Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Vincenzo Cassano


__ADS_3

Ku perhatikan wajahnya berkali kali. Dia seperti Edo. Walaupun sudah bertahun tahun,tapi wajah adikku selalu ku ingat.


"Kamu Edo,kan?",aku langsung bertanya.


Lelaki itu terdiam sejenak,seolah kaget ketika ku bertanya.


"Edo siapa?namaku bukan Edo!",dia mengelak.


"Kamu Edo,aku akan selalu ingat seperti apa wajah adikku,ini kakak Edo,kakakmu Isna!",aku tak menyerah.


"Kamu salah orang,tidak ada yang bernama Edo di sini!jangan mengalihkan pembicaraan!",lelaki itu seolah ingin menghindar.


"Aku yakin kamu Edo,adikku!!",aku bersikukuh.


"Tutup mulut wanita ini!dia cerewet!",dia sambil menunjuk seseorang.


Kemudian seorang preman menutup mulutku dengan kain. Aku berteriak kencang dengan mulut tertutup.


"Makanya jangan cerewet,sudah ku bilang tidak ada orang yang bernama Edo di sini!"


"Kita apakan wanita ini Boss?",seorang preman bertanya.


"Sudah,kalian diam saja!!!",orang itu dengan membentak.


"Ok,ok,Boss!!!",para preman ketakutan.


"Hey,kamu!!!!aku Boss di wilayah ini,kalau kamu mau bebas berjualan,bayar setoran setiap bulan pada kami,untuk biaya keamanan",orang yang ku kira Edo ternyata memang komplotan preman,dia terus meminta setoran.


Aku hanya diam,karena mulutku tertutup kain.


"Jawab,dong!!!!",dia sambil menendang kursi yang ada di dekatnya.


Aku kaget,orang ini sangat tempramen,betulkah dia Edo,adikku?kalau terus ku perhatikan,wajah itu memang Edo. Tapi semakin lama aku semakin tidak mengenalnya,tidak mungkin Edo akan bersikap seperti ini.


"Ayo,jawab!!!",dia semakin marah.


Ku tunjukkan mulutku yang tertutup kain agar ia mau membukanya.


"Buka kainnya!",dia sambil mendorong seorang preman yang lain.


"Oh,iya,Boss!",preman itu segera membuka kain yang menutup mulutku.


"Ku kira kamu adikku,ternyata bukan,adikku tidak akan berbuat seperti ini. Baiklah,aku akan memberimu uang,tapi besok,aku ingin kamu datang sendiri ke tempatku!sekarang lepaskan aku!!!".

__ADS_1


"Baik,akan ku lepaskan kamu,tapi besok jika kami datang dan uang itu tidak ada,akan kami obrak abrik tempatmu!dan satu lagi,jangan coba coba lapor polisi kalau kamu tidak mau celaka",orang itu dengan nada mengancam.


Mereka melepaskanku dan membiarkanku pergi. Aku segera berlari menuju jalan raya,berharap masih ada kendaraan umum yang mungkin lewat. Untunglah masih ada kendaraan umum yang bisa ku naiki,akupun pulang dengan rasa penasaran,juga rasa sedih. Aku masih penasaran apakah orang itu memang Edo?Edo bisa saja berubah karakternya,karena memang ketika dia pergi dari rumah,itu karena ketidak sanggupannya untuk bersabar menghadapi hidup. Kalau memang betul itu Edo,mengapa dia bersikap seperti itu?kehidupan yang begitu keras telah membuat dia menjadi pribadi yang keras dan kasar,sehingga menjadi preman adalah pilihannya.


Aku pulang dengan badan yang lemas dan perut keroncongan.


"Assalamu'alaikum!!!",ku ucapkan salam saat sampai di rumah Bibi.


Sepertinya semua orang telah lelap tertidur. Ku ulangi mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Erna muncul dan membuka kunci.


"Kakak!!kakak baik baik saja?",Erna segera memelukku.


"Kakak baik baik saja!",ku jawab agar dia tidak khawatir.


"Kami sudah melaporkan ke polisi kalau kakak diculik para preman itu!",Erna bercerita.


"Jangan,jangan lapor ke polisi lagi,besok pemimpin preman itu mau datang ke warung kita,dan kamu tahu Erna orang itu persis seperti Edo,makanya kakak ingin kamu,Ridho dan Rina melihat juga,takutnya kakak salah,tapi dia mengaku bahwa dia bukan Edo,kita lihat besok apakah dia berbohong atau tidak".


"Kak Edo?",Erna tidak yakin.


"Iya,dia mirip sekali dengan Edo,walaupun sudah bertahun tahun kakak tidak melihat Edo,tapi kakak masih ingat wajahnya".


