
"Apa Mas Zein adalah kepala sekolah yang baru?",aku bertanya penuh rasa penasaran.
"Iya,saya ditunjuk sejak dua hari lalu dan saya memanggil kamu ke sini dengan maksud untuk meminta kamu kembali bersekolah dan menyelesaikan pendidikan SMA yang sebentar lagi akan menghadapi ujian"
Setelah tahu bahwa Mas Zein adalah kepala sekolah, tak terasa air mataku meleleh.
"Kenapa kamu menangis? apa kamu marah kalau saya tidak langsung memberitahu tentang hal ini? ",Mas Zein terlihat panik.
Aku hanya bisa menggeleng, air mata itu tak mau berhenti.
"Lalu kenapa?"
"Saya hanya sedih karena selalu Mas Zein yang ada ketika saya kesulitan, selalu saya yang dibantu oleh Mas Zein dan juga orang lain, sering saya bertanya, kapan saya bisa membantu orang meringankan beban dalam hidupnya? "
"Tidak usah bersedih, hidup itu terus berputar, asalkan kamu mau berusaha untuk menjadikan hidupmu lebih baik dan bersungguh sungguh, yakinlah suatu hari nanti pasti kamu bisa menjadi orang yang bisa membantu orang lain dan membantu itu tak melulu materi namun juga ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membuat orang lain menjadi lebih baik"
Kata kata itu begitu indah mengalun di pikiranku, membangunkan semangat yang telah lama lemas terkulai.
"Terimakasih untuk semua yang telah Mas Zein lakukan, hanya do'a yang bisa saya panjatkan,semoga Mas Zein diberikan balasan yang lebih indah dan selalu diberikan yang terbaik oleh Allah dalam segala hal",hanya do'a yang bisa ku berikan sebagai balasan untuk Mas Zein.
"Aamiin",Mas Zein mengaminkan do'aku.
"Kalau begitu, besok saya akan kembali ke sekolah dan belajar lagi. Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya Mas? kalau saya tidak bekerja hutang itu akan sulit saya bayar"
"Tidak apa apa, kamu dapat mengerjakan semua pekerjaan mu di sore hari, setelah kamu pulang dari sekolah"
"Baik,Mas"
Ada rasa senang karena besok aku bisa bersekolah lagi juga ada rasa takut karena akan menghadapi bullyan yang mengerikan itu, tapi kali ini aku harus berubah,tidak boleh terus menjadi orang yang pasrah.
Setelah dari sekolah, aku mampir dulu ke rumah. Di sana aku bertemu Bibi dan memberitahukan semua yang ku alami saat berada di sekolah.Bibi begitu kegirangan karena memang itu yang dia harapkan. Bibi tidak mau aku putus sekolah.
__ADS_1
Setelah lama berbincang, aku berpamitan dan pulang kembali ke rumah Tuan. Kata Tuan itu kini begitu meresap dalam hatiku, aku merasa harus lebih baik lagi dalam bekerja dan bersekolah. Walau ada rasa takut, tapi kini ada Mas Zein yang menemani.
Dua hari sebelumnya....
"Zein, apa kamu bisa memegang dua jabatan sekaligus? menjadi CEO perusahaan dan kepala sekolah? ",Sahabat Zein yang tak kalah ganteng bertanya.
"Insyaallah"
"Bagaimana kalau tidak bisa? "
"Akan aku coba dulu,Dan.Kalau memang aku tidak bisa, aku cukup melambaikan tangan he... he... "
"Memangnya acara uji nyali",Zaidan dengan tersenyum.
"Aku senang bisa menjabat sebagai kepala sekolah, ada seseorang yang ingin aku bantu untuk kembali bersekolah"
"Kamu pekerjaannya membantu orang terus, kapan orang bantu kamu? "
"Waduh, Pak Ustadz Zein sudah hadir pemirsa",Zaidan dengan mengejek.
"Aamiin, mudah mudahan bisa jadi ustadz, nanti kamu yang jadi supirnya ya ha... ha... "
Dua sahabat itu tertawa bersama sama. Mereka memang sering bertemu karena Zaidan adalah sekretaris di perusahaan Zein.
