
"Kamu tahu nama saya?",Sofia sambil memperhatikan wajahku dan mengingatnya.
"Kamu Isna?",Sofia kembali bertanya.
"Kamu Isna?",Mas Zein ikut bertanya.
"Maaf,siomaynya sudah habis,jadi mungkin besok akan saya ganti pesanan siomaynya",aku segera membereskan piring pecah dan siomay yang berantakan itu ,kemudian berbalik sambil segera pergi.
"Isna,bagaimana kabarmu?", Mas Zein membuat langkahku berhenti sejenak,namun tak ku jawab.
"Mas Zein untuk apa bertanya tentang kabar Isna?apa Mas sengaja?",Sofia terlihat cemburu.
"Sofia,sudahlah kamu terus saja mencurigaiku,aku sudah cape!",Mas Zein menanggapi.
"Aku ini istrimu Mas,aku berhak untuk curiga!",Sofia kembali menjawab.
Percakapan antara suami dan istri itu membuat aku sadar untuk segera angkat kaki dan pergi dari tempat itu. Biarlah itu menjadi urusan mereka,aku tidak ingin tahu dan tidak pernah ingin ikut campur. Waktu 5 tahun membuat segalanya berubah. Mas Zein sudah berubah,dia memilih untuk meninggalkan dan tidak mempercayaiku, lalu diapun berlalu dan memilih Sofia,menikah dan mempunyai anak. Aku pun berubah semenjak dia bersikukuh bersaksi bahwa akulah yang membunuh adiknya. Dia mencintaiku tapi tak mempercayaiku, makanya ku putuskan untuk berusaha sekuat tenaga menghapus dia dari hati dan pikiranku. Walau kadang masih ada rasa rindu di hati kecilku yang terdalam tapi keadaan ternyata sudah sangat jauh memisahkan kami,sehingga akan sulit untuk membuat segalanya sama seperti dulu.
"Kak,ada apa?",Erna bertanya.
"Kakak tidak sengaja menjatuhkan piringnya,jadi kita harus ganti rugi untuk mereka,mereka sudah bayar kan?",aku bertanya untuk memperjelas.
"Iya tadi mereka pesan dua porsi sekalian dengan uangnya. Jadi besok mereka akan ke sini atau kita yang mengantar?",Erna sambil membereskan piring piring kotor.
"Kita antarkan saja ke rumah mereka,tapi kamu yang antar ya,kakak malas berhubungan dengan mereka lagi",aku sambil duduk di kursi.
"Kakak kenal mereka?Erna juga merasa tidak asing dengan wajah kedua orang itu,siapa ya?",Erna sambil mengingat.
"Sudah,jangan diingat ingat,nanti malah membuat kepalamu pusing,kita beres beres,kalau mereka masih bertengkar,kamu usir mereka baik baik,bilang kalau kita sudah mau tutup dan untuk pesanannya besok kita antar ke rumahnya".
"Kakak sudah tahu rumahnya di mana?",Erna bertanya lagi.
"Belum,nanti sekalian kamu tanyakan dimana rumahnya".
Erna segera masuk ke dalam dan memeriksa apakah pasangan suami istri itu masih ada atau sudah pulang.
Aku segera beres beres di dapur. Pikiranku terus teringat pada kedua orang tadi. Sebenarnya jika bisa aku ingin menjauh dan tak usah berurusan dengan mereka,tapi siapa yang tahu ternyata mereka datang sendiri ke sini. Lagi pula hutangku juga masih belum lunas,aku masih harus berurusan dengan Mas Zein.
Erna kembali ke dapur dan membantuku.
__ADS_1
"Mereka sudah pulang?",aku penasaran.
"Iya,tadi seperti kata kakak saya minta mereka pulang dan saya juga meminta alamat rumah serta no ponsel mereka",Erna menjelaskan.
"Berarti besok kamu yang antar ya,kakak sama Ridho di sini".
"Erna belum bisa naik motor jadi diantar Kak Ridho aja,boleh?".
"Ok",ku acubgkan jempol sambil sibuk mencuci piring.
Hari kedua,alhamdulillah lancar,semoga besok jadi semakin bagus penjualannya.
Setelah semuanya sudah kami bereskan. Kamipun segera pulang dan beristirahat.
Malam ini seperti kejutan yang tak pernah ku kira.
Pagi begitu cerah,matahari mulai naik. Kami sudah sibuk dari pagi buta untuk mempersiapkan jualan kami. Sekarang sudah menjadi rutinitas setiap hari seperti ini. Mencoba menggapai cita cita dengan siomay. Akankah satu persatu cita cita kami tercapai?'Tukang Siomay Naik Haji',itulah salah satu impianku.
Ketika kami di dapur,tiba tiba suara kaca terdengar pecah.
