
"Apa yang kamu lakukan?",anak laki laki itu mempertanyakan sikap Yolan.
Dengan segera Yolan melepaskan tangannya.
"Siapa kamu?kamu anak kelas dua?",Yolan penasaran.
"Untuk apa kamu tahu namaku?"
"Ya aku mau tahu saja",Yolan terlihat kikuk.
"Dengarkan ya nenek lampir,aku tidak suka ada gadis kasar sepertimu lewat dihadapanku".
Skakmat,Yolan telah memiliki saingan yang setara dengannya. Aku hanya bisa tersenyum ketika anak itu berkata mak lampir.
"Ngapain lu ketawa?",dengan wajah melotot Yolan memandangku.
"Aku tidak menertawakanmu",aku pura pura tidak tahu.
"Sudah,pergi kamu dari sini,ini daerah kekuasaanku",dengan tatapan tajam dan tanpa basa basi,anak itu mengusir geng Yolan.
"Ya sudah kami pergi",Yolan sambil mundur,dia mengalihkan pandangannya padaku dan menatapku penuh rasa marah.
Geng Yolanpun pergi.
"Terimakasih sudah menolongku",aku sambil tersenyum.
"Siapa yang menolongmu?",anak laki laki itu dengan berlalu.
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan hal itu. Sungguh anak laki laki yang sombong.
"Wajah tampannya tak setampan sikapnya,menyebalkan",hatiku menggerutu.
Akupun segera pergi dan tidak kembali ke kelas,padahal tasku masih di sana. Besok saja aku mengambilnya. Aku membayangkan tas itu sedang dikelilingi oleh zombi yang kelaparan sehingga tas itu tercabik cabik. Membayangkan itu saja membuat aku bergidik.
Aku berencana pergi ke rumah Aki Somad. Ketika Aki meninggal,aku belum sempat ke rumahnya karena jenazahnya dibawa ke rumah sakit. Jadi,aku bertanya pada para pedagang yang ada di sana,barangkali ada yang mengetahui alamatnya. Tapi tidak ada yang tahu, salah satu dari mereka bilang kalau ada anak laki laki yang sering antar jemput Aki Somad ke sekolah. Anak lelaki itu sering dipanggil Tio. Aku tidak tahu harus mencarinya dimana,karena tak tahu harus berbuat apa,akupun pulang ke rumah Mas Zein.
Sampai di rumah majikanku,akupun segera makan dan bersiap siap untuk melaksanakan tugas. Dengan pakaian lengkap untuk bertugas,aku menyapu dan membersihkan tiap sudut,tak lupa mengelap dan mengepel agar semakin sempurna kebersihan di setiap ruangan yang ku bersihkan.
Malampun tiba,tak terasa begitu cepat. Perutku terasa lapar lagi,mungkin karena begitu banyak tenaga yang dikeluarkan sehingga perutku yang tadinya penuh langsung menyusut dan butuh asupan lagi. Karena aku sedang ingin nasi goreng dari tadi siang,aku segera berinisiatif untuk masak sendiri. Semua bumbu sudah disiapkan dan langsung saja ku eksekusi menjadi nasi goreng ala Isna.Teman teman yang lain sudah makan malam,mereka memesan makanan dari luar dan aku tidak kebagian. Tapi tidak apa,di rumah ini banyak sekali bahan makanan,asalkan kita mau mengolahnya ditambah kemampuan memasak yang lumayan,aku bisa menghasilkan makanan yang lezat,menurutku sih enak,karena makanan apapun yang kita buat jangan sampai di sia siakan.
Nasi goreng sudah siap!perutku sudah bersuara meminta nasi goreng,air liurku sudah menetes,sepertinya lezat jika langsung ku santap.
Tiba tiba....
"Isna,ada telpon dari Bibimu!!",seseorang berteriak dengan keras.
"Iya,saya ke sana",ku tinggalkan nasi goreng di meja makan di dapur. Ku angkat telepon dan mengobrol seru dengan Bibi,tak terasa sudah setengah jam. Aku lupa kalau belum
makan dan diingatkan kembali oleh suara keroncongan perutku yang semakin keras,segera ku akhiri percakapanku dengan Bibi dan segera ke dapur. Tapi ketika mau ku ambil,ternyata nasi goreng itu sudah tidak ada di tempatnya,kemana ya????kejadian ini semakin sering terjadi.
__ADS_1
"Miss miss semua,ada yang makan nasi goreng saya tidak?",ku coba bertanya pada yang lain dengan panggilan keakraban kami.
"Kami semua sudah makan banyak,mana mungkin kami makan nasi gorengmu Isna,lagi pula saya lagi diet", Miss Vera yang gendut sambil tertawa sendiri.
"Diet apanya?",yang lain meledek.
"Diet kelingkingnya,ha....ha....",Miss Vera dengan tertawa.
