru orang orang harus tahu kalau kami memang sudah bukan suami istri lagi".
Erna mengambilkan siomay untuk Mas Zein dan Fathan. Kami bahagia akhirnya ada juga pelanggan hari ini walau hanya dua porsi.
"Sudah malam,aku mau pulang,Kak!",Edo pamit dan langsung pergi keluar.
"Iya",aku dengan sedikit kaget.
Dia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kami,terutama denganku.Dia lebih banyak diam. Mungkin karena sudah lama kami tidak bersama sama seperti dulu. Tapi minimal dia sudah mau lepas dari pekerjaannya yang dulu.
Hari ini pendapatan kami seharga dua porsi. Mungkin karena aku terlalu sombong, telah membayangkan pembeli yang banyak. Padahal itu semua ada pada kehendak Allah. Seperti inilah menjadi pedagang,kadang satu hari banyak pembeli,kadang tidak ada satupun. Kita harus sabar dan memiliki mental pedagang sejati,yaitu tidak pantang menyerah apapun yang terjadi,terutama saat sepi pembeli. Menjadi pedagang juga harus yakin bahwa tiap orang telah memiliki patokan rezeki masing masing. Rezeki tiap orang berbeda walau memiliki usaha yang sama. Jualan mungkin bisa di copy tapi rezeki tidak bisa di paste. Itulah yang diajarkan Bibi padaku. Jadi aku tidak akan berkecil hati,walaupun pendapatan yang di dapat hari ini kecil.Berarti besok harus lebih semangat lagi.
__ADS_1
\* \* \*
Pagi ini hujan begitu deras. Di kedai hanya ada aku dan Erna. Ridho dan Edo tidak kesini karena ada sesuatu yang harus mereka kerjakan. Karena suhu yang dingin,kami memakai switer. Orang orang di luar terlihat berlari larian berlindung dari hujan,ada juga orang yang memakai payung. Suhu yang dingin juga hujan yang berlangsung lama,membuat orang orang mencari makanan yang hangat,dan itu sangat menguntungkan kami. Siomayku sayang tiba tiba dipenuhi banyak pembeli yang ingin menikmati hujan ditemani siomay yang hangat.
"Siomaynya dua porsi!".
"Saya batagor 3 porsi".
"Saya juga batagor 2 porsi".
Alhamdulillah,kedai serasa hidup dengan adanya pembeli,tidak seperti kemarin.
Di sela sela kesibukan,terdengar berita pernikahan seseorang. Seorang pembawa berita membacakan narasi berita.
"Seorang pengusaha juga anak konglomerat sukses,Thomas Tio Wibowo,akan melangsungkan pernikahan besok, dengan seorang sosialita pemilik perusahaan tas bermerk,Renata Prayoga. Pernikahan mereka akan dilangsungkan di hotel milik keluarga Thomas Tio Wibowo. Seperti yang sudah banyak orang ketahui,keluarga Thomas Tio Wibowo memiliki banyak hotel di kota ini.......".
Terdengar juga beritanya ke telingaku. Akhirnya Tio akan menikah dengan Renata. Ada rasa sakit,tapi biarlah. Aku hanya bisa mengobati hati yang luka ini dengan kepasrahan. Jika tidak pasrah,hatiku akan merasakan sakit yang luar biasa dan juga lama untuk bisa sembuh. Dalam pikiranku terus ku katakan pada diriku sendiri,mungkin dia memang bukan jodohku. Iya,dikejar sampai ujung duniapun,jika dia tidak berjodoh denganku,tak akan mungkin kami bisa bersama. Karena jodoh sudah diatur oleh Allah. Terus ku kuatkan hatiku,walau sebenarnya sakit.
Para pembeli terus berdatangan,seiring semakin lebatnya hujan. Aku bisa sedikit bernapas dalam kesibukan ini.
Seorang pembeli berjas dan berkaca mata hitam,masuk ke kedai. Penampilan lelaki itu begitu mencolok,membuat semua mata tertuju padanya. Aku datang membawa nampan berisi dua piring siomay.
Saat kami berpapasan,aku kaget melihat sosok lelaki berjas itu hingga nampan yang ku pegang terjatuh,piring pecah dan siomay berantakan di lantai. Aku segera membereskan semuanya dibantu lelaki itu.
"Kamu tidak apa apa?",lelaki itu bertanya.
__ADS_1
"Oh,sa.....saya tidak apa apa",aku bertambah gugup setelah mendengar suara lelaki itu. Itu adalah suara Tio. Mengapa dia ke sini?untuk apa dia terus menggangguku. Bukankah besok dia akan menikah. Lukaku akan bertambah dalam jika terus melihatnya.
..