Tiba tiba suara hp berdering. Zein mengangkatnya dan mulai berbincang dengan orang yang meneleponnya. Dia segera mengajak Zaidan untuk ikut bersamanya.
Tibalah mereka di tempat tujuan,sebuah bangunan tempat para polisi bermarkas. Zein dan zaidan segera masuk ke dalam.
"Bagaimana Pak,ada perkembangan? "
Polisi itu menarik napas sejenak sebelum berbicara.
__ADS_1
"Pak, Rudi sudah memberitahukan sesuatu hal tentang Rossana, adik anda"
"Lalu apa yang dia katakan, Pak? "
"Sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang akan saya beritahukan kepada Bapak ternyata tidak sesuai yang diharapkan"
"Memangnya kenapa, Pak? ",Zaidan ikut membantu.
"Rudi berkata bahwa Rossana sudah meninggal akibat obat obatan terlarang dan Rossana berpesan untuk membakar mayatnya dan abunya dibuang ke laut,tapi keterangan ini masih terus di selidiki,apakah bohong atau tidak"
Zein tak dapat berkata apa apa. Matanya berkaca kaca dan seperti tak percaya.
"Pak, tolong selidiki lagi agar segalanya pasti dan saya bisa dengan sepenuhnya menerima apapun yang terjadi dengan adik saya"
"Baik, Pak, jika ada informasi lebih lanjut,kami akan segera menghubungi"
"Terimakasih,Pak!"
"Sama sama"
Kedua sahabat itu segera pergi dengan perasaan sedih, terutama Zein. Rossana adalah adiknya satu satunya. Setelah orang tua mereka meninggal Rossana dan Zein di rawat oleh paman mereka, Pak Yadi, ayah angkat Sofia. Zein mengalami hidup yang sangat sulit. Walaupun dia kaya tapi kehidupan tanpa orang tua adalah kehidupan tanpa pemandu. Dia memang tercukupi secara materi, tapi tidak secara batin. Ada ruang kosong di hati dua bersaudara itu. Zein dapat melewati semuanya dengan mulus dan dapat melanjutkan perusahaan orang tuanya. Namun berbeda dengan Rossana, ia seperti kehilangan arah dan tak bisa menemukan jalan pulang. Setelah orang tua mereka meninggal, Rossana terlihat lebih murung dan jarang bercerita. Biasanya apapun akan diceritakannya pada kakaknya yang sangat dia sayangi. Begitu pula akhir akhir ini, setelah mengenal Rudi, Rossana semakin jauh,jadi keras kepala dan tak mau mendengarkan kata kata Zein.
"Mudah-mudahan apa yang dikatakan polisi tidak benar",Zaidan menyemangati sahabatnya.
"Aku juga berharap begitu,Rossana adalah adik kecilku yang sangat penurut, tapi karena tak kuat menahan beban di hatinya dan memendam segalanya sendiri, ia jadi berubah, aku seperti tak pernah mengenalnya"
Zaidan memegang bahu Zein untuk menguatkannya.
Mengingat Rossana membuat dia teringat dengan Isna, gadis yatim piatu yang harus berjuang sendiri melawan kerasnya hidup dan menanggung beban kehidupan.Zein merasa Isna seperti adiknya dan ia tidak mau Isna menjadi seperti Rossana. Makanya dia ingin membantu Isna dan selalu memperhatikannya.
Zein sebagai kepala sekolah meminta pada pemilik yayasan dan kepala sekolah untuk menerima Isna kembali. Sebenarnya Isna sudah di coret dari daftar murid, berkat Zein Isna dapat bersekolah lagi dan itu yang Zein inginkan.
__ADS_1
Keesokan harinya, sengaja Zein pulang lebih cepat. Tiba tiba di rumah datang Isna meminta izin untuk pergi ke sekolahnya yang dulu. Sengaja Zein tidak memberitahukan tentang ditunjuknya dia menjadi kepala sekolah di sekolah Isna,itu semua dia lakukan untuk memberinya kejutan. Segala keperluan Isna sudah dipersiapkan dari mulai baju,sepatu dan lain lain. Zein ingin Isna mejadi seseorang yang baru dan bukan dirinya yang dulu.