
Seporsi siomay selalu ku sisihkan untuk Tio setiap hari,karena dia adalah penggemar berat siomay. Tapi beberapa hari ini, Tio absen untuk menyantap siomaynya. Dan hari ini dia datang,namun sayang aku sedang kesal padanya.
"Memangnya apa yang kamu kirimkan?",Tio penasaran.
"Lihat saja di ponselmu!",aku dengan wajah tanpa senyum.
"Sebenarnya aku lupa dimana menyimpan ponselku,dan sampai sekarang belum ketemu ,jadi aku tidak bawa ponsel!".
Tiba tiba ada pembeli. Pembicaraan kami terpotong. Ku layani pembeli itu dengan senyuman. Tio terlihat masih menungguku dengan wajah lesu,mungkin karena tak ku beri siomay.
"Sebelum semuanya jelas,tidak ada siomay untukmu,Tio!",gumam hatiku. Mungkin aku terlihat kejam,tapi bisa jadi dia yang lebih kejam seandainya dia yang selingkuh.
Setelah pembeli itu pergi,Tio mulai mendekatiku lagi.
"Isna,aku lapar belum makan,beri aku siomay,please!",dia merengek sambil menarik bajuku.
"Bohong,biasanya jam segini kamu sudah makan dan banyak jajan!",aku menepis wajah memelasnya. Tio memang sangat suka makan, pada awalnya aku kaget karena badannya yang atletis tak memperlihatkan itu,mungkin dia banyak berolahraga. Walaupun sudah makan baso,mie ayam, ketoprak dan makanan lainnya,dia akan tetap bilang kalau dia belum makan,sebelum makan siomay. Aku jadi teringat diriku sendiri yang memang orang Sunda, kalau belum makan nasi belum dikatakan sudah makan walau memakan 3 piring baso sekalipun.
"Siapa wanita itu?",aku langsung to the point.
"Wanita yang mana?",Tio masih belum berbicara yang sebenarnya.
"Wanita yang ada di rumahmu?kalian bercanda sambil tertawa tawa",aku dengan cemberut.
"Kamu tahu dari mana di rumahku ada seorang wanita?apa kamu datang ke rumahku?kapan?",Tio seperti tak tahu apa apa tentang wanita itu.
__ADS_1
Pembeli kembali menghampiri.Perbincangan kami seperti dalam sinetron yang memiliki banyak iklan.
Tio kembali menyingkir sambil terus berpikir.
Pembeli itu sudah duduk dan Tio kembali mendekatiku.
"Aku mengerti kamu cemburu dan aku senang melihatmu begitu,tapi tidak ada wanita yang datang ke rumahku,apalagi kami sampai bercanda dan tertawa",Tio berbicara polos.
"Tapi aku lihat sendiri kamu duduk berdua sambil tertawa,kamu mau terus berbohong?",aku masih pada pendirianku bahwa aku melihat ( kalau) dia berselingkuh.
Tio mulai berpikir,sepertinya dia berpikir dengan keras,karena lumayan lama dia terdiam. Mungkin dia takut akan ketahuan selingkuh.
Kembali pembeli menghampiri. Rupanya pembeli itu adalah Mas Zein,dia datang dengan anaknya.
"Iya,mumpung sedang libur bekerja,jadi kami mau menikmati siomay bersama. Kenapa dengan Tio,lemas sekali?saya traktir siomay,mau tidak?",Mas Zein sambil menggendong anaknya.
"Mau mau mau!",Tio dengan semangat.
"Tidak,sebelum kamu jawab pertanyaanku,tidak ada siomay bagimu!",aku sambil menggelengkan kepala dengan mata melotot.
"Kalian kenapa?sedang bertengkar?",Mas Zein merasa aneh.
Tio memberikan tanda kalau aku sedang marah. Mas Zein mengangguk tanda mengerti.
