Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Kabar di malam hari


__ADS_3

"Tadi ada maling yang masuk ke kedai,tapi karena ketahuan mereka kabur,mungkin ibu sebagai pemilik bisa datang ke sini dan mengecek mungkin ada sesuatu yang hilang atau tidak. Saya Pak Rt di lingkungan sekitar sini",seseorang memberitahuku.


Ku lihat jam menunjukkan pukul 10 malam.


"Bagaimana keadaan kedainya,Pak?",tanyaku.


"Pintu kedai sepertinya rusak".


"Oh,iya nanti saya akan mengecek kesana,terimakasih untuk informasinya".


"Iya,sama sama".


Ku tutup ponselku dan ku telepon Tio.


"Ada apa?",tanya Tio.


"Pintu kedai rusak karena dibobol maling,kata Pak Rt yang tadi meneleponku,malingnya kabur setelah ketahuan".


"Terus sekarang kamu mau kesana?".


"Iya,antar aku ya!"


"Ok,sekarang aku jemput ya!".


"Ok,aku tunggu".


Setelah percakapan kami selesai,aku segera ganti baju dan bersiap siap kembali ke kedai.


"Kamu mau kemana lagi?",Bibi bertanya.


"Tadi Isna dapat telepon,kalau kedai dibobol maling".


"Astagfirullahal''adzim,kok bisa?kamu simpan uangnya di sana?".


"Alhamdulillah uangnya tidak Isna simpan di kedai,jadi maling itu sepertinya tidak mendapatkan apa apa".


"Alhamdulillah,sekarang harus lebih berhati hati,jangan sampai kita lengah. Kedai yang lain bagaimana?".


"Isna kurang tahu,makanya mau lihat dulu keadaan disana".


Suara motor terdengar berhenti didepan rumah. Aku dan Bibi melihat keluar.


"Tio?aku kira tukang ojeg he...he...".


"Aku memang tukang ojeg tapi ojeg pribadi hanya mengantar nona Isna",Tio sambil tersenyum


"Oh,tentu saja,kalau mengantar wanita lain nanti dipecat jadi tukang ojeg. Ayo kita berangkat. Isna pergi dulu,Bi!",aku seraya duduk dibelakang motor.


"Kami berangkat dulu,Bi!",Tio pamit.

__ADS_1


"Iya,hati hati di jalan,jangan ngebut!",pesan Bibi.


Kami berangkat lagi menuju kedai. Sesampainya disana,kami langsung mengecek keadaan kedai. Pintu kedai rusak,laci di kasir sudah terbuka dan acak acakan.


"Siapa yang pertama kali mengetahui kalau disini ada maling?",aku mengobrol dengan Pak Rt.


"Ada dua anak muda yang melihat cahaya dari dalam kedai yang sudah di matikan lampunya,jadi mereka curiga dan mengetuk pintu kedai,akhirnya para maling itu lari keluar dan langsung kabur. Dikejar tapi tak bisa ditangkap,mereka sekitar 4 orang".


"Apakah ditempat lain didatangi maling?".


"Sepertinya hanya tempat ini yang didatangi",Pak Rt menjelaskan.


"Ada yang hilang?",Pak Rt memastikan.


"Tidak ada,Pak. Dilaci sudah tidak ada apa apa".


"Alhamdulillah,sekarang kita harus lebih berhati hati,bisa saja maling itu akan datang lagi".


"Iya,Pak,terimakasih untuk semuanya".


Obrolan kamipun berakhir. Tio meminta seseorang untuk memperbaiki pintu yang dibobol dan menggantinya dengan yang baru. Malam itu kami pulang bersama,Tio mengantarkanku dulu ke rumah Bibi,baru dia pulang sendiri ke rumahnya.


\* \* \*


Udara pagi begitu segar. Matahari masih malu malu bersembunyi di balik awan. Aku sudah bersiap siap mengukus siomay yang baru di cetak. Rina hari ini tidak ada kelas,jadi dia akan membantuku di kedai.


"Namanya Ani,dia bagus dan cekatan,kakak terbantu ketika kemarin banyak orang yang datang ke kedai".


"Alhamdulillah,jadi Erna tidak khawatir lagi dengan Kak Isna. Sebenarnya Erna kasihan kalau melihat Kakak bekerja sendiri,tadinya Erna tidak mau menerima beasiswa ini".


"Erna,tidak apa apa,kamu punya kesempatan yang bagus jangan sampai dilewatkan,Kakak ingin semua adik bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Kita harus merubah hidup kita agar jadi lebih baik".


"Iya,Erna juga memiliki cita cita yang ingin diwujudkan",Erna sembari tersenyum.


"Apa cita citamu?".


"Erna ingin menjadi seorang guru".


"Aamiin,mudah mudahan cita citamu itu terkabul,Kakak selalu mendo'akan adik adik agar selalu sehat dan diberikan yang terbaik dalam segala hal".


