
Tamparan itu begitu keras di pipiku hingga terasa panas.
"Siapa kamu berani memfitnah suami saya,dasar orang miskin!tidak pantas kamu berada di sini,saya juga tidak akan mau kamu berhubungan dengan anak saya",Ibu Tio menampar dan memakiku di hadapan orang orang. Akal sehatku sudah tak waras lagi akibat segala pemaksaan yang telah mereka lakukan.
"Saya memang orang miskin,tapi kalian membuat orang miskin ini marah.Buat apa harta yang banyak kalau hanya membuat orang menderita,saya berjanji akan terus mengingat kejadian ini dan saya akan membuat kalian merasakan apa yang saya rasakan!ingat ini!",aku berkata sambil berteriak.
"Pengawal,bawa gadis ini!",ayah Tio menyuruh pengawalnya.
"Ayah,jangan lakukan itu!",Tio melindungiku dan berada di depanku.
"Bawa gadis ini keluar!",Ayah Tio semakin menjadi kesal.
Ku ambil gelas dan ku pecahkan,ku simpan di leher Tio untuk mengancam mereka agar mau melepaskanku. Para tamu menjerit ketakutan. Orang orang ada yang mulai merekam kejadian itu,tapi dihentikan oleh para pengawal. Mungkin ayah Tio takut namanya akan tercoreng akibat kejadian ini.
"Tio,maafkan aku,terpaksa aku melakukan ini!",aku sambil berurai air mata.
"Tidak apa apa,bawa aku keluar!",Tio mengerti dengan apa yang aku lakukan,diapun pasrah ketika ku bawa keluar dengan pecahan kaca di lehernya.
"Tidak,dasar wanita ******!jangan bawa anakku!",Ibu Tio berteriak histeris.
"Kalau sampai kau melukai anakku,takkan ku biarkan kau hidup!",Ayah Tio ikut bicara.
"Kalau kalian membiarkan aku pergi dari sini,akan aku lepaskan anak kesayangan kalian ini",kewarasanku hilang setelah kerudung yang ku kenakan mereka buka dengan paksa. Apa yang selama ini ku jaga mereka renggut.
"Beri kami jalan!",orang orang segera memberikan kami jalan untuk keluar dari ruangan itu. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu,dengan cepat ku tarik Tio keluar. Namun ketika berbalik,tiba tiba ada seorang pengawal yang mencoba memukulku dari belakang. Tapi dia tersungkur,karena ada Mas Zein yang tiba tiba muncul. Merekapun kembali berduel dan akhirnya dimenangkan oleh Mas Zein. Pengawal itu langsung mundur.
"Isna,saya mencarimu kemana mana,sebenarnya apa yang terjadi?kemana kerudungmu?dan jatuhkan pecahan gelas itu,tanganmu berdarah!",Mas Zein segera mengambil kain syal yang dia pakai di lehernya untuk dipakaikan di kepalaku,aku jatuh tersungkur dan menangis. Tio dan Mas Zein segera meraihku.
"Tio,sebenarnya apa yang terjadi?",Mas Zein bertanya pada Tio.
"Saya juga tidak tahu,Pak!",Tio pun terlihat syok atas kejadian ini. Para pengawal masih mengawasi kami.
"Pergi kalian dari sini!",Tio memerintahkan mereka pergi,tapi mereka hanya diam.
"Pergi kataku!!!!!",Tio berteriak lebih keras,terlihat kesabarannya mulai habis.
__ADS_1
Para pengawal tak bisa menolak perintah tuannya,walau itu adalah anak majikan mereka. Akhirnya mereka membebaskan kami dan pergi.
"Isna,aku bantu kamu!",Mas Zein memapahku,aku seperti kehilangan jati diri. Aku hanya bisa mematung dengan pandangan kosong.
"Ayo,kita pulang!",Mas Zein mengajakku .
Aku berhenti sejenak. Ku pandangi Tio.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi,Tio,pulanglah ke orang tuamu!",wajahku datar tanpa ekspresi.
"Maafkan aku Isna,jangan kamu menghukumku seperti itu!",Tio terlihat panik.
"Aku tidak menghukummu,tapi aku butuh waktu untuk menata diriku dari nol lagi",aku dengan lemas.
"Tapi Isna.....",Tio akan memelas,tapi di cegah oleh Mas Zein.
"Biarkan dia sendiri dulu!".
"Baiklah,tapi jika para pengawal ayahku akan mencelakaimu,beritahu aku!",Tio membiarkan aku pergi.
Beberapa hari kemudian......
Kejadian di gedung itu,membuat aku syok berat,sehingga harus berkonsultasi dengan Psikiater. Jiwaku terguncang. Kini aku hanya diam dan tak seceria dahulu. Kegiatanku pun dikurangi,hanya pergi bersekolah dan berhenti dulu untuk berjualan siomay. Aku takut untuk pergi keluar sendiri dan lebih sering ditemani Mas Zein jika ingin keluar.
