
Jari jemari Tio bergerak gerak. Disusul dengan terbukanya mata yang dari dua hari lalu terpejam. Segera ku panggil dokter agar memeriksa keadaan Tio.
"Bagaimana keadaannya,Dok?",ku bertanya dengan rasa khawatir.
"Sepertinya pasien butuh istirahat lebih banyak,serta makan dan minum teratur. Kepalanya yang terluka sudah diperiksa dan sudah kita tangani",dokter menjelaskan.
"Terimakasih,dokter!".
Dokter keluar diikuti perawat.
Aku senang sekali karena Tio akhirnya siuman setelah dua hari tak sadarkan diri.
"Tio,maafkan aku,karena aku sudah berprasangka buruk padamu",aku dengan mata berkaca kaca.
"Si....siapa kamu?",Tio seperti tak mengenalku.
"Aku.....",belum sempat ku menjawab,tiba tiba pintu terbuka dan ibu Tio muncul tanpa terduga.
"Dia adalah orang yang mencelakaimu!pergi kamu dari sini!",Ibu Tio mengusirku.
"Tolong izinkan saya merawat Tio sampai dia sembuh!",ku memohon pada Ibu Tio.
"Tidak,ini saatnya kamu pergi dari kehidupan anak saya. Dia terluka akibat ulahmu,kamu memang pembawa sial!",ibu Tio sambil menunjuk aku.
"Tapi.....",aku menangis dan seolah tak ingin pergi.
"Alex,bawa dia pergi!!!",Alex dengan segera membawaku pergi ke luar. Akupun terpaksa pergi dari ruangan itu.
Baru ku lihat lagi Alex setelah sekian lama. Aku baru tahu setelah Tio bercerita bahwa Alex bukanlah saudaranya,melainkan pengawal pribadi yang harus bersamanya setiap saat. Saat Tio pulang dari Amerika,Alex tidak menemani Tio karena harus membantu kedua orang tuanya di Amerika. Seperti yang Tio katakan bahwa orang tuanya sudah pulang ke Indonesia,ini adalah pertama kalinya kami bertemu lagi setelah 5 tahun berlalu.
"Alex,tolong bantu aku!",aku meminta pada Alex.
Dia menatapku seolah merasa berat untuk membantuku. Dengan menarik napas terlebih dahulu akhirnya dia setuju.
"Apa yang bisa ku bantu?".
"Tolong,berikan siomay ini,kamu tahu kan Tio sangat menyukai ini,jadi tolong katakan padanya ini pemberian dariku",aku sambil memberikan tempat makan berisi siomay.
"Boleh aku minta nomormu?tolong beritahu perkembangan kesehatan Tio,aku tidak ingin melewatkannya",aku sambil memberikan ponselku pada Alex. Dia langsung menuliskan nomornya di ponselku.
"Sebaiknya kamu pulang,nanti aku kirimkan pesan tentang keadaan Tio",Alex sambil masuk ke ruangan. Terdengar Ibu Tio menangis karena sedih melihat keadaan anaknya.
__ADS_1
Di luar pintu ada dua orang penjaga. Aku melewati mereka dan melangkah pergi untuk pulang ke rumah. Hatiku terus bertanya,apakah Tio hilang ingatan akibat benturan yang dialaminya?matanya terlihat kosong dan seperti tak ingat apapun.
Sampai di rumah,ku rebahkan tubuhku di kasur. Ku lihat ponselku untuk memeriksa apakah ada pesan dari Alex. Dengan hati bimbang ku tunggu kabar darinya.
"Tok tok tok!",Bibi mengetuk pintu.
"Masuk,Bi!",aku segera bangun dan duduk di kasur.
"Kamu sudah makan?",Bibi terlihat khawatir.
"Belum,Bi",aku sambil menggelengkan kepala.
"Ayo kita makan,sudah lama kita tidak makan bareng!",Bibi sambil menarik tanganku.
Kamipun makan bersama. Bibi tak banyak bertanya padaku dan memilih untuk menunggu aku bercerita. Selesai makan ku ceritakan semua tentang kejadian yang aku alami.
"Jadi,apa yang harus saya lakukan,Bi?",aku meminta saran Bibi.
"Kamu harus shalat istikhoroh,mintalah pada Allah untuk diberikan jalan yang terbaik. Apakah Tio adalah orang yang tepat bagimu atau bukan,Bibi merasa kalau jalanmu akan sulit karena orang tua Tio terlihat tidak merestui kalian",Bibi memberikan pendapatnya.
"Iya,Isna akan shalat istikhoroh agar diberikan jalan yang terbaik untuk semua ini. Terimakasih,Bi,untuk nasehatnya",aku sambil memegang tangan Bibi.