"Creng!!!!",kami segera ke depan untuk memastikan suara apa itu.
"Kalian tuli ya!?sudah dipanggil berkali kali tak ada yang datang,kalau di panggil pakai ini baru kalian muncul",preman itu sambil mengayun ayunkan tongkatnya.
"Siapa kalian?",aku bertanya.
"Kami yang menguasai daerah ini,kalian berani sekali berjualan di daerah ini tanpa memberitahu kami,ini daerah kami,jadi kalian harus menyetor uang pada kami",salah satu preman menjelaskan.
"Tapi sebelum kami memberikan uang,saya ingin kalian ganti rugi kaca toko saya,kalau tidak saya akan lapor polisi!",aku memberanikan diri mengancam mereka,agar mereka takut dan tidak semena mena.
"Ha...ha....anak baru berani mengancam kami?tunjukan pada mereka kita ini siapa!",Mereka maju dan membanting barang barang kami.
"Kalian ingin dipenjara ya!kalau begitu akan saya telepon polisi!",aku marah karena mereka berbuat kasar. Ku keluarkan ponselku dan segera ku tekan nomor polisi,tapi sebelum ku lakukan itu,seorang preman melemparkan ponselku dan jatuh ke bawah.
"Kalian masih belum mengerti siapa kami?kami preman yang paling ditakuti di sini,kamu tidak takut?",dia bersikap sombong dan seolah olah merasa hebat.
"Buat apa saya takut pada kalian?",aku menantang mereka,dengan pengalamanku di penjara aku sudah sering bertemu orang orang seperti mereka,jika kita takut kita akan semakin di injak.
"Wah,wanita ini berani juga!",dia sambil melayangkan tangannya akan menamparku.
__ADS_1
Tapi tiba tiba seseorang menahan tangan yang akan menamparku. Rupanya Mas Zein. "Isna,mundur!",dia memintaku mundur.
Tapi ku tolak,aku tidak ingin membalas budi lagi pada Mas Zein,aku ingin memutus tiap jalan yang akan membuatku harus berurusan dengannya. Aku maju ke depan dan ku tampar preman itu.
"Paaaaakkkk!",para preman itu kaget melihat perbuatanku,mereka tidak mengira kalau aku akan berbuat seperti itu.
"Pergi kalian dari sini!",ku usir mereka segera.
"Dasar wanita gila,bawa wanita itu untuk menghadap si Boss",mereka memegang tanganku,tapi Mas Zein membantuku dan mencoba melawan mereka satu persatu. Terjadi perkelahian.
"Erna,Ridho,telepon polisi!",aku berteriak sedangkan 2 preman membawaku ke mobil. Mulutku di sumpal kain agar aku tak berteriak. Para preman yang berkelahi dengan Mas Zein segera mundur dan berlari ke mobil. Mereka menghidupkan mobil dan membawaku kabur dari tempat itu. Ku coba teriak meminta tolong walau tidak jelas tapi harus ku coba. Seorang dari mereka akhirnya memukulku dari belakang dan membuatku pingsan. Terdengar dari kejauhan seseorang berteriak memanggil namaku.
"Isna!!!!!",Mas Zein terdengar putus asa.
\* \* \*
"Byurrrrr!",air dingin disiramkan ke badanku,aku tersadar.
"Hey,wanita gila,akhirnya kamu sadar juga!",seorang preman dengan tersenyum.
"Kalian akan di penjara karena melakukan ini!",ku coba menakuti mereka.
"Ha...ha....ha.....penjara itu sudah jadi rumah kami,lagi pula si Boss punya kenalan polisi,jadi bukan kami yang akan di penjara!",dia menjelaskan.
"Kita tinggal tunggu si Boss,biar wanita ini kapok ha...ha....ha.....!",preman lainnya menanggapi.
"Siapa Boss kalian?",aku mengetahui daftar preman di daerah ini,dan sebagian ada yang ku kenal.
"Kamu tidak usah tahu,yang pasti kalau Boss kami sudah bertindak,kamu akan bersujud di kakiku!".
"Bukannya kalian akan di bilang tidak becus karena kalian hanya berani pada wanita lemah!",aku tak akan merendah pada mereka.
"Paaakkkk!!!!!",tamparan itu membuat bibirku berdarah. Rasanya sudah terbiasa dengan tamparan. Pipiku terasa sudah kebal.
"Boss sudah datang,ayo kita beritahu kalau wanita ini tidak patuh pada kita!".
Seseorangpun datang. Penampilannya seperti seorang mafia,berjas hitam dengan kaca mata hitam,terlihat sangat keren.
"Ada apa kalian memanggilku!",orang itu sambil membuka kaca matanya. Ku lihat wajah orang itu,aku terpaku melihat wajah itu,wajah yang sudah lama ku nantikan dan ku rindukan.
__ADS_1