Perbincangan dipagi hari itu merekatkan hati kami,saudara kandung. Do'a do'a selalu terucap di setiap waktu shalat untuk adik adiku tercinta. Ridho kini sudah bekerja dan tinggal di kontrakan,Edo juga katanya sudah mendapatkan pekerjaan


sedangkan Rina mondok di pesantren.


Aku dan Rina berangkat ke kedai berdua. Saat sampai di kedai,Ani juga baru datang.


"Kak,baru datang juga?",tanya Ani.


"Iya,kami naik taksi online. Eh,iya ini adik saya,Erna,dia yang selalu membantu saya ketika di kedai,tapi kini baru berkuliah jadi tidak bisa setiap waktu menemani saya disini,makanya saya mencari orang yang bisa membantu saya bekerja di tempat ini".

__ADS_1


"Erna!",Erna bersalaman dengan Ani.


"Ani".


Kami masuk ke kedai dan mulai bekerja. Di sela sela pekerjaan kami,aku menceritakan kejadian semalam. Erna dan Ani kaget. Aku berkata pada mereka agar lebih waspada dan tidak meninggalkan barang berharga di kedai.


Waktu tidak terasa berlalu begitu cepat,matahari sudah berada di ubun ubun. Hari ini terasa begitu panas,terik matahari terasa menggigit ketika terkena kulit. Aku mengantarkan pesanan seseorang yang memesan dari pagi dan ingin diantarkan pada jam istirahat. Ketika kembali ku lihat Ani memasukan sesuatu ke sakunya setelah salah seorang pembeli membayar makanannya. Tak ku pedulikan hal itu dan ku lanjutkan aktivitasku seperti biasa lagi.


"Kak,tukang baso di sebrang pesan batagor dua porsi",Erna memberitahu.


"Biar saya saja yang mengantarkan",Ani menawarkan diri.


"Ok!",segera ku setujui karena aku sedang mencetak siomay.


Ani mengantarkan pesanan tukang baso itu. Setelah kembali, Ani memasukkan sendiri uang yang diberikan tukang baso ke laci kasir.


Semakin sore pelanggan terus bertambah dan kami bertiga makin sibuk. Beruntung hari ini ada Erna,kami jadi tidak terlalu kewalahan.


"Saya mau siomay dan jus,boleh!".


"Iya,boleh ke sebelah sana!",Erna menunju padaku.


"Ini semua jadi berapa?",Erna menghitung jumlah uang yang harus dibayar.


"Semua jadi tiga puluh lima ribu".


Pembeli itu memberikan uang yang disebutkan.


Ani sibuk wara wiri mengantarkan pesanan yang ingin diantar. Beruntung Ani bisa naik motor,kadang dia meminjam motor punya toko sebelah yang dia kenal pemiliknya,jadi dia bisa memakainya.


Hari ini kami larut dalam kesibukan. Tidak ada satupun yang diam melamun. Masing masing kami bekerja sesuai dengan tugas masing masing.


Malampun tiba. Ani dan Erna membersihkan serta membereskan dapur juga kursi dan meja kedai,sedangkan aku menghitung uang. Ketika ku hitung,ku sesuaikan dengan pesanan yang masuk,ternyata jumlah uang yang masuk tidak sesuai dengan pesanan. Jumlah selisih uang dengan pesanan jauh berbeda. Apa aku salah menghitung?ku hitung lagi berulang ulang dan hasilnya sama. Apa masih ada di laci?ku lihat lagi dan memeriksa laci,tapi tidak ada. Mengapa uangnya bisa kurang?apakah ada yang mengambil uang hasil pembayaran?aku membayangkan Ani yang tadi menyimpan uang ke sakunya dan tidak menyimpannya di laci kasir. Segera ku tanyakan padanya,takut dia lupa. Aku harus hati hati takut salah berbicara dan menyinggungnya.


"Ani,maaf apa masih ada uang yang dibayar pelanggan tadi,takutnya lupa untuk disimpan?",tanyaku pada Ani.


"Ani merogoh sakunya dan berkata,"tidak ada,saya sudah menyimpan semua di laci",sembari menarik kain sakunya dari dalam keluar sampai terlihat.


Dan rupanya memang kosong.


"Kamu Erna bagaimana?ada uang yang lupa disimpan?",ku bertanya pada Erna.


"Sama,Erna juga sudah menyimpan semuanya di laci,memangnya kenapa,Kak?",Erna penasaran.


"Uang yang masuk dengan pesanan berbeda jauh,jadi takut ada yang lupa menyimpan di laci".


"Kok,bisa beda jauh?",Erna merasa aneh.


Pertanyaan Erna tak ku jawab karena aku sedang berpikir dengan keras.Tidak biasanya uang yang dihitung bisa berbeda seperti ini,kemarin semuanya baik baik saja, sebelum ada Ani,apakah Ani....?

__ADS_1


__ADS_2