"Terus siapa dong yang makan nasi goreng saya?",aku coba bertanya sambil bergidik.
"Siapa dong?"Miss Valencia ikut penasaran.
"Sekarang semakin sering yang kehilangan sesuatu di rumah ini,barang atau makanan,kemarin hair dryer punya saya juga hilang",Mba Wulan bercerita.
"Kalau saya sering kehilangan camilan,padahal sudah saya sembunyikan",Miss Vera menambahkan.
"Itu karena kamu pelit,makanya hilang",Miss Tuti sambil bercanda.
"Berarti kamu ya yang ambil?",Miss Vera ikut bercanda.
"Ih,enak saja,aku kan lagi diet",Miss Tuti tak ingin dituduh,ia serius mengatakan sedang diet.
"Apa ada pencuri diantara kita?atau ada hantu yang suka mencuri?",Miss Valencia menambah daftar pertanyaan.
"Hantu?",dengan kompak kami mengucapkan kata kata itu. Kami semua langsung ketakutan dan lari ke kamar masing masing. Sambil membawa bantal dan selimut,para Miss masuk ke kamarku.
"Iya,saya jadi takut",Miss Valencia mengiyakan.
Ku ceritakan tentang kejadian malam itu,kami semakin penasaran.Akhirnya kami semua sepakat untuk lebih waspada dan mencoba memecahkan misteri ini.
Tiba tiba terdengar suara.
"Kruk kruk",
"Suara apa itu?",Miss Vera ketakutan.
"Itu....perut saya he...he...",aku sambil nyengir.
Karena kasihan,mereka semua memasakan sesuatu untukku,kami sudah seperti keluarga.
Keesokan harinya.....
"Anak anak,kita kedatangan murid baru",Bu Sri,wali kelasku,sambil memperkenalkan seseorang.
"Ini Tio,dia pindahan dari SMA yang tidak jauh dari sekolah kita,silahkan perkenalkan diri secara langsung!"
"Nama saya Tio,mudah mudahan kita bisa berteman",Tio tanpa basa basi.
Semua gadis di kelas riuh bergemuruh,karena Tio termasuk anak lelaki yang cool dan tampan. Aku tidak merasa aneh lagi karena kami pernah bertemu.
__ADS_1
"Anak sombong itu bernama Tio,apakah Tio itu yang sering mengantar jemput Aki Somad?",gumamku dalam hati. Akupun berniat untuk mendekatinya dan menanyakan alamat Aki Somad. Beruntung dia duduk sebangku denganku. Para gadis protes,termasuk Yolan.
"Bu,kok Tio duduk sama Isna?,sama saya aja,Bu!",Yolan protes.
"Bangku di sebelah Isna kan kosong,jadi Tio duduk bersama Isna",Bu Sri dengan tegas memutuskan. Terlihat raut Yolan yang kurang menerima.
Pelajaranpun dimulai. Disela sela pelajaran,aku mencoba berdialog dengan Tio.
"Hey,kamu masih ingat aku?",aku mencoba mengingatkan.
"Siapa kamu?",dengan wajah datar tanpa melihatku.
Seandainya aku tidak butuh,sudah ku lempar anak ini.
"Aku yang kemarin kamu tolong dari gadis itu",dengan suara pelan ku beri kode menunjuk Yolan. Tio segera mengangkat tangannya.
"Iya,ada apa Tio?",Bu Sri bertanya.
"Bu,anak ini terus mengajak saya mengobrol dan tidak memperhatikan Ibu",Tio melapor pada Bu Sri.
"Isna,konsentrasi,tidak mengobrol!",Bu Sri mengeluarkan wajah garangnya.
Aku mengangguk tanda mengaku bersalah.
Dasar!!!anak pengadu!!
Aku akhirnya diam dan akan mengajaknya mengobrol nanti di luar jam pelajaran. Pokoknya harus bisa.
Bel tanda istirahat berbunyi,ku masukkan buju ke dalam tas dan segera menarik lengan baju Tio. Tio menolak.
"Kamu mau apa?",dengan wajah dinginnya ia bertanya.
"Bisa ikut aku?5 menit saja",aku meminta waktu.
"Kalau aku ikut apa balasan untukku?"
"Tenang saja,nanti aku kasih siomay!",aku dengan nada kesal dan asal menjawab.
"Oh,ok,janji ya!"
Semudah itukah?ada apa dengan siomay?.
Kamipun segera keluar,terlihat Yolan ingin menghalangi kami,tapi dengan tatapan Tio,Yolanpun menyerah. Kami mengobrol dua mata di taman sekolah.
"Tio,apa kamu kenal Aki Somad?"
"Jangan lupa siomaynya ya!"
"Iya jawab dulu,nanti aku buatkan untukmu"
__ADS_1