Setelah itu pembeli terus berdatangan dan kami tidak sempat mengobrol lagi. Tio hanya duduk lemas dikursi tempat para pembeli. Dia tidak membantuku, apa benar dia belum makan?walaupun ada rasa marah,tapi rasa kasihanpun tetap ada, segera ku siapkan seporsi siomay untuknya,tapi karena pembeli semakin banyak,aku jadi lupa untuk memberikannya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu tanpa terasa,apalagi sambil sibuk wara wiri kesana kemari, mengambil dan memberikan pesanan. Tio tak lagi ku lihat di kursi itu. Mungkin dia sudah pulang,padahal mau ku beri siomay tadi,terpaksa ku bawa dan akan ku makan lagi di rumah. Alhamdulillah hari ini penjualan meningkat,kalau sudah stabil aku akan mengambil seseorang untuk membantuku. Setelah selesai beres beres,ku kunci pintu. Ku tunggu angkot yang biasa ku naiki. Tak lama kemudian angkot itu datang. Karena sudah malam,hanya ada 4 orang di dalam angkot. Ku pandangi pemandangan diluar dari kaca jendela. Tiba tiba disebuah kafe ku lihat Tio sedang makan bersama wanita itu. Rasa kasihan yang tadi muncul berubah menjadi api yang membara. Tio tidak pulang ke rumahnya,malahan sedang asyik berduaan dengan wanita itu. Sungguh tidak bisa dibiarkan. Kali ini aku sudah tidak bisa menahannya. Akan ku pergoki langsung mereka di TKP agar Tio tak bisa menyangkal lagi. Aku segera menghentikan angkot,lalu berlari masuk ke dalam kafe. Mereka ada di dekat jendela,sehingga terlihat dari luar jendela. Segera ku hampiri mereka. Ku ambil segelas air yang ada di depan Tio dan ku lemparkan ke wajah Tio.
"Tega sekali kamu Tio!",aku dengan nada kecewa. Spontan Tio kaget. Aku segera berlari keluar tanpa mendengar penjelasan Tio. Aku tidak ingin mendengar apapun darinya. Hati ini sudah sakit,jadi tidak usah ditambah sakit lagi dengan mendengarkan alasan Tio.
"Isna,jangan pergi!dengarkan dulu penjelasanku!",Tio mengejarku. Aku terus berlari sambil menangis. Tio tak menyerah dan terus berusaha mengejarku. Aku segera menyebrang jalan menuju jalan yang sesuai arah rumahku. Tiopun ikut menyebrang. Tiba tiba terdengar suara.
"Brukkk!!!",mobil seperti menabrak sesuatu. Aku menoleh ke belakang dan ternyata itu Tio. Aku melihat tubuh Tio berdarah dan terlentang di tengah jalan. Aku segera berbalik dan menghampirinya.
"Tio!!!!bangun,maafkan aku!",aku menangis sesegukan. Mobil ambulance segera datang. Wanita yang tadi bersama Tiopun segera menghampiri kami. Dia akhirnya ikut bersama kami naik ambulance. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tak ku pedulikan wanita itu. Aku menangis sepanjang jalan ke rumah sakit.
"Tio,maafkan aku,Tio bangunlah!",aku sambil menatap Tio.
"Kamu pacarnya Tio?",wanita itu bertanya. Pertanyaan itu tak ku pedulikan. Aku hanya memandang Tio yang sedang terbaring dengan tubuh yang penuh darah.
Sesampainya di rumah sakit. Kami langsung membawa Tio ke IGD agar langsung ditangani. Perawat dan dokter dengan cepat menyambut dan mengambil tindakan. Aku tak tega melihat keadaan Tio. Dia sudah tidak berdaya dan aku hanya bisa berdo'a agar dia selamat dan bisa sehat lagi.
Setelah Tio di pindahkan ke kamar perawatan,hatiku bisa sedikit lega,karena masa masa keritis bisa terlewati. Wanita itu masih saja mengekor padaku. Dia seperti ingin berkata sesuatu.
"Nama kamu Isna,pacar Tio kan?",wanita itu kembali bertanya.
"Iya,memangnya kenapa?kamu kaget?atau sudah tahu?ada hubungan apa antara kamu dengan Tio?",segudang pertanyaan memenuhi otakku,ini baru sebagian yang ku keluarkan.
"Kamu telah salah paham tentang hubungan kami,ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Saya adalah Bibinya Tio,saya datang pada Tio untuk membicarakan tentang acara pernikahan saya yang akan dilangsungkan di hotel milik Tio,kami sangat dekat sehingga terlihat begitu akrab. Tio tidak pernah mengkhianatimu juga membohongimu,dia juga banyak bercerita tentang hubungan kalian,saya juga tahu namamu adalah Isna dari Tio. Jadi jangan salah paham lagi",wanita itu menjelaskan segalanya.
"Jadi selama ini saya telah salah sangka pada Tio?",aku merasa bersalah pada Tio karena telah salah menilainya. Ku pandangi Tio yang belum sadar. Apa yang sudah ku lakukan?aku begitu egois dengan tidak mencoba mendengarkan penjelasannya. "Sungguh,aku minta maaf Tio,maafkan aku",tangisanku semakin menjadi. Wanita yang mengaku sebagai bibi Tio,menepuk nepuk pundakku dengan maksud untuk menenangkanku. Aku bertekad dalam hati,jika Tio sadar,akan ku berikan dia makanan kesukaannya yang sudah dia minta dari tadi siang. Akan ku persembahkan 'seporsi siomay penuh cinta' untuknya.
__ADS_1