Ayah Tio mengetahui tentang resep siomay itu dari siapa?apa hubungan antara Ayah Tio dan kakekku?darimana aku bisa tahu informasi informasi itu? jika Ayah Tio adalah pimpinan perusahaan besar pasti bisa ku lihat dari google. Segera ku buka ponselku. Dan benar dia adalah anak angkat kakekku,yang merupakan sahabat ayahku dan telah menghianati ayah dan kakekku. Dan perusahaan itu ternyata adalah pemberian kakekku. Aku tidak tahu apakah dia diberi ataukah mencuri perusahaan itu. Ini semua harus ku selidiki. Mungkin aku bisa meminta tolong Mas Zein tentang hal ini. Aku jadi teringat Tio,hatiku merasa sedikit sakit,beruntung Mas Zein selalu menemani dan menjagaku.
Ku pandangi resep itu. Seberharga itukah resep itu sampai harus memperjualkan keperawanan seorang gadis?. Ku bakar kertas resep itu,karena semua sudah ada di otakku. Kalaupun Ayah Tio ingin mengambilnya,diapun harus mengambil nyawaku. Kertas yang menjadi abu itu berterbangan terkena angin malam.
"Isna,ayo makan malam!!!",Mas Zein memanggilku dari dalam rumah.
"Iya!!!",aku segera masuk ke rumah.
Keesokan harinya.....
Berita tentang kejadian itu tak sedikitpun muncul. Sepertinya Ayah Tio membuang semua bukti ketika kejadian itu terjadi. Seorang pemimpin perusahaan besar yang namanya tercoreng akan mempengaruhi perusahaannya. Kegiatan sekolahpun berjalan seperti biasa dan Tio tidak hadir di sekolah. Lusa kami akan menghadapi ujian kelulusan di SMA. Aku akan segera lulus dan lebih fokus lagi mengembangkan usahaku.
__ADS_1
Dua minggu kemudian....
Aku sudah selesai menghadapi ujian dan menunggu kelulusan. Tapi Tio tak kunjung datang ke sekolah. Ada kabar yang mengatakan bahwa dia mengikuti ujian dari rumah dan akan segera pergi ke Amerika setelah lulus nanti. Sebenarnya ada sedikit rasa rindu karena terbiasa dibantu dan ditemani oleh Tio. Tapi kini keadaan sudah berbeda,kini aku hanya berharap semoga orang tuanya bisa menjadi orang yang lebih baik dan bertaubat.
"Mis Vera,besok kita jalan jalan ke pantai!!!",Mba Wulan kegirangan setelah diberitahu bahwa kami akan jalan jalan ke pantai untuk mengisi liburan.
"Oh,ya?asyik aku akan memakai bikini,berarti harus persiapkan bikini dari sekarang!".
"Wow,Miss Vera seksi sekali!awas di sangka paus yang terdampar!",Mba Wulan berbicara polos.
"Apa katamu?awas ya!!!!",Miss Vera mengejar Mba Wulan,mereka seperti anak kecil yang sedang bermain lari larian.
"Kalau kamu Isna,bisa berenang?",Miss Valencia bertanya padaku.
"Tidak,makanya nanti saya mau belajar dari Miss Valencia,boleh kan?!".
"Ok,tentu saja!",Miss Valencia sambil mengacungkan jempol.
"Miss Valencia,sedang apa sih,sibuk sendiri?",Miss Tuti penasaran.
"saya sedang mempersiapkan barang yang mau di bawa buat besok",Miss Valencia menjelaskan.
"Kok,banyak sekali seperti mau tinggal lama di sana?".
"Kan kata Bos 2 hari,jadi kita menginap di hotel,harus bawa baju ganti lebih dari satu dong,masa tidak pakai baju?",Miss Valencia sambil tertawa.
"Bakalan puas dong 2 hari di pantai,harus bawa bikininya lebih dari satu,saya mau berjemur",Miss Vera yang sudah berhenti mengejar Mba Wulan ikut menambahkan.
"Awas gosong!!",Mba Wulan terus bercanda pada Miss Vera.
"Kamu sirik aja dari tadi,Wulan,terus saja ,begitu,sirik itu tanda tak mampu!",Mba Vera membalas candaan Mba Wulan.
"Sudah...sudah....kita tidur dulu malam ini,biar besok tidak loyo,ayo,aku sudah mengantuk nih",Miss Tuti mengajak kami untuk segera beristirahat.
Aku tidak banyak berkomentar,hanya tersenyum melihat tingkah para Miss yang selalu menghibur. Ini adalah saat yang tepat untuk liburan,healing,mengobati luka yang masih terasa.
__ADS_1