"Terus kenapa Kak Edo bisa jadi preman?",Erna kembali bertanya.


"Kacanya masih belum diperbaiki,tapi Ridho menghalanginya dengan terpal agar tidak ada orang masuk ke toko kita,untuk jaga jaga saya ambil semua uang yang ada di laci dan menyimpan barang barang di lemari dan di kunci".


"Ok,bagus,mudah mudahan tidak ada orang yang masuk ke toko kita".


Perbincangan kami berakhir setelah mendengar suara perutku yang kencang meminta makan. Erna dengan cepat mempersiapkan makan dan memberikannya padaku. Akupun makan sambil membayangkan hari esok,apa yang akan terjadi?


Pagi hari,udara sejuk menyebar di mana mana. Aku dan adik adikku bangun lebih pagi,agar kami dapat membereskan toko kami yang masih berantakan. Kami bertiga segera ke toko dan mendapati toko dalam keadaan rapi dan bersih. Di dalamnya banyak bunga bunga yang tertata dengan rapi. Toko ini bukan seperti toko makanan tapi seperti toko bunga,karena dipenuhi oleh bunga. Di bagian kaca yang telah diperbaiki terdapat tulisan,'Happy Birthday,Isna!!!'. Aku penasaran siapa yang telah melakukan ini semua. Mungkinkah Tio?sepertinya iya,dia memang sangat suka hal hal seperti ini. Segera ku ambil ponselku dan ku telepon dia. Ku tekan nomornya,tapi dia tidak mengangkatnya,apa karena masih tidur?padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Kak,siapa kira kira yang sudah merapikan ini semua?Kak Tio?",Erna sepemikiran denganku.


"Iya,sepertinya Tio",aku sambil tersenyum. Rupanya dia masih ingat ulang tahunku. Dia baik sekali sampai harus membeli bunga dan membetulkan kaca yang pecah dalam satu malam.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tiba tiba suara Tio terdengar dar luar.


"Isna!!!Isna!!",dia memanggilku.


"Tio,terimakasih banyak untuk kejutannya!!!",aku menyambut Tio dengan senyum yang merekah.


Tapi Tio malah terlihat aneh sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


"A....aku mau meminta maaf,kalau aku lupa ulang tahunmu hari ini,semalam aku malah tidur,tadinya mau mengucapkan selamat ulang tahun padamu",Tio seperti merasa bersalah.


"Terus bunga juga ucapan ini dari siapa?",Erna bertanya.


"Betul Tio ini bukan kamu yang mempersiapkan?",ku tanya Tio untuk memastikan.


"Bukan,bukan aku!",Tio sambil tersenyum.


"Terus kalau bukan kamu siapa?",aku bertanya pada semua orang.


Kami semua terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Siapakah yang melakukan itu?.


Dari luar terlihat ada mobil yang berhenti. Keluar lah pimpinan preman yang meminta uang keamanan.


"Siapa orang itu?",Tio bertanya.


"Dia preman",sambil ku berjalan ke depan toko untuk menemuinya.


"Preman yang kemarin memecahkan kaca tokomu?",Tio bertanya dengan kencang.


Namun tak ku jawab,segera ku gandeng adik adikku untuk melihat orang itu. Aku ingin adik adikku memberitahu apakah dia Edo atau bukan. Rina dengan polos berlari.


"Kak Edo!!!",Rina sambil memeluk orang itu.


Ridho dan Erna tak ketinggalan,mereka senang ketika melihat orang yang mirip sekali dengan Edo.


"Kak Edo,kemana saja?ibu sudah tiada Kak,tepat setelah Kakak pergi dari rumah",Rina dengan polos menceritakan tentang ibu.


"A....apa katamu?ibu sudah meninggal?",orang itu sambil mengeluarkan air mata.


"Kamu betul Edo kan?",aku bertanya lagi padanya.


"Ibu!!!ibu!maafkan Edo!",Edo sambil menangis.


"Ku peluk semua adik adikku",Kami menangis bersama.


Orang orang tampak aneh,mereka seperti menyaksikan drama di tengah jalan. Para preman itupun tak kalah heran,mereka mungkin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Ku bawa Edo masuk ke toko kami.


"Edo,kamu Edo kan?",terus ku tanya dan ku tanya agar lebih pasti.


"Sebenarnya Edo yang kalian kenal sudah pergi,kini namaku adalah Vincenzo Cassano,aku bercita cita ingin menjadi seorang mafia hebat dan terkenal",Edo dengan berapi api.

__ADS_1


Aku seperti pernah mendengar nama itu,tapi dimana ya?.


__ADS_2