()-Isna,Tio mengalami hilang ingatan karena benturan pada kepalanya. Nyonya dan Tuan besar juga tidak dikenalinya. Siomay yang kamu berikan sudah habis dimakannya dan setelah itu dia berkata 'Siomayku Sayang',sepertinya setelah makan siomaymu ada sesuatu yang dia ingat.
Aku balas pesan Alex.
()-Alhamdulillah,mudah mudahan ingatannya akan kembali seperti semula.aamiin.
Ada senyuman di wajahku setelah ku baca pesan dari Alex. Ternyata Tio masih ingat nama kedaiku. Siomay adalah makanan favoritnya,mungkin karena itulah dia akan mengingat sesuatu. Aku jadi bersemangat untuk memberinya siomay. Akan ku buatkan siomay dan ku berikan setiap hari pada Tio agar dia bisa mengingatku,pacarnya yang telah salah menilainya dan ingin kembali menebus kesalahan dengan menjadi orang yang lebih baik lagi dihadapannya. Aku ingin Tio tahu bahwa aku sangat menyayanginya.
\* \* \*
Pagi hari yang cerah,aku sudah ada di kedai untuk mempersiapkan daganganku. Tiba tiba masuk seorang wanita. Rupanya itu adalah Bibinya Tio.
"Oh, Bibinya Tio,silahkan duduk!maaf kedainya masih berantakan",aku sambil duduk di kursi.
"Panggil saja saya tante Ralin,biar lebih enak di dengar!",dia sambil menarik kursi dan mendudukinya.
"Oh,iya,Tante Ralin,ada apa ya?mau siomay atau batagor?",aku sambil menunjukkan menu yang ada di meja.
"Siomay aja satu ya!",Tante Ralin sambil tersenyum.
__ADS_1
Pesanan itu langsung ku buat dan tidak menunggu lama,pesananpun segera ku antarkan ke meja. Tante Ralin mulai menyantap makanannya.
"Wow,ini enak banget!",dia sambil mulut penuh siomay.
"Bagaimana kalau aku memesan siomay ini untuk acara pernikahanku,untuk 1.500 tamu,sekalian kamu datang sebagai tamuku",Bibi Tio sambil memberikan undangan pernikahan.
"Alhamdulillah,kapan acara pernikahannya?",aku sambil membuka undangan.
"Hari minggu,bisa?",Bibi Ralin dengan tatapannya yang penuh pesona. Dia begitu cantik dan terlihat awet muda. Umurnya tak membuatnya terlihat lebih tua,pantas saja aku bisa cemburu padanya.
Seporsi siomay akhirnya langsung ludes dilahapnya.
"Bisa!",aku segera menjawab
"Ok,berarti deal ya,siomay untuk 1.500 tamu,uangnya nanti saya transfer,boleh minta nomormu?nanti saya hubungi lagi",Tante Ralin sambil membuka ponselnya
"ini nomornya!",ku perlihatkan nomor ponselku.Kami bertukar nomor.
"Bagaimana kabarnya Tio?",aku teringat pada Tio.
"Dia masih melupakan semua orang,kecuali siomay dan nama kedai ini,'Siomayku Sayang' masih dapat dia ingat. Makanya saya penasaran dan akhirnya datang kesini. Ternyata betul kata orang orang,siomay di sini memang terenak",Tante Ralin sambil mengangkat jempol.
"Terimakasih untuk testimoninya!,tolong kabarkan pada saya kalau ada sesuatu dengan Tio!".
"Pasti,tentu saja. Maaf saya tidak bisa berlama lama di sini,masih ada yang harus saya kerjakan", Tante Ralin segera beranjak dari kursi.
"Oh,iya,lain kali mampir lagi ke sini!".
"Ok!",dia sambil pergi dengan senyuman.
Aku ingin melihat Tio di acara pernikahan bibinya. Sekarang sepertinya akan sulit untuk kami bisa bertemu. Tio juga kehilangan ponselnya,jadi kami tidak bisa berkomunikasi.
Aku harus mempersiapkan segalanya dari mulai fisik dan mental. Aku akan ke salon untuk perawatan,agar aku tidak malu dengan keluarga Tio. Mentalku pun harus ku persiapkan agar saat bertemu dengan orang tua Tio,aku bisa mengendalikan diri.
Para pelanggan mulai berdatangan. Saatnya aku bekerja. Ketika aku sibuk dengan pekerjaanku,seorang wanita cantik dengan tubuhnya yang tinggi semampai menghampiriku.
"Sepertinya kita memang tidak selevel,padahal tadinya aku sudah takut,ternyata hanya orang seperti ini sainganku",wanita itu berkata sambil menghampiriku.
"Maaf,ada yang bisa saya bantu?",aku dengan tersenyum.
"Tolong kamu jauhi Tio,karena dia sudah bertunangan denganku",wanita itu sambil